
Demon langsung berteriak marah. Begitu dia tahu kalau segel Dewi Bunga sudah bisa dihancurkan. Dia sungguh tidak menyangka jika Cedric yang bisa membukanya. Selama ini dia pikir, dirinya juga bisa membuka segel itu.
"Sial! Kenapa dia yang membukanya?" Demon merasa kecolongan. Dia merasa dengan rasa yang Mika miliki untuknya, gadis itu tidak mudah berpaling. Tapi nyatanya tidak.
"Hati manusia mudah berubah, asal kau tahu," Ling Er tiba-tiba muncul di hadapan Demon. Duduk sambil menyilangkan kakinya.
"Diam kau!" Geram Demon. Ling Er tertawa mengejek mendengar kemarahan Demon.
"Kau pikir akan mudah mengubah takdir mereka. Meski kàu sudah mengubah kitab perjodohan mereka. Dan menanam separuh jiwamu di tubuh Amor. Tapi benang merah diantara mereka belum terputus. Dengan kata lain, semua usahamu akan gagal untuk memiliki Amor," jelas Ling Er santai.
"Jadi kau menyuruhku untuk memotong benang merah diantara mereka," balas Demon penuh amarah.
"Kau jangan gila! Memotong benang merah diantara mereka sama saja dengan membunuh keduanya," Ling Er memperingatkan Demon.
"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada seorangpun yang bisa memilikinya. Termasuk Fire," tekad Demon.
"Aku sudah memperingatkanmu. Kau tanggung sendiri resikonya!" Ling Er menghilang dari pandangan Demon.
Demon memejamkan matanya. Amarah itu semakin nyata membakar dirinya. Tanda api di dahi pria itu berubah merah. Ketika Demon membuka mata sebuah ledakan terdengar di seluruh penjuru ruang kerjanya di istana Dunia Iblis. Menghancurkan semua benda yang ada di sana.
Sepasang sayap berwarna hitam tiba-tiba muncul dari punggung Demon. Dalam satu kepakan, pria itu sudah melayang, terbang keluar dari istananya. Tujuannya kali ini, paviliun milik Dewa Bulan, dewa perjodohan seantero alam semesta.
"Jangan lakukan, Demon!" suara Ling Er terdengar di kepala Raja Iblis itu. Tapi Demon yang emosi tidak menggubrisnya. Paviliun Dewa Bulan berada di lapis ke enam dari tujuh lapisan dunia langit. Paviliunnya dikelilingi ribuan tanaman bunga Baby's Breath, bunga lambang cinta yang abadi dan tulus.
Pria itu mendarat dengan mulus, sayap hitamnya seketika menghilang. Berjalan penuh emosi, pria itu langsung merangsek masuk. Sihir pelindung istana Dewa Bulan yang tidak seberapa itu berhasil di lewati Demon tanpa kesulitan sama sekali.
Dewa Bulan, Yue langsung membuka mata. Begitu merasakan aura hitam yang sudah dikenalnya. Sejak kejadian Demon mengubah kitab perjodohan antara Amor dan Fire, Yue memang punya dendam tersendiri dengan Demon. Dewa dengan surai rambut hitam panjang, dan manik mata berwarna hazel itu tampak siaga. Wajahnya yang biasa terlihat teduh menenangkan, kini berubah waspada.
Dia tahu, kekuatannya tidak akan mampu melawan Demon. Tapi dia punya rencana untuk membalas dendamnya. Rencana yang bisa membuat Demon kelabakan.
"Kau menungguku rupanya," Demon menyeringai melihat Yue yang sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan kali ini?" Yue bertanya tanpa basa basi.
"Aku ingin menghapus perjodohan diantara mereka," jawab Demon. Seulas senyum terukir di sudut bibir Yue. Ini adalah hal yang sudah dia perkirakan. Pria itu perlahan mendekat ke arah Demon.
"Kalau aku tidak mengizinkan," tantang Yue. Pria itu harus sedikit berakting.
"Maka aku akan memaksa," Demon menyerang Yue, kilatan sinar hijau dan hitam saling menyambar. Menimbulkan bunyi gemuruh di ruangan itu. Yue sebenarnya tidak benar-benar melayani serangan Demon. Dia hanya mencari kesempatan untuk mengikatkan benang merah pada Raja Iblis itu. Jodohnya siapa, pikir nanti. Yang penting benang merah terikat dulu pada Demon. Yue akan mengerjai Demon. Itulah rencana si Dewa Bulan.
"Aarrgghhh!" Yue mengerang ketika tubuhnya membentur dinding. Pria itu berusaha bangun sambil memegangi dadanya.
"Dia benar-benar melukaiku," Yue mengumpat Demon. Sudah tahu Demon marah betulan, Yue menganggapnya bergurau. Demon seketika mendekat. Tanpa ampun langsung mencekik dewa tampan tapi jomblo itu.
"Aaaarrgghhh, bisa mati betulan aku kalau begini caranya," Yue masih sempat bergurau dengan dirinya sendiri. Padahal di hadapannya, Demon begitu bernafsu ingin membunuhnya. Tapi detik berikutnya, Dewa Bulan itu tersenyum. Dalam satu gerakan, seutas benang merah sudah terikat di jari manis Demon. Tempat yang sama di mana Amor dan Fire mengikat benang merah mereka. Hanya saja, untuk Amor dan Fire, The Sky sendiri yang mengikatkannya.
Benang merah itu langsung hilang tanpa bekas. Hanya Yue sendiri yang tahu soal itu. "Kau akan terkejut, jika suatu hari nanti ada yang mengaku sebagai mate-mu," Yue terkekeh dalam hati.
"Tunjukkan padaku," perintah Demon pada Yue.
"Aku tidak mau!" tolak Dewa bulan itu. Demon tentu saja marah mendengar hal itu. Berani sekali Yue melawannya.
"Kalau kau tidak mau mengatakannya....aku akan memusnahkan seluruh kitab jodoh konyolmu ini!" Demon mengangkat tangan tangannya. Ketika Raja Iblis itu membuka kepalan tangannya. Sebuah api hitam sudah menyala di sana. Berkobar siap menghancurkan semua yang ada di hadapannya.
"Kau tidak akan melakukannya!" Teriak Yue. Demon langsung tertawa terbahak.
"Kau pikir aku tidak berani? Lihat ini!" Demon melemparkan api Iblisnya. Dalam sekejab kobaran api itu, melahap seluruh kitab dan naskah, dokumen juga arsip jodoh milik Yue.
"Tidakkkk!" Yue berteriak. Antara ingin tertawa dan putus asa. Saat itu dia bisa melihat senyum puas terukir di bibir Demon. Satu tembakan bola api, dan seluruh tempat itu hancur dengan sempurna. Detik berikutnya, Raja Iblis itu menghilang dari istana Dewa Bulan.
Sesaat Yue hanya terdiam. Pria itu benar-benar terluka oleh serangan Demon. Apalagi, sebelum pergi, Raja Iblis kembali menyerangnya menggunakan api Iblis miliknya. Jadi bisa dibayangkan betapa panasnya dada Yue.
"Ahhhh, aku harus minta pil Lotus Dingin pada si penyembuh kalau begini caranya," gumam Yue lirih. Perlahan membuat gerakan berputar ke atas dengan dua tangannya. Tak berselang lama, api dalam ruangan itu sudah padam sepenuhnya.
__ADS_1
"Kena kau!" Seringai Yue penuh kemenangan. Dalam sekejab, ilusi yang dia buat, menghilang. Sebelumnya, Dewa Bulan itu membuat tipuan pandangan, dimana ruangan itu yang awalnya kosong, sesaat kemudian sudah penuh berisi rak. Dengan isinya berupa dokumen perjodohan dan teman-temannya. Hingga ketika Demon membakarnya. Hanya gambar ilusi itu yang terbakar. Kitab aslinya aman tanpa tersentuh api Iblis milik Demon.
Seharusnya Demon mampu membedakan mana ilusi dan asli. Tapi kemarahan Raja Iblis itu memberi keuntungan pada Yue. Dokumennya aman. Dan rencananya berhasil.
"Selanjutnya, mari kita cari, siapa yang bisa mendampingi Raja Iblis itu," gumam Yue usil.
****
Sementara di dunia manusia. Begitu segel Dewi Bunga hancur. Dan Amor serta Fire sedang berada dalam wujud dewanya. Ice, Leon dan Wind langsung datang berkunjung.
Amor langsung memeluk Ice penuh kerinduan. Cukup lama keduanya tidak bertemu. Ice cukup senang, keadaan Amor baik-baik saja. Meski selanjutnya, pria dingin itu langsung terlihat sedih.
"Kenapa?" tanya Amor. Detik berikutnya, pria itu menceritakan semua yang telah terjadi setelah kepergian Amor dan Fire ke dunia manusia. Tentang Demon yang berhasil lolos dari kurungannya. Juga soal The Sky yang sedang berada dalam tahap meditasi.
"Lalu keadaan Ayah bagaimana?" tanya Amor cemas.
"Sementara ini dia baik-baik saja. Tinggal menunggu wujud manusianya sempurna," Wind yang menjawab. Leon sesaat terpana pada kecantikan adik Ice itu. Hingga sebuah hawa panas mulai merayapi tubuhnya.
"Oh come Fire, apimu tidak akan mempan padaku. Aku mataharinya,"
"Tapi aku pemilik isinya matahari," detik berikutnya Leon meraung. Kala Fire benar-benar membakar kulit tangannya.
"Oke! Aku minta maaf. Aku hanya mengagumi kecantikannya, tidak lebih!" Fire langsung menghentikan sengatan api Phoenixnya.
"Jangan bermain-main dengan milikku," desis Fire penuh peringatan.
"Iya-iya. Aku salah. Aku minta maaf. Jangan marah lagi. Maafkan aku Amor. Siapa suruh kau bertambah cantik sejak terakhir kali kita bertemu," seloroh Leon tanpa merasa bersalah.
"Leon!" Fire berteriak kali ini. Semua seketika langsung menutup telinganya rapat-rapat.
"Ampun deh, dia kalau sudah ngamuk," gerutu Amor.
__ADS_1
****
"