
"Bagaimana keadaanmu?" Re bertanya. Sambil menaikkan bed pasien milik Cedric. Meski status Re dan Ri adalah asisten. Tapi Cedric sudah menganggapnya seperti sahabat. Hanya Re dan Ri yang selalu berada di samping Cedric saat pria itu senang ataupun susah.
"Baik...memangnya kenapa?" tanya Cedric heran. Pria itu tidak tahu, keadaannya baru saja membuat panik ruang tindakan UGD rumah sakit itu.
"Tidak ada. Kalau kau baik-baik saja ya baguslah," Ri menjawab enteng. Sebab dia tahu jelas kondisi seperti itu tidak berarti apa-apa pada jiwa Fire.
Cedric memutar matanya malas. Kepala pria itu diperban separuh. Memakai baju pasien tapi tidak dikancingkan. Sebab lebam di dada Cedric harus sering di beri salep agar cepat hilang. Bisa dibayangkan bagaimana para perawat itu acapkali mencuri pandang pada tubuh seksi Cedric. Namun pria itu hanya menyuruh Mika jika ingin diolesi salep. Atau dia sendiri yang memakainya.
Pria itu lalu melihat ke sisi kanannya. Di mana Mika tidur meringkuk di sofa, di sana. Seulas senyum Cedric tercipta. Menatap wajah damai Mika yang sedang tidur. Hingga senyum itu memudar. Berganti dengan amarah yang tertahan. Melihat pipi Mika yang memerah akibat tamparan sang Mama.
"Kalian jangan biarkan mereka masuk ke sini" perintah Cedric yang langsung mendapat anggukan tanda mengerti dari duo R, asistennya.
Keduanya memang sedikit marah ketika Catharina menampar Mika. Padahal Mika menghubungi Cedric untuk menanyakan keberadaan pria itu. Mana tahu kalau Cedric sedang menyetir.
"Aku mau tidur. Kepalaku pusing. Kalian jangan mengganggu kami," Cedric memperingatkan.
"Iya-iya," Re dan Ri menjawab asal. Lalu menutup tirai di area tempat tidur Cedric dan sofa Mika. Lalu duduk di sofa di dekat pintu masuk. Mulai mengerjakan pekerjaan mereka.
"Apa kita perlu melapor pada Ice, soal kejadian ini," tanya Ri.
"Aku pikir Ice perlu tahu,"
Keduanya mengangguk. Lalu detik berikutnya, dua jiwa dewa itu melesat tebang. Keluar dari tempat itu.
Sementara di tempat tidurnya, Cedric berniat tidur, tapi matanya enggan untuk dipejamkan. Beberapa kali mengubah posisi tapi tetap sama saja. Dia tidak bisa tidur. Pria itu membalikkan badannya menghadap Mika. Kembali mengamati wajah cantik gadis itu.
"Mika...Mika...." Cedric memanggil gadis itu. Tapi Mika yang tidurnya sangat nyenyak tidak menggubris panggilan Cedric. Pria itu mendengus kesal. Dia hanya ingin Mika menemaninya sebentar sebelum dia bisa memejamkan mata.
Geram, Cedric melemparkan bantalnya pada Mika. Terang saja, Mika langsung ngamuk, merasakan sakitnya bantal rumah sakit menghantam wajahnya.
"Apa sih? Sakit tahu!" teriak Mika nyaring bak toa masjid depan sana.
"Busyet dah, bangun tidur langsung pol aja tu volume toa," seloroh Cedric tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Lagian kenapa sih usil benget. Baru juga balik dari tour ke alam baka!" Balas Mika sadis. Mika tentu tahu lemparan bantal itu pasti ulah si bos casanovanya. Tidak mungkin Re atau Ri yang melakukannya.
"Ampuuun deh tu mulut kalau sudah mengumpat orang. Bon cabe level seratus juga kalah. Gak ingat apa? Semalam menangis darah melihatku," Cedric membalikkan ucapan Mika.
Mendengar ucapan Cedric, Mika kicep seketika. Gadis itu mengakui, kalau semalam dia benar-benar menangis histeris melihat keadaan Cedric yang setengah sadar waktu di bawa masuk ke UGD rumah sakit itu. Kepala dan pelipis Cedric berwarna merah dengan darah yang terus mengalir tanpa henti.
"Gak ngaku? Perlu aku tanya sama Re sama Ri?" goda Cedric.
"Gak perlu! Kamu mau apa?" tanya Mika judes.
"Temani aku tidur," jawab Cedric cepat. Mika langsung mengerutkan dahi mendengar ucapan Cedric.
"Idih ogah! Tidur saja sendiri," tolak Mika. Gadis itu berbalik hendak kembali ke sofanya. Ketika buru-buru Cedric menahan tangan Mika.
"Cuma nemenin ngobrol. Kecuali kau mau menemaniku dengan cara lain," ucap Cedric sambil menaikkan satu alisnya. Seolah tahu apa yang tengah Mika pikirkan. Mika langsung menepis tangan Cedric. Menatap jengkel pada bosnya itu.
"Cuma ngobrol doang. Gak lebih. Kecuali kamu mau," cengir Cedric.
"Sepuluh menit," Mika mengambil kursi lalu duduk di samping tempat tidur Cedric.
"Sepuluh menit dapat apa Non, ciuman saja kurang, aawwww..." Cedric meringis ketika Mika mencubit dada polosnya.
"Ngomong denganku pakai filter. Jangan sembarangan!" Mika memperingatkan. Dia sebenarnya lelah berdebat dengan Cedric terus. Tapi Cedric terus saja memancing emosinya.
"Iya deh iya," kali ini Cedric akan mengalah. Dia sebenarnya kasihan pada Mika. Sesaat keduanya terdiam. Tanpa sadar mata Mika menatap dada bidang Cedric yang terpampang nyata di depan matanya. Berapa kali dia berada dalam pelukan Cedric. Dan semua terasa hangat dan nyaman. Mungkin tempat ternyaman kedua setelah pelukan sang Mama. Ahhh, kenapa Mika jadi merindukan sang Mama.
"Kenapa?" tanya Cedric, melihat wajah sendu Mika.
"Rindu Mama," jawab Mika singkat.
"Rindu ya tinggal pulang. Susah amat. Kamu marahannya kan sama Tuan Hermawan yang terhormat. Bukan sama Nyonya Hermawan," seloroh Cedric.
"Tapi malu," sahut Mika.
__ADS_1
"Buat apa malu. Kamu masih pakai baju kan? Gak naked kan?" Mika mendelik mendengar ucapan Cedric.
"Cedric aku serius!" Mika memandang jengkel wajah Cedric.
"Aku juga serius. Jika kau rindu mamamu temui saja dia. Mungkin dia juga sedang rindu padamu," jawab Cedric dengan wajah sedihnya. Mika terdiam mendengar perkataan Cedric yang tidak seperti biasanya.
"Maafkan mamaku yang sudah menamparmu," Cedric tiba-tiba berkata sembari menatap wajah Mika dalam.
Perlahan, tangan pria itu terulur mengusap pipi Mika yang masih menyisakan rona merah.
"Kau melihatnya?" tanya Mika.
"Aku benci padanya. Dia mendua, menyebabkan papaku kena serangan jantung lalu meninggal," ucap Cedric yang perlahan menegakkan badannya. Kembali, desiran aneh memenuhi dada masing-masing kala dua mata itu bersua pandang. Seolah terpikat oleh pesona wajah Cedric. Mika tidak sadar ketika bibir pria itu sudah mencium bibirnya. Kali ini rasanya berbeda. Ciuman ini terasa penuh perasaan cinta. Tautan tanpa nafsu sama sekali.
"Kratak", "kratak", "kratak" , ada suara retakan samar, yang membuat dua orang langsung bereaksi. Suara retakan dari segel Dewi Bunga yang mulai menunjukkan kerusakannya.
Demon menggeram marah, ketika dia tahu segel Mik mulai rusak. Sedang Ice mengulas senyum tipisnya. Sedikit membatin, "jadi begitu ya cara membuka segelnya." Ice jadi tidak fokus pada laporan Re dan Ri.
Sementara itu, Cedric dengan cepat melepas ciumannya ketika Mika memukul pelan dadanya. Gadis itu mulai kehabisan nafas. Sesaat dua mata itu kembali saling menatap. Sebelum akhirnya Mika memalingkan wajahnya karena malu.
"Kau perlu belajar menarik nafas di sela-sela ciuman," goda Cedric.
"Kenapa sih kau selalu menciumku. Kau mau main-main? Pergi cari wanita bayaran sana!" Mika merasa kesal. Kenapa dia selalu merasa hanya dimanfaatkan oleh Cedric. Tapi Mika juga merutuki kebodohannya sendiri. Kenapa selalu saja tidak bisa menolak saat Cedric menciumnya.
"Tidak tahu, tapi aku akui. Baru kali ini aku punya keinginan untuk berciuman dengan seorang wanita. Denganmu, aku tidak pernah merasa bosan. Kau membuatku ingin terus dan terus menciummu, tanpa ingin berhenti." Perkataan Cedric membuat hati Mika terasa melayang.
Dia yang sangat polos soal percintaan, merasa kata-kata Cedric sangatlah manis. Pun dengan Cedric, mungkin bagi sebagian orang. Isi pikiran pria itu hanyalah hal mesum saja. Tapi ketika pria itu berinteraksi dengan Mika, berpelukan, berciuman. Tidak ada hasrat atau gairah yang menyertainya. Semua terjadi begitu saja. Seolah semua itu adalah wujud dari sebuah perasaan yang masih abu-abu untuk diungkapkan. Apa keduanya mulai memiliki perasaan tertarik atau boleh dibilang, mulai jatuh cinta antara satu dengan yang lainnya. Entahlah, keduanya juga tidak mengetahuinya.
Cedric yang lebih berpengalaman dalam hubungan pria dan wanita, tentu paham. Ada sebuah hal dalam diri Mika yang membuat pria itu merasa kalau dia dan Mika punya ikatan yang kuat. Rasa tertarik yang teramat dalam pada Mika.
"Apa aku mulai merasakan cinta pada seorang wanita. Pada Mikayla Teresia Hermawan," Cedric bertanya pada hatinya sendiri.
*****
__ADS_1