Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Saran Dari Ling Er


__ADS_3

Selia menatap marah pada semua orang. Terlebih pada Catharina, wanita yang telah menjanjikan sebuah pernikahan dengan Cedric, putra tunggalnya. Tapi apa yang terjadi sekarang. Dengan mudahnya, wanita itu mengubah keputusannya. Dengan mengatakan bahwa Mikalah yang akan menikah dengan Cedric dalam dua minggu ke depan. Selia jelas terkejut, sangat terkejut. Hingga kemudian timbul dugaan di pikiran Selia. Kalau Mika menggunakan tubuhnya untuk memikat hati Cedric.


"Maksud Tante apa?" Selia sekali lagi ingin memastikan kalau yang dia dengar adalah benar.


"Maaf, rencana perjodohan Cedric denganmu terpaksa Tante batalkan. Sebab ternyata Cedric sudah punya pilihannya sendiri," jawab Catharina lembut. Wanita itu tahu jika Selia sangat mengharapkan Cedric untuk bisa jadi pasangan hidupnya. Tapi mau bagaimana lagi. Jika Cedric sudah berkata A ya A. Tidak bisa diganggu gugat.


"Tante keterlaluan sekali! Apa Tante tidak memikirkan bagaimana perasaan saya. Papa dengan Mama sangat mengharapkan kalau saya dan Cedric bisa menikah...."


"Agar aku bisa menyelamatkan keluargamu dari kebangkrutan. Maaf ya aku bukan badan amal yang dengan sukarela mau membiayai keluarga yang hidupnya hanya berfoya-foya saja,"


Skak mat! Selia langsung membulatkan matanya mendengar ucapan Cedric.


"Cedric, kau jangan sembarangan bicara soal keluargaku ya," Selia berusaha mengelak.


"Apa kau mau bukti? Apa perlu aku publikasikan berapa hutang pajak ayahmu kepada pemerintah," ucap Cedric santai. Pria itu duduk sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Satu tangannya ia gunakan untuk memainkan rambut panjang Mika. Sedang sorot matanya tajam menatap Selia.


"Ce....Cedric...."


"Pergilah, dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Aku tidak ingin melihatmu," usir Cedric.


"Cedric kau terlalu keras padanya. Kasihan," bisik Mika.


"Kasihan? Kasihan padanya no....berapa banyak uang yang dia berikan pada dia. Dengan dalih untuk kegiatan sosial. Mama tahu dia gunakan untuk apa uang dari Mama....buat bersenang-senang....berjudi, kalau Mama mau tahu,"


Catharina gantian yang terkejut. Dia tidak menyangka kalau wanita yang begitu dia banggakan itu ternyata hanya menipunya.


"Benar yang Cedric katakan?" Cecar Catharina. Selia hanya diam membisu. Wajahnya tertunduk namun dalam hati sibuk mengumpat, bagaimana Cedric bisa mengetahui semua rahasianya.


"Diam berarti iya. Astaga Selia, Tante tidak menyangka jika kamu tega menipu Tante....Tante pikir kamu wanita baik-baik yang dengan tulus mau menerima kekurangan Cedric,"


Cedric memutar matanya jengah mendengar ucapan sang Mama. "Makanya Ma, kalau cari calon mantu jangan asal nyomot aja di jalan, lihat hasilnya," ledek Cedric.


Selia jelas malu bukan kepalang. Juga marah tidak terkira. Dia benar-benar dipermalukan habis-habisan oleh Cedric hari ini. Wanita itu terus saja mengumpat kesal sepanjang jalan keluar dari rumah itu. Niat hati ingin meminta uang untuk disumbangkan. Tidak tahunya dia ketemu batunya hari ini.


Dalam hati Selia, wanita itu berjanji akan membalas dendam pada Cedric. "Lihat saja, sebelum pernikahan kalian. Aku pastikan kalau Mika sendiri yang akan meninggalkanmu. Ingat itu Cedric," batin Selia. Masuk ke dalam mobilnya. Lantas melajukannya keluar dari halaman rumah besar milik keluarga Ven Gough. Hancur sudah impian Selia untuk menjadi nyonya besar di rumah itu. Plus menjadi penguasa kekayaan Van Gough yang terkenal kaya raya. Selia memukul-mukulkan tangannya pada kemudi mobilnya saking kesalnya.


****

__ADS_1


"Turun, sekarang giliranmu," Cedric berkata galak pada Mika. Gadis itu terlihat takut.


"Harus ya?" tanya Mika lirih.


"Haruslah. Kau kan sudah terima cincinnya. Jadi sekarang kembalikan. Nanti dia berpikir kau menerima lamarannya. Turun dan selesaikan semua. Aku mau semua clear sebelum pernikahan kita," lagi, Cedric berkata panjang kali lebar.


Untuk urusan Daniel, Cedric pikir ini akan sedikit susah. Mengingat pria itu begitu menginginkan Mika untuk menjadi miliknya. Keduanya masuk ke dalam restauran tempat pertemuan mereka dengan Daniel.


Begitu sampai, Daniel yang awalnya sumringah melihat Mika. Mendadak berubah raut wajahnya begitu melihat Cedric yang berjalan di samping gadis itu. Dalam satu tatapan, Daniel langsung tahu apa maksud dan tujuan kedatangan Mika.


"Sial! Bagaimana dia bisa bertindak lebih cepat dariku?" Maki Daniel dalam hati.


"Selamat siang, Kak Daniel," sapa Mika sedikit gugup.


"Selamat siang juga," jawab Daniel. Entah kenapa bahasa mereka berubah menjadi formal.


"Ada apa ya mengajakku bertemu? Apa kau sudah punya jawaban untuk lamaranku hari itu?" tanya Daniel pura-pura.


Mika dan Cedric sesaat saling pandang. Sementara Daniel menatap nyalang pada Cedric tanpa sepengetahuan Mika.


"Begini Kak. Maaf sebelumnya. Tapi sepertinya Mika tidak bisa menerima lamaran Kakak. Jadi Mika kembalikan cincin ini pada Kakak. Semoga cincin ini bisa segera bertemu dengan pemilik yang sebenarnya," Mika benar-benar mengumpulkan seluruh keberanian yang dia punya saat mengatakan itu semua.


"Alasannya? Kalau boleh aku tahu," tanya Daniel.


"Dia akan menikah denganku," kali ini Cedric yang menjawab. Daniel menatap tajam pada Cedric. Tapi seketika berubah lembut saat menatap Mika.


"Kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Daniel lagi.


"Maksudmu apa dengan bertanya begitu pada Mika?" Cedric mulai senewen menghadapi Daniel. Yang dia anggap hanya berpura-pura baik di depan Mika.


"Aku hanya ingin memastikan kalau Mika tidak salah pilih suami. Kau kan tahu sendiri kalau kau itu seorang....casanova. Apa kau berani berjanji kalau suatu hari nanti kau tidak akan kembali pada kebiasaanmu itu?" kembali Daniel bertanya. Pria itu terlihat santai dengan penolakan Mika.


"Aku bisa menjamin diriku tidak akan kembali ke hal itu lagi," balas Cedric yakin. Mika seketika mengembangkan senyumnya mendengar jawaban Cedric.


"Kakak sudah dengar kan? Jawaban Cedric seperti apa," Mika berkata.


"Aku hanya khawatir padamu. Jangan sampai kau dipermainkan olehnya," Daniel menyahut santai.

__ADS_1


"Kau.....!" Cedric langsung mencengkeram kerah baju Daniel. Dengan tinju yang siap menghantam wajah Daniel.


"Cedric sudah. Hentikan!" Mika berteriak karena kini mereka menjadi pusat perhatian di restauran itu.


"Jaga bicaramu!" Cedric memperingatkan.


"Kalau yang kukatakan salah. Kenapa kau harus marah," sindir Daniel lagi.


"Kak Daniel cukup. Aku ke sini bukan untuk bertengkar. Tapi untuk bicara baik-baik dengan Kakak," Mika berusaha menengahi dua pria yang masih sama-sama siaga satu. Siap serang itu.


"Dia yang mulai Mika," adu Cedric.


"Lihat, dia mengadu pada wanita," ledek Daniel.


"Daniel Harrison Ford!"


"Cukup!!" Mika benar-benar berteriak kali ini. Bodo amat kalau orang akan mengatai dirinya gila atau apapun itu.


Dua pria itu langsung kicep seketika. Meski masih menatap sengit satu sama lain. Setidaknya, keduanya tidak terlibat adu jotos.


"Kak Daniel cukup, jangan memancing kemarahan Cedric. Dan kamu, bisa tidak kepalamu ini didinginkan sebentar saja," ucap Mika sambil menatap Cedric dan Daniel bergantian. Kenapa dia jadi seperti guru TK yang sedang melerai muridnya yang sejak tadi tidak berhenti bertengkar. Mika seketika pusing dibuatnya.


Pada akhirnya, Daniel mengambil kembali cincin di atas meja itu. Setelah Mika dan Cedric berlalu dari hadapannya. Daniel langsung menghilang dari restauran itu. Muncul di istananya. Sebuah api langsung muncul dan membakar cincin itu.


"Yahh, kenapa dibakar? Kan aku bisa memakainya kalau dia tidak mau," seloroh Ling Er yang seperti biasa selalu muncul tiba-tiba di hadapan Daniel.


"Diam kau! Kau tidak lihat kalau aku sedang kesal," sungut Daniel.


"Aku tahu kau sedang kesal. Makanya, aku datang untuk memberitahumu sebuah rahasia," bisik Ling Er di telinga Cedric.


"Rahasia apa? Kalau tidak bagus...awas kau,"


"Kau pasti akan senang mendengarnya," tambah Ling Er. Detik berikutnya Ling Er membisikkan sesuatu ke telinga Daniel. Pria itu langsung membulatkan matanya tidak percaya.


"Kau yakin cara itu bisa berhasil?"


"Tidak percaya ya sudah. Kau bisa membuktikannya, kalau ingin tahu itu benar atau tidak."

__ADS_1


Daniel terdiam memikirkan saran dari Ling Er. Dia pikir tidak ada salahnya mencoba. Tapi sebelum itu, Daniel ingin menjalankan rencananya yang lain. Rencana yang telah dia susun bersama Selia.


****


__ADS_2