
Entah apa yang tengah Mika pikirkan. Lamaran Daniel yang dulu sangat dia harapkan. Kini terasa hampa dalam hatinya. Yang ada dalam pikiran dan hati Mika justru Cedric. Tidak melihat pria itu beberapa hari, memberi efek luar biasa dalam diri Mika.
"Hatimu mulai beralih pada bosmu," itulah komen yang terucap dari bibir Elli.
"Maksudnya?" Mika bertanya dengan raut wajah bingungnya.
"Mudahnya, kau mulai menyukai Cedric. Entah berada kadarnya. Tapi yang jelas, kau tidak lagi mengharapkan Kak Daniel, betul?"
Dua gadis itu sedang menghabiskan waktunya di sebuah kafe. Menikmati suasana malam dari rooftop kafe tersebut. Mika pikir, apa yang diucapkan oleh Elli ada benarnya. Dia seperti anak sekolah yang mengalami cinta monyetnya. Lalu setelah beranjak dewasa, dia menyadari perasaannya. Itu bukan cinta yang sebenarnya. Dalam artian, Daniel adalah cinta monyetnya, dan Cedric adalah cinta sebenarnya.
"Sekarang dengarkan aku, jika Cedric pulang nanti...aku jamin kau akan melihatnya sebagai pria tertampan sedunia. Yang lain ngeblur semua," kekeh Elli.
"Dia kan memang tampan, tidak perlu dibantah," timpal Mika sinis.
"Aku tahu itu. Bosmu pria casanova tertampan seantero negeri. Tapi jika kau mulai menyadari perasaanmu, vibes-nya tetap akan berbeda," tambah Elli. Mika menaikkan dua alisnya, seolah berkata, "Masa sih?" Alias, Mika meragukan ucapan Elli.
"Dibilangin tidak percaya. Nanti kau buktikan saja ucapanku ini." Elli sedikit kesal dengan Mika.
Di sisi lain, Demon terlihat sedang melatih diri menggunakan naskah Black Rune. Pria itu tampak kesal. Berulang kali mencoba tapi selalu gagal dalam latihannya. Si wanita Black Rune tampak tersenyum mengejek. Melihat betapa parah tuannya kali ini.
"Kau ini payah sekali!" Cemooh wanita Black Rune.
"Diam kau, Ling Er!" Desis Demon kesal.
Pada akhirnya Demon menyerah untuk sesi pertama ini. Dia akan mencoba lain kali. Pria itu membaringkan tubuhnya. Terlentang. Dengan nafas terengah dan peluh bercucuran di sekujur tubuhnya. Matanya menatap langit tempatnya berlatih. Sebuah tempat rahasia, tersembunyi dalam dimensi miliknya.
"Kenapa kau jadi menggoda begini?" Wanita bernama Ling Er itu tahu-tahu sudah berada di atas tubuh Demon. Membuat gerakan yang seketika memancing hasrat Demon.
"Aku baru tahu kalau kau agresif sekali," Wajah Ling Er tepat berada di depan wajah Demon. Wanita itu melayang di atas tubuh Raja Iblis itu.
"Itu karena kau adalah pria yang bisa menakhlukkanku setelah seribu tahun berlalu," jawab Ling Er dengan jemarinya mulai bergerak di dada Demon yang setengah terbuka.
"Kalau begitu, siapa Tuanmu sebelum aku?" tanya Demon kepo.
"Siapa yang pernah menjadi Tuanku itu adalah rahasia. Apa kau tahu, melatih diriku adalah hal terlarang di seluruh semesta alam. Kau akan dikutuk oleh seluruh alam, saat kau bisa menguasaiku," Ling Er berkata serius. Jemarinya berhenti bergerak di dada Demon.
"Dan kau perlu tahu juga, aku adalah Demon, si Raja Iblis. Beritahu aku, peraturan mana yang belum pernah kulanggar. Mencurimu, memusnahkan The Sky, mencuri Black Dragon, mencuri mate Dewa Api...." Demon dengan enteng mengatakan pelanggaran yang sudah dia lakukan. Dan semua masuk kategori pelanggaran berat.
__ADS_1
"Kau mengambil Amor?" heran Ling Er.
"Dia adalah pengantinku. Aku sedang menunggu jiwa iblisku bangkit dalam dirinya," balas Demon santai.
"Kau gila! Perbuatanmu melanggar semua hukum langit,"
"Kau pikir aku peduli. Aku menginginkannya jadi Pengantin Raja Iblis, ratuku. Lalu dengannya aku akan membuka segel Black Dragon. Membuka gerbang neraka. Bersamanya, kami akan menguasai dunia," ucap Demon.
"Kau benar-benar tidak waras," maki Ling Er.
"Tapi yang penting sekarang. Karena kau sudah memancingku. Jadi mari selesaikan sampai tuntas," tanpa kata, Demon langsung mencium bibir menggoda milik Ling Er. Memeluk tubuh ramping dan seksi milik penyihir Black Rune itu.
Dalam hitungan detik, keduanya sudah terlibat dalam aksi bertukar saliva yang sangat panas. Sama-sama menginginkan, tidak perlu waktu lama bagi keduanya untuk melepaskan lenguhan dari bibir masing-masing. Kala tubuh polos keduanya sudah menyatu. Mulai bergerak untuk mencari kenikmatan dari hubungan saling menguntungkan yang tengah keduanya sepakati dan jalani.
****
Hati Mika semakin tersiksa saja rasanya. Tidak sabar menunggu besok. Menurut Elli, Mika mengalami yang namanya rindu. Elli terkekeh, menertawakan Mika yang mengeluh kenapa kepalanya isinya Cedric semua. Mika jadi tidak fokus saat bekerja.
"Aku pikir kau benar-benar jatuh cinta pada bos casanovamu Mika," Elli tertawa terbahak-bahak. Pasalnya Elli teringat kalau beberapa waktu lalu, sang sahabat itu kekeuh mengatakan kalau dia menyukai Daniel bukan Cedric. Dan sekarang, tuan putri keluarga Hermawan itu mengeluh sakit kepala karena memikirkan Cedric.
"Lalu lamaran Kak Daniel," Mika bertanya bingung.
"Ya tinggal dijawab saja, kau tidak mau menikah dengannya. Katakan saja jika kau jatuh cinta pada bosmu. Itulah kelebihan kita sebagai wanita. Kita punya hak menolak lamaran yang datang pada kita," jawab Elli enteng.
"Lalu casanova-nya Cedric bagaimana ceritanya?" curhat Mika lagi.
"Katamu pernah dengar dari duo R kalau meski Cedric suka main perempuan. Dia belum pernah begituan sama mereka. Mereka cuma making out aja," jelas Elli.
"Making out itu apa?" tanya Mika polos.
"Duh polosnya kamu. Jangan-jangan kamu diapa-apain sama Cedric tapi kamu tidak tahu," Elli menatap Mika curiga.
Mika lantas terdiam sejenak. Gadis itu mengingat beberapa kejadian saat berdua dengan bosnya. Sejauh yang Mika ingat, keduanya hanya pernah berciuman.
"Aku ingat hanya pernah berciuman dengannya," jawab Mika lirih.
"Benar? Tidak lebih?" Elli memicingkan matanya. Berusaha mencari kebenaran dari ucapan Mika.
__ADS_1
"Aku berkata jujur Elli. Aku tidak pernah berbohong padamu," Mika meyakinkan Elli. Sahabat Mika itu hanya bisa menarik nafasnya. Beginilah rasanya jadi konsultan cinta bagi gadis sepolos Mika.
***
Mika sedang berusaha fokus pada presentasi seorang manager dari bagian Marketing. Sejak tadi pikirannya melayang ke mana-mana. Ri yang berada di sebelahnya. Berulang kali menyenggol lengan Mika. Mengingatkan rekan kerjanya itu untuk berkonsentrasi pada meeting mereka.
"Aaaarrggghhhh," Mika berteriak kesal. Meeting itu berakhir dengan keputusan akan diumumkan besok. Dia dan Ri mengalami beda pendapat. Perlu mendiskusikannya lagi berdua.
"Cedric benar-benar membuatku gila!" teriak Mika dalam hati. Gadis itu meletakkan kepalanya di atas meja. Sementara Ri keluar, pergi ke toilet katanya.
Mika lagi-lagi menggeram kesal. Kala bayangan Cedric tidak kunjung hilang dari kepalanya.
"Apa yang membuatmu kesal begitu?"
Mika langsung membuka matanya. Dilihatnya Cedric yang tengah tersenyum, melihat ke arahnya. Mata Mika membulat sempurna. Detik berikutnya, Mika sudah memeluk Cedric. Bos casanovanya. Pria yang selalu dia sebut menyebalkan.
"Kau rindu padaku?" tanya Cedric, sembari membalas pelukan Mika. Reflek Mika mengangguk dalam pelukan Cedric. Namun detik berikutnya gadis itu menggeleng.
Tawa Cedric pecah seketika. "Jadi mana yang benar? Rindu atau tidak?" goda Cedric.
"Tidak rindu," Mika menjawab yakin. Tapi gadis itu terlihat begitu nyaman dalam pelukan Cedric.
"Tapi bagiku, jawaban pertama yang berlaku," bisik pria itu. Menatap dalam wajah Mika. Dua mata itu saling bertatapan.
"Aku merindukanmu, Mikayla. Sangat merindukanmu. Aku nyaris gila karena memikirkanmu," tambah Cedric. Seulas senyum terbit di bibir Mika.
"Dasar buaya darat," balas Mika lirih. Tapi detik berikutnya gadis itu kembali memeluk tubuh Cedric. Menyembunyikan wajah malunya dalam dekapan Cedric, yang langsung mengembangkan senyumnya. Setelah mendengar umpatan Mika.
"Buaya darat ini akan jinak dan otewe tobat. Jika kau bersedia jadi pawangnya," bisik Cedric.
"Ha? Apa itu?" tanya Mika tidak paham.
"Ini sebuah lamaran, pinangan antimainstream lebih tepatnya," balas Cedric cepat.
Mika langsung melongo dalam pelukan Cedric. Lamaran? Lagi? Laku amat dirinya, dalam seminggu menerima lamaran dari dua pria tampan dengan dua latar belakang berbeda. Laku apa serakah ini namanya. Atau Mika yang sok kecakepan?
*****
__ADS_1