
Sayap keemasan milik Fuhua terbuka, memperlihatkan Fire yang telah sempurna wujud manusianya. Pria itu melayang turun. Sesaat melihat sekelilingnya. Leon dan Wind jelas merasa senang melihat Fire yang hidup kembali. Tapi tidak dengan Ice dan Yue. Bukan Amor yang Fire lihat untuk pertama kalinya. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi jika hal itu tidak terpenuhi.
"Amor....Amor...... bangunlah, lihat Fire sudah kembali," kata Yue. Pria itu pikir, keduanya harus segera bertemu. Sementara itu, Fire merasa aneh dengan dirinya. Ada perasaan kosong ia rasakan dalam hatinya. Pria itu tersenyum melihat Leon dan Wind. Begitupun saat melihat Ice dan Yue. Tapi mata Fire terpaku pada Amor yang berada dalam pelukan Ice.
"Kau baik-baik saja?" tanya Leon mendekati Fire. Dewa Api itu mengangguk. Lantas mendekat ke arah Ice dan Yue. "Kenapa dia?" tanya Fire datar.
Deg,
Ice dan Yue saling pandang. Dari nadanya terdengar jelas ada yang tidak beres antara keduanya. Ice dan Yue tahu, Amor tidak akan mengingat Fire sebagai mate-nya. Tapi apa yang akan terjadi pada Fire. "Dia Amor apa kau tidak mengingatnya? tanya Wind. Fire berpikir sejenak. Lantas menggeleng. Semua orang saling pandang.
******
"Huweekk," Ice segera berlari ke arah Amor yang bersandar di pintu kamarnya. Dewi cantik itu baru saja memuntahkan darah kental berwarna hitam. "Fix, jiwanya terluka. Kita harus segera menolongnya," kata Yue panik.
"Bagaimana caranya?" tanya Ice. Sementara itu di kejauhan, Fire hanya melihat Amor dengan tatapan datarnya. Sedang Leon dan Wind masih shock dengan cerita yang baru saja dibeberkan oleh Ice dan Yue. "Jadi keduanya sekarang seperti orang asing?" tanya Wind tidak percaya.
"Ujian apa lagi ini? Yang satu tidak punya rasa cinta. Yang satu tidak ingat itu mate-nya," tambah Leon puyeng. "Tolonglah dia," pinta Leon pada Fire.
"Aku tidak mengenalnya," balas Fire dingin. Inilah sifat Fire yang sesungguhnya. Dia begitu dingin pada orang yang tidak dikenalnya. "Dia itu mate-mu apa kau benar-benar tidak ingat?" Wind memastikan. Dan Fire mengangguk.
"Astaga, demi The Lord yang agung. Apa yang akan terjadi sekarang?" Wind mengusak rambutnya kasar.
__ADS_1
Di depan sana, Amor berusaha berdiri. Menolak bantuan Ice dan Yue. Dia ingat dengan semua yang sudah dia lakukan. Menghidupkan Fire, tapi dia tidak tahu kenapa dia melakukannya. Dia hanya ingat kalau dia yang membunuh Fire. Lalu dia merasa harus bertanggung jawab.
"Karena kau sudah hidup kembali, aku harap kau bisa memaafkanku atas tindakanku. Aku minta maaf," Amor berkata sembari membungkukkan badannya. Melihat hal itu, semua orang hanya bisa saling pandang.
"Astaga mereka benar-benar seperti orang asing. Tidak saling mengenal," Yue berucap pelan. Amor perlahan berjalan menjauh dari Fire. Meninggalkan pria itu yang melirik Amorpun tidak.
"Fire, apa kau tahu dia mengorbankan nyawanya untuk menolongmu?" tanya Ice. Tidak terima adiknya diacuhkan oleh Fire. "Aku tahu. Tapi itu kan sepadan dengan apa yang dia lakukan padaku. Dia membunuhku," jawab Fire.
Pria itu benar-benar tidak peduli pada Amor. Meski ekor matanya melirik Amor yang berjalan setengah menyeret kakinya. Ada sesuatu yang dia rasa saat melihat mata dewi cinta itu. "Kau benar-benar keterlaluan. Dengan keadaannya sekarang, dia tidak akan bertahan sampai besok," seru Yue.
"Aku tidak peduli!" jawab Fire tegas. Mood dewa api itu langsung memburuk. Pria itu langsung berdiri dari duduknya. Saat itulah tubuh Amor ambruk ke lantai. Semua orang berlari ke arahnya. Sementara Fire malah memicingkan matanya. "Berhenti, Demon di sini," teriak Fire. Mereka semua membeku di tempat. Bersamaan dengan itu, sebuah kabut hitam muncul di depan Amor. Dari dalamnya langsung muncul sosok berjubah hitam. Pria itu mendekati Amor. Membantu dewi untuk duduk.
"Dan kau masih tetap keras kepala?" tanya Demon kesal. Pria itu pikir, bagaimana mungkin semudah itu Fire melepaskan Amor. "Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang kau bicarakan, raja neraka!" balas Fire tajam.
"Baik, jika kau sudah tidak peduli padanya. Maka akan kubawa dia. Karena aku bisa menyelamatkannya," ucap Demon.
"Kau tidak bisa membawanya ke mana-mana." Satu suara, dan Demon menghentikan langkahnya. Membiarkan Amor berada dalam gendongannya.
"Dia putriku. Aku yang akan menolongnya," The Sky muncul di hadapan mereka semua. Pria itu memandang lurus pada Demon. Sama dengan Demon. Dua pria itu seolah adu tanding kekuatan. Demon seketika menyadari, ada yang tersembunyi dalam perkataan The Sky.
"Kembalikan putriku," pinta The Sky.
__ADS_1
"Aku akan mengembalikannya setelah keadaannya baik-baik saja," Demon berkata, setelahnya tubuh keduanya lenyap dari pandangan semua orang. "Dia benar-bemar sulit dikendalikan," gumam Wind.
"Ayah...." Ice berucap panik. Sementara The Sky hanya bisa menarik nafasnya dalam. "Apa kau bersedia menanggung kutukan itu?" batin The Sky. Fire sama sekali tidak bereaksi, melihat Amor yang dibawa pergi oleh Demon.
*****
Demon melangkah masuk ke dalam kamarnya. Pria itu bertemu Ling Er di depan pintu. "Kenapa kau membawanya ke sini?" tanya Ling Er cepat.
"Kau masih bertanya," balas Demon. "Tunggu, kau tidak bisa melakukannya," Ling Er berteriak. Dia tahu jelas apa yang akan dilakukan Demon. Pria itu menatap Ling Er dengan tatapan frustrasinya.
"Lalu kau ingin aku melihatnya mati begitu? Padahal aku bisa menyelamatkannya," desis Demon. "Tapi itu akan sangat beresiko," cegah Ling Er. Wanita itu menahan lengan Demon.
"Aku akan menerima semua kutukan yang datang padaku. Sudah kubilang kalau hidupku sendiri adalah kutukan. Jadi berhenti mencemaskanku. Dan minggirlah dari jalanku. Kau tahu dia tidak punya banyak waktu," perintah Demon. Pria itu menghentakkan lengan Ling Er. Masuk ke dalam kamarnya, yang pintunya langsung menutup kembali. Bahkan ketika Ling Er belum mengalihkan pandangannya dari Demon.
"Buka pintunya! Kau tidak bisa melakukan itu! Kau melakukan hal yang sia-sia. Dia tetap tidak akan menjadi milikmu! Demon! Dengarkan aku! Demon!" Ling Er berteriak histeris sembari memukul pintu kamar Demon.
Di dalam sana, Demon menutup kedua matanya saat mendengar teriakan Ling Er. Mencoba tidak mempedulikan peringatan wanita itu. "Aku tidak mungkin mundur lagi," gumam Demon. Perlahan pria itu membaringkan tubuh Amor di ranjangnya. Sejenak ditatapnya wajah wanita itu. Wajah pucat seputih kapas. Dengan tubuh dingin seperti es. Bisa dipastikan jika jiwa Amor terluka parah. Mungkin seperti dugaannya, lily beku Amor sudah meleleh sepenuhnya.
"Aku tidak peduli kau jadi milikku atau tidak.Akan kulakukan apapun untuk membuatmu tetap hidup. Meski itu akan membuatku hidup dalam kutukan selamanya. Sebab yang kulakukan menentang kodrat semesta.Aku tidak punya pilihan," batin Demon.
*****
__ADS_1