
Amor sudah kembali ke dunia langit. Meski Demon enggan melepasnya, tapi untuk sementara dia akan diam. Dia akan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Sang ayah menyambut bahagia kepulangan sang putri, ditambah dengan Ice dan Yue. Juga yang lainnya. Semua terlihat bersukacita dengan kepulangan Amor. Meski The Sky tahu ada pertukaran besar yang sudah Demon lakukan untuk menolong sang putri.
"Semua ini seperti mata rantai yang tidak ada putusnya. Fire rela mati di tangan Amor, Amor melakukan apapun untuk menghidupkan Fire dengan Demon menggadaikan hidupnya untuk menyelamatkan Amor. Kapan semua ini berakhir?"
Beberapa hari berlalu, Amor mulai melakukan tugasnya. Sebagai dewi cinta dia ditugaskan untuk menebar kebaikan di seluruh semesta alam. Menolong yang memerlukan bantuan. Membantu yang mengalami kekurangan. Meski dia kehilangan rasa cinta, tapi tidak mengurangi kepeduliannya pada sesama.
"Selesai," Amor menghela nafasnya. Seekor bayi unicorn berada dalam dekapannya. Si ibu terlihat lelah, tapi rona bahagia jelas terlihat dari bola matanya. Dewi itu sedang berada di wilayah utara . Kawasan yang terkenal dengan penghuninya yang berupa makhluk dan juga hewan dunia langit. Boleh dikatakan di sanalah kebun binatangnya dunia langit.
"Kau duduk diam dulu ya, aku akan mengobati luka ibumu," kata Amor lembut pada si bayi unicorn, yang hanya mengedip lucu pada Amor. "Aaaahhh manisnya," Amor mengusap gemas si bayi unicorn. Dewi itu melangkah ke arah kaki ibu unicorn. "Bagaimana kau bisa terluka seperti ini?" tanya Amor. Wanita itu mengusapkan tangan kanannya di kaki hewan menyerupai kuda tapi bersayap itu.
"Aku tidak hati-hati saat berjalan. Aku terpeleset lalu kakiku terluka. Perutku terbentur bebatuan, itulah kenapa dia harus lahir," unicorn itu menjawab melalui mata batinnya.
"Sudah sembuh. Untungnya seorang peri memberitahuku, jika tidak aku mungkin terlambat menolong putramu," kata Amor kembali melihat unicorn kecil itu mulai belajar berdiri.
"Dia tampan sekali," bisik Amor. "Kau menyukainya?" tanya si ibu unicorn.
Amor kembali melihat mata unicorn kecil itu. Ada yang menarik dalam tatapan makhluk kecil itu. "Aku ingin menjadi mate putrimu suatu hari nanti."
Amor terbahak mendengar ucapan putra unicorn itu. "Aku bahkan tidak ingat dengan mate-ku sendiri. Bagaimana aku akan memiliki putri," batin Amor.
"Kau tidak ingat padanya, tapi dia selalu mengkhawatikanmu," si ibu unicorn melihat melewati Amor. Wanita itu menoleh dan melihat wajah panik Fire di belakangnya.
"Kenapa kau main kabur begitu saja. Ice bingung mencarimu," cecar Fire begitu keduanya saling berhadapan. Perlahan pria itu mulai mengingat Amor. Dia ingat bagaimana besar rasa cinta yang dia punya untuk kekasih hatinya itu. Meski sampai sekarang Amor masih terlihat acuh padanya.
"Aku tidak kabur, aku panik ketika si Fairy, peri memberi tahu kalau ada unicorn mau melahirkan dan mengalami kesulitan. Apalagi, ya aku langsung ke sini. Lihatlah, tidakkah dia terlihat manis dan tampan?" Amor mengangkat bayi unicorn itu ke depan mata Fire. "Senang bertemu denganmu, ayah mertua," Fire melengos meremehkan mendengar salam perkenalan dari unicorn kecil itu.
__ADS_1
"Aku saja belum menikah, bagaimana bisa kau menyebutku ayah mertua. Lagi pula ada banyak syarat untuk menjadi mate putriku kelak," Fire melirik ke arah Amor yang seketika salah tingkah dibuatnya.
"Jadi bagaimana kau bisa menemukanku di sini?" tanya Fire. Keduanya tengah berjalan di padang rumput yang mendominasi wilayah utara. "Mudah saja, aku hanya mengikuti naluriku. Kau yang menuntunku ke mari," bisik Fire. Amor seketika menghentikan langkahnya. Lantas beralih memandang Fire. Pria itu berdiri tepat di belakangnya.
Kredit Pinterest.com
"Aku tidak berharap banyak. Aku tahu rasa itu sudah hilang dari hatimu. Tapi aku tidak, kemarin aku memang tidak ingat padamu. Namun sekarang aku mulai mengingatmu," ada keheningan saat Fire mengatakan hal itu. Semilir angin berhembus menggoyangkan rerumputan dan pohon yang ada di sekitar padang rumput itu.
"Yang kurasakan padamu, tidak pernah berubah," kata Fire lagi. Kali ini dada Amor bergetar hebat. Dia seperti seorang wanita yang baru saja mendapat pernyataan cinta dari seorang pria.
"Kau tetap dewiku, cintaku, pemilik hatiku sekarang dan selamanya, cinta pertama dan terakhirku," pria itu menyelipkan sebuah jepit rambut di gulungan rambut Amor.
"Kali ini dua jiwa yang kuserahkan padamu," batin Fire.
"Untuk?" tanya Fire. Pria itu mengulum senyumnya. Melihat tangan Amor memegang tangannya. "Aku banyak berbuat salah padamu," kata dewi cinta. Fire melebarkan senyumnya. "Maka lakukan sesuatu untuk menebusnya."
Amor mengerutkan dahinya. "Caranya?" Pikiran Amor berkelana ke mana-mana. Dia pikir apa maksud perkataan Fire. Amor memekik lirih kala Fire menjentik dahinya. "Apa yang sedang kau pikirkan?" goda Fire. Amor menggeleng gelagapan menjawab pertanyaan Fire.
"Tidak ada. Aku tidak memikirkan apapun," kilah Amor. Fire kembali tersenyum. Lantas balik menggenggam tangan dewi itu. "Temani aku jalan-jalan kalau begitu," pria itu berjalan sembari menarik tangan Amor. "Eeehhhh," Amor sedikit tersentak ketika Fire membawanya berkeliling. Selama itu baik Amor dan Fire tidak berhenti tersenyum. "Tangannya begitu hangat," batin Amor melihat tangannya yang berada dalam genggaman Fire.
"Aku harap kita bisa mulai dari awal lagi."
*****
__ADS_1
Sementara itu, Fuhua langsung mendengus geram. Begitu tahu kalau Fire memberikan dua jiwanya pada Amor. "Dia ini tidak kapok mati apa ya?" maki Fuhua pada tuannya.
"Justru karena dia takut mati, makanya dia menitipkan jiwanya pada Amor. Kau tahu kenapa?" tanya seorang pria yang duduk di samping Fuhua. Fuhua terdiam tidak menjawab. "Karena kalaupun Fire mati....lagi. Amor akan tetap hidup bagaimanapun caranya. Dengan begitu dia bisa dihidupkan kembali," jawab pria itu.
Fuhua menatap kesal pada pria itu. Lao Yang, pria itu adalah tuannya terdahulu. Ayah Fire. Mereka berada di dimensi tak berpintu milik Fuhua. "Kalau dia mati lagi, bagaimana dia akan hidup kembali. Kau sudah di sini bersamaku. Tidak mungkin memberikan separuh jiwamu lagi padanya," Fuhua menjawab.
"Karena itu aku menanamkannya di sini," pria itu menunjukkkan sebuah pil kecil berwarna pink. "Itu adalah...."
"Rasa cinta dewi cinta," potong Lao Yang. Fuhua mengerutkan dahinya. Burung Phoenix itu sudah mengubah wujudnya menjadi manusia. Semua yang ada ditubuhnya berwarna merah keemasan. Bahkan sampai rambutnya sekalipun.
"Kau tidak sungguh-sungguh memintanya?" tanya Fuhua.
"Ini milik putraku. Aku hanya meminjamnya sebentar," kata Lao Yang santai. Fuhua kembali mendengus geram.
"Kau mengerjai mereka?" Fuhua bertanya kesal.
"Tidak juga. Nah.....kembalikan padanya jika waktunya tiba," Lao Yang menyerahkan pil kecil itu pada Fuhua.
"Waktunya tiba.....kapan?" tanya Fuhua kepo.
"Nanti kau juga tahu. Sekarang biarkan mereka bersenang-senang dulu. Sebelum ancaman besar datang lagi," kata Lao Yang, pria itu lantas berlalu dari hadapan Fuhua.
"Lao Yang....Lao Yang.....jangan bermain teka teki denganku. Kau tahu aku tidak suka! Lao Yang......" Fuhua kesal bukan kepalang, melihat Lao Yang hanya melambaikan tangan padanya.
"Begitulah kalau punya mantan tuan, mantan pembuat takdir. Main rahasia-rahasia-an melulu," gerutu Fuhua. Melihat Lao Yang yang sudah menghilang dari dimensi itu.
__ADS_1
*****