Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Mate Dewa Bulan


__ADS_3

Amor dan Fire menggunakan mobil Cedric untuk berkeliling. Keduanya begitu menikmati waktu jalan-jalan mereka. Kebahagiaan terlihat jelas di wajah Amor. Hal itu membuat Fire tersenyum.


"Setidaknya kau bisa melupakan mimpi burukmu walau sebentar," batin Fire. Menggenggam tangan Amor lantas kembali mengajaknya berkeliling. Setelah Fire memarkirkan mobilnya. Keduanya melanjutkan acara kencan mereka dengan berjalan kaki. Sebuah hal yang belum pernah Amor lakukan dulu saat menjadi Mika.


"Ini menyenangkan," bisik Amor di telinga Fire. Pria itu terpaksa menunduk agar Amor bisa berbisik di telinganya. Karena jalanan begitu ramai hingga mereka harus bicara setengah berteriak. Atau kalau tidak, harus berbisik di telinga si pendengar.


"Kau tidak pernah melakukannya?" tanya Fire. Ikut berbisik. Amor menggeleng sebagai jawaban. Keduanya kembali berbaur dengan puluhan pejalan kaki yang juga berada di sana.


"Aku malah heran denganmu. Kau masih ingat cara mengemudi," kekeh Amor. Fire menarik sudut bibirnya. Sebenarnya dia tidak sepenuhnya menguasai Cedric. Yang jelas Dewa Api itu membuat Cedric tidak sadar dengan apa yang tengah terjadi dan dia lakukan.


"Aku membiarkan Cedric yang menyetir," bisik Fire. Amor seketika menoleh ke arah Fire.


"Jadi kau ini siapa? Cedric atau Fire?"


"Tentu saja aku Fire, si Dewa Api," balas Fire. "Nah itu baru dia. Narsis," seloroh Amor.


"Bukannya Cedric juga narsis setengah mati." Amor berkata kembali sambil melihat orang banyak yang berlalu lalang di depan mereka. Keduanya duduk di sebuah kursi di tepi jalan. Hingga kedua mata keduanya memicing, melihat dua orang yang sangat mereka kenal. Duduk tak jauh dari mereka.


"Re.....Ri...." panggil Amor. Dua pria yang dipanggil Amor langsung menoleh ke sumber suara. "Mika!" teriak Re. Langsung menghambur ke arah Amor. Memeluk dewi itu tanpa sungkan. Ketiganya larut dalam pertemuan tidak terduga itu. Hingga deheman dari Fire membuat ketiganya melepaskan pelukan.


"Berani kalian menyentuhnya?" suara tegas Fire membuat Re dan Ri menoleh ke arah Dewa Api. Dua dewa itu sesaat memicingkan mata. Memindai penampilan Cedric. Hingga detik berikutnya, Re dan Ri bersujud di depan Fire. Meminta ampun atas kelancangan mereka.


"Ampunnn Dewa Api. Kami pikir dia Mika. Tidak tahunya Dewi yang sedang berkunjung ke dunia manusia. Sekali lagi ampunkan kami," Re memohon. Fire hanya mendiamkan permohonan ampun Re.


"Sudahlah. Bangun. Dia hanya bergurau dengan kalian," Amor berusaha meredam ketakutan duo R itu.

__ADS_1


"Tapi Dewi....." Ri memotong ucapan Amor.


"Berdiri. Ini dunia manusia, bukan dunia langit. Kita sama di sini," kata Fire tegas. Duo R itu langsung mengembangkan senyumnya. "Apa yang kalian lakukan di sini?" Fire lanjut bertanya.


"Kami sedang bosan Dewa Api. Jadi memutuskan jalan-jalan ke sini. Kalian apa juga sedang bosan. Lalu turun ke sini?" jawab Re.


"Mereka mengurangi stres sebelum pernikahan mereka bulan depan. Betul tidak? Tapi ngomong-ngomong, selamat atas pernikahan kalian," sahut Ri.


"Terima kasih," Amor yang menjawab sembari mengulum senyumnya. "Mika dan Cedric sudah menikah. Dewa Api dan Dewi Cinta juga akan segera menikah. Kami senang mendengar hal itu," seloroh Re. Fire dan Amor tersipu malu mendengar perkataan Re.


"Apa yang sudah kalian kerjakan?" tanya Fire. "Kami hanya duduk sambil melihat orang berjalan-jalan. Itu menyenangkan." Ri menjawab, kembali mengarahkan pandangannya ke arah jalanan. Di mana semakin banyak saja orang yang turun ke jalan. Mengingat ini hari libur. Jadi banyak orang yang keluar untuk menghabiskan weekend mereka.


Keempatnya mulai mengobrol hangat. Membicarakan masa lalu. Juga beberapa kejadian di dunia langit yang menarik perhatian mereka. Suasana bertambah meriah, ketika Re membelikan banyak makanan dan minuman untuk mereka. "Kali ini biarkan kami yang menjamu kalian, Dewa dan Dewi," ucap Ri.


"Memangnya masih bisa digunakan?" tanya Fire. Re nyengir menjawab pertanyaan Fire. "Kartu itu dibuat atas nama Cedric," jawab Ri. Keempatnya seketika tertawa. Bisa dipastikan jika setelah ini, Cedric akan bingung dengan adanya laporan penggunaan black card tapi dia tidak merasa menggunakan.


"Kalian usil ya," gelak Amor. "Kalau begitu sekalian saja kita merampoknya. Kita jajan yang banyak," sambung Amor. Re dan Ri mengangguk antusias. Mereka bisa melepaskan sedikit stres mereka dengan belanja di dunia manusia.


"Sebentar...sepertinya kali ini Cedric akan benar-benar kebingunan dengan tagihan black cardnya," ucap Fire. Pria itu memandang lurus kedepan. Di mana dari depan sana. Muncul empat pria dan seorang wanita.


"Waahhhh personilnya tambah banyak," seloroh Ri. Melihat Ice, Wind, Yue serta Leon dan.....Rain. Fire memicingkan mata ke arah Leon. Bagaimana bisa pria itu membawa Rain ke dunia manusia. Apalagi ada Amor di sini.


"Turun ke sini tidak memberitahu," gerutu Wind. "Akhirnya kalian tahu juga kan," jawab Amor santai. Dewi itu tersenyum ke arah Rain yang terlihat canggung.


"Untung kami tahu saat kau menghilang. Dan jejakmu mengarah ke sini," Leon berkata sambil menggenggam erat tangan sang istri.

__ADS_1


"Kau jangan membuat kami para jomblo iri," Ice berkata galak pada Leon. Dewa Matahari itu hanya melebarkan senyumnya mendengar gerutuan kakak Amor itu.


"Apa maksudmu membawanya ke mari?" tanya Fire melalui pikirannya.


"Jangan marah dulu. Dia sudah mengingat semuanya. Jadi dia tidak akan mengejarmu lagi. Aku berhasil memulihkan ingatannya saat aku menyatu dengannya," balas Leon melalui pikirannya.


"Kau serius?" Fire memicingkan mata ke arah Leon. "Aku berani menjaminnya dengan nyawaku," sahut Leon.


Hal yang tidak mereka duga adalah, dalam hitungan menit Amor bisa akrab dengan Rain. Dua dewi itu bahkan bisa tertawa terbahak bersama. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan. "Sepertinya rasa khawatirku terlalu berlebihan," batin Fire. Melihat penuh kelegaan pada Amor dan Rain yang berjalan di depan mereka.


"Jadi kita rampok Cedric August Van Gough hari ini!" seru Ri senang. Hanya Yue, si dewa bulan yang tampak muram. Dewa satu itu memang tidak menyukai keramaian. Apalagi mereka berjalan di tengah banyak orang. "Ini menyebalkan!" gerutu dewa tampan itu.


Hingga tiba-tiba pria itu memejamkan matanya, ketika seorang gadis menabraknya. "Maafkan aku, maafkan aku. Aku tidak melihatmu," ucap gadis itu. Awalnya Yue hanya acuh pada gadis tersebut. Hingga sesuatu yang berkilau di dahi gadis itu menarik perhatiannya.


"Tunggu...tunggu dulu. Simbol itu adalah...." belum sempat Yue memastikan dugaannya. Gadis itu sudah berlalu cepat dari hadapan Yue. Tanda itu adalah bulan sabit perak. Simbol dari keturunan dewi bulan yang sudah lama punah. Menurut sejarah. "Apa dia....Luna?" Yue melihat gadis itu yang langsung menghilang dalam kerumunan orang banyak.


"Takdirmu adalah menyambung keturunan Dewi Bulan yang sudah terputus."


Yue bukannya tidak punya takdir cinta alias jodoh. Tapi karena mate-nya adalah sesuatu yang mustahil. Jadi dia menganggap mate-nya tidak pernah ada. "Keturunan Dewi Bulan sudah lama tidak pernah muncul. Bahkan sejarah mengatakan kalau kaum mereka sudah punah sejak lama."


"Lalu yang tadi itu siapa?" gumam Yue. Berdiri diam di tengah lalu lalang orang yang melaluinya. Membiarkan dirinya terpisah dari rombongan lain.


"Jika dia Luna....apa mungkin dia adalah mate-ku?" tanya Yue dalam hatinya.


*****

__ADS_1


__ADS_2