Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Tidak Ada Hidup Yang Mudah


__ADS_3

"Aku mau pulang saja, di sini membosankan," keluh Cedric dua hari berikutnya. Meski kondisi pria itu sudah membaik secara mengejutkan. Begitulah kata dokter yang menangani Cedric, kesembuhan Cedric sangat di luar nalar. Seharusnya dengan seperti itu, Cedric masih dalam masa kritis. Tapi Cedric hanya mengalami masa kritis tidak lebih dari enam jam. Lebih mengejutkan lagi, begitu membuka mata, pria itu bisa langsung bangun dan bicara. Tanpa dibantu alat apapun.


Tapi bagi Cedric dan Mika itu bukan hal aneh. Karena keduanya memang percaya dengan hal-hal yang susah dijelaskan secara logika.


Mika baru saja membantu Cedric ke kamar mandi, hanya sampai pintu kamar mandi saja. Ketika ponsel Mika berdering.


"Ya, Kak Daniel," jawab Mika. Cedric langsung memicingkan mata. Rasa tidak suka langsung menyeruak di dadanya. Mendengar nama Daniel disebut oleh Mika.


"Apa?" tanya Cedric, ketika Mika melihat ke arahnya.


"Kak Daniel ada di depan. Dia ingin menjengukmu," Mika berkata sambil berjalan menuju pintu, ingin membukanya. Cedric langsung mengerutkan dahinya, begitu melihat Daniel yang masuk bersama Mika.


Ketika Cedric dan Daniel saling berjabat tangan, meski hanya basa basi. Ada rasa tidak asing yang Cedric rasakan. Seolah Daniel bukanlah orang asing bagi pria itu.


"Sial! Dia benar-benar sembuh dengan cepat!" batin Daniel kesal.


"Tanganmu kenapa?" tiba-tiba Cedric bertanya, melihat tangan kiri Daniel yang diperban. Mika ikut melihat tangan kiri Daniell. Sejurus kemudian Mika terlihat panik.


"Itu kenapa, Kak?" Mika meraih tangan Daniel.


"Oh sedikit kecelakaan. Jangan khawatir, bukan luka yang serius. Kau yang harus dikhawatirkan," ucap Daniel pada Cedric. Meskipun terkesan dingin dan datar. Seperti hanya sekedar basa basi.


"Aku sudah tidak apa-apa. Mika merawatku dengan baik," balas Cedric ingin menunjukkan kalau Mikalah yang merawatnya selama ini.


"Begitukah?" Daniel memandang Mika yang tengah mengecek ponselnya.


"Aahh, aku hanya mengawasinya agar minum obat dan makan sesuai waktunya. Sebentar ya, aku akan turun menemui Elli," pamit Mika.


"Suruh saja dia ke sini," pinta Cedric.


"Tetap saja aku harus turun menjemputnya. Nanti dia tersesat. Kalian ngobrol saja dulu," Mika melesat keluar dari sana.


Sepeninggal Mika, suasana langsung berubah. Dingin, mencekam, tidak bersahabat. Aroma permusuhan terasa sekali di ruangan itu.


"Kau hanya ingin menemuinya kan?" tanya Cedric to the poin. Daniel seketika menarik ujung bibirnya, mendengar pertanyaan Cedric.

__ADS_1


Cedric lantas berjalan menuju sofa. Mendudukkan dirinya di sana. Mata pria itu menatap tajam ke arah Daniel. Daniel sendiri sesaat merasa, manik mata hitam Cedric berubah jadi biru. Mata milik Fire. Wibawa dan kharisma Dewa Api benar-benar melekat pada Cedric.


"Aku memang ingin menemuinya. Apa kau keberatan?" pancing Daniel.


Pria itu mulai waspada. Aura yang keluar dari Cedric adalah aura sang Dewa Api. Tapi tidak mungkin, kalau Fire akan menunjukkan diri di hadapannya sekarang. Ini terlalu cepat. Lagipula jiwa Fire belum sepenuhnya menguasai tubuh Cedric. Dengan kata lain, Cedric belum mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.


"Tentu saja aku keberatan. Dia adalah milikku," saat mengatakan itu, bisa Daniel rasakan kalau itu adalah jiwa Fire.


Daniel kembali mengulas senyum tipisnya. Pria itu tidak takut pada ancaman Fire. Meski dia tahu, kekuatan Fire saat ini jauh diatasnya.


"Mika belum menentukan pilihannya. Jadi aku masih bebas untuk menemuinya," jawab Daniel.


"Kau...!" Cedric hampir melayangkan sebuah pukulan pada wajah Daniel. Ketika tiba-tiba pria itu mengubahnya, menjadi sebuah sapuan pada bagian depan pakaian Daniel. Saat pintu kamar Cedric terbuka. Bersamaan dengan suara Mika dan Elli yang heboh membahas sesuatu.


"Kalian sedang apa?" Mika bertanya curiga. Melihat posisi Cedric dan Daniel yang terlihat aneh. Sangat dekat, seperti orang yang sedang berciuman.


"Tidak apa-apa. Hanya merapikan pakaian Daniel yang berantakan," jawab Cedric. Pria itu kembali duduk di sofa. Diikuti oleh Daniel yang duduk di depan Cedric. Dua pria itu masih saling menatap tajam.


"Makanlah ini, Elli membelikannya untukmu," Mika mengulurkan sebuah tupperware. Hal yang sama juga Mika lakukan pada Daniel.


"Semoga kau menyukainya," seru Elli dari belakang Daniel.


Seiring pintu yang dibuka paksa. Dan masuklah Catharina dan Selia. Dengan dua orang bodyguard Cedric mengikuti mereka.


"Maaf tuan, kami tidak bisa mencegah mereka masuk," seorang bodyguard bicara sambil menunduk. Takut jika Cedric marah padanya.


"Aku adalah ibunya. Bagaimana bisa kau melarangku menemui anakku," marah Catharina pada bodyguard milik sang putra.


"Aku yang meminta mereka untuk melarang kalian masuk ke sini," Cedric menyahut ketika dua bodyguardnya sudah keluar dari sana.


"Maksudmu kamu apa? Aku ini Mamamu, dan dia...."


Cedric menaikkan tangannya. Menyuruh sang Mama untuk berhenti bicara. Wajah marah Catharina, membuat Mika dan Elli langsung bersembunyi di belakang tubuh Cedric dan Daniel.


"Aku tidak perlu kehadiran Mama di sini. Mereka bisa merawatku lebih baik dari Mama," Cedric menjawab tajam. Ekor matanya melirik Mika yang tampak tegang berada di belakang tubuhnya.

__ADS_1


"Tante...wanita itu," bisik Selia. Melihat gelagat Selia, Daniel kembali mengulas senyum tipisnya. Dia pikir bisa menggunakan wanita ini untuk memisahkan Cedric dan Mika.


"Kau, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah aku sudah mengusirmu. Kau yang sudah membuat Cedric kecelakaan!" Maki mama Cedric.


Mika langsung meremas ujung pakaian pasien milik Cedric. Dia yang biasanya tidak kenal kata takut. Kali ini mengkeret menghadapi mama Cedric.


"Justru dia yang sudah menyelamatkanku juga merawatku," Cedric yang menjawab. Cedric semakin memajukan tubuhnya. Membuat Mika benar-benar berada di belakang punggung kekar Cedric.


"Sebenarnya apa yang sudah dia lakukan padamu. Apa dia wanita murahan sama seperti...."


"Cukup!" Bentak Cedric. Baik Mika dan Elli langsung berjengit kaget. Mendengar suara keras Cedric untuk pertama kalinya. Pun dengan Catharina dan Selia, dua wanita itu langsung pucat wajahnya. Menyadari kesalahan ucapan yang Catharina lakukan.


"Jangan pernah menyebut Mika murahan. Kalian mau tahu siapa dia. Dia Mikayla Theresia Hermawan, putri tunggal keluarga Hermawan. Dan kalian berani sekali menyebutnya murahan. Keluar kalian dari sini!" kembali suara Cedric meninggi.


"Cedric, jangan lakukan ini pada Mama. Mama dan Selia ingin merawatmu,"


"Aku sudah sembuh. Kalian tidak perlu khawatir. Lagipula Mika yang akan merawatku,"


Cedric berbalik, setelah meminta bodyguardnya untuk membawa sang Mama keluar dari sana. Meski sang Mama berteriak, agar diizinkan berada di sana.


"Aku tidak tahu kalau kau punya konflik dengan mamamu," Ledek Daniel.


"Diam kau!" Desis Cedric. Pria itu langsung berbalik. Melihat Mika yang masih terlihat shock dengan kejadian tadi.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Cedric, khawatir. Mika menggeleng pelan. Memandang wajah cemas Cedric.


Keempatnya langsung duduk. Menatap pada Cedric yang tampak melamun.


"Tiap kali aku melihatnya. Aku selalu terbayang wajah Papa yang sedih. Aku sangat sulit untuk memaafkan perbuatan Mama. Mungkin aku tidak akan bisa memaafkannya," batin Cedric.


"Aku tidak menyangka kalau hidupmu kali ini penuh dengan konflik," batin Daniel.


"Kenapa semua jadi runyam begini," batin Mika dan Elli bersamaan.


Kedua gadis itu saling memandang satu sama lain. Merasa kalau mereka jadi ikut terlibat dalam masalah keluarga Cedric.

__ADS_1


"Ternyata jadi orang kaya tidak seindah penampilan luarnya. Lain di dalam, lain di luar. Intinya tidak ada hidup yang mudah. Semua orang pasti punya masalah," batin Elli yang keluarganya tidak sekaya Mika apalagi Cedric ataupun Daniel.


*****


__ADS_2