Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Apes Bener Hidupku


__ADS_3

Cedric August Van Gough, begitulah nama yang disematkan pada jelmaan Dewa Api, di reinkarnasinya yang ke sepuluh ini. Namanya memang bule abis, tapi tidak dengan wajahnya. Parasnya benar-benar oriental tanpa sentuhan bule sama sekali. Meski di wujud aslinya pria ini bermata biru, tapi Cedric tidak. Pria ini bermanik mata hitam legam. Namun percayalah, pesonanya tidak kalah dengan mata biru Dewa Api.



Kredit Pinterest.com


Cedric Van Gough,


Tahun ini Cedric berusia 27 tahun, jarak kelahirannya dengan Dewi Cinta memang agak jauh. Yap, mereka tidak dilahirkan di tahun yang sama. Dalam kehidupannya kali ini, Cedric mendapat takdir yang cukup bagus soal ekonomi. Di dapuk menjadi CEO VG Corp, sejak sang Papa meninggal. Kehidupan Cedric tentu sangat baik. Bergelimang harta dengan kemewahan khas kaum borjuis alias kaum berduit. Dan di sinilah kesalahan Re dan Ri. Takdir Cedric sebenarnya bukanlah miliknya tapi milik orang.


Meski Cedric memiliki kehidupan yang sangat baik. Tapi hal itu tidak dibarengi dengan sifat yang baik pula. Padahal The Sky selalu meminta Destiny agar memberi sifat baik bagi reinkarnasi Dewa Api. Dan yang paling parah dari sifat Dewa Api saat ini yaitu dia seorang casanova, tukang main perempuan. Suka making out. Benar-benar tipe badboy yang digilai banyak perempuan di luar sana.


Karena itulah, Re dan Ri diminta untuk menjaga Dewa Api, sampai pria itu bertemu reinkarnasi Dewi Cinta. Sebab keduanya harus dalam keadaan perawan dan perjaka saat bersatu.


Cedric melongo melihat penampilan Mika yang sudah berganti pakaian. Setelah berhasil keluar dari kawasan apartemen Cedric, pria itu malah membawa Mika ke sebuah hotel. Tidak tahu juga kenapa Mika menurut saja. Kalau tadi Cedric terpukau karena kecantikan Mika dalam balutan gaun pengantin. Kini pria itu terpesona karena kecantikan alami Mika tanpa polesan make up apapun.


"Aku sudah banyak bertemu wanita. Tapi yang ini kecantikannya berbeda," batin Cedric menatap tak berkedip ke arah Mika. Gadis itu memakai celana jeans dan kaos yang Cedric beli waktu dalam perjalanan ke hotel. Memakai pakaian seperti itu membuat bagian belakang tubuh Mika tercetak sempurna. Begitu pun dengan dada Mika yang memang berukuran lumayan besar. Meski begitu terlihat pas di tubuh Mika.



Kredit Pinterest.com


Mikayla Hermawan,


"Beeuuhhh asetnya pasti hot tuh," kembali Cedric membatin. Jiwa mesumnya benar-benar sudah mendarah daging. Pikirannya mulai liar.


Mikayla Teresia Hermawan, akan genap berusia 21 tahun, tahun ini. Cantik, menarik dan pintar. Gadis berambut hitam panjang itu juga memiliki tubuh sempurna bak model yang sering berjalan di atas catwalk. Plus terkadang keluar mode tengilnya. Seperti yang Mika jelaskan. Dia tidak tahu kenapa, sang papa begitu sibuk ingin menikahkan Mika sebelum gadis itu berusia 21 tahun.


"Nama?" Cedric bertanya singkat.

__ADS_1


"Mika, Mikayla Teresia Hermawan," jawab Mika singkat. Mata keduanya sesaat terpaut. Ada gelenyar rasa aneh di dada masing-masing. Namun keduanya tidak paham apa itu.


"Kau tahu kalau aku menolongmu saat ini tidak gratis," Cedric berucap penuh penekanan. Manik matanya tidak lepas dari wajah Mika yang terlihat santai saat itu.


"Berapa bayaranmu?" sahut Mika enteng. Cedric sedikit tersinggung dengan pertanyaan Mika.


"Kau pikir aku orang yang kekurangan uang apa?" Salak Cedric.


"Ooo berarti kau orang kaya. Kalau begitu aku tidak perlu bersusah payah membayarmu," celetuk Mika.


"Tapi kau tetap harus membayar pertolonganku," tegas Cedric.


"Cihhh dasar matre, padahal ujung-ujungnya pasti minta uang. Dasar muka dua," maki Mika dalam hati.


"Kalau dibayar pakai uang tidak mau. Lalu mau dibayar pakai apa?" Mika lama-lama kesal juga menghadapi sikap bertele-telenya Cedric. Mika tipe blak-blakan, to the poin. Tanpa basa basi.


"Saat ini aku belum terpikirkan caranya. Tapi aku akan menagihnya jika waktunya tiba. Sudah, pulang sana!" Usir Cedric. Mika langsung membulatkan matanya. Mendengar pengusiran dari Cedric.


"Lalu? Kau mau tidur di sini? Tidak masalah. Tapi kasurnya hanya satu," sahut Cedric sambil menaikkan satu alisnya. Dia pikir akan memguji sampai sejauh mana keberanian Mika.


"Aku bisa membuka kamar sendiri," balas Mika mantap. Meraih sling bag yang berhasil dia bawa kabur. Lalu berlalu keluar dari sana.


Beberapa waktu kemudian, terdengar ketukan di pintu kamar Cedric. Pria itu pikir siapa, pasalnya dia tidak meminta pelayanan dari room service. Begitu membuka pintu, dilihatnya wajah Mika yang sudah ditekuk sepuluh.


Tawa Cedric langsung meledak begitu mendengar cerita Mika. Dia benar-benar menikmati raut jengkel dari wajah gadis itu. Apalagi ketika Mika melempar sling bagnya ke sembarang arah.


"Habis kau, Papamu memblokir semua kartumu," ledek Cedric tanpa henti. Tersenyum penuh kemenangan ke arah Mika yang langsung di balas tatapan penuh kemarahan.


Lama Mika terdiam, membiarkan Cedric puas menertawakan dirinya. Mika tidak mau menyerah begitu saja pada sang papa. Oke, kalau sang papa memblokir semua kartunya. Berarti dia harus bekerja. Dia akan membuktikan kalau dirinya bisa hidup tanpa dukungan fasilitas dari papanya

__ADS_1


Gadis itu menatap tajam pada Cedric. "Apa?" salak pria itu galak. Dia menangkap sesuatu yang tidak beres akan terjadi.


"Beri aku pekerjaan," satu kalimat meluncur begitu saja dari bibir Mika. Cedric langsung membulatkan matanya. Begitu mendengar permintaan Mika.


"Enak saja minta pekerjaan padaku. Kau pikir aku badan amal, tidak...tidak....!" Tolak Cedric tegas.


"Aku minta pekerjaan, bukan minta uang." Mika memperjelas ucapannya. Dia harus mulai hidup mandiri. Jika tidak begitu, papanya akan terus memaksanya menikah. Padahal Mika sudah tegas menolak. Mika masih ingin menikmati masa mudanya.


Sementara itu Cedric langsung menatap Mika dengan tatapan yang sulit diartikan. Mempekerjakan Mika? Kenapa Cedric jadi berpikir kalau itu bukan hal yang buruk juga. Toh, dia memang tertarik pada Mika. Dia ingin melihat tubuh polos Mika berada di bawah kungkungannya. Cedric ingin mendengar ******* Mika saat mereka bercinta.


Pikiran liar itu kembali memenuhi kepala Cedric. Tatapannya mulai berubah menjadi tatapan lapar. Dia merasa tertantang ingin memiliki Mika. Tapi dia tidak bisa to the poin, memberi uang seperti yang selalu dia lakukan pada perempuan bayaran yang di panggil. Lalu mendapatkan service separuh jalan seperti biasanya.


Mika bukanlah wanita murahan. Cedric tahu benar itu. Setidaknya Mika adalah putri seorang yang kaya. Melihat sling bag mahal yang dipakainya. Seketika seringai tipis terbit di bibir seksi Cedric. Jika dia menerima Mika bekerja padanya, Cedric bisa mendekati Mika pelan-pelan. Lalu jika waktunya tiba dia bisa membuat Mika bercinta dengannya.


"Memangnya pekerjaan apa yang bisa kau lakukan?" tantang Cedric.


"Aku bisa jadi sekretarismu," Mika memberi pertimbangan. Dia adalah salah satu lulusan terbaik di kampusnya. Otak Mika sangat encer. Karena itu dia bisa mempercepat masa kuliahnya. Lulus hanya dalam waktu dua tahun plus dengan nilai sempurna.


Cedric sesaat berpikir. Tidak buruk juga ide Mika. Menjadi sekretarisnya akan membuat Mika sering dekat dengannya. Dan itu akan mempercepat rencana yang sudah dia susun dalam kepalanya.


"Baik kalau begitu kau bisa mulai bekerja jadi sekretarisku." Cedric memberi jawaban. Mika langsung melompat senang. Yes, dengan begini dia akan bisa menghindari papanya untuk sementara waktu.


"By the way, siapa namamu?" Mika bertanya tanpa basa basi.


"Cedric Van Gough, kau bisa memanggilku Cedric," jawab Cedric santai. Sementara Mika langsung membulatkan matanya. Dia pernah mendengar nama Cedric di sebut oleh ayahnya. Mika mendengar kalau Cedric adalah last option calon suami untuknya.


"Cedric Van Gough, apa pria ini yang dimaksud oleh Papa waktu itu," batin Mika. Seketika keraguan menyelimuti hati Mika. Jika Cedric yang dimaksud papanya adalah pria yang tengah berdiri di hadapannya. Maka habislah dia. Bermaksud keluar dari kandang singa malah masuk ke kandang macam.


"Apes bener hidupku," batin Mika nelangsa.

__ADS_1


***


__ADS_2