
"Dia dewi cinta, bagaimana bisa kau minta hal itu sebagai syaratnya," Yue berteriak saat dia menyadari maksud perkataan Lao Yang.
Lao Yang tersenyum. "Dia sendiri yang menawarkannya padaku, dua kali dan aku hanya memintanya sekali," balas Lao Yang. Ice dan Yue saling pandang. "Jadi kau adalah rusa putih yang sudah menyelamatkan Amor?" tanya Ice. "Kau pandai, tuan pengendali es," puji Lao Yang. Kali ini pria itu memandang pada Ice. "Mereka memiliki garis wajahmu, elemenmu," batin Lao Yang perih. Ribuan tahun berlalu, tapi rasa itu tetap tidak bisa hilang dari hatinya. "Maafkan aku, jika aku sudah mengkhianati ibumu,"
"Jangan lakukan Amor. Kau dewi cinta, bagaimana kau bisa hidup tanpa rasa cinta di hatimu," Ice berkata, berjongkok di depan Amor. Yang masih setia bersimpuh. Amor menatap nanar pada sang kakak. "Sekarang katakan padaku, apa aku punya pilihan lain," tanya Amor pilu. "Kita akan mencari jalan lain...."
"Kita sudah kehabisan waktu!" Amor memotong perkataan Yue. Wanita itu lantas berdiri. Jika memang ini satu-satunya cara untuk menghidupkan Fire. Dia akan melakukannya. "Rasa cintaku padanya akan hilang, tapi setidaknya aku tidak membencinya. Bukankah itu sudah sangat baik," kata Amor, perlahan air mata mengalir di pipinya.
"Amor....." Yue dan Ice berteriak.
"Cukup. Ini keputusanku. Aku akan melihatnya hidup kembali, tapi tidak mencintainya," bisik Amor perih. "Aku menerima persyaratannya," kata Amor yakin. Meski dia tahu hatinya sakit bukan main.
"Maka akan kuberikan berkatku padamu. Dan kau bisa menghidupkannya kembali," kata Lao Yang.
"Rasa cintamu padanya akan menghilang saat benda ini masuk ke tubuhnya. Menyatukan ketujuh jiwanya yang sudah menjadi serpihan. Dan menghidupkannya kembali," sebuah bola kecil dengan warna keemasan berada dalam genggaman Lao Yang. Perlahan melayang ke arah Amor. "Aku yang akan membawanya," Yue berkata. Bisa dikatakan jika eleman benda itu adalah api. Jika Amor yang membawanya, dapat dipastikan bila jiwa Amor akan meleleh...itu sangat berbahaya.
"Satu hal lagi, usahakan kau adalah orang pertama yang dilihat olehnya saat dia terbangun," Lao Yang memperingatkan. Yue sudah bersiap untuk memakan bola api itu ketika Amor dengan cepat menggenggamnya lalu menelannya. "Apa kau sudah gila?" Ice berteriak luar biasa cemas.
__ADS_1
"Kau tidak akan bertahan dalam dua hari," tambah Yue.
"Sebagai bantuan terakhir, aku sendiri yang akan mengantarkan kalian pulang," Lao Yang berkata. Sembari tersenyum. Dia merasa cukup beruntung kali ini.
"Untukmu Dewa Bulan, berikan jodoh yang benar-benar tangguh untuknya, sebentar lagi dia akan menanggung beban berat di pundaknya," pesan Lao Yang, memandang lurus pada Ice, penerus tahta dunia langit.
"Ayolah kita harus turun dengan cepat," ajak Ice. Mereka sudah keluar dari Paviliun Harapan, sedang menuruni tangga. "Akhirnya hari ini datang juga, maafkan aku sudah membuatmu menunggu lama. Dan maafkan aku sudah meminta hal konyol itu pada menantu kita," kata Lao Yang. Di depannya berdiri seorang wanita yang menampilkan senyum terbaiknya.
"Aku tahu benang merah diantara kalian tidak pernah putus. Aku sepenuhnya sadar kalau aku hanyalah pelengkap dalam kehidupanmu. Syarat untuk melahirkan seorang keturunan bagimu. Memilikimu di sampingku sudah cukup bagiku," jawab wanita itu.
Lao Yang mengembangkan senyumnya. Wanita itu adalah satu-satunya wanita yang sanggup bertahan di sisinya, hanya untuk melahirkan putranya, Fire.
Dewi Angin dan Lao Yang perlahan menghilang, seiring dengan tempat itu yang turut memudar. "Apa yang terjadi?" Amor bertanya ketika dia merasakan gempa di tempatnya berdiri. "Lihat!" Yue menunjuk ke Paviliun Harapan yang mulai menghilang. "Apa maksud semua ini?" Yue bertanya. Menahan serbuan angin kencang yang menerpanya.
"Tempat ini adalah perwujudan jiwa Lao Yang dan berkat itu pastilah jiwa Lao Yang sendiri. Dia mengorbankan jiwanya untuk menghidupkan Fire!" teriak Ice. Amor seketika jatuh terduduk. Dia begitu terkejut dengan kenyataan ini. Satu nyawa melayang untuk menyelamatkan yang lain. "Ini tidak adil!" teriak Amor.
Saat itulah mereka melihat Lao Yang. "Jangan menangisiku, setidaknya jiwaku berguna,"
__ADS_1
"Tapi aku tidak meminta jiwamu!" kata Amor.
"Tapi aku harus memberikannya. Karena hanya aku yang bisa menyelamatkan putraku sendiri. Terima kasih sudah menemaninya dalam kesendiriannya selama ini, dan kau.....terima kasih sudah sudi mencintai putraku sebegitu dalam. Setidaknya rasa cintaku untuk ibumu sudah tersalurkan melalui rasa cintamu untuk putraku, Fire," Lao Yang menghilang bersamaan dengan tempat itu yang perlahan sirna. Juga dengan tubuh ketiganya yang seolah terhisap oleh sebuah kekuatan yang tidak terlihat.
******
Bruukkkkk, aaaarrggghhhhhhhh,
Leon dan Wind langsung waspada mendengar keributan di luar paviliunnya. "Kau tidak apa-apa?" Ice bertanya cemas pada Amor. Wajah Amor memerah dengan suhu tubuh mulai meninggi.
"Kalian kembali?" Leon berteriak senang. Dua pria itu langsung memapah tubuh Amor. "Buka pelindungnya!" pinta Ice panik. Amor harus segera mengeluarkan bola jiwa milik Lao Yang, jika tidak giliran Amor yang sirna. Dewi itu sudah merasa lemah. Lily beku dalam dirinya mulai mencair terkena panas api phoenix.
Mereka dengan cepat membawa Amor ke tempat Fire terbaring. "Kak...." Amor ingin menangis. Dia tahu setelah ini dia akan kehilangan rasa cintanya pada Fire. "Benang merah kalian tidak pernah terputus. Meski kau tidak mencintainya. Tapi akan ada rasa kasih untuknya di hatimu. Dia tetap akan jadi yang istimewa di hatimu," Yue meyakinkan Amor. Leon dan Wind saling pandang. Tidak paham dengan apa yang dibicarakan ketiga orang itu.
"Cepat keluarkan benda sialan itu!" panik Ice. Dia begitu khawatir dengan keadaan Amor. Perlahan Amor mencondongkan tubuhnya di atas wajah Fire. Panas itu semakin membakar jiwanya. "Aku akan mencintaimu selama hidupku, meski aku tidak yakin bisa bertahan setelah ini. Aku mencintaimu, Dewa Api Fire," kata Amor.
Dia tahu benar resiko dirinya menelan bola api phoenix itu. Tanpa diturunkan suhunya terlebih dulu. Api Phoenix akan melukai jiwanya. Perlahan bola api itu masuk ke tubuh Fire setelah Amor menempelkan bibirnya ke bibir Fire. Satu tetes air mata jatuh di pipi Fire. Membuat mata itu mulai bergerak. "Bangunlah," bisik Amor. Semua orang jelas harap-harap cemas melihat kejadian itu. Tubuh Fire berpendar dengan cahaya keemasan menyelimutinya.
__ADS_1
Tubuh Amor terhuyung ke belakang, dengan Ice sigap menahan. "Bertahanlah, dia sebentar lagi bangun," bisik Ice cemas. Kesadaran Amor perlahan menghilang, seiring rasa kosong yang yang mulai menguasai hatinya. Mata Amor terpejam sempurna, bersamaan dengan tubuh Fire yang berdiri, sepasang sayap Fuhua terlihat memeluk tubuh pria itu. Seiring nyanyian phoenix itu yang terdengar begitu gembira. Tuannya hidup kembali. Mata biru itu pelan mulai terbuka, Fire, sang dewa api, telah kembali.
*****