Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Rencana Terakhir


__ADS_3

"Tolong aku! Tolong aku! Demon lepaskan aku!"


Amor tidak berhenti berteriak dari tadi. Wanita itu terus memukul pintu, berharap Demon mau membukakan pintu untuknya. Dewi cantik itu terus berteriak, hingga mulutnya teras kering, dan tubuhnya terasa lemas. Pelan, tubuh Amor merosot ke lantai. Putus asa mulai mendera wanita itu.


"Tolong aku, siapapun tolong aku." Bisik Amor. Wanita itu bersandar pada daun pintu. Dia pikir siapa yang bisa dia mintai tolong. Dia dikurung di tempat ini, dan Amor sangat yakin kalau Demon sudah memasang sihir pelindung di sekitar kamarnya. Air matanya sudah mengering. Dia tidak mampu menangis lagi.


Hingga tiba-tiba, sinar kuning kemerahan berkilau di hadapan Amor. Amor menutup matanya menggunakan lengan bajunya.


"Kau ini memang merepotkan!" satu suara membuat Amor membuka matanya. "Fuhua!" pekik wanita itu. Berikutnya, Amor sudah berlari ke hadapan Fuhua. Bermaksud memèluk Fuhua saking senangnya. "Jangan menyentuhku!" Peringatan Fuhua membuat Amor mengurungkan niatnya.


"Bawa aku pulang," pinta Amor sumringah. Wujud manusia Fuhua menatap remeh pada Amor. Lihatlah betapa lemahnya wanita ini, tapi Fuhua heran. Seorang Amor bisa membuat kacau dua dunia hanya karena urusan percintaannya. Jika tidak mengingat Fire dan permintaan Lao Yang, makhluk abadi itu enggan menginjakkan kakinya di dunia ini. Apalagi ini tanah kaum Iblis. Kaum yang sejak dulu jadi musuh bebuyutannya.


"Enak saja minta pulang. Tidak bisa!" Fuhua tegas menjawab. Amor langsung memanyunkan bibirnya. "Kalau bukan menjemputku, lalu untuk apa kau kemari?" tanya Amor kemudian.


Fuhua memicingkan mata, melihat mate tuannya, yang sangat tuannya cinta. Ciiihh, cinta. Fuhua berdecih, mengingat bagaimana Fire selalu membela Amor tiap dia dan tuannya itu berdebat.


"Sudah kewajibanku untuk membela dan melindunginya. Mengutamakan kebahagiaannya di atas segalanya."


Begitu Fire selalu berkata. "Aku ke sini untuk mengembalikan benda yang akan menyelesaikan masalahmu." Kata Fuhua. Sebuah pil berwarna merah muda melayang dari tangan Fuhua. "Itu....."


Belum sempat Amor bicara. Benda itu sudah melesat masuk ke dalam tubuh Amor. Menghancurkan pil dari Demon. Benda hitam milik Demon itu perlahan menunjukkan keretakan samar. Ketika pil merah muda itu mulai mengambil tempatnya kembali. Hingga bunyi pecah samar terdengar kala pil hitam itu pecah dan memudar tanpa bekas secara perlahan.


Begitu pil merah muda itu kembali ke tempatnya. Kilasan kenangan tentang Fire langsung muncul di benak Amor. Seperti film yang tengah diputar. Amor hanya memejamkan mata seolah meresapi apa yang tengah bermain di kepalanya. Hingga ketika semua selesai, Amor membuka matanya yang langsung berkilat. Menandakan kembalinya Amor yang lengkap tidak kurang suatu apapun.

__ADS_1


"Fire adalah mate-ku." Satu kalimat itu langsung terucap begitu Amor melihat Fuhua. Pria dengan tubuh merah keemasan itu hanya menyeringai mengejek. Dia penasaran bagaimana Amor akan keluar dari sini.


"Tolong aku!"


"Tidak!" tolak Fuhua tegas. Pria itu perlahan mulai menghilang. Diiringi tatapan penuh permohonan dari Amor, yang sama sekali tidak digubris oleh Fuhua.


"Panģgillah dia. Beritahu dia kalau kau berubah pikiran."


Suara Fuhua terdengar sebelum pria itu benar-benar menghilang. Amor seketika tersenyum sekaligus menggigit bibir bawahnya. Senang sekaligus bingung. Fuhua masih mau memberinya petunjuk. "Bagaimana caranya?" gumam Amor.


Kembali wanita itu berjalan ke sana ke mari sembari berpikir. Bagaimana dia akan menghubungi Fire, pikir Amor.


******


Fire berlari menerobos masuk ke aula istana langit. Pria itu tersenyum lega melihat The Sky masih ada di sana. "Yang Mulia, Fire, Dewa Api menghadap."


"Ada apa? Kau terlihat panik."


"Amor, dia mengirim pesan." Fire seketika mengeluarkan jepit rambut yang pernah dia beri pada Fire. Seperti pesan video, di depan mereka seketika terpampang wujud Amor. "Tolong aku! Demon mengurungku di sini!"


The Sky langsung mengepalkan tangannya. Dugaannya benar kalau Demon pasti akan menyakiti putrinya. Dua orang itu akhirnya berdiskusi. Hingga diputuskan kalau besok mereka akan menjemput Amor.


Amor kembali berjalan mondar mandir dengan gelisah di kamarnya. Pikirannya berkecamuk, dia sedikit ragu, pesan yangg dia kirim untuk Fire sampai atau tidak. Wanita itu sempat kebingungan dengan petunjuk Fuhua. Hingga wanita itu teringat dengan jepit rambut yang pernah Fire berikan. Seperti kalung yang pernah pria itu berikan, yang ternyata berisi satu jiwa Fire. Dia pikir kali ini benda yang diberikan Fire tentu bukan benda biasa.

__ADS_1


Dewi cinta itu sejenak mengamati jepit rambut di tangannya. Dia semakin yakin ketika melihat jepit rambut itu berbentuk phoenix. Hingga seperti ada yang menuntun, Amor memejamkan matanya lantas berbisik," Tolong aku, Demon mengurungku di sini." Sembari menggenggam jepit phoenix itu.


Benda itu bersinar lantas menghilang dari tangan Amor.


Lamunan Amor buyar ketika sebuah sinar muncul. Sinar yang persis sama dengan saat Fuhua muncul. Amor menggenggam sinar itu. Jepit phoenix itu kembali. Ketika Amor memegangnya sebuah suara masuk ke kepala Amor. "Jangan khawatir, aku akan menjemputmu besok."


Pesan balasan dari Fire membuat Amor tersenyum. Hingga wanita itu tidak sabar menunggu hari esok tiba. Ketika wanita itu tengah berbahagia mengingat Fire akan menjemputnya besok. Pintu kamar Amor terbuka. Demon masuk dengan wajah herannya.


Amor mundur sembari menyembunyikan jepit itu dalam genggamannya. "Apa yang kau lakukan?" Demon bertanya. Dia merasakan aura Phoenix di kamar itu. Amor menggeleng pelan. Sejenak Demon memandang Amor. Pria itu segera sadar kalau mantra pengendali hatinya telah dipatahkan. Wanita di hadapannya ini telah kembali pada keadaannya semula. Dewi cinta yang penuh dengan cinta dan belas kasih.


"Siapa yang datang kemari?" Pertanyaan Demon membuat Amor segera melihat wajah Demon. Wajah Demon tampan, tidak ada yang akan menyangkalnya. Amor juga tidak akan mengingkarinya. Tapi dia sama sekali tidak tertarik dengan pria itu. Hatinya kini kembali terpaut pada satu nama. Kali ini dia tidak mungkin akan goyah.


"Tidak ada." Amor menjawab singkat. Wanita itu memundurkan dirinya ketika Demon mendekat ke arahnya. Sorot mata tajam menukik ke arah Amor. Tapi wanita itu tidak takut. Dia tahu Fire akan selalu melindunginya.


"Aku tahu dia kemari. Kau berani bermain di belakangku. Kau adalah calon istriku....."


"Aku menolak pernikahan ini. Aku tidak pernah mau menikah denganmu. Fire adalah mate-ku. Sekarang dan selamanya."


Demon menggeram marah mendengar perkataan Amor. Demon semakin yakin, kalau wanita ini sudah terbebas dari sihir pengendali hati miliknya.


"Begitukah menurutmu? Asal kau tahu...aku juga tidak akan pernah melepasmu." Pria itu lantas menelisik tubuh Amor. Dewi cinta itu menangkap tatapan tidak biasa Demon padanya. Sepercik hasrat dia lihat di mata Demon.


"Karena kita akan menikah lusa. Tidak ada salahnya jika aku...."

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Amor menjauhkan tubuhnya dari Demon. "Memilikimu seutuhnya." Kata Demon. Seringai mengerikan terukir di wajah Raja Iblis. Ini adalah rencana terakhir yang Demon bisa pikirkan. Setelah sihir pengendali hati pun dapat di patahkan oleh Amor. Tidak ada cara lain selain memiliki dewi cinta itu sekarang.


*****


__ADS_2