
Pintu kamar Amor perlahan terbuka. Seseorang masuk perlahan ke dalam kamar dewi cinta itu. Langkahnya tenang dan tidak terburu-buru. Dia tahu benar, tidak akan ada yang tahu kedatangannya. Seseorang itu mendekat ke arah ranjang, di mana Amor tengah tertidur dengan pulasnya.
Sesaat seseorang itu melihat wajah damai Amor dalam tidurnya. Hingga sebaris kalimat terucap dari bibir orang itu. "Ini adalah hal terakhir yang akan aku lakukan untuk membuatmu jadi milikku."
Orang itu membungkukkan badannya, bersamaan dengan bibir orang itu yang merapalkan mantra pengendali hati atau lebih mudah kita menyebutnya pelet. Sebutir pil kecil melayang langsung masuk ke dada Amor, tepat di mana hati wanita itu berada.
Orang itu menunduk lantas mencium bibir Amor. Cukup lama, hingga akhirnya orang itu beranjak keluar dari kamar Amor.
****
Fire terpaku, sebuah penolakan dia dapatkan hari ini. Amor menolak menikah dengannya. Pria itu tidak menduga kalau Amor akan menolak lamarannya. Ketika pria itu bertanya alasannya, Amor menjawab sudah mencintai orang lain. Sebuah jawaban yang membuat semua orang saling pandang. Sebab mereka tahu, tidak ada rasa cinta di hati wanita itu.
Yue memicingkan mata, melihat ke arah Fire. Pria itu curiga ada yang tidak beres dengan Amor. "Apa kau memikirkan hal sama denganku?" Ice dan yang lainnya mengangguk.
Seseorang pasti melakukan sesuatu pada Amor. Amor tidak punya rasa cinta, dia tidak bisa mencintai pria manapun. Tapi wanita itu tiba-tiba mengatakan mencintai pria lain. "Apa dia pernah kemari?" Ice bertanya.
"Mana kita tahu," Wind menjawab ketus. Terakhir kali mereka melihat Demon membawa Amor. Setelahnya mereka tidak pernah melihat raja iblis itu.
Fire sendiri jelas shock dengan penolakan Amor. Pria itu berpikir kalau Amor pasti menerima lamarannya. Hatinya kecewa sudah pasti. "Kau kecewa?" Yue bertanya. Pria itu sengaja mengunjungi istana dewa api itu.
"Ada yang aneh dengannya," gumam Fire. "Dia dikendalikan sesuatu atau lebih tepatnya seseorang," pada akhirnya Yue menceritakan kecurigaannya. Fire mengepalkan tangannya saat mereka memiliki pendapat yang sama soal siapa pelakunya.
"Bagaimana dia melakukannya?" tanya Fire.
"Sihir dan mantra pengendali hati. Terlebih hati Amor kosong saat ini. Mudah baginya untuk mengisi kekosongan itu," jelas Yue.
"Kau benar-benar cari mati, Demon!" geram Fire.
Fire bertanya apa ada cara untuk membebaskan Amor dari sihir itu. Yue sayangnya menggeleng tidak tahu. Pria berkata belum mencari tahu. Dua pria itu akhirnya mendesah pelan bersamaan.
__ADS_1
Belum reda rasa terkejut atas penolakan lamaran Fire. Satu perkataan keluar dari bibir The Sky, sang putri ingin menikah dengan Demon dari dunia iblis. Berita itu semakin menegaskan kalau Demonlah pelaku semua kekacauan ini.
"Ayah kan bisa menolaknya?" kesal Ice.
"Adikmu mengancam akan melukai dirinya kalau ayah tidak mengizinkan dia menikah dengan raja iblis itu," The Sky menjawab tak kalah kesalnya.
Ice meninju udara kosong di hadapannya. "Aku akan bicara padanya," pria itu berlalu dari hadapan sang ayah. Berjalan menuju tempat favorit sang adik. Makam ibunya, sebab pria itu tidak menemukan Amor di taman wisteria.
"Kenapa kau ingin menikah dengannya?" Ice bertanya tanpa basa basi.
Sang adik terdiam. Wanita itu sebenarnya tidak tahu dengan apa yang dia rasakan. Ada yang aneh dengan dirinya. Kenapa di kepalanya hanya berisi wajah raja iblis itu. Amor menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan Demon dari otaknya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Ice bertanya sembari menatap pusara ibu mereka. Di sampingnya, sejak tadi Amor beberapa kali menghela nafasnya. "Tidak tahu," Amor menjawab ragu.
Giliran Ice yang menghembuskan nafasnya kasar. "Kau tahu keputusanmu menyakitinya?" Amor memandang sang kakak dengan tatapan penuh permohonan. "Aku tidak bisa menikah dengannya. Aku sudah melakukan kesalahan. Aku membunuhnya, Kak."
"Tapi kau juga yang menghidupkannya kembali. Kau bertaruh nyawa untuk menyatukan jiwanya."
"Lalu kau mau menikah dengannya, apa alasanmu?" Dada Ice bergemuruh, jelas dia tidak terima kalau Amor menikah dengan si raja iblis itu.
"Setidaknya aku tidak pernah berbuat salah padanya. Anggap saja aku membayar budi. Karena dia sudah menyelamatkan nyawaku."
Astaga, kenapa semua jadi ruwet dan bertele-tele begini. Ice mengusap wajahnya kasar. Dia tidak habis pikir dengan Amor yang mau menikah dengan Demon hanya karena ingin balas budi. "Kau tahu, aku lebih suka kau menikah dengan Fire."
"Dan kakak ingin aku hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah seumur hidupku begitu?"
"Itu tidak penting. Yang penting Fire mencintaimu. Dia tidak memikirkan soal lain. Dia hanya ingin kau ada di sisinya. Itu saja." Ice mencengkeram kedua lengan Amor.
"Dia juga mencintaiku," lirih wanita itu.
__ADS_1
"Dia tidak mencintaimu, dia hanya terobsesi padamu. Kau tidak ingat dia melakukan apapun untuk mendapatkanmu. Apapun, tidak peduli itu salah atau benar."
Amor memandang kedua bola mata Ice. Dewi itu ingat dengan jelas bagaimana Demon sampai menanamkan setengah jiwa iblisnya padanya. Hingga dirinya berakhir harus bereinkarnasi menjadi manusia sepuluh kali.
Belum lagi cara-cara licik lain yang raja iblis itu lakukan. "Itu berarti dia memperjuangkanku, Kak." Sang kakak langsung membulatkan matanya mendengar perkataan Amor. "Amor....." Ice nyaris berteriak.
"Lalu apa Fire tidak memperjuangkanmu?" tanya Ice setelah terdiam beberapa waktu.
Fire, dewa api itu rela menemaninya turun ke dunia manusia. Menjalani sepuluh kali reinkarnasi untuk melenyapkan jiwa iblis yang ada dalam dirinya. Pria itu bahkan rela mati di tangannya hanya karena kebodohannya. Amor menangis mengingat itu semua. Dia ada di persimpangan jalan tersulit dalam hidupnya.
"Dengarkan hatimu jika hatimu masih bisa digunakan. Jangan dengarkan bisikan yang masuk ke telingamu." Ice berkata lantas berlalu dari hadapan sang adik. Meninggalkan Amor dengan kebimbangan memenuhi hatinya.
Malam kian larut, ketika Amor kembali ke paviliunnya. Langkahnya gontai, tidak ada semangat seperti biasanya. "Kau pulang?"
Amor seketika mengangkat wajahnya. Wanita itu melihat Fire yang sedang menunggunya di halaman paviliunnya. "Aku...aku..."
"Aku tidak akan lama. Aku hanya ingin memastikan kalau yang kudengar hari ini adalah benar," pria itu memandang lurus pada Amor. Sungguh, Fire tidak bisa memungkiri betapa besar rasa cinta yang dia miliki untuk wanita yang kini berdiri membeku di hadapannya.
"Fire, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku benar-benar....."
"Apa kau bisa berjanji padaku, kalau kau akan bahagia bersamanya?" potong Fire cepat. Tidak terasa, sebutir kristal bening menetes dari sudut mata pria itu. Dia bertekad akan melepas Amor asalkan wanita itu bahagia dengan pilihannya.
"Dia akan bahagia bersamaku," sosok Demon muncul di samping Amor. Menggenggam erat tangan dewi cantik itu. Seringai muncul di bibir Demon. Sakit hati Fire melihat hal itu.
"Aku akan menjadikan dia ratuku dan satu-satunya di istanaku. Kau bisa pegang kata-kataku." Lagi Demon berkata yakin. Sementara itu Amor dan Fire hanya bisa saling pandang. Dua jiwa itu seolah tersiksa dengan keadaan mereka saat ini. Amor ingin melawan belenggu yang mengikat hati dan pikirannya pada Demon, tapi tidak bisa.
"Baik aku mundur. Aku pegang kata-katamu, tapi jika aku mendengar sedikit saja kau menyakitinya. Akan kuratakan istanamu dengan api phoenixku," ancam Fire, lantas berlalu dari hadapan Amor dan Demon. Sakit hatinya tidak dia hiraukan.
"Apapun akan aku lakukan, asal kau bahagia," batin Fire.
__ADS_1
******