
Angin seketika berhembus kencang ketika Demon mengangkat tangan kirinya. Pria itu mulai merapalkan mantra dari bab terakhir naskah Black Rune. Di luar kamar, Ling Er jatuh terduduk. Menyadari dia tidak bisa lagi berbuat apa-apa untuk mencegah Demon melakukan ritual penyelamatan jiwa Amor.
Demon memusatkan pikiran, tenaga dan tentu saja jiwanya. Pria itu harus mengumpulkan darah dari tujuh pusat titik penting di tubuhnya. Mengalirkannya ke nadi utamanya. Cukup lama pria itu terdiam, hingga naga hitam yang menjadi jiwanya mulai muncul di belakang Demon. "Maaf harus melibatkanmu dalam hal ini," ucap Demon. Naga hitam itu mengangguk paham, sebuah pil kecil keluar dari mulut naga itu, satu elemen tambahan yang Demon perlukan berasal dari jiwa aslinya.
Saat benda kecil itu melayang di depan Demon, pria itu lantas menelannya. Sang naga lantas menghilang. Demon masih memejamkan matanya, hinģga kemudian pria itu membuka matanya tiba-tiba. Dan, "crasshhh," pria itu memotong nadi utama di tangan kirinya. Darah seketika mengucur dari luka itu. Tapi darah itu tidak mengalir, melainkan langsung membentuk gumpalan menyerupai bola kecil. Detik berikutnya, Demon mengarahkannya ke bibir Amor. Memaksa wanita itu untuk menelannya.
Tapi anehnya, bibir Amor tidak mau terbuka. Demon tersenyum kecut. "Kau bahkan memilih mati daripada menerima bantuanku," gumam Demon lirih. "Tapi kau tahu bukan, kalau aku ini tipe pemaksa," tegas Demon. Setelahnya pria itu meraih bola kecil itu. Memasukkan ke dalam mulutnya. Lantas dengan cepat memaksa Amor untuk menelannya. Membuka paksa bibir dewi cinta itu, hingga Demon berhasil meminumkan benda itu.
"Bangunlah. Aku ingin menjadi yang pertama melihat mata indahmu terbuka," bisik Demon lirih. Pria itu sudah berlutut di sisi ranjangnya. Melihat tubuh Amor berpendar diselimuti cahaya berwarna putih. Wajah Demon sudah berubah pucat. Ritual tadi menyedot habis energi dalam miliknya. Belum sempat melihat Amor bangun. Tubuh Demon sudah ambruk lebih dulu ke lantai kamarnya.
"Cepatlah bangun, dewiku," batin Demon.
******
Dua hari sejak ritual itu, Demon terbangun di kamar lain. Bukan kamarnya. Pria itu mengusap kepalanya. Rasa lemas masih menderanya. Hingga kemudian dia teringat Amor.
"Kau bangun?" tanya Ling Er. Wanita itu terlihat cemas melihat keadaan Demon. "Bagaimana dia?" tanya Demon. Ling Er langsung kecewa, mendengar pertanyaan Demon. Hanya dewi cinta yang ada di pikiran pria dihadapan Ling Er itu.
"Dia belum bangun," jawab Ling Er. Di kamar Demon, Amor mulai membuka mata kala mendengar sebuah nyanyian yang begitu familiar di telinganya. Nyanyian Fuhua, si burung Phoenix.
"Kenapa dia menyanyi untukku? Lalu kenapa aku berada di sini?" pertanyaan itu langsung terucap dari bibir Amor. Tepat saat itu, pintu kamar terbuka dengan Demon yang langsung menerobos masuk.
__ADS_1
"Kenapa kau di sini?" judes Amor. Demon seketika terkesiap. Melihat sikap Amor yang memang tidak pernah ramah padanya.
"Ini kamarku? Apa kau tidak ingat yang terjadi?" tanya Demon. Amor turun dari ranjang raja iblis itu. Mendekat ke arah pria yang masih memakai piyama tidur. Dewi itu memang ingat kalau Demonlah yang membawanya ke istananya.
"Kau menyelamatkanku? Lagi?" Amor balik bertanya. Demon mengembangkan senyumnya. Melihat Amor tidak melupakan apa yang sudah terjadi di antara mereka. Pria itu maju ingin memeluk Amor, merasa bahagia karena dewi itu baik-baik saja.
"Tunggu dulu, setidaknya pakailah bajumu dulu," desis Amor. Demon melihat dirinya, lantas tersenyum. "Bukankah begini aku terlihat seksi?" goda Demon. "Menjauh dariku raja neraka!" Amor memundurkan langkahnya. Tapi Demon terus mengejarnya. Hingga tubuh Amor mentok ke dinding. Pria itu dengan cepat menghimpit tubuh wanita itu.
"Menjauh dariku!" teriak Amor. "Memangnya kenapa?" Demon semakin getol menggoda Amor. Melihat wajah merah Amor. "Menyingkir dariku raja iblis. Aku tidak berminat menjalin hubungan dengan siapapun," tegas Amor.
"Lalu bagaimana dengan Fire?" tanya Demon heran. Amor seketika menghentikan usahanya menghindari Demon. "Fire?" kenapa nama itu terdengar tidak asing di telinganya. Ada perasaan aneh yang muncul di hatinya saat mendengar nama Fire. Amor merasa kalau Fire punya tempat istimewa di hatinya. Tapi sebagai apa? Melihat wajah kebingungan Amor, Demon menyeringai.
"Jangan mengingatnya, dia sangat membencimu," lirih Demon di tengah pagutan yang dia lakukan pada Amor. Dewi itu hanya diam. Membalas tidak, menolak pun tidak. Di kepalanya hanya ada nama Fire, Fire....dan Fire. "Kenapa aku seperti kehilangan sesuatu paling berharga dalam hidupku," batin Amor.
*****
Fire termenung, pria itu sudah kembali melakukan tugasnya seperti biasa. Pria itu juga sudah menghadap The Sky. Meski penguasa langit itu tersenyum, Fire tahu, pria itu tengah bersedih. Karena Amor dibawa Demon. Musuh abadi mereka.
"Apa aku harus menjemput Dewi Cinta pulang?" tanya Fire datar. Mendengar pertanyaan Fire, The Sky hanya bisa menarik nafasnya dalam dengan wajah berubah sendu.
"Akan jadi apakah hubungan kalian ini? Yang satu tidak punya rasa cinta, yang satu tidak bisa mengingat mate-nya sendiri," batin The Sky melihat ke arah Ice dan Wind yang juga berwajah sedih.
__ADS_1
Fire menarik nafasnya dalam. Duduk di ruang kerjanya di White Castle miliknya, pria itu mengingat pembicaraannya dengan Ice dan Yue beberapa waktu yang lalu. Di mana dua dewa itu bergantian menceritakan bagaimana dia bisa hidup kembali. Bagaimana perjuangan Amor untuk mendapatkan berkat Lao Yang, yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.
"Muce, menurutmu bagaimana? Apa aku keterlaluan padanya?" tanya Demon pada tangan kanannya.
"Memang benar jika kau dan Dewi Cinta adalah mate sejak dulu. Kalian seharusnya sudah menikah saat ini," jawab Muce. Fire menghela nafasnya kembali.
"Tapi aku tidak mengingatnya. Aku cenderung membencinya. Aku ingat dia membunuhku dengan racun Oliander,"
Selanjutnya giliran Muce yang menceritakan bagaimana sampai kejadian Amor membunuh dirinya. "Membunuh ibunya? Bertemu saja belum pernah. Bagaimana bisa aku membunuhnya," gerutu Fire.
"Kalau kau tidak mengingatnya, setidaknya dia sudah berkorban untukmu. Menebus kesalahannya....serta dia mendapat restu ayah dan ibumu," tambah Muce. Fire tersentak. Dia meraba dadanya, di mana separuh jiwa ayahnyalah yang menyelamatkannya.
"Meski kau tidak mengingatnya, tapi satu hal yangg perlu kau tahu. Amor membahayakan dirinya untuk membawa jiwa phoenix pulang. Kau tahu kan resikonya?" tanya Muce. Mereka merencanakan untuk menyudutkan Fire. Agar pria itu merasa bersalah, ingin bertanggungjawab pada Amor. Baru mereka akan memikirkan cara agar keduanya bersatu kembàli.
"Ayah...ibu....kalian bahkan mau menemuinya. Tapi selama ini, kalian tidak pernah bertatap muka denganku," sedih Fire.
Dewa Api itu melihat salju turun di atas istananya. Sungguh, hanya kehampaan yang pria itu rasa saat ini. Dia punya rasa cinta, tapi untuk siapa rasa itu ada dalam hatinya. Sekelebat ingatan masuk ke pikirannya, "Aku sangat menyukai salju yang turun di sini."
"Siapa lagi ini?" keluh Fire memijat pelipisnya pelan.
****
__ADS_1