
Sementara itu di dunia langit, Ice dan Wind tengah memperhatikan The Sky yang masih melakukan meditasi, untuk mendapatkan wujud manusianya kembali. Meski sekarang The Sky sudah berwujud manusia. Tapi itu masih sementara, belum kekal.
"Perlu berapa lama lagi?" Wind bertanya. Dan sebuah kedikan bahu dari Ice menjadi jawaban. Selama The Sky menjalani meditasinya, kepemimpinan dunia langit, sementara dipegang oleh Ice. Sebagai putra tertua dari The Sky.
Sesuai ucapannya, Demon memang tidak mengambil alih dunia langit. Dia hanya ingin menghancurkan The Sky, meski pada kenyataannya dia tidak bisa. The Sky memang menghilang tapi hanya wujud manusianya yang rusak. Dengan meditasi The Sky bisa mendapatkan wujud manusianya kembali.
"Bagaimana dengan Fire?" Ice bertanya sambil memeriksa laporan dari bawahannya.
"Ya, seperti itu. Re dan Ri sampai mengatakan... enek melihatnya," kekeh Wind. Ikut membantu pria itu memeriksa pekerjaannya. Ice pun ikut terkekeh.
"Kita bisa menggunakan ini untuk meledeknya saat dia kembali ke sini nanti," tambah Wind. Dan Ice mengangguk setuju.
"Bagaimana dengannya?" Tanya Wind setelah hening sesaat.
"Itu yang sedang menganggu pikiranku. Dari laporan mata-mata kita. Demon tidak pernah keluar dari istananya di dunia iblis. Ini aneh kan?" Ice menghentikan pekerjaannya. Lalu membuka tangannya. Seperti sedang membuka layar monitor. Di depan mereka kini terpampang gambar Demon yang tengah bermeditasi.
"Aneh sekali bukan?" Ice kembali bertanya. Wind sejenak terdiam. Memperhatikan wajah Demon. Hingga kemudian, raut wajah Wind berubah cemas.
"Sejak kapan dia seperti ini?" tanya Wind cepat.
"Hampir setahun waktu manusia," jawab Ice yang heran dengan kecemasan Wind.
"Aku curiga, itu hanya tubuhnya. Sedang jiwanya entah pergi ke mana," Wind berseru keras. Ice seketika memejamkan matanya. Dengan kekuatannya dia mampu masuk ke istana Demon di dunia Iblis.
"Sial! Jiwanya entah pergi ke mana.Aku tidak bisa melacaknya," Ice mengepalkan tangannya. Kesal, bagaimana bisa dia kecolongan semudah itu.
"Apa dia ikut turun ke dunia manusia? Mencari Amor?" Ucapan Wind membuat Ice ikut panik.
Masalahnya sampai sekarang mereka belum menemukan keberadaan Amor. Dewi itu lahir dengan perlindungan langsung dari sang ibu, Dewi Bunga. Hingga Ice dan Wind, tidak bisa menemukan ataupun mengesan aura dewi dalam wujud reinkarnasi Amor.
"Besok kita turun menemui Re dan Ri," Ice berucap dan Wing langsung mengangguk setuju.
***
"Siapa?" Cedric bertanya saat Mika sudah selesai menjawab teleponnya.
__ADS_1
"Teman," jawab Mika sumringah. Bibir gadis itu tak henti mengulum senyumnya. Terlihat sangat bahagia. Berkebalikan dengan perasaan Cedric, yang kesal. Untuk pertama kalinya, Cedric peduli pada perasaan orang lain. Apalagi ini perasaan seorang gadis.
Terdengar Cedric berdecih lirih. Membuat Mika sejenak menatap Cedric. Namun detik berikutnya, gadis itu kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela mobil Cedric. Menopang wajahnya dengan satu tangannya. Lalu mulai tersenyum sendiri. Cedric semakin kesal dibuatnya.
"Terima kasih," Mika berucap riang pada pak supir. Setelah turun dari mobil Cedric. Mulai melangkah masuk ke lobby apartemen Cedric. Pria itu bahkan membiarkan Mika tinggal di salah unit apartemen miliknya. Cedric punya dua unit apartemen di gedung ini.
"Mika tunggu," Cedric menghentikan langkah Mika. Sebelum gadis itu masuk ke lift.
"Apa?" Mika bertanya. Sesaat keduanya terdiam. Menunggu lift datang dan masuk ke dalamnya. Mereka masih diam ketika lift mulai bergerak. Setelah orang yang ikut naik lift bersama mereka turun di lantai 10. Barulah Cedric melanjutkan perkataannya.
"Aku tidak suka ada stafku yang pacaran saat bekerja," Cedric berkata penuh penekanan.
"Maksudmu apa? Aku tidak pacaran. Dan sedang tidak punya pacar. Alias jones," Cedric tersenyum tipis mendengar pengakuan Mika.
"Baguslah kalau kau tahu," Cedric menjawab masa bodoh. Mika menatap sengit pada atasannya. Hingga tiba-tiba, "jegrek". Lift itu berhenti bergerak. Disambung dengan lampu yang berkelap kelip.
"Cedric...." Mika mulai terlihat panik. Dia punya panic attack yang lumayan akut.
Cedric dengan cepat menekan tombol emergency, menghubungi operator lift.
"Halo...ada orang di sana? Kami terjebak di lift. Di lantai 15," Cedric berteriak pada operator lift. Meminta pertolongan.
"Dua orang," Cedric cukup lega. Ada yang merespon laporannya.
"Mohon tunggu sebentar. Jangan panik. Tetap tenang. Tim akan segera menuju ke sana," sahut petugas itu lagi.
"Mika, tunggu sebentar ya. Tim penyelamat akan segera datang.....," ucapan Cedric terhenti ketika pria itu berbalik. Dilihatnya Mika yang sudah bersandar ke dinding. Dalam temaran lampu emergency, bisa Cedric lihat. Wajah pucat Mika. Dengan tubuh bergetar ketakutan.
"Mika....Mika apa yang terjadi denganmu?" Kepanikan mulai melanda Cedric. Pria itu mendekat ke arah Mika yang nafasnya mulai sesak.
"Aku...sesak nafas..." Mika menjawab sambil tersengal. Cedric meraih tubuh Mika yang hampir merosot ke lantai. Kesadaran gadis itu mulai menghilang.
"Mika...Mika...tetaplah sadar...bertahanlah," Cedric berusaha membuat Mika tetap sadar. Hingga pelan Cedric rasakan tubuh Mika melemah dalam pelukannya.
"Mika...Mika...." tepukan lembut Cedric berikan pada pipi Mika. Tapi tetap saja gadis itu tidak mau membuka matanya.
__ADS_1
"Lakukan CPR padanya," sebuah bisikan masuk ke kepala Cedric. Tanpa dia tahu Re dan Ri berada di dalam sana. Dalam wujud dewa mereka. Transparan, tidak terlihat.
"Kita tidak melawan hukum langit kan?" bisik Re cemas.
"Hidup Mika belum berakhir. Jadi seharusya Dewa Api bisa membantunya," balas Ri.
Cedric sejenak mempertimbangkan bisikan yang terdengar di kepalanya.
"Hei, cepatlah. Nanti dia keburu mati, lalu jadi hantu lagi," Re berteriak gemas. Dan tentu saja hal itu tidak dapat di dengar oleh Cedric.
Cedric terlihat ragu. Tapi melihat wajah Mika yang semakin pucat. Cedric pikir dia harus cepat bertindak. Perlahan dia memposisikan kepala Mika. Sedikit membuat kepala Mika mendongak. Lalu dengan cepat Cedric menempelkan bibirnya ke bibir Mika.
Perlahan sebuah aliran nafas hangat mengalir ke dalam tubuh Mika. Awalnya hal itu tampak biasa saja. Hingga tiba-tiba Re berteriak.
"Ri....lihat itu!" Ri seketika mengikuti arah pandangan Re. Bersamaan dua pria itu membulatkan matanya. Melihat dahi Mika perlahan bercahaya. Menampilkan tanda kedewaan berwarna merah.
"Mika adalah....." Re dan Ri bertukar pandang penuh arti.
Sementara itu, Demon langsung membuka matanya, seringai tipis seketika terbit di bibirnya.
"Aku menemukanmu, Amor" Lirih Demon.
Dalam satu kedipan mata, tubuh Demon sudah berpindah tempat. Salah, bukan tubuhnya. Hanya jiwanya saja. Pria itu muncul di sebuah kamar yang luas dan mewah.
Berdiri di belakang seorang pria yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Sepertinya pria itu baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Sebab dia hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Hingga tubuh kekar, berotot pria itu terekspose dengan sempurna.
"Mulai hari ini, aku akan mengambil alih tubuhmu," Demon berucap licik. Sejurus kemudian, jiwa Demon menghilang. Sedang pria yang ada di depannya sejenak menegang. Seperti tersengat arus listrik. Namun itu hanya sebentar. Tidak berapa lama, pria itu membuka matanya. Menatap kembali pantulan dirinya dalam cermin di depannya.
Sebentuk tanda api muncul di dahi pria itu. Seulas senyum mengerikan terukir di bibir pria yang juga berwajah tampan itu.
"Tunggu kedatanganku Amor. Dan kita berdua akan menguasai dunia ini. Tidak akan kubiarkan kejadian seribu tahun lalu terjadi lagi, sambutlah aku wahai dunia....pemimpin kalian yang baru sudah datang," ucap Demon dalam wujud manusianya.
Bersamaan dengan itu, terdengar petir yang menggelegar. Re dan Ri kembali saling pandang. Mengalihkan pandangan mereka dari Mika yang masih mendapat perawatan medis.
"Apa sesuatu yang buruk akan kembali terjadi?" tanya Re, yang kini sudah menggunakan wujud manusianya.
__ADS_1
"Aku harap tidak. Semoga saja tidak," jawab Ri ambigu.
***