Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Final Battle


__ADS_3


Kredit pinterest.com


Kekacauan mulai terjadi di mana-mana. Penghuni neraka itu ternyata tidak hanya mencari makan. Tapi juga merusak, mereka menghancurkan apapun yang ada di depan mereka. Memakan jika mereka bertemu manusia atau hewan. Mengerikan...


Suasana malam dunia iblis dan dunia langit berubah dalam sekelip mata. Rona merah menghiasi langit dua dunia itu. Ledakan terjadi di mana-mana, memicu kebakaran hebat di semua penjuru alam. Makhluk itu mulai merangsek ingin keluar dari dunia langit dan dunia iblis. Tangan tak berdaging dengan kuku runcing mereka mulai memukul-mukul sihir pelindung yang sudah dipasang di seluruh sudut dunia langit.


Mereka berubah menjadi liar kala mencium bau daging manusia, makanan mereka. Di sisi lain, pasukan dunia langit mulai terdesak. Bukan karena kalah kemampuan. Mereka hanyalah makhluk biasa belum setingkat dewa, jadi energi dalam mereka terbatas. Hingga setelah berperang hampir dua jam, kelelahan jelas melanda tubuh mereka. Padahal penghuni neraka itu terus saja bermunculan.


Sampai pada titik kelelahan terparah. Mereka lengah, kesempatan itu digunakan oleh makhluk itu untuk menyerang para tentara itu. Selanjutnya mereka jadi santapan para penghuni neraka tersebut.


Di atas sana, Amor terus menembakkan panah esnya ke segala penjuru. Berusaha menghabisi sebanyak mungkin makhluk tidak berdaging itu, sebanyak yang dia bisa. Amor jelas jadi benda paling menarik para penghuni neraka itu. Wanita itu semakin meninggikan posisinya kala dia mulai terdesak. Sama, kelelahan mulai melandanya.


"Aarrgghhh," wanita itu berteriak ketika satu dari mereka berhasil menggigit lengannya. Satu tebasan dari pedangnya berhasil membunuh makhluk itu. Namun yang terjadi selanjutnya, Amor jatuh terduduk. Lengannya membiru dengan cepat.


"Gigitan mereka beracun," gumam Amor.


Ice dan Yue mendekat. Sementara Leon mulai membangun sihir pelindung di sekeliling mereka. "Kau tidak apa-apa?" Ice bertanya cemas.


"Mereka beracun." Amor berkata dengan wajah mulai bercucuran keringat.


"Kau ini memang selalu beruntung ya. Di gunung Tianjin, kau ditolong ayah mertuamu. Dan sekarang jiwa mate-mu yang akan menolongmu."


Yue melihat jauh kedepan, di mana nyanyian Phoenix mulai terdengar. Penghuni neraka itu terdiam sejenak mendengar suara yang begitu mengerikan di telinga mereka. Satu semburan dari api Phoenix langsung membakar habis satu kumpulan penghuni neraka yang baru saja keluar dari gerbang neraka..


"Fuhua....." bisik Amor lirih. Fuhua kembali berdecak kesal. Dia ke sini siapa lagi yang menyuruhnya kalau bukan mantan tuannya.


"Kau memang merepotkan!" desis Fuhua sebal. Amor hanya tersenyum mendengar gerutuan Fuhua. Burung besar itu lantas menunduk di atas lengan Amor. Satu tetes air mata jatuh di atas luka wanita itu. Bunyi berdesis terdengar, diiringi rasa terbakar yang sakitnya luar biasa.


"Terima kasih." Kata Amor. Fuhua terbang menjauh dengan acuh. Lalu mulai bergerak menyemburkan apinya ke segala penjuru. Membakar habis penghuni neraka yang jumlahnya bukannya berkurang, tapi terlihat semakin banyak.

__ADS_1


"Mereka membobol sihir pelindung sebelah barat," Fuhua memberi info melalui nyanyiannya. Mereka mulai bergerak memeriksa dinding pelindung dunia langit. Setelah Amor mampu bertarung lagi.


"Sial! Mereka mulai masuk ke dunia manusia!"


Leon berteriak di pikiran semua orang. Bisa dibayangkan bagaimana kalang kabutnya dunia manusia. Para manusia itu berlari ke sana ke mari mencari perlindungan diri, dari makhluk mengerikan, yang langsung memangsa siapa saja yang mereka temui.


Di aula Sky Castle, The Sky menatap kekacauan yang terjadi di negerinya dengan tatapan nanar. Beribu-ribu tahun dia menghindar dan mencegah. Akhirnya hari ini datang juga. Putrinya menjadi penyebab semua kejadian ini. Tanpa terasa air mata mengalir di pipi pria yang masih terlihat muda meski usianya sebenarnya sudah sangat renta.


"Nuwa, inikah akhir dari ramalan itu."


Bisik The Sky. Pria itu lantas mengangkat tangannya. Dan di depannya langsung muncul seekor naga putih. Bentuk jiwanya. Pria itu mengusap pelan dahi naga putih berkaki empat, dengan sebuah mahkota merah bertengger di antara dua tanduknya. Naga itu memiliki mata biru seperti milik Fire.



Kredit Pinterest.com


"Terima kasih sudah menemaniku selama ini. Mungkin sudah saatnya kita berpisah, Chai."


"Terima kasih. Kau masih setia di sisiku meski aku membuat sebuah kesalahan besar."


Sesaat dua mata beda warna itu saling menatap. Chai tahu benar bagaimana perjalanan hidup tuannya. Hingga mata merah naga itu mengerjap pelan. "Aku tahu yang kau lakukan. Dan aku tahu kau siap dengan resikonya."


Chai menjawab dengan suara dalamnya. The Sky tersenyum. "Aku sungguh merasa tersanjung memiliki jiwa sepertimu."


Chai memundurkan tubuhnya. Lalu menundukkan kepalanya. Memberi hormat pada The Sky. "Aku merasa beruntung bisa melayanimu, Chao. The Sky,"


The Sky melebarkan senyumnya. Ribuan tahun berlalu, dan hari ini Chai kembali memanggil nama kecilnya, Chao.


"Aku perintahkan kau untuk turun membantu putraku Ice, dia yang akan menjadi tuanmu sekarang."


Air mata The Sky luruh saat melepas jiwanya pada Ice, sang putra. Pria itu membebaskan Chai darinya dan memberikan tongkat estafet kepemimpinan dunia langit secara tidak langsung pada sang putra.

__ADS_1


Untuk sesaat Chai hanya diam melihat pada Chao. Ratusan ribu tahun bersama dan kini tiba waktunya bagi mereka untuk berpisah. Chai tahu, Chao melalukan ini agar dirinya tidak terlibat dalam rencana Chao selanjutnya.


"Perintahmu adalah amanat untukku."


Chai memberi hormat untuk yang terakhir kali pada tuannya. Lalu berbalik pergi. Masuk ke area perang. Binatang langit itu langsung membuat keder para penghuni neraka. Sosok putih Chai sama mendominasinya dengan Phoenix yang sedari tadi mengamuk tanpa berhenti. Tak berapa lama, Chai sudah bergabung bersama Phoenix. Sama-sama menghembuskan nafas apinya untuk mengurangi jumlah penghuni neraka yang semakin banyak jumlahnya.


Perang tidak hanya terjadi di udara, sebab di darat, pasukan dunia iblis dan dunia langit mulai berperang manual. Suasana semakin kacau.


Di sisi Demon dan Fire, dua pria itu sama-sama jatuh terduduk. Bersamaan memuntahkan darah. Ketika keduanya saling beradu pedang, masing-masing memiliki kesempatan untuk saling menusuk lawannya. Dan ternyata keduanya sama-sama menusuk perut lawan.


Nafas keduanya tersengal. Dengan peluh membasahi sekujur tubuh mereka. Demon mendongak, lantas tersenyum senang.


"Lawanmu sudah datang." Gumam Raja Iblis itu.


"Kau jangan menambah masalah." Fire memperingatkan. Tapi Demon menyeringai penuh arti.


"Kau tidak akan menang kali ini," ujar Demon.


Detik berikutnya, pria itu membuka genggaman tangannya. Setelah membiarkan pedang hitam melayang di depannya. Prisma Black Dragon, muncul di hadapan Demon. Fire tentu terkejut. Pria itu merangsek maju, ingin merebut prisma itu. Tapi Demon langsung menghantam Fire dengan bola hitam miliknya. Pria itu terlempar ke belakang. Dengan darah kembali keluar dari mulutnya.


Fire perlu menstabilkan nafasnya. Dan selama itu, di depan sana. Demon mulai membuka prisma yang berisi satu lagi hewan abadi, yang kali ini khusus mengabdi pada pemimpin dunia Iblis.


"Sambutlah, Black Dragon."


Prisma itu langsung berpendar, cahayanya berwarna merah. Satu lagi warna yang identik dengan Demon. "Byaarrrr," prisma itu pecah dan dari dalamnya langsung muncul seekor naga hitam, serupa dengan naga hitam yang menjadi jiwa Demon.


Di atas sana, Chai hanya diam menyaksikan naga hitam dari dunia iblis bangkit dari tidur panjangnya.


"Pertarungan ini akhirnya datang juga."


*****

__ADS_1


__ADS_2