
Amor langsung merangsek maju. Menyerang ke arah Fire sambil menghunjamkan belatinya ke arah jantung pria itu. Ice dan yang lain terlambat mencegah tindakan Amor.
Fire langsung mengerang sambil memegangi dadanya. Panas dan perih langsung pria itu rasakan. Sementara teriakan Amor masih terngiang di telinga Fire. "Ini untuk ibuku!" pekik Amor keras.
"Aku tidak pernah melakukan apapun pada ibumu. Aku berani bersumpah atas nama Lord Yang Agung," ucap Fire dengah tubuh mulai terhuyung. Muce yang berdiri di belakang Fire langsung menahan tubuh pria itu.
"Fire!" Muce dan Leon berteriak bersamaan. Sementara Ice sibuk menahan tubuh Amor yang masih ingin menyerang Fire. "Amor sadarlah. Kau sudah melukai Fire!" Ice berteriak di telinga sang adik. Tubuh Amor dan Fire ambruk bersamaan.
"Aku tidak pernah membunuh Dewi Bunga," ucap Fire lirih. Detik berikutnya pria itu langsung memuntahkan darah hitam. Leon dan Muce seketika sadar. Luka Fire bukan luka biasa. Leon dengan cepat memeriksa Fire. Mata pria itu langsung terbelalak. "Racun Oleander! Dari mana kau mendapatkan belati itu?" teriak Leon. Ice langsung mendekat ke arah Fire yang tatapan matanya tidak lepas dari Amor.
"Racun Oleander?" Amor bergumam lirih. Wanita itu seketika terduduk, lemas. Air mata mulai mengalir. Melihat ke arah Leon, Ice dan Muce yang sedang menyalurkan energi dalamnya untuk menahan jiwa Fire. "Tidak!" Leon berteriak ketika merasakan jiwa Fire mulai menguar.
"Aku tidak pernah menyesali semua yang telah terjadi dalam hidupku. Bahkan ketika aku harus mati di tanganmu. Amor, Dewiku!" ucapan Fire masuk ke pikiran Amor.
"Tidak!!!" Amor berteriak seolah tersadar dari mimpinya. Perlahan merangkak ke arah Fire yang tubuhnya mulai memudar. "Tidak! Tidak! Jangan pergi! Jangan pergi!" Amor berusaha menghentikan butiran api menguar ke udara. "Fire bertahanlah!" Teriak Ice. Pria itu berusaha mengerahkan seluruh energi dalamnya untuk menahan jiwa Fire. Tapi semua sia-sia. Tangis Amor semakin menjadi ketika rasa putus asa mendera hatinya. "Ini salahku. Salahku! Aku yang sudah membunuhnya. Fire kembali!" teriak Amor. Menatap pilu pada butiran api yang mengelilinginya. Seolah Fire sedang memandangnya. "Aku mencintaimu, selamanya. Dewi Cinta, Amor," ucapan Fire bagai ucapan selamat tinggal untuk Amor.
"Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Maafkan aku," Amor berkata lirih. Semua hanya bisa menatap jiwa Dewa Api yang mulai melayang bebas di angkasa. Meninggalkan Amor yang menangis. Menyesali kesalahan yang telah dia buat. Meratapi kebodohannya yang mudah percaya pada hasutan pihak lain. Leon, Ice apalagi Muce hanya bisa menatap hampa pada langit yang telah kembali ke warna gelapnya. Seolah tidak percaya kalau dalam hitungan detik Fire sudah meninggal.
"Maafkan aku Fire, katakan padaku. Apa aku juga harus menyusulmu?" tanya Amor kalut. Detik berikutnya, dewi cantik itu jatuh tersungkur dengan darah yang mengalir deras dari bibirnya.
"Amor! Amor! Amor!" Ice berteriak panik. Memangku tubuh sang adik yang terasa dingin. Dengan wajah seputih kapas.
****
Tawa Demon menggelegar di ruang kerjanya. Tawa puas, penuh kebahagiaan. Pria itu jelas tahu kalau Dewa Api sudah mati. Sekarang tidak ada lagi penghalang baginya untuk memiliki Amor. Raja Iblis itu menatap senang ke arah Seth yang juga tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Kerjamu benar-benar bagus Seth," puji Demon tanpa sungkan.
"Aku hanya melakukan apa yang kusuka. Melihat para dewa menderita adalah kesenangan tersendiri bagiku," jawab Seth. Sepertinya dewa mimpi itu punya dendam tersendiri pada para dewa dunia langit.
"Aku benci melihatnya di puja bak pahlawan. Padahal dia bukan apa-apa," batin Seth.
Untuk beberapa waktu keduanya menghabiskan waktu dengan sedikit minum. Sambil berbincang hal receh di kalangan mereka.
"Lalu, apa kau akan tetap dengan rencanamu? Mengambil dewi cinta untuk jadi ratumu?" Seth bertanya sambil menenggak minumannya.
"Aku akan menunģgu waktu yang tepat untuk menjemputnya," balas Demon.
"Aku harus menguasai Black Rune terlebih dulu. Baru aku akan membawanya pulang kemari," batin Demon. Senyum tidak pernah hilang dari wajahnya. Bahkan setelah Seth pergi dari hadapannya. Pria itu masih saja mengulum senyumnya.
"Dia pantas mati," jawab Demon dingin.
"Hanya karena kau menginginkan miliknya. Kau sanggup melakukan itu," Ling Er berkata seolah tidak percaya dengan apa yang Demon lakukan.
"Aku adalah raja iblis. Apa kau tidak tahu kalau aku terkenal kejam, licik, tak punya belas kasih," kata Demon dengan mata memandang lurus wajah Ling Er. Pria itu cukup tersinggung karena pertanyaan Ling Er membuat moodnya memburuk.
"Kau hanya kesepian dan kurang perhatian.....aarrggghh," Ling Er meringis ketika Demon mencengkeram wajahnya. "Kau jangan sok tahu soal aku. Kesepian? Aku memang tidak suka keramaian. Kurang perhatian? Karena aku memang tidak perlu perhatian dan hal tidak berguna semacamnya. Jadi kau diam saja. Jangan banyak bicara atau aku bisa menyegelmu kembali," ancam Demon penuh penekanan.
Ling Er hampir menangis ketika kuku panjang Demon serasa menusuk kulit wajahnya. Perih kemudian terasa di wajahnya. Apalagi ketika Demon melepaskan cengkeraman tangannya seraya menghempaskan tubuh Ling Er.
"Aku peringatkan lagi. Jangan ikut campur soal kehidupanku. Lakukan saja yang menjadi tugasmu. Lain, jangan kau sentuh!" ucapan Demon seperti peringatan keras untuk Ling Er. Setiap kata diucapkan penuh penekanan. Dalam artian pria itu tidak ingin dibantah perkataannya.
__ADS_1
*****
Sementara itu kehebohan langsung terjadi di dunia langit. Berita kematian Fire, Dewa Api, Panglima tertinggi dunia langit, menyebar dengan cepat. Tapi seperti kejadian Nuwa. Tidak seorangpun tahu apa penyebab kematian Dewa Api itu.
Sedang kepanikan justru terjadi di kamar Amor. Sejak tidak sadarkan, wanita itu belum terbangun sampai sekarang. The Sky menatap Amor yang setia dengan mata terpejamnya. "Akhirnya ramalan itu terjadi juga. Bahkan ketika aku sudah memilihkan jodoh terbaik untuk Amor. Tetap saja, tidak bisa menghentikan ramalan itu. Lao Yang, maafkan aku. Kini giliran putriku yang benar-benar melenyapkan putramu," batin The Sky sedih.
"Ayah, kenapa Amor belum bangun juga?" Ice bertanya panik. Melihat wajah Amor yang seperti orang mati saja. Pucat, seolah tidak ada darah yang mengalir di sana. Pria itu sejak tadi berjalan mondar mandir seperti orang kurang kerjaan saja. Ice baru menghentikan aksinya ketika Yue masuk ke kamar Amor.
Setelah memberi hormat pada The Sky. Pria bermata hazel itu langsung memeriksa Amor. Sejenak terdiam dan mengamati.
"Jelas ini ada hubungannya dengan kematian Dewa Api," Yue mengambil kesimpulan pada akhirnya.
"Maksudmu....adikku juga akan mati jika Fire mati?" tanya Ice asal.
"Jangan sembarangan kalau bicara Ice," The Sky memberi tatapan penuh peringatan pada putra sulungnya itu.
"Lebih jelasnya kita menyebutnya koma. Seperti bahasa dunia manusia. Dia hidup tapi jiwanya belum mau atau tidak mau bangun. Seperti benang merah yang telah terikat di antara mereka. Jiwa keduanya juga saling terikat," jelas Yue.
"Lalu apa ada cara untuk membangunkan Amor. Atau menghidupkan kembali Fire?" tanya The Sky, menatap dalam wajah dewa bulan itu. Tatapan penuh permohonan seorang ayah yang sangat mengkhawatirkan keselamatan putra dan putrinya.
"Aku pikir kita masih punya kesempatan untuk menyatukan kembali jiwa Fire. Dengan kata lain, kita bisa menghidupkannya kembali," jawab Yue pada akhirnya.
Ketiganya saling pandang penuh arti. Berharap kalau yang dikatakan Yue adalah benar.
*****
__ADS_1