Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Amor Milik Demon


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Amor menatap takjub pada pemandangan langit malam di dunia iblis. Terlihat aurora yang menari-nari di langit gelap dunia itu. Langit dunia iblis memang sama saja antara siang dan malam. Gelap, hanya saja untuk siang tidak sepekat malam.


"Masih memikirkan siapa dirimu?" tanya Ling Er sinis. Wanita itu turut memandang langit malam. Satu minggu berlalu, dan Amor belum kembali ke dunia langit. Tapi dia sudah mengirim pesan pada sang kakak kalau dia baik-baik saja.


"Aku ingat siapa diriku," jawab dewi cinta itu tak kalah sinis. "Lalu kenapa kau masih di sini? Bukankah kau punya rumah? Pulanglah ke rumahmu," usir Ling Er.


"Kalau aku tidak mau?" tantang Amor. Tanpa perasaan cinta di hatinya, dewi itu berubah menjadi pribadi yang sedikit kasar. Dengan sifat keras kepalanya yang semakin menjadi. Tidak mau direndahkan, tidak mau ditindas.


"Kau.....?" Amor melihat Ling Er dengan tatapan miringnya. Dia tahu kalau Ling Er sangat membencinya. Wanita itu ingin dirinya pergi dari istana itu. Menjauh dari tuannya. Tapi dengan keadaannya yang sekarang, Amor tidak mau melakukannya. Ada rasa lelah saat dirinya terus menerus berbuat baik pada orang lain. Apa yang tidak Amor sadari, dia mulai berubah.


"Dengarkan aku, j****ng. Tuanmu sendiri yang membawaku ke sini. Dia yang menjemputku. Aku di sini karena keinginannya. Jadi terserah padaku, aku akan melakukan apa," lanjut Amor. Bahkan mulut wanita itu berubah menjadi sangat pedas saat bicara dengan orang yang tidak dia sukai.


Ling Er jelas tersinggung mendengar Amor menyebutnya wanita murahan. Wanita itu merasa selalu ada untuk tuannya, tidak pernah meninggalkannya. "Siapa kau berani menyebutku dengan panggilan hina itu. Setidaknya aku setia dengan tuanku. Tidak sepertimu, berlari ke sana, berlari ke sini. Kau yang ja****," balas Ling Er.


Amor baru saja akan melancarkan balasannya ketika Demon melerai keduanya. Sudah beberapa kali Demon melihat ketegangan antara dua wanita yang Demon sendiri tidak tahu posisi mereka bagaimana. Dia yang dengan jelas menginginkan Amor jadi miliknya, namun di sisi lain ada Ling Er yang selalu berada di sisinya.

__ADS_1


Wanita itulah yang selalu memuaskan hasratnya yang tidak kenal waktu. Meski hanya Amor yang ada di benak dan hati Demon. "Hentikan perdebatan konyol kalian!" satu perkataan dari Demon kembali mengoyak hati Ling Er. Wanita itu sadar sepenuhnya kalau dirinya tidak pernah bisa menggantikan kedudukan Amor di hati tuannya.


"Aku tidak berdebat dengannya. Dia saja yang terlalu baper padamu," balas Amor lantas berlalu dari hadapan Demon dan Ling Er.


"Apa maksudmu dengan terus mengusiknya? Aku yang membawanya pulang. Aku yang menginginkannya. Dia akan berada di sini sepanjang yang dia mau," kata Demon penuh penekanan.


Air mata Ling Er tumpah seketika. Dia seharusnya tahu kalau dirinya tidak pernah dianggap oleh raja iblis itu. Tidak peduli pada apa yang telah dia lakukan, Amorlah yang selalu bertahta di hati Demon. "Apa kau tidak pernah merasakan ketulusanku padamu? Apa kau tidak pernah tahu kalau aku jatuh cinta padamu?" ingin rasanya Ling Er meneriakkan kalimat itu di depan Demon. Tapi apa mau dikata, sampai sekarang, keberanian itu tidak pernah datang padanya.


"Aku peringatkan sekali lagi. Biarkan Amor melakukan apapun yang dia suka. Jangan menyinggungnya, apa kau paham?" Demon berkata lantas berjalan menjauh dari Ling Er. Mengabaikan sedu sedan tangis Ling Er. "Sebegitu tidak berhargakah aku di matamu?" bisik Ling Er pilu.


Ling Er pikir dia mampu bertahan di sisi Demon, tapi kenyataannya ternyata sangat berat. Berada dalam bayang -bayang Amor, membuat Ling Er sulit menyampaikan rasa cintanya. "Haruskah aku pergi?" batin Ling Er


****


"Untuk itu aku minta maaf," Ling Er berdecih pelan mendengar permintaan maaf Yue. Dewa jodoh itu sungguh tidak menyangka jika Demon mampu melawan kekuatan benang merah miliknya. Obsesinya pada Amor sangat besar. Hingga menutupi rasa lain yang Demon punya.


"Aku tidak menyangka jika dia bisa melawan rasa yang kutanamkan padanya," kata Yue lagi.


"Aku tidak butuh maafmu! Kau membuatku sengsara dengan benang merah sialanmu ini," maki Ling Er lagi. Yue hanya bisa menarik nafasnya dalam. Melihat betapa menderitanya Ling Er merasakan cintanya tidak berbalas pada Demon.

__ADS_1


Yue sendiri penasaran kenapa Demon ini susah sekali lepas dari Amor. Padahal benang merah mereka jelas terikat pada siapa. Pikiran itu terus memenuhi benak pria itu hingga kembali ke istana bulannya. Pria itu duduk termenung di ruang kerjanya. Dari semua kasus cinta yang pernah dia tangani, kasus cinta segitiga Fire, Amor dan Demon adalah hal paling memusingkan kepala dewa bermata hazel itu. "Bahkan sekelas Eliyos saja, aku punya jodohnya. Tapi untuk mereka, ini rumit sekali," batin Yue.


Pria itu pikir pasti ada sesuatu yang tersembunyi di masa lalu mengenai takdir cinta tiga dewa dewi itu. Hingga kemudian dia sadar, ayah Fire, Lao Yang, sebenarnya mencintai Nuwa, dewi bunga. Tapi takdir tidak mempertemukan mereka. Hingga berakhir dengan ibu Fire. "Apa semua bermula dari sana. Mereka semua memiliki rasa cinta yang tidak tersampaikan," gumam Yue pelan.


Hingga pria itu tiba-tiba bangkit, menuju rak penyimpanaan naskah kunonya. "Aku pikir sudah membaca semua naskah ini. Apa masih ada yang belum kubaca," jari pria itu menelusuri jajaran naskah di rak miliknya. Hingga jarinya berhenti pada sebuah naskah yang sangat kuno. Dia sendiri bahkan baru sadar kalau memiliki naskah itu. "Ahhh.....rune kuno," keluh Yue ketika menyadari kalau naskah itu berisi tulisan kuno rune. Tulisan yang lumayan sulit untuk dibaca dibanding jenis tulisan lainnya. "Ramalan Dewa Api, Lao Yang," begitulah judul yang berada di sampul depan naskah itu.


"Lao Yang, Dewa Api. Ayah Fire-kah? Kenapa dia bisa meramal. Apa dia adalah The Destiny sebelum yang sekarang?" gumam Yue sendiri.


Pria itu mulai membaca naskah yang lumayan tebal itu. Cukup kesulitan karena Lao Yang menggunakan rune kuno untuk menuliskannya. Semakin lama membaca, dahi Yue semakin berkerut. Semakin lama semakin parah. Hingga bisa dikatakan kalau dahi Yue sudah berlipat sakit kerasnya dia berpikir.


"Astaga jadi awal mulanya begini, pantas saja kekacauan ini terjadi. Apa The Lord Yang Agung tahu soal ini," bisik Yue lagi.


"Pada awalnya, keturunan perempuan dari dewi bunga adalah pengantin dari raja iblis. Tapi ketika dewi bunga Nuwa, lahir. Dia menolak takdir itu. Hingga mulai dari dirinya dan seterusnya keturunannya tidak sudi dipersunting oleh raja neraka itu. Tapi penolakan itu akan membuat kekacauan di mana-mana."


Apa termasuk yang terjadi sekarang. Cinta segitiga antara keturunan dewi bunga, raja iblis dan mate dari keturunan dewi bunga itu. Dalam hal ini Amor, Demon dan Fire. Yue benar-benar dibuat terkejut dengan kenyataan ini.


"Jadi sejak awal, Amor adalah milik Demon?" batin Yue.


******

__ADS_1


__ADS_2