Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Dia Calon Istriku


__ADS_3

Matahari mulai menunjukkan warna keemasannya di sisi timur. Belum sepenuhnya terbit. Mika tampak mengerjapkan matanya pelan. Kenapa sofa bednya jadi begitu nyaman. Kenapa aromanya seperti aroma kasur kesayangannya. Hingga kemudian, gadis itu mulai membuka mata. Mika langsung membulatkan mata begitu melihat Cedric yang tidur di hadapannya. Eh salah, dia yang tidur dalam pelukan pria itu.


"Cedric apa-apaan sih?" Mika protes pada pria yang tampak masih memejamkan mata itu.


"Apanya?" jawab Cedric serak. Khas orang bangun tidur. Di tambah lagi pria itu ternyata sudah topless. Mika ingat, Cedric kalau tidur memang suka bertelanjang dada.


"Kenapa aku jadi tidur di sini?" sungguh Mika belum pernah berada di situasi seperti ini. Tidur dengan seorang pria. Tidur dengan Mike sang kakakpun tidak pernah.


"Aku yang angkat kamu," jawab Cedric santai.


"Tapi kan...." Mika berusaha menjauhkan diri dari tubuh Cedric. Tapi tidak bisa. Pria itu melingkarkan tangan panjangnya di pinggang Mika. Gadis itu seketika tidak bisa berbuat banyak.


"Ssssttttt, diamlah. Sambung tidur lagi,"


"Tapi kalau Papa dan Mama melihatnya bagaimana?" Mika bertanya cemas.


"Aku kan memang mau menikahimu dua minggu lagi. Jadi aku memang mau bertanggung jawab kalau aku melakukan sesuatu padamu,"


"Ha? Maksudmu apa?" Mika bertanya tidak paham.


"Maksudnya seperti ini.....," tanpa aba-aba Cedric langsung mencium bibir Mika. Gadis itu ingin berontak. Tapi satu tangan Cedric menahan tengkuk Mika. Hingga gadis itu tidak mampu berbuat apa-apa. Selain pada akhirnya membalas ciuman pria itu. Aksi bertukar saliva itu semakin memanas ketika Cedric mengubah posisi mereka. Kini pria itu telah mengungkung tubuh ramping Mika. Bersiap menuruni leher jenjang gadis itu.


"Stop....stop....," Mika berteriak dengan nafas ngos-ngosan. Mendorong jauh tubuh Cedric. Yang anehnya tidak melawan.


"Hampir saja," seloroh Cedric. Pria itu melirik Mika yang juga memandang dirinya.


"Makanya jangan main nyosor aja," kesal Mika.


"Sorry kebiasaan," jawab Cedric enteng. Mika seketika memicingkan matanya. Dia tahu benar dengan predikat casanova, Cedric akan mudah sekali tergoda dengan wanita manapun yang menyerahkan diri padanya. Ingat, para perempuan itu yang mencari Cedric.


"Pokoknya aku tidak mau tahu. Mulai sekarang kau harus menghentikan kebiasaan kang ngosor, kang peluk apalagi kang tidur dengan perempuan manapun selain aku," ucap Mika penuh penekanan.


"Heii, aku bukan kang tidur dengan sembarang wanita ya," Cedric membenarkan ucapan Mika.


"Terserah, pokoknya intinya seperti itu," Mika tidak mau mengakui salah ucapnya. Cedric seketika mengembangkan senyumnya.


"Apa kau mulai cemburu pada para perempuan itu?" goda Cedric.

__ADS_1


"Siapa bilang aku cemburu?" Mika berkilah sambil memalingkan wajahnya. Menutupi rona malu di wajahnya. Hal itu semakin membuat Cedric bersemangat untuk menggoda calon istrinya itu.


"Iya deh enggak. Cuma panas hatinya," ucap Cedric sambil memeluk tubuh Mika dari belakang.


"Cedric....."


"Sudahlah, ayo balik tidur lagi. Kalau tidak beneran aku makan kamu nanti," ancam pria itu. Mika seketika kicep dibuatnya.


"Siang nanti temani aku bertemu wanita itu ya," pinta Cedric. Mika langsung mengulas senyum tipisnya. Lalu mengangguk sebagai jawaban permintaan Cedric. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya pada Mika. Lalu memejamkan mata.


"Aku baru tahu, kamu kalau tidur ternyata tidak pakai bra," celetuk Cedric.


"Cedric.....!" Mika berteriak mendengar keusilan pria itu padanya. "Dasar pria menyebalkan," gerutu Mika dan disambut tawa oleh Cedric.


****


Mika menggenggam erat lengan Cedric, ketika mereka turun dari mobil pria itu. Berdiri di depan sebuah rumah besar bak istana. Mansion kata orang kaya zaman sekarang.


"Gini amat mau ketemu camer," batin Mika gugup.


"Kalau Mamamu tidak setuju gimana?" Mika teringat bagaimana Mama Cedric menamparnya waktu itu.


Pelayan yang ada di rumah itu langsung berteriak senang. Mereka heboh karena tuan muda mereka sudah lama tidak pulang ke rumah. Yang sering datang ya Selia, tapi pelayan itu mengatakan kalau mereka kurang menyukai Selia. Wanita angkuh, tidak sopan. Juga sombong.


"Jadi bisa aku titip dia, aku akan bertemu dengannya," pinta Cedric pada pelayan di rumahnya.


"Tentu saja Tuan Muda," para pelayan itu kompak menjawab. Lalu mempersilahkan Mika untuk mengikuti mereka menuju ruang tengah. Sementara Cedric naik ke ruang kerja sang Mama. Para pelayan itu sibuk mengagumi kecantikan Mika yang alami tanpa polesan. Beberapa langsung membandingkan dengan Selia, wanita yang digadang-gadangkan akan menjadi istri Tuan Mudanya.


"Cantikan Nona Mika kemana-mana," celetuk seorang pelayan.Yang langsung diangguki oleh yang lain. Mika jadi salah tingkah dibuatnya.


Sedangkan di sisi lain, Cedric tampak menghela nafasnya di depan pintu ruang kerja sang Mama. Ini adalah kali pertama dia mengunjungi Catharina, sejak kematian sang Papa setahun yang lalu. Pria itu mengetuk pelan pintu itu. Setelah ada jawaban, barulah Cedric masuk ke dalamnya.


Wanita itu tampak tengah berkutat dengan lembaran kertas di atas meja kerjanya. Berprofesi sebagai designer, membuat Catharina bisa bekerja dari rumah atau kantornya. Masih mengenakan kacamata bacanya, wanita itu seolah tidak sadar siapa yang sudah masuk ke ruangannya. Hingga deheman Cedric, membuat wanita itu mengalihkan pandangannya dari kertas di atas mejanya.


"Cedric, kau pulang," Catharina berlari ke arah sang putra. Lantas memeluknya. Terlambat menghindar, membuat Cedric akhirnya hanya pasrah ketika sang Mama memeluknya.


"Aku ingin membicarakan sesuatu," ucap Cedric cepat. Keduanya sudah duduk saling berhadapan.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau bicarakan dengan Mama?" Catharina bertanya antusias.


"Aku ingin menikah dalam dua minggu ke depan," balas Cedric cepat. Senyum mengembang di bibir Catharina. Dia tahu, Cedric pasti akan menuruti kemauannya.


"Selia akan senang jika dia mendengarnya,"


"Aku tidak akan menikah dengan Selia," potong Cedric. Catharina langsung mengerutkan dahinya.


"Mikayla Theresia Hermawan, sekretarisku. Aku akan menikahinya,"


"Kau bercanda kan?" Catharina bertanya tidak percaya. Dia ingat gadis itu yang pernah dia tampar karena membuat Cedric mengalami kecelakaan.


"Aku tidak pernah seserius ini dalam hidupku," lagi Cedric menjawab tegas.


"Tapi Selia bagaimana?"


"Itu urusan Mama. Mama kan menjanjikan pernikahan padanya tanpa bertanya padaku, bukan aku," Cedric menjawab enteng.


"Kalau Mama tidak setuju?" tantang Catharina.


"Itu terserah Mama. Yang penting aku sudah melapor pada Mama. Setuju atau tidak itu tergantung padamu. Kalau Mama tidak setuju. Mama yang rugi. Mama harus tahu siapa Mika," bisik Cedric. Wanita itu dengan cepat meraih ponselnya. Mengetikkan sesuatu di sana.


Cedric sendiri hanya menatap remeh pada tindakan Catharina. Sikap Cedric sedikit melunak pada wanita itu, setelah Mika menceramahinya habis-habisan. Sama Mama sendiri itu harus sopan, jangan panggil kau, dia...Mama ya panggil Mama. Begitulah sebagian dari omelan yang Cedric terima tadi pagi.


Pria itu jadi berpikir, apa Mika ini jenis langka. Mengingat belum pernah ada seorang wanitapun yang mengomel padanya. Mikalah gadis pertama yang berani memprotes semua sikap dan mengkritik semua perbuatan yang gadis itu anggap salah.


"Dia putri Agra Hermawan?" pertanyaan Catharina membuat Cedric menganggukkan kepalanya.


"Kau akan punya peluang untuk ekspansi ke pasar yang lebih luas. Mengingat mereka punya clothing line yang lumayan sukses. Sedang keluarga Selia tidak akan bisa memberikan itu padamu," Cedric tahu benar kelemahan sang Mama. Wanita itu tersenyum puas mendengar jawaban sang putra.


Itu yang terjadi di lantai atas. Yang terjadi di lantai bawah justru sebaliknya. Suasana yang tadinya menyenangkan seketika berubah mencekam. Ketika Selia tanpa permisi masuk ke rumah itu. Wanita itu datang dengan pakaian super seksi dan wajah full make up. Untuk sesaat, Mika hampir meledakkan tawanya. Tapi kemudian gadis itu mengubahnya menjadi sebuah senyum terkulum. Dia teringat kartun Dakocan yang pernah ditontonnya.


"Siapa dia?" tanya Selia angkuh. Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan kalau dia seorang yang berpendidikan.


"Halo, aku Mika. Sekretaris tuan Van Gough. Kita pernah bertemu waktu itu," jawab Mika sopan sambil menunduk.


"Oohh kau sekretaris menyebalkan yang sudah membuat Cedricku kecelakaan waktu itu?" Selia membalas tajam.

__ADS_1


"Dia bukan hanya sekretarisku tapi juga calon istriku," ucapan Cedric membuat Selia terkejut.


***


__ADS_2