
Re dan Ri saling pandang, begitu Cedric memperkenalkan Mika pada mereka. Keesokan harinya. Mereka langsung melakukan screening pada Mika. Kembali duo R itu saling pandang. Sebab mereka sama sekali tidak dapat mengungkap sosok Mika sebenarnya. Yang mereka tahu, Mika adalah putri keluarga Hermawan.
"Jadi mulai sekarang Mika akan membantu kalian sebagai sekretarisku," Cedric berkata sembari melirik Mika yang tampak antusias dengan pekerjaan barunya. Lagi-lagi Cedric dibuat terpana dengan penampilan Mika. Setelan formal berwarna biru itu begitu sempurna melekat di tubuh Mika.
Karena semua kartu milik Mika diblokir oleh Tuan Hermawan. Maka Mika bernegosiasi dengan Cedric, agar pria itu mau meminjamkan uang padanya, untuk membeli keperluannya. Cedric pada awalnya menolak, tapi setelah Mika berkata kalau Cedric bisa memotong dari gajinya untuk membayar hutang. Baru Cedric mau mengabulkan permintaannya.
Hari pertama, Mika ditatar oleh Re dan Ri soal pekerjaannya. Soal tugasnya sebagai sekretaris Cedric. Soal kebiasaan Cedric, soal semuanya yang berhubungan dengan pria casanova itu.
"Ha? Jadi dia seorang player?" tanya Mika setengah berbisik. Sifat hangat Mika membuat Re dan Ri dengan cepat akrab dengan gadis itu.
Re mengangguk, mengiyakan pertanyaan Mika. Mika seketika menggembungkan pipinya...kebiasaannya kalau mengetahui sesuatu di luar dugaan.
"Jadi kalau dia mengunci kita di ruang kerja atau dia mengunci ruang kerjanya. Jangan coba-coba menerobos masuk ya," Ri memperingatkan. Dan Mika mengangguk paham. Meski otaknya setengah blank.
Casanova, tukang main perempuan? Tapi wajar sih di zaman sekarang. Apalagi dia tampan, tajir lagi. Yang ngantri pasti banyak. Mika langsung bergidik ngeri. Membayangkan berapa banyak wanita yang sudah jadi korban atasannya. Berakhir di kasur Cedric.
Meski sebenarnya Mika tidak menyukai pria casanova, tapi asal mereka tidak mengganggunya, itu tidak masalah. Urusan mereka ya urusan mereka, Mika tidak mau ikut campur. Yang penting bagi Mika sekarang adalah bekerja untuk bertahan hidup. Dia harus bisa membuka mata Papanya. Kalau wanita tidak harus berakhir dengan pernikahan. Ada banyak hal yang bisa seorang wanita lakukan.
Mika mulai sibuk dengan pekerjaannya, ketika terdengar hentakan heels yang terdengar nyaring. Berjalan ke arahnya. Gadis itu mengangkat wajahnya, dan mata Mika bertatapan dengan manik mata seorang wanita yang berpakaian seksi. Tidak salah lagi, pasti wanita ini adalah wanita yang dipanggil oleh Cedric. Wanita itu melirik Mika dengan tatapan tidak suka.
"Maaf, ingin bertemu siapa?" tanya Mika basa basi, berusaha ramah pada siapapun itu.
"Aku ingin bertemu bosmu?" jawab wanita itu singkat. Tak berapa lama wanita itu sudah masuk ke dalam ruangan Cedric.
"Pertunjukkan di mulai," bisik Re di belakang Mika. Membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Re, kau mengagetkanku," protes Mika. Re terkekeh melihat keterkejutan Mika.
"Kau lucu sekali," timpal Re. Sementara Mika langsung manyun. Merasa dikerjai oleh rekan kerjanya itu. Keduanya berada di ruang kerja mereka. Berhadapan langsung dengan ruang kerja Cedric.
"Oh iya, pertunjukkan apa maksudmu?" tanya Mika kepo.
"Kau tunggu saja," Re menjawab ambigu.
__ADS_1
Benar saja, tak berapa lama. Wanita cantik itu, berlari keluar dari ruang kerja Cedric. Pakaiannya masih berantakan. Bahkan sebagian dada perempuan itu terlihat jelas. Sebab dress wanita itu sudah diturunkan sampai dadanya.
"Hantu...!" Teriak wanita itu ketakutan. Sambil berlari ke arah lift. Tanpa memperdulikan wajah kepo Mika. Sementara Re hampir kram perutnya karena tertawa. Samar, terdengar umpatan marah Cedric dari ruang kerjanya.
"Hantu? Memang di ruang kerjanya ada hantu?" Mika bertanya penuh rasa penasaran.
"Ada....hantu tidak bertulang. Kepalanya botak," jawab Re asal. Sementara Mika tampak mengerutkan dahi, mendengar jawaban Ra.
"Ada ya hantu model begitu?" gumam Mika lirih.
"Adalah..."
"*Hantu yang bikin wanita mabuk kepayang," batin Re tertawa dalam ha*ti.
"Berhasil lagi," satu telepati masuk ke kepala Re.
"Mika...." terdengar Cedric berteriak dari ruang kerjanya. Mendengar itu, Mika langsung menoleh ke arah Re. Yang juga tengah menatapnya.
"Masuklah, kami akan menolongmu kalau ada apa-apa," Re berusaha menenangkan Mika.
"Mendekatlah," pinta Cedric.
"Mau apa?" tanya Mika langsung.
Melihat kalau Mika berani melawannya. Membuat Cedric heran. Tapi kemudian dia teringat kalau Mika adalah putri keluarga Hermawan. Tentu sedikit banyak, Mika merasa punya harga diri. Tidak mudah menerima perintah di luar konteks pekerjaan.
"Kenapa kau lari dari pernikahanmu? Bukankah menikah itu enak. Kau bisa bercinta sepuasnya dengan suamimu," tiba-tiba saja Cedric kepo dengan kejadian waktu itu.
"Apa tujuan dari pernikahan adalah **** semata? Tidak bukan? Aku ingin menikah bukan karena desakan Papa atau siapapun itu. Tapi aku ingin menikah karena sudah menemukan pria yang kucinta juga mencintaiku," tegas Mika. Gadis itu berpikir kalau harus memberitahu Cedric batasan yang jelas antara dirinya dan bosnya itu.
Seketika Cedric tercekat. Cinta? Sudah lama pria itu tidak mendengar kata "cinta". Kata itu seolah sudah menghilang dari kamusnya. Tapi hari ini dia mendengar kata itu dari seorang gadis belia berusia hampir 21 tahun.
"Dan kau ingin tahu pendapatku soal cinta, "bullshit" Cedric berucap tepat di depan wajah Mika. Membuat gadis itu sejenak memejamkan mata. Menahan hembusan nafas Cedric yang menerpa wajahnya.
__ADS_1
Dengan jarak sedekat itu, Cedric bisa melihat detail wajah Mika yang begitu sempurna. Bahkan deretan bulu mata lentik alami milik Mika, pria itu mampu melihatnya. Hati Cedric berdesir seketika. Dengan jantung yang turut berdebar semakin kencang.
Omong kosong dengan yang namanya cinta. Sebab Cedric tidak pernah mempercayainya dari dulu. Baginya hidup adalah bagaimana menikmatinya dengan cara bersenang-senang. Salah satunya dengan bermain bersama wanita bayaran.
"Soal itu bukan urusanku. Mau percaya atau tidak itu hakmu," balas Mika diplomatis. Kembali Cedric terdiam. Hingga kemudian tangan Cedric menahan tangan Mika yang ingin keluar dari ruangannya.
"Mau ke mana kau?" Cedric bertanya datar.
"Kembali ke ruanganku. Bukankah tidak ada yang perlu aku kerjakan di sini?" sahut Mika. Menepis cekalan tangan Cedric.
"Siapa bilang? Bantu aku bersiap," perintah Cedric. Mika seketika membulatkan matanya.
"Itu di luar urusan pekerjaan. Aku tidak mau," tolak Mika tegas.
"Job descriptionmu tergantung aku. Jadi semua terserah padaku. Jadi kerjakan sekarang," Ulang Cedric. Namun lagi, sebuah penolakan dia dapat dari Mika.
"Gila! Aku baru bertemu gadis model begini. Dia berani menolakku. Kau membuatku semakin penasaran Mika," batin Cedric.
"Tidak mau!" Lagi-lagi Mika menolak. Gadis itu berbalik lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Lima persen hutangmu akan kuanggap lunas. Jika kau melakukannya," Cedric mulai bernegosiasi.
Langkah Mika terhenti, mendengar penawaran Cedric. Lima persen, itu banyak sekali. Seulas senyum terbit di bibir Cedric.
Sekarang dia tahu, hal apa yang bisa mengikat Mika untuk tetap berada di sampingnya.
"Kau serius?" Mika memastikan.
"Tentu saja. Aku tidak pernah ingkar janji," sahut Cedric. Dua manik hitam Cedric menatap wajah Mika yang sesaat terlihat bingung.
"Kau benar-benar licik," umpat Mika pelan.
"Bukan licik. Tapi aku pandai bernegosiasi. Kau tahu bukan, kalau aku adalah seorang negosiator yang ulung," Cedric menjawab sambil menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
***