Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Demon Berkunjung


__ADS_3

Amor menemui sang ayah. Pria itu langsung memeluk tubuh Amor. Merasa lega setelah melihat Amor baik-baik saja. Ada banyak hal di pikiran The Sky ketika melihat Amor terbaring. Berbagai pikiran buruk dan sejenisnya. Tapi sekarang, melihat Amor berdiri di hadapannya, membuat pria itu seketika bisa menarik nafasnya.


Meski di lain sisi, pria itu tidak memungkiri kesedihan yang dia rasa atas kepergian Fire. "Ayah jangan khawatir, aku akan menghidupkannya kembali," ucapan Amor membuat The Sky mengerutkan dahinya. Sehingga pertanyaan "bagaimana" meluncur dari bibirnya. Amor saat itu hanya menjawab," aku akan menemukan caranya."


Sang putri terlihat begitu bersemangat dan yakin akan menemukan cara untuk menghidupkan mate-nya. "Apa kau tidak tahu? Akan ada pertukaran besar jika kau ingin menghidupkannya kembali?" The Sky menatap nanar kepergian sang putri dari hadapannya.


Pria itu langsung terduduk lemah, dengan mata berkaca-kaca. "Takdir apalagi yang kau aturkan untuknya?" gumam The Sky.


Sementara itu, Leon langsung menggeram marah. Begitu Ice, Wind bahkan Yue ikut mengacak-acak paviliun Liong kesayangannya. "Hei...berhati-hatilah dengan itu semua. Hei...itu sangat berharga...jangan sembarangan," begitulah suara Leon saat teman-temannya membuat kerusuhan di tempatnya.


"Sudahlah...bukankah kau sudah memasang mantra pelindung pada semua naskahmu. Jadi itu mustahil akan rusak," bisik Rain yang kini duduk di samping Leon yang meraup wajahnya kasar.


"Tapi tetap...mereka membuatnya berantakan," bisik Leon kesal. Melihat ke arah teman-temannya yang terus menjarah naskahnya. Seperti seorang perampok di sebuah bank. Mereka main ambil, baca lalu meninggalkannya begitu saja. Tidak mengembalikannya ke tempat semula. Yang lebih parah adalah Wind. Dewa angin itu bahkan langsung melemparkan naskahnya begitu selesai membacanya. Jika tidak menemukan apa yang dia cari.


"Wind......jangan melemparnya!" teriak Leon frustrasi. "Uuppsss sorry, kebiasaan," jawab Wind asal. Leon seketika mengumpat pria itu. Sedang Wind buat tidak tahu saja dengan sikap Leon.


Berbeda dengan tiga pria itu. Amor lebih teliti dan sabar. Dia hanya akan mengambil dan membaca naskah yang dianggapnya berhubungan dengan hal yang tengah dia cari. Selain itu dia tidak akan menyentuhnya.


"Setidaknya ada yang tertib dalam mencari," bisik Rain melirik ke arah Amor. Wanita itu tengah berjalan di antara rak-rak menjulang tinggi di paviliun Liong itu. Sesekali melayang untuk melihat apa yang ada di rak paling tinggi. Leon seketika mengembangkan senyumnya. Setidaknya ada yang tidak berbuat onar di tempatnya.

__ADS_1


Hal itu terjadi selama beberapa hari. Hingga semua naskah di paviliun Liong habis mereka investigasi. "Haahhhhh!" Ice, dan Wind langsung menjatuhkan dirinya di lantai. Pencarian mereka berhari-hari tidak membuahkan hasil. Putus asa mulai mendera mereka. Terlebih Amor, wanita itu terlihat begitu lelah dan menderita.


"Aku harus bagaimana lagi?" gumam Amor. Ice melihat wajah sedih sang adik. "Jangan khawatir, kita akan menemukan caranya," pria itu berkata sembari tersenyum. "Tapi ini sudah lewat beberapa hari. Kita semakin kehabisan waktu," jawab Amor hampir menangis.


"Jangan menangis...dia pasti sedih jika melihatmu menangis," Rain berkata lembut pada Amor. Istri Dewa Matahari itu sudah sepenuhnya menerima Leon sebagai mate-nya. Tidak ada niatan untuk mengejar Fire lagi.


"Tapi Rain......" potong Amor.


"Pulanglah dulu dan istirahat. Kami akan terus mencari," Yue berkata. Biasanya ucapan pria itu banyak didengar oleh Amor. Mengingat Yue irit omongan hampir seperti Fire. Sekalinya bicara, akan berdampak banyak pada yang mendengarnya.


Hingga akhirnya, Amor benar-benar menuruti permintaan Yue. Wanita itu pulang lebih dulu. Berjalan gontai menuju paviliun yang menjadi tempat tinggalnya. Pikiran Amor kosong. Tidak tahu ke mana lagi dia harus mencari. Sesaat dewi itu sibuk mengumpat Fuhua. Memberi petunjuk tapi tidak jelas, begitulah gerutuan yang keluar dari bibirnya.


"Demon...." lirih Amor. Wanita itu melihat sekelilingnya. Bagaimana bisa raja iblis itu lolos masuk ke paviliunnya. Sementara Demon, pria itu menyeringai melihat wajah cantik dewi cinta itu.


"Aku pikir berita tentang dirimu yang sudah bangun dari tidurmu adalah bohong. Ternyata berita itu benar adanya," ucap Demon. Menatap tajam pada Amor.


"Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa masuk ke mari?" tanya Amor. Dia mulai waspada ketika Demon mendekat ke arahnya. "Aku? Di sini? Tentu saja untuk menemuimu. Melihatmu. Kau tetap pengantinku," jawab Demon. Kini dirinya berada tak jauh dari Amor, dengan Amor yang perlahan memundurkan langkahnya.


"Aku bukan pengantinmu. Mate-ku tetaplah Dewa Api. Jangan berpikir, kau bisa membawaku pergi atau memanipulasiku lagi," perkataan Amor membuat Demon yakin, kalau Amor pastilah sudah tahu soal Seth yang mengubah mimpinya.

__ADS_1


"Apa yang kau harapkan dari orang yang sudah mati? Bukankah kau sendiri yang sudah membunuhnya?" ucap Demon. Dan ucapan Demon sukses menyulut amarah Amor. "Jika bukan kau penyebabnya, aku pasti tidak akan membunuhnya!" teriak Amor. Detik berikutnya ribuan jarum es tajam mengarah ke Demon. Dalam sekejap, Demon sudah diserang dengan senjata andalan dari pemilik elemen Es itu.


Pria itu memutar badannya, menghindari lesakan ribuan jarum es yang menargetkan dirinya. Satu tebasan dari sihir Demon, membuat jarum es itu lenyap seketika. Setelahnya, raja iblis itu langsung melompat mundur. Ketika Amor mengayunkan pedang es-nya. "Apa kau ingin bertarung denganku? Membuktikan kalau aku sangggup mengalahkanmu?" tanya Demon.


"Jangan banyak bicara!" geram Amor. Detik berikutnya, bunyi tebasan pedang dan ledakan, bergema di tengah pekatnya malam dunia langit. Amor terus menyerang Demon tanpa henti. Dengan rajà iblis itu tidak berhenti bergerak untuk menghindari serangan dewi cinta itu.


"Aku bilang berhenti!" Demon berteriak keras di tengah acara pertarungan mereka. Aaahh, bukan pertarungan sebenarnya. Sebab Demon sama sekali tidak membalas serangan Amor. Pria itu hanya sibuk menghindari serangan Amor. Sesekali menangkis atau membalas serangan dewi cinta itu, meski tidak bersungguh-sungguh.


"Aku tidak mau! Raja Iblis brengsek!" maki Amor. Demor memicingkan mata mendengar umpatan Amor. Amor merangsek maju, berniat mengayunkan pedang es-nya ke arah Demon. Yang kali ini tidak menghindar. Pria itu menangkis pedang Amor dengan pedang hitamnya. Untuk sesaat pandangan keduanya berrtemu. Hingga Demon memutar tubuhnya, sedikit menekan tubuh Amor, dan "klontang" pedang es Amor terlepas dari pegangan wanita itu.


"Aaarrgghhhh......., lepaskan aku!" Amor berteriak ketika Demon memiting tangannya. Pria itu kini berada di belakang tubuh Amor. Seperti sedang memeluk tubuh Amor. Demon sesaat memejamkan mata, menikmati aroma lembut yang menguar dari tubuh sang dewi.


"Apa yang kau lakukan?" geram Amor, ketika merasakan Demon yang mencium puncak kepalanya. "Ini hukuman karena menyebutku brengsek," desis Demon di telinga Amor. "Tidak ada yang salah sebutan itu....aargghhh," Demon semakin menguatkan pitingannya pada Amor. Hingga wanita itu meringis menahan sakit.


Untuk sesaat, Demon menahan tubuh Amor hingga wanita itu berhasil melepaskan diri dari pitingan Demon. Begitu Amor sukses lepas dari cekalan si raja iblis, wanita itu malah dibuat jantungan, karena setelah berbalik wajah Demon hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.


"Kau bertambah cantik sejak aku menciummu di dunia manusia waktu itu," bisik Demon.


Mata pria itu menatap penuh cinta kepada Amor. Ini aneh, padahal mate Demon adalah Ling Er. Tapi kenapa pria itu masih memiliki rasa cinta untuk Amor.

__ADS_1


*****


__ADS_2