Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Jembatan Arwah


__ADS_3

Amor langsung memundurkan langkahnya. Menjauhkan diri dari Demon. Membuat jarak aman untuk dirinya. Pria itu menatap Amor dengan senyum tipis terukir di bibirnya. Belum lagi tatapan intens dari sang raja iblis. Demon terlihat sangat menawan untuk sesaat di mata Amor.


"Mau apa kau?" tanya Amor ketika Demon melangkah mendekat. "Aku benar-benar terjerat pada pesonamu, dewi cinta, Amor," jawab pria itu. Untuk wanita pada umumnya, mendengar perkataan Demon, akan membuat mereka melayang ke langit ke tujuh. Tapi bagi Amor, dia tidak terpengaruh sama sekali.


"Jangan mengatakan hal aneh di depanku," sarkas Amor. Wanita itu terus menatap waspada pada Demon. Pria itu malah mengembangkan senyumnya. "Kau benar-benar sulit ditakhlukkan. Padahal mate-mu jelas sudah mati."


"Dia akan hidup kembali," kata Amor yakin. Demon terkekeh kali ini. "Bagaimana dia akan hidup kembali, jika jiwanya sudah menyeberangi Jembatan Arwah." Pria itu melambaikan tangannya. Sebuah cahaya kebiruan melesat melewati Amor. Wanita itu langsung berbalik. Cahaya kebiruan itu sudah berubah menjadi visual sebuah jembatan. Jembatan itu terlihat menyeramkan. Meski jembatan itu terbuat dari kayu. Tapi terlihat sangat kokoh. Di ujung jembatan itu ada dua benda runcing menyerupai tanduk. Berdiri di sisi kiri dan kanan tempat itu. Hampir seperti gerbang. Padahal gerbang yang sebenarnya berada sangat jauh di depan sana. Ada semburat sinar kemerahan, mirip sinar mentari pagi, meski bulan sabit jelas terlihat di atas gerbang itu.



Kredit Pinterest.com


Jembatan Arwah,


Amor jelas terkejut melihat penampakan Jembatan Arwah yang hanya dia baca di naskah kuno. Mengerikan, itulah pendapat Amor kala melihat jembatan itu. "Dan Aro sudah menunggunya," Amor berjingkat saat Demon berbisik di telinganya. Amor memicingkan mata, melihat seorang gadis kecil berdiri di tengah tempat itu. Meski wujudnya terlihat seperti gadis kecil. Tapi sorot mata tajam, menusuk dan dingin. Membuat siapapun akan bergidik ngeri saat menatapnya.


"Dan lihatlah dia. Kau pasti mengenalnya bukan?" pertanyaan Demon, membuat Amor kembali melihat ke arah jembatan. Mencoba menajamkan penglihatannya, menembus kabut tebal yang menyelimuti tempat itu. Amor langsung berteriak saat menyadari sosok yang tengah berjalan ke arah jembatan itu. Meski berpakaian hitam, Amor langsung mengenali sosok itu sebagai Fire saat melihat mata biru samudera milik pria tersebut.

__ADS_1


"Fire!!! Jangan!" Amor akan berlari kepada Fire, ketika Demon langsung memeluk pinggang Amor. Mencegah wanita itu menyusul jiwa Fire. "Berhenti bergerak. Kau tidak boleh pergi ke sana!" Demon berkata cukup keras. Kala dia mulai kewalahan menahan tubuh Amor.


"Lepaskan aku! Aku harus mencegahnya menyeberangi jembatan itu. Aku akan menghidupkannya kembali. Dia tidak boleh pergi ke sana!" Amor berteriak sekaligus berontak dari dekapan Demon.


"Amor sadarlah! Dia sudah mati. Sudah seharusnya dia pergi ke sana!"


"Tidak! Dia belum mati!" Amor menginjak kaki Demon. Pria itu seketika melepaskan cekalannya pada tubuh Amor. Wanita itu langsung berlari menyusul Fire yang mulai memasuki jembatan. "Tidak! Tidak! Jangan pergi!" teriak Amor keras. Untuk sedetik, Amor seolah melihat jiwa Fire menoleh ke arahnya. Mata biru itu jelas milik Dewa Api itu.


"Kembali! Fire ini aku, Amor. Jangan menyeberanginya!" Amor menhindari beberapa sihir Demon yang bermaksud untuk menangkapnya. "Jangan pergi!" Amor langsung menarik tangan Fire begitu berhasil menyusul pria itu.


Amor seketika tercekat, melihat bagaimana dingin dan pucatnya jiwa Fire. "Siapa kau?" tanya Fire dingin. Amor langsung melepaskan pegangan tangannya pada pria itu. Cukup terkejut dengan reaksi Fire saat melihat dirinya. "Kau tidak mengenaliku?" tanya Amor balik. Bukannya menjawab, pria itu terus berjalan. Gadis kecil yang tadi Amor lihat berdiri di tengah jembatan, kini menghilang entah ke mana.


Wanita itu kembali mengejar Fire yang sudah sampai di tengah jembatan. Sesaat, pria itu melihat ke arah Amor. Detik berikutnya, jiwa Fire itu berjalan menuju tepi jembatan. Lantas tanpa ragu langsung melompat masuk ke sungai di bawah jembatan itu.


"Tidak!" Amor berteriak panik melihat hal itu. Dewi cantik itu langsung melihat ke dalam sungai. Dia jelas melihat Fire terjun ke sungai itu, tapi dia tidak melihat jiwa Fire di sana. Sungai itu berwarna hitam kelam. Dasarnya tidak terlihat sama sekali.


"Jangan mencarinya lagi!" Demon menahan tubuh Amor yang ingin turun ke sungai. "Tidak. Aku akan mencarinya dan membawanya kembali," Amor lagi-lagi menepis tangan Demon.

__ADS_1


"Ini sungai De linghun. Sungai ini berisi arwah yang tidak berhasil menyeberang ke ujung sana," Demon menjelaskan. "Aku tidak peduli!"


"Mereka akan menangkapmu. Lalu memakan jiwamu. Mereka bisa melukaimu!" jelas Demon lagi. "Sudah aku katakan, aku tidak peduli!" Amor menatap tajam bola mata milik Demon. Dalam keadaan biasa, pria itu akan langsung terpana dengan keindahan bola mata dewi cantik itu.


"Lepas!" Amor langsung melepaskan diri dari Demon. Setelahnya tanpa ragu, wanita itu menceburkan diri ke dalam sungai. "Byuurrrr," air sungai ternyata dalam. Amor langsung berenang mencari Fire. Dia sudah seperti orang gila. Berenang ke sana kemari mencari sosok yang ia yakini entah ada atau tidak di tempat itu.


Cukup lama Amor menyelam. Dengan kekuatan dewa yang dia miliki. Tidak sulit bernafas dalam air. Awalnya semua biasa saja. Tidak ada yang terjadi. Hingga sebuah gerakan dan suara aneh mulai Amor rasakan. Gerakan dari makhluk yang tidak terlihat. Serta suara geraman yang membuat rasa takut Amor timbul.


"Jiwa penasaran mereka akan menangkapmu. Lalu memakan jiwamu!"


Ucapan Demon terlintas di kepala Amor. Wanita itu memutuskan berenang kembali ke atas. Beberapa kali memanggil Fire tapi tidak ada balasan. Amor baru saja akan muncul ke permukaan ketika sesuatu menahan kakinya. Wanita itu melihat ke arah kakinya, di mana sebuah tangan kurus seperti tulang berbalut kulit tanpa daging, sedang memegangi kakinya. Mata Amor membulat, melihat keseluruhan wujud makhluk yang tengah melihat penuh minat ke arahnya. Seluruh tubuh makhluk itu hanya berupa tulang belulang dengan mata kosong, tanpa bola mata...tapi dari dalamnya memancarkan sinar berwarna merah.


Amor menggerakkan kakinya. Mencoba melepaskan diri dari makhluk mengerikan itu. Bukannya lepas. Benda itu malah semakin menguatkan pegangannya pada kaki Amor. Berkali-kali Amor mencoba melepaskan diri. Tapi semua gagal. Hingga tanpa Amor duga, jumlah makhluk itu semakin banyak. Mereka mulai mengerumuni tubuh Amor. Beberapa kali Amor melepaskan sihir pemusnah, tapi tidak berhasil.


"Aaaarggghhh," Amor meringis ketika satu dari mereka berhasil menggigit lehernya. Tubuh Amor lemas seketika. Seolah yang dikatakan Demon benar, mereka mulai memakan jiwanya. Jumlah mereka semakin banyak. Makhluk itu langsung menggigit lengan, kaki, tangan, semua yang yang bisa mereka sentuh. Bak orang kelaparan yang menemukan makanan.


Amor benar-benar pasrah dengan keadaannya sekarang. Wanita itu tersenyum. "Bukankah bagus jika aku bisa menyusulnya," batin Amor. Tubuh Amor tenggelam semakin dalam.

__ADS_1


****


__ADS_2