Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Perjalanan Dimulai


__ADS_3

Amor membaca naskah yang Yue bawa. Bahasanya sedikit membuat Amor mengerutkan dahinya. “Aku tidak paham dengan bahasanya,” gumam dewi cinta itu. Yue lantas mengambil kembali naskah itu dari tangan Amor. Sesaat kemudian, pria itu langsung nyengir. “Aku lupa kalau naskah ini memakai bahasa penghuni bulan,” kata pria itu.


“Sudahlah yang penting apa isinya?” tanya Leon. Yue membaca naskah itu lantas menjelaskan isinya. “Jiwa orang yang sudah meninggal bisa dihidupkan kembali jika mereka masih memiliki serpihan jiwa yang masih tinggal di dunia. Meski hanya satu serpihan jiwa.”


Semua saling pandang mendengar perkataan Yue. Mereka pikir apa masih ada serpihan jiwa Fire yang tertinggal di sini. “Kita harus mencarinya,” tekad Amor.


“Setelah itu kita harus meminta berkat pada pendeta yang tinggal di puncak Tianjun. Berkat pendeta itulah yang akan menghidupkan kembali jiwa manusia itu.”


Mereka kembali saling pandang. “Puncak Tianjun? Di mana itu, aku belum pernah mendengarnya,” Rain menyahut lirih. Detik berikutnya mereka semua berpikir bagaimana menemukan serpihan jiwa Fire yang masih tinggal di sini. Amor lantas menceritakan pengalamannya melihat jiwa Fire yang melompat ke sungai De Linghun, hingga dirinya berakhir seperti kemarin.


“Apa yang aku lihat itu adalah serpihan jiwa Fire?” tanya Amor. Yue lalu membaca kembali naskah itu. Sesaat mengerutkan dahinya. “Di sini dikatakan, kalau serpihan jiwa itu tidak bisa pergi ke mana-mana. Dia hanya diam di satu tempat,” pria itu langsung melihat ke arah teman-temannya.


“Tidak bisa pergi ke mana-mana. Hanya diam di satu tempat, tidakkah itu seperti serpihan jiwa itu sengaja diikat begitu. Seperti saat The Sky membagi serpihan jiwanya. Dua dia gunakan untuk melindungi Ice dan Wind. Yang lima dia gunakan untuk menahan serangan Demon,” Leon berkata saat teringat cerita penguasa langit itu.


“Dia mengikatkan satu jiwanya pada Ice dan Wind hingga jiwanya tidak musnah seluruhnya. Jadi dia hanya perlu meditasi untuk mendapatkan wujud manusianya,” Yue menyambung perkataan Leon. Kembali kesunyian menyelimuti paviliun Liong.


Rain sejak tadi hanya diam, wanita itu malah terpaku memperhatikan wajah Amor. Hingga pandangan matanya terarah pada kalung yang Amor pakai. Kalung berbandul sayap Phoenix, bentuk asli jiwa Fire.


Dewi hujan, Rain dianugerahi kepekaan tingkat tinggi terhadap hal-hal yang punya kekuatan murni atau benda yang terdapat kekuatan lain di dalamnya. Dunia manusia mengenalnya dengan indigo. “Amor, apa kalungmu adalah pemberian Fire?” tanya Rain.

__ADS_1


Amor melirik kalungnya, “Iya, kenapa?” tanya Amor bingung. “Berikan padaku,” Rain mengulurkan tangannya. Wanita itu lalu melepaskan kalungnya, memberikannya pada Rain. Istri Leon itu sesaat memejamkan mata, lalu tersenyum.


“Jika dugaanku benar, maka kita akan segera mulai perjalanan ke gunung Tianjun,” Rain berkata lalu memutar tangannya di atas kalung itu. Dalam sekejap, kalung itu berubah wujud menjadi sosok Fire. Amor dan yang lainnya jelas terkejut sekaligus senang.


“Dia selama ini selalu bersamaku,” bisik Amor lirih. Menyentuh pipi jiwa Fire yang matanya terpejam. “Ini hebat,” gumam Leon. “Bagaimana kau tahu ada serpihan jiwa Fire dalam kalung Amor. Sedang yang punya saja tidak peka,” ledek Yue.


“Aku punya kekuatan untuk mendeteksi roh, jiwa dan semacam itu,” jawab Rain. Amor kemudian teringat saat Fire memberikan kalung itu setelah benang merah perjodohan diikatkan pada mereka. “Anggaplah ini adalah pengganti diriku saat aku jauh darimu,” kata Fire.


“Kau bahkan memberiku satu serpihan jiwamu padaku, tapi aku dengan bodohnya malah melenyapkanmu,” sesal Amor. Wanita itu jelas merasa bersalah.


"Sudahlah, satu petunjuk sudah kita dapat. Selanjutnya, kita akan mulai perjalanan menuju gunung Tianjun," Yue berkata. Dalam sekejap, Ice dan Wind sudah muncul di depan mereka. Absennya Fire membuat pekerjaan mereka semakin banyak. Bahkan terkadang Leon turut membantu, jika Ice dan Wind benar-benar kewalahan mengurusi pasukan dunia langit. Ditambah lagi, Wind mendeteksi adanya pemberontakan dari kaum minoritas penyihir yang menghuni wilayah timur dunia langit.


"Jadi dia benar-benar bisa dihidupkan?" tanya Ice. Pria itu mengelilingi tubuh Fire yang kini dibaringkan diatas ranjang di salah satu paviliun milik Leon. Mereka tidak mau mengambil resiko dengan memindahkan jiwa Fire terlalu jauh. Sebuah sihir pelindung ganda dibuat untuk melindungi tubuh transparan Fire. Sihir yang hanya bisa dibuka oleh Amor dan Leon.


Padahal musuh terbesar dunia langit adalah dunia Iblis. Tapi sepertinya Demon cukup gentlemen, tidak menggunakan kesempatan emas ini untuk menyerang dunia langit. "Apa kau sudah bicara pada Ayah?" tanya Ice.


Amor menggeleng pelan. Dewi cantik itu cukup pesimis kalau sang Ayah akan mengizinkannya pergi. Mengingat wilayah Tianjun adalah tempat penuh misteri di daerah barat. Tempat itu selalu dipenuhi kabut tebal. Bukan kabut biasa, melainkan kabut sihir, seolah itu adalah benteng bagi gunung itu. Mereka tidak menemukan gunung Tianjun di naskah manapun. Itu berarti belum pernah atau jarang ada orang yang pergi ke sana. Jadi mereka tidak tahu seperti apa gunung Tianjun itu.


*****

__ADS_1


Malam itu, Amor secara khusus menghadap sang Ayah. Secara gamblang dia menceritakan kalau dia sudah menemukan serpihan jiwa Fire, dengan begitu dia akan mulai perjalanan ke gunung Tianjun besok, jika penguasa dunia langit itu mengizinkan.


The Sky menatap lama pada putri bungsu sekaligus putri kesayangannya. Tidak bisa The Sky pungkiri, garis wajah Amor adalah wajah Nuwa. Hanya saja watak Amor sangat keras kepala. Pria itu menarik nafasnya dalam. Amor sendiri tidak berani melihat wajah sang Ayah. Dia cukup takut dengan apa yang akan ayahnya sampaikan.


Tanpa Amor duga, The Sky mengizinkannya pergi, dengan syarat dia harus kembali. Pria itu menekankan kalau dia tidak ingin kehilangan lagi. Amor seketika mengangguk yakin. "Berjuanglah sampai akhir. Karena kau tahu, jika jalanmu akan sangat sulit," pesan The Sky.


Selanjutnya pria itu memakaikan kalung dengan ukiran bunga lily sebagai liontinnya. "Jangan bilang ini juga ada serpihan jiwa Ayah," kata Amor penuh selidik. The Sky terkekeh mendengar ucapan sang putri. "Kau bisa tanya Rain untuk memastikan. Itu hanya simbol, kau akan bertemu seseorang yang sangat penting. Jadi kau harus terlihat lebih cantik dari biasanya," canda The Sky.


"Apa Ayah ingin aku menggoda pendeta itu, agar aku bisa mendapatkan berkatnya dengan mudah,"


"Tentu saja tidak. Setidaknya dia akan mengenalimu melalui kalung itu. Sebagai putriku," jawab The Sky. Amor seketika mengembangkan senyumnya. Memeluk sang Ayah penuh rasa cinta. "Aku akan segera kembali, aku janji," bisik Amor.


"Kembalilah tanpa kurang suatu apapun, putriku," The Sky membatin pilu.


****


Setelah melihat jiwa Fire, Amor langsung bergabung dengan Ice dan Yue. Dua pria itu yang akan mengantarnya ke gunung Tianjun. "Aku titip Fire sebentar," kata Amor pada Leon. Pria itu mengangguk.


"Sudah siap?" tanya Ice. Amor dan Yue mengangguk. "Mari kita mulai petualangan kita," seru Ice.

__ADS_1


Dan perjalanan mereka pun di mulai. Tiga orang itu melesat naik ke langit diatas mereka. Lantas menghilang dari pandangan mata Leon dan yang lainnya. "Semoga mereka cepat kembali. Waktunya tinggal lima hari," gumam Rain lirih.


*****


__ADS_2