
Agra Hermawan, papa Mika sedang berada di ruang kerjanya. Pria itu tengah menerima sebuah panggilan dari seorang anak buahnya, yang dia tugaskan untuk mengawasi Mika. Agra memang tidak begitu saja melepaskan pengawasannya pada putri bungsunya. Apalagi keadaan Mika sangat spesial sejak lahir.
"Biarkan saja, Cedric Van Gough tidak akan berani menyentuh Mika. Meski dia seorang casanova akut. Aku jamin itu. Yang perlu kau awasi adalah Daniel, kenapa dia tiba-tiba muncul. Seolah ingin mendekati Mika....kau cari tahu penyebabnya,"
Agra menutup panggilan ponselnya. Setelah pria di ujung sana menjawab perintahnya. Pria itu lantas menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Bohong jika dia tidak khawatir pada Mika. Tapi sebuah kabar dari anak buahnya, membuat pria itu sedikit menarik nafasnya lega.
"Nona Mika tinggal di apartemen milik tuan Cedric August Van Gough dan bekerja pada tuan Van Gough,"
Agra menarik nafasnya pelan dan dalam. Dia teringat bagaimana kelahiran Mika diiringi sebuah takdir yang mengejutkan. Mika lahir dengan sebuah tanda lily yang terukir di dahi. Satu titik di antara dua alisnya. Tak lama setelahnya, seorang pria muncul di hadapannya. Membawa sebuah peringatan juga solusi untuk masalah Mika.
"Berikan gelang ini pada putrimu. Ini akan menutup tanda di dahinya. Juga nikahkan putrimu sebelum dia berusia 21 tahun dengan pria yang lahir tepat saat gerhana bulan terjadi,"
Nasihat pria itu masih terngiang di benak Arga. Dan beberapa tahun belakangan ini, Agra memang disibukkan dengan tindakannya menikahkan Mika beberapa kali. Dan semua berakhir dengan larinya Mika dari pernikahan yang sudah ia atur.
Mika sendiri tidak tahu pasti kenapa dia harus menikah sebelum usianya genap 21 tahun. Dia pikir belum ingin menikah di usia semuda ini. Dia masih ingin menikmati masa mudanya. Hidupnya, dunianya. Bukannya sibuk berkutat dengan urusan rumah tangga dan suami. Yang ujung-ujungnya akan membuat hidupnya ribet.
Meski Mika secara diam-diam menyukai Daniel sejak lama. Sejak mereka bertemu di ulang tahun Mike yang ke 25. Di mana semua kolega bisnis sang papa dan Kakak diundang ke acara itu. Dan itu hampir dua tahun yang lalu. Tapi sikap Daniel yang hanya menganggapnya adik, membuat Mika terpaksa menyimpan perasaannya sendiri.
Agra secara khusus telah memilih beberapa nama pria yang lahir saat gerhana bulan. Termasuk nama Cedric, pria itu akan menjadi last option jika Mika terus saja kabur dari pernikahan yang telah disiapkan untuknya. Sebab VR Corp adalah rival bisnis yang cukup memusingkan kepala Agra dan Mike, kakak Mika. Meski Agra tahu akan sulit membuat Cedric dan Mika menikah. Tapi mau bagaimana lagi. Agra tidak mau hal buruk terjadi pada putri kesayangannya itu.
Hari berganti, Mika terus menatap kesal pada Cedric. Gara-gara pria itu mengambil black card milik Daniel. Gagal semua rencana yang sudah tersusun rapi di kepalanya. Sejak pagi, wajah Mika selalu cemberut. Membuat duo R saling melirik. Seperti biasa, lirikan duo R itu selalu penuh makna.
"Mika, bisa antarkan berkas ini pada Cedric," Re meminta tolong pada Mika. Gadis itu seketika menghentikan pekerjaannya. Sesaat menatap malas pada berkas di tangan Re. Hingga kemudian gadis itu melangkah gontai masuk ke dalam ruangan kerja Cedric. Semarah apapun, Mika akan belajar profesional dalam pekerjaannya. Dia tidak boleh mencampuradukkan antara urusan pekerjaan dan urusan pribadinya.
"Ini...." Mika sambil lalu menyerahkan berkas dari Re. Suara Mika langsung mengalihkan perhatian Cedric. Pria itu melihat ke arah sang sekretaris yang langsung memalingkan wajahnya. Tidak mau menatap wajahnya.
"Haii, masih marah?" Pertanyaan Cedric penuh dengan ledekan. Mika seketika menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
"Sudah tahu masih nanya!" sarkas Mika tajam. Cedric menarik sudut bibirnya. Dan sebuah senyuman langsung terukir di wajah pria itu.
"Ammmpuunn deh tu senyum. Lama-lama aku bisa beneran kalah sama pesona casanova yang satu ini," Mika sibuk memaki sekaligus mengagumi Cedric.
Cedric bangun dari duduknya. Berjalan mengitari meja. Lalu menyandarkan tubuhnya di meja. Menatap wajah Mika yang tampak imut menahan kekesalannya. Perlahan Cedric menyilangkan dua tangannya di depan dada.
"Katakan padaku? Bagian mana yang membuatmu kesal. Aku mengambil black card milik Daniel atau....karena aku mengambil ciuman pertamamu,"
Mika langsung melemparkan pandangan membunuhnya. Menatap kesal pada Cedric yang semakin terlihat mempesona dengan wajah menggodanya. Pria itu memiringkan wajahnya. Jangan lupa senyum manis yang sejak tadi mulai menganggu kewarasan otak Mika.
Melihat reaksi Mika, Cedric semakin bersemangat menggoda gadis itu. Sementara Mika justru semakin memerah wajahnya. Tanpa dia sadari, Mika kembali mengingat ciumannya dengan Cedric. Dan ketika Mika memberanikan diri untuk menatap mata Cedric. Pria itu balik menatap Mika. Seolah keduanya memiliki pemikiran yang sama. Sama-sama teringat akan ciuman mereka.
Cedric tahu benar jika Mika masihlah gadis yang polos. Belum pernah disentuh oleh pria manapun. Dan itu memberi nilai lebih pada diri Mika. Di zaman seperti sekarang ini. Sangat sulit untuk menemukan gadis yang masih menjaga diri dengan sangat baik
Cedric perlahan berjalan mendekat ke arah Mika. Membuat Mika reflek memundurkan langkahnya.
"Kalau kau tidak suka aku mengambilnya, maka akan kukembalikan," ucap Cedric begitu berhenti tepat di hadapan Mika.
"Black card Daniel tidak akan kukembalikan...." Mika mendelik mendengar jawaban bos casanovanya
"Kau membohongiku ya...."
"Sssttt... dengarkan dulu perkataanku...black card Daniel tidak akan kukembalikan tapi kau bisa memakai ini." Cedric mengambil kartu dari saku jasnya. Menyerahkannya pada Mika.
"Apa ini?" Mika melirik kartu yang ada di tangan Cedric.
"Black card, Papamu memblokir kartumu bukan? Kau bisa menggunakan itu untuk belanja kebutuhanmu," jelas Cedric.
__ADS_1
"Ini milik siapa?" Kepo Mika seketika.
"Milikku," Cedric menjawab singkat. Mendengar jawaban Cedric, Mika langsung mendorong balik black card milik Cedric.
"Kau ingin menjeratku dengan hutang seumur hidupku ya. Kau tahu kan aku kalau pegang black card....rem shoppingku blong. Aku bisa kalap memborong isi satu mall," keluh Mika. Cedric seketika meledakkan tawanya.
"Aku tidak sejahat itu. Yang kau beli dari kartu ini aku anggap free, kau tidak perlu menganggapnya hutang. Anggap saja ini kartu Daniel," tambah Cedric. Mika langsung memicingkan matanya. Menatap curiga pada Cedric.
"Kau tidak sedang membohongiku atau mencoba menjebakku kan? Tidak ada yang gratis di dunia ini," tanya Mika penuh selidik.
"Kamu itu kebanyakan nonton drama," sebuah ringisan terdengar dari bibir Mika. Kala Cedric menjentikkan jarinya di dahi Mika. Wajah Mika makin manyun sambil mengusap-usap dahinya yang pasti memerah.
"Habisnya pria model sepertimu. Pasti semua dihitung dari untung dan rugi," celetuk Mika.
"Yang itu kau benar. Dan memang, tidak ada yang gratis di dunia ini, tapi itu akan kita bahas nanti. Ambil ini, dan belilah keperluannmu. Terutama pakaian dalam. Aku hanya menyediakan dua set untukmu. Kau tidak mungkin hanya memakai itu saja kan?"
Lagi-lagi Mika mendelik mendengar ucapan Cedric yang baginya sedikit terlalu to the poin.
"Kenapa? Kau tahu siapa aku kan. Aku sudah tidak heran dengan yang begituan. Meski aku lebih suka melihat mereka tidak menggunakannya saat bersamaku," bisik Cedric di telinga Mika. Gadis itu menegang ketika nafas Cedric menerpa telinganya. Tubuh Mika merinding dibuatnya.
Dalam keterkejutannya akan ucapan Cedric, Mika kembali dibuat spot jantung. Ketika Cedric secara tiba-tiba mencium kembali bibir Mika. Kali ini dengan tubuh Mika yang tidak sinkron antara hati dan pikiran. Memberi kesempatan pada Cedric untuk sejenak menikmati kelembutan dan rasa manis dari bibir Mika.
"Dammm, bibirnya begitu lezat untuk dinikmati. Ini benar-benat membuatku ketagihan," batin Cedric.
"Ini untuk ciuman pertamamu. Aku kembalikan," Cedric berkata sambil tersenyum. Berjalan kembali ke arah mejanya.
"Cedric kau mengerjaiku!" Teriak Mika begitu sadar kalau Cedric kembali menciumnya. Sementara Cedric kembali tenggelam dalam kesibukannya. Tanpa mempedulikan teriakan Mika dan umpatan sang sekretaris padanya.
__ADS_1
"Terima kasih untuk moodbosternya," batin Cedric penuh kemenangan.
****