Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Firasat Fire


__ADS_3

Sejak kembali ke dunia langit, Fire kembali melaksanakan tugasnya sebagai salah satu panglima perang dunia itu. Bersama Ice dan Wind, ketiganya kembali melatih tentara langit mereka. Sejauh ini ancaman terbesar datang dari dunia Iblis. Meski istana Demon tidak pernah dijaga satu prajurit pun. Tapi percayalah, pria itu punya puluhan ribu pasukan berani mati yang siap berperang di bawah komandonya. Sebagai panglima tertinggi dunia Iblis.


"Sejauh ini tidak ada pergerakan yang mencurigakan darinya," Wind memberikan laporannya pada Fire. Pria itu mengangguk. Dia ingin semua pengamanan mencapai level maksimal sebelum hari pernikahannya dengan Amor. Dengan kejadian di dunia manusia kemarin, Fire memprediksi kalau Demon akan berbuat ulah. Meski dia tidak tahu apa. Tapi Fire ingin mengantisipasi semuanya dengan baik.


Dalam istana tempat tinggalnya, White Castle, pria itu bekerja siang dan malam. Dia sengaja melakukan semua pekerjaannya sebelum dia dan Amor bersatu. Karena setelahnya, dia ingin menghabiskan sedikit waktu berdua dengan Amor.



Kredit Pinterest.com


White Castle,


Ketika Wind dan Fire sedang asyik berdiskusi, tiba-tiba Ice masuk. Diiringi beberapa orang prajurit yang Fire tahu berasal dari istana dunia langit. Kedatangan Ice yang terlihat resmi itu membuat Fire mengerutkan dahinya.


"Ada masalah?" tanya Fire sedikit tegang. Melihat wajah serius Ice. "Apa aku membuatmu takut?" Ice balik bertanya setengah bercanda. Melihat mode serius di wajah Fire, Ice terkekeh.


"Aku hanya menyampaikan pesan dari The Sky yang tak lain adalah ayahku, kalau upetimu diterima, jadi....persiapan pernikahan bisa mulai dilakukan," ucap Ice sambil tersenyum.


Dua sudut bibir Fire terangkat membentuk sebuah senyuman. Pria itu lega karena The Sky menerima hadiah yang dia kirim beberapa hari lalu. Itu berarti kalau lamarannya pada Amor diterima.


"Aku akan bersiap mulai sekarang," seloroh Wind.


"Dia tidak perlu melakukan persiapan. Cukup selesaikan pekerjaanmu, dan juga siapkan saja tenagamu," oceh Ice menimpali ucapan Wind.


"Apa kami ketinggalan berita?" Leon dan Yue ikut bergabung. Lengkaplah sudah formasi lima dewa tampan dari dunia langit. Kelimanya memang terkenal punya paras tampan dan tubuh sempurna.


"Lamaran Fire diterima. Kita akan berpesta dua bulan lagi," jawab Wind cepat. Dua dewa itu langsung mengucapakan selamat pada Fire.


"Tumben dewa jodoh keluar kandang," ledek Ice.


"Diam kau! Aku bosan mendengar ocehannya," Yue melirik ke arah Leon. Dewa matahari itu langsung memanyunkan bibirnya.


"Soal Rain lagi?" tanya Wind. Yue mengangguk pasrah. "Masalahnya aku sudah tidak bisa mengubahnya lagi. Itu sudah paten," kekeuh Yue.

__ADS_1


"Masalahnya sekarang, Rain nguber kau. Merasa kau adalah mate-nya," Leon berkata sembari melihat ke arah Fire.


"Aku? Kenapa harus aku? Aku kan sudah punya Amor," Fire heran dengan jarinya menunjuk dirinya sendiri.


"Dia tidak peduli! Dia pikir akan menggagalkan rencana pernikahan kalian," info Leon.


"Aku tidak salah dengar kan?" Ice bertanya heran. Leon mengangguk. "Alah jebak saja dia. Tiduri saja dia," ucap Wind asal.


Dan Yue langsung mengeplak lengan Wind. "Bagaimana bisa kau mengucapkan itu? Itu melanggar aturan," cegah Yue. Tapi sejurus kemudian, pria itu menyipitkan matanya. Melihat raut wajah berbeda dari ketiga rekannya. "Jangan bilang kalau itu ide yang baik ya," tebak Yue.


"Sepertinya idemu briliant," puji Leon. Wind langsung nyengir memamerkan gigi putihnya, mendengar pujian Leon.


"Jadi kapan waktu baiknya?" tanya Ice menaikkan satu alisnya. "Kalian semua gila! Itu melanggar aturan. Apa kalian tahu?" Yue gemas dengan tingkah ketiga temannya. Sebab hanya Wind, Ice dan Leon yang tampak antusias dengan rencana gila Wind itu. Sedang Fire hanya diam, seolah memberi kode. Kalau dirinya tidak ikut berpikir tidak waras seperti tiga temannya itu.


"Kan konsekuensinya kami akan dinikahkan. Apa salahnya? Toh dia memang mate-ku. Semua juga tahu," Leon memberikan argumennya.


"Pokoknya aku tidak ikut-ikut," Yue mendudukkan diri di kursi di sebelah Fire sambil melipat tangannya. Melihat Ice, Wind dan Leon yang asyik berdiskusi.


"Kami berpikir akan melakukannya sebelum pesta pernikahanmu. Jadi saat kalian menikah, dia tidak akan membuat kekacauan," Leon memutuskan.


"Terserah," jawab Fire acuh. Pria itu melihat ke arah jendela. Di mana salju buatan selalu turun di sana. Itulah kenapa istana Fire berjuluk White Castle. Sebab istananya selalu berwarna putih karena salju buatan yang Fire buat di istananya. Pria itu suka melihat salju. Tampak menenangkan hati. Berbanding terbalik dengan jiwanya yang berapi-api.


"Aku pergi dulu ya....kalau masih mau gelut, silahkan. Akibat.... tanggung sendiri," pamit Fire. Dalam sekelip mata, pria berjubah putih itu sudah hilang dari pandangan keempatnya. "Mau ke mana dia?" tanya Yue heran. Melihat Leon dan Ice yang saling memiting dengan Wind sebagai wasitnya.


"Sudah seperti anak kecil saja," batin Yue sambil memijat pelipisnya.


"Kencan dengan adikku. Dan jangan sebut kami anak kecil," kesal Ice. Yue mengulum senyumnya. Lupa kalau Ice bisa membaca pikiran orang lain bahkan dewa lain.


****


Fire muncul di sebuah taman dengan bunga wisteria fall tumbuh lebat di sana. Bunga berwarna ungu dan pink itu tampak indah dengan bentuk dahannya yang menjulur dan bunganya yang menjuntai. Seolah membentuk sebuah tirai alami berwarna ungu dan pink.


"Sudah lama?" Fire langsung memeluk tubuh Amor dari belakang. Wanita itu tampak memetik beberapa bunga wisteria.

__ADS_1


"Tidak juga. Aku baru sampai...Fire geli," Amor menaikkan bahunya. Karena dagu Fire yang berada di sana membuatnya merinding geli.


Dewa Api itu mengulum senyumnya. Lantas melepaskan pelukannya. Dilihatnya Amor yang masih asyik menikmati taman itu. Fire maklum, sudah lama Amor tidak mengunjungi tempat kesukaannya ini. Tempat di mana keduanya bertemu untuk pertama kalinya dulu.


Waktu itu Amor yang sedang marah pada ayahnya, mencuri keluar dari Sky Castle padahal dewi itu sedang dalam masa hukuman. Tidak boleh keluar kamar. Tapi karena bosan, Amor mencuri keluar dengan berdandan menjadi seorang pria.


Fire yang kebetulan berada di taman itu, langsung menangkap Amor karena mengira wanita itu pencuri. Pertarungan sengit tidak seimbang terjadi. Tepat ketika gulungan rambut panjang Amor terlepas, saat itulah Fire baru tahu kalau Amor adalah Dewi Cinta yang tengah menyamar. Melihat bagaimana cantiknya Amor, pria itu langsung jatuh cinta pada dewi itu pada pandangan pertama.


"Kenapa diam?" tanya Amor yang melihat Fire melamun.


"Tidak. Hanya teringat pertemuan pertama kita," jawab Fire. Kini duduk di sebelah Amor.


"Karena kejadian itu hukumanku ditambah oleh Ayah," kenang Amor.


"Plus kau dijodohkan denganku," balas Fire. "Tidak juga. Sebab aku memang jatuh cinta pada pria bermata biru ini," sahut Amor sambil memeluk tubuh Fire.


Dewa Api pun tersipu mendengar perkataan Amor. Pria itu meletakkan dahunya di puncak kepala Amor. Sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Dewi Cinta.


"Berjanjilah padaku. Apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku. Jangan pergi dariku," ucap Fire sendu. Entahlah, kenapa perasaan Fire jadi melow begitu. Dia merasa, akan ada hal besar yang terjadi.


"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku mencintaimu Dewa Api, Fire," ucap Amor. Fire tersenyum mendengar perkataan Amor. Dia merasa beruntung memiliki Amor di sampingnya.


"Kau tahu, aku akan melakukan apapun untukmu. Bahkan jika aku harus mati di tanganmu. Aku rela," ujar Fire tanpa sadar.


"Kenapa aku harus melukaimu? Aku sangat mencintaimu," Amor menatap wajah Fire yang terlihat serius. Sesaat keduanya saling tatap.


"Aku hanya bercanda. Tapi kalaupun iya, aku benar-benar rela mati di tanganmu. Karena aku sangat mencintaimu," perlahan pria itu mendekatkan wajahnya. Setelahnya dua bibir itu sudah bersatu. Saling menempel untuk selanjutnya saling memagut penuh perasaan cinta.


"Aku tidak tahu Amor, tapi firasatku buruk akhir-akhir ini. Aku selalu merasa akan kembali berpisah denganmu. Aku tidak sanggup jika harus berpisah lagi denganmu. Dengan cintaku sebesar ini, tidak bisakah aku membuat semuanya berakhir baik. Tanpa perlu firasat burukku terbukti nyata," batin Fire.


Masih terus memagut bibir Amor. Kali ini ada kegundahan dalam ciuman Dewa Api itu.


****

__ADS_1


__ADS_2