Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Permintaan Fire


__ADS_3

Setelah kepergian Fuhua, Amor termenung. Bagaimana cara untuk menyelamatkan Fire? Menghidupkan kembali mate-nya itu. Saking sibuknya dia berpikir, dia tidak tahu kalau Fuhua muncul kembali dihadapannya.


"Sebelum kau memikirkan orang lain. Pikirkan dirimu dulu. Bagaimana kau akan keluar dari sini?" suara Fuhua membuyarkan lamunan Amor. Burung besar itu terlihat gagah dengan dua sayapnya yang mengepak kuat.


"Memangnya kenapa? Bukannya aku tinggal mencari pintu keluar lalu pergi," jawab Amor. Fuhua langsung menunjukkan wajah mengejeknya. "Apa kau tahu ini di mana?" tanya Fuhua.


Amor menggeleng pelan sebagai jawaban. Sebuah ledekan kembali tersirat di wajah Fuhua. "Tempat ini dinamakan Dimensi Tak Berpintu. Kau bisa datang tapi tak bisa pergi. Kau bisa masuk tapi tak bisa keluar,"


"Jangan bercanda denganku. Mana ada tempat seperti itu di semesta ini," sangkal Amor. Fuhua menatap remeh pada dewi cinta di hadapannya itu.


"Nyatanya ada," ucap Fuhua yakin. "Kalau dimensi seperti itu ada lalu kenapa aku bisa masuk ke mari. Lalu kau...bagaimana bisa kau ada di sini?" tanya Amor.


"Kau masuk ke sini karena Fire menuntunmu kemari. Dia ingin ada di dekatmu untuk beberapa waktu...dan kenapa aku ada di sini? Karena dimensi ini adalah dimensiku, tempat tinggalku,"


"Kalau ini milikmu. Cepat kembalikan aku ke duniaku. Agar aku bisa segera mencari cara untuk menghidupkan Fire."


"Tidak semudah itu," tolak Fuhua. Dua makhluk beda jenis itu lantas saling pandang. "Apa kau sengaja menahanku di sini? Apa kau ingin dia benar-benar pergi?" teriak Amor. Rasa bersalah itu masih terasa di hatinya. Semua karena kesalahannya hingga semua ini terjadi.


"Pikiranmu pendek sekali. Mudah diprovokasi. Sebab itu, Seth mudah sekali menghasutmu. Hingga tuanku yang harus jadi korbannya,"


"Apa kau pikir aku senang melakukan hal itu? Apa kau pikir aku bahagia setelah melenyapkan tubuhnya?" Amor berteriak marah pada Fuhua. Jiwa Fire itu benar-benar membuat Amor emosi dengan ucapannya. Apa makhluk sekelas Fuhua tidak bisa melihat ke dalam hatinya. Bagaimana rasa bersalah itu mulai menggerogoti kewarasan otaknya. Andai dia bisa memilih, dia pasti memilih ikut lenyap bersama Fire.

__ADS_1


"Itu bukan urusanku," jawab Fuhua santai. Dia tahu benar isi hati mate Fire itu. Tapi dia belum mau memaafkan Amor atas tindakannya. "Kalau begitu berhenti membicarakan hal yang bukan urusanmu. Sekarang bagaimana caranya aku keluar dari sini," desak Amor.


"Pikirkan sendiri caranya," jawab Fuhua lantas terbang menjauh dari Amor. Wanita itu jelas kesal dengan sikap burung phoenix itu. "Ada ya tuan rumah model begitu," gerutu Amor sambil melihat ke arah Phoenix yang tiba-tiba berbalik arah. Kembali mendekat ke arahnya.


"Kau cerewet sekali! Akan kuberikan satu petunjuk. Kuncinya ada di hatimu, semua tergantung itu," setelahnya, Fuhua terbang menjauh. Kali ini benar-benar meninggalkan Amor sendiri.


"Hei kalau memberi petunjuk itu yang jelas. Hati....hatiku harus bagaimana? Atau harus aku apakan hatiku? Fuhua! Fuhua kembali!" teriak Amor.


Wanita itu menatap hampa pada Fuhua yang benar-benar menghilang dari pandangannya. Detik berikutnya, Amor melihat ke kiri dan kanan. Sejauh mata memandang hanya ada daratan berselimut salju. "Padahal dia kan penguasa api. Kenapa dimensinya berisi salju saja," kembali Amor bergumam pelan.


Tidak ada apa-apa di sana. Amor perlahan melangkahkan kakinya. Tanpa tujuan. Wanita itu terus berjalan, saljunya tidak tebal, itu hanya seperti karpet yang terhampar luas di sana. Amor berhenti ketika dirinya merasa lelah. Mendudukkan diri sambil memeluk lututnya. Melihat ke arah bintang yang berkerlip di antara langit warna hijau di atasnya. "Maafkan aku Fire, aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan padamu."


Tak lama kemudian, wanita itu mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Untuk kesekian kalinya dia menangis. Menangisi kehilangannya, menangisi kebodohannya. Yang jelas, menyesali perbuatannya. "Apa kau akan memaafkan aku? Aku melenyapkanmu karena hasutan konyol yang datang padaku. Dan aku dengan bodohnya percaya," sesal Amor tiada henti.


"Kenapa tidak? Aku selalu memaafkanmu, apa kau tidak ingat?" jiwa Fire bersuara. Amor seketika mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Mata wanita itu membulat melihat Fire tersenyum padanya.


"Fire....kau masih hidup?" Amor langsung memeluk jiwa Fire. Meski detik berikutnya, wanita itu tersungkur di atas salju. Dia tidak bisa menyentuh Fire. "Aku hanya serpihan jiwanya," balas Fire.


"Tapi....tapi kau ada di sini?" Amor bertanya sambil menyentuh wujud transparan Fire. "Jangan menangis, aku tidak suka melihatnya," Fire berkata sambil mengusap air mata Amor. Ajaib, jiwa Firè bisa menyentuh raga Amor.


Merasakan sentuhan lembut di pipinya. Tangis Amor semakin pecah. "Katakan.....apa aku masih pantas untuk meminta maaf padamu? Atau masih ada maaf untukku. Aku telah melenyapkanmu. Aku sudah membunuhmu," kata Amor di sela isak tangisnya. Wanita itu benar-benar menyesali perbuatannya.

__ADS_1


"Bukankah sudah aku katakan. Aku selalu memaafkanmu. Apapun kesalahan yang kau buat. Apapun itu, aku selalu tidak bisa untuk membencimu. Rasa cintaku padamu membuatku bisa mentolerir semua kesalahanmu," jawab Fire. Dia sendiri tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Seharusnya dia membenci Amor setengah mati. Semestinya dirinya membalas dendam atas perbuatan Amor padanya. Tapi berulangkali berusaha membenci Amor, Fire tidak bisa melakukannya.


"Ada ya yang seperti itu. Aku jelas membunuhmu. Kau seharusnya membenciku. Kau seharusnya balik melenyapkanku...."


"Tapi nyatanya tidak kan? Lebih tepatnya, aku tidak bisa. Katakanlah aku sudah gila. Tapi rasa cintaku padamu benar-benar membunuh rasa benci yang seharusnya aku punya untukmu," potong Fire cepat. Demi mendengar hal itu, Amor kembali terisak. "Aku tidak pantas untukmu, Fire. Kau terlalu baik. Aku....."


"Lalu kau ingin aku memutuskan takdir kita. Kau suruh aku cari mate lagi?" tanya Fire setengah bercanda. Kenapa dia jadi receh begini setelah tinggal jiwa saja.


"Kalau bisa, kau bisa dapat yang lebih baik dariku," jawab Amor menundukkan wajahnya.


"Kalau aku tidak mau? Sudahlah Amor, jangan membahas hal ini lagi. Apa kau suka di sini?" tanya Fire mengalihkan perhatian Amor agar berhenti menangis.


"Tentu saja tidak? Bertemu Fuhua benar-benar menyebalkan," gerutu Amor. Fire mengulum senyumnya. Dua pribadi ini sepertinya akan sulit untuk akur. "Dia mendengarmu lo," bisik Fire.


"Bodo! Sama-sama tidak suka apa salahnya saling memaki. Toh aku memaki di hadapannya. Bukan di belakangnya," balas Amor melihat wajah Fire. Transparan jadi terlihat pucat.


"Pulanglah. Aku akan menunggumu untuk menjemputku. Hidupkan aku kembali. Hanya kau yang bisa melakukannya," pinta Fire akhirnya. "Apa kau akan tingggal di sini?" tanya Amor.


"Tentu saja tidak. Ini bukan tempatku. Tempatku ada di seberang Jembatan Arwah,"


"Jangan menyeberang kalau begitu!" cegah Amor. "Jika sampai waktunya tiba, dan kau tidak menjemputku. Aku tidak bisa melawan Aro, dia tetap akan menyeretku untuk melewatinya. Jadi cepat temukan cara untuk menghidupkanku kembali,"

__ADS_1


Amor tertegun mendengar permintaan Fire. Untuk pertama kalinya pria itu minta sesuatu padanya. Dan permintaannya tidak kaleng-kaleng. "Hidupkan aku kembali," ada ya permintaan model begitu.


*****


__ADS_2