
Demon merangsek maju. Meraih tubuh Amor, lalu merobek pakaian wanita itu. Lantas menindih tubuh Amor setelah membawanya ke ranjang.
"Demon kau gila!" Pekik Amor terkejut dengan tindakan Demon. Tanpa basa basi raja iblis itu lantas mencium Amor panas.
Amor terus berontak, melawan sekuat yang dia bisa. Hingga ketika Demon kembali merobek pakaiannya, wanita itu menangis histeris. Saat itulah, sinar merah keemasan menyerang Demon. Melempar tubuh pria itu hingga menghantam dinding di seberang ruangan. Sinar itu menyelimuti tubuh Amor, mengembalikan pakaiannya yang telah robek menjadi utuh seperti semula.
"Sial! Phoenix itu melindunginya dari jauh," Demon mengumpat kesal. Pria itu semakin yakin kalau Fire baru saja datang kemari. Pulihnya rasa cinta di hati Amor tentu membuat hubungan dua mate itu kembali tersambung. Demon perlahan melangkah ke arah ranjang. Setelah sinar merah keemasan itu memudar tapi belum menghilang
Dilihatnya pendar sinar itu masih menyelimuti tubuh Amor yang tidak sadarkan diri. Bisa dipastikan kalau Amor sekarang dalam perlindungan Fire. Ada rasa menyesal dalam diri Demon melihat leher Amor lebam kebiruan karena kuatnya cengkeram tangannya saat mencium wanita itu.
Demon akhirnya melangkah pergi dari kamar itu, dengan rasa sakit serta sesak di dada.
Pagi menjelang, Amor merasa cemas. Sebab sudah cukup siang. Dan Fire belum datang menjemputnya. Dia takut kalau Demon akan melakukan hal mengerikan lagi seperti kemarin. Wanita itu lega ketika dia sadar dari pingsannya. Dia mendapati pakaiannya menjadi utuh kembali. Amor juga masih ingat bagaimana Demon yang terlempar ke seberang ruangan.
Tanpa Amor tahu, di luar istana Demon terjadi perselisihan sengit antara Fire dan Demon. Fire mengatakan keinginannya untuk menjemput Amor karena wanita itu mengubah keputusannya. Sedang Demon, jelas tidak mau mengembalikan Amor. Pria itu masih bersikukuh kalau dia dan Amor akan menikah besok.
Akhir dari perselisihan itu adalah adu tanding antara Fire dan Demon. Dalam pertarungan itu, Demon kalah. Tapi pria itu tetap tidak mengizinkan Fire membawa Amor.
"Jika kau terus menahannya, aku tidak segan membawa pasukanku untuk menggempur istanamu!" Ancam Fire. Demon menyeringai. "Aku tidak takut!" Jawab pria itu lantang.
__ADS_1
"Kau menantangku!" Seru Fire. Sementara Demon tersenyum tipis. Fire tidak bisa menerobos istana Demon. Sebab Demon sudah memasang sihir pelindung di seluruh istananya. Ditambah lagi, Fire tidak bisa menemukan keberadaan Amor di istana Demon.
"Aku tidak takut untuk berperang melawan dunia langit!" Kata Demon lagi.
******
The Sky menggebrak meja, begitu Fire gagal membawa pulang Amor. "Dia menantang kita?" pria itu menahan amarahnya susah payah.
Mendengar ucapan The Sky, Yue maju. Pria penuh kebijasanaan itu berusaha membujuk The Sky agar tidak mengibarkan bendera perang melawan kaum Iblis. Mengingat akan ada banyak korban yang berjatuhan kalau perang sampai terjadi.
The Sky dan Fire saling pandang. Sebab yang dikatakan Yue benar adanya. Mereka tahu benar apa resiko dari berperang. "Aku akan menyelinap masuk kalau begitu." Fire tiba-tiba berucap. Semua yang ada langsung melihat ke arah dewa api itu. "Apa kau gila?" Ice bertanya.
"Daripada aku diam dan tidak melakukan apapun. Dia memanggilku. Seperti yang aku katakan, jika dia memanggilku, aku akan datang." Fire menjawa sembari memandang lurus pada The Sky.
"Aku akan menemaninya." Yue berkata. Melihat ke arah Fire yang langsung tersenyum mendengarnya.
Malam menjelang, Fire dan Yue bersiap dengan Ice, Leon dan Wind yang melihat cemas ke arah dua temannya. Yue sedikit memberi gambaran pada Fire bagaimana keadaan istana Demon terakhir kali dia dan yang lainnya berkunjung. Tidak ada penjaga, tapi aura Demonlah yang menghabisi para penyusup itu. Ketiga temannya, hanya melihat kepergian Fire dan Yue dengan tatapan penuh harap. Agar mereka kembali dengan selamat bersama Amor
Fire dan Yue muncul langsung di dalam istana Demon. Black Castle sesuai namanya, istana itu hanya diliputi kegelapan di sana sini. Kalaupun ada cahaya itu hanya remang-remang saja. "Benar-benar seperti dunia bawah," guman Fire pelan. Ketika dia membawa Amor terakhir kali, Fire langsung muncul di kamar Amor. Jadi pria itu tidak melihat kesuraman Black Castle.
__ADS_1
"Pernah ke sini?" Yue bertanya. Keduanya berjalan santai menyusuri istana Demon. Sesekali memeriksa kalau mereka menemukan aura Amor. "Pernah, aku dan Ice membawa pulang Mika waktu itu," jawab Fire.
"Itu berarti saat kau menjadi Cedric?" Fire mengangguk pelan. Mereka berhenti serentak ketika tiba di depan paviliun Amor. Keduanya merasakan aura Amor tapi tidak melihat adanya bangunan di depan mereka. "Biar kulihat."
Yue memejamkan mata, pria itu menggunakan mata hazelnya yang untuk melihat apa yang ada di hadapannya. Aneh bukan, jika dalam istana itu berisi banyak paviliun, tapi ada satu area yang kosong. Tanpa tanaman ataupun hal lain. Mencurigakan.
"Dia di dalam." Yue segera bergerak diikuti Fire. "Amor kau di dalam?" Fire mengetuk pelan pintu paviliun itu. Mendengar ada yang memanggilnya, Amor bergegas turun dari ranjangnya. Lalu berlari ke arah pintu. Jika itu Demon, maka pria itu akan langsung masuk. Tidak perlu memanggilnya lebih dulu.
"Aku di sini," teriak Amor senang. Fire dan Yue saling pandang. Hingga keduanya sama-sama menggunakan kemampuannya untuk membuka sihir pelindung di sekitar tempat itu. Dan benar saja, begitu sihir pelindung berhasil disingkirkan. Sebuah paviliun megah langsung terlihat.
"Amor mundurlah." Kata Fire dan pria itu menggunakan kekuatannya untuk membuka pintu yang lagi-lagi dikunci menggunakan sihir pengunci. Terdengar bunyi ledakan saat pintu itu bisa dibuka. Amor menutup telinga juga matanya. Hingga suara Fire membuat Amor membuka matanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Fire cemas. Dua pasang mata itu saling beradu pandang untuk sesaat. Hingga akhirnya Amor memeluk tubuh Fire tanpa kata. Demi apapun, Fire sungguh bahagia bisa melihat Amor baik-baik saja. Terlebih jika Fire bisa merasakan kalau Amor kembali mencintainya.
"Maafkan aku. Maafkan aku. Aku melupakanmu. Aku menyakitimu." Kata Amor terbata di sela isak tangisnya. Bukannya menjawab, Fire malah tersenyum mendengar ucapan mate-nya itu.
"Rindu padaku?" kekeh Fire. Amor seketika mengangguk, tapi tak lama menggeleng. Fire tertawa melihat ekspresi Amor. "Tidak ya tidak apa-apa. Tapi aku, asal kau tahu. Aku sangat merindukanmu." Balas Fire.
"Ehemmmm, mesra-mesranya nanti saja. Kita ketahuan." Yue berkata santai melihat Demon yang melihat mereka dengan tatapan penuh amarah. Pria itu jelas murka melihat ada yang masuk ke wilayahnya tanpa izin. Apalagi kali ini mereka menyentuh miliknya yang paling berharga. Wanitanya, calon istrinya juga calon ratunya.
__ADS_1
Sorot mata pria itu berubah merah, menunjukkan kemarahannya. Terlebih melihat Amor dalam pelukan Fire. Pria yang paling Demon benci di semesta raya.
*****