
Cedric menatap Mika dengan tatapan lembutnya. Berbanding terbalik, Mika menatap judes pada pria yang duduk santai di hadapannya. Meski penampilan Cedric berantakan tapi percayalah, hal itu cukup membuat dada Mika berdebar kencang.
"Sial! Kenapa dia malah kelihatan seksi begitu. Tidak boleh! Aku tidak boleh luluh pada pesona buaya darat buntung ini," Mika memaki dalam hati.
"Lima menit waktumu sudah habis," Mika berkata cepat. Wanita itu melemparkan pandangan mautnya pada Cedric. Dan seperti biasa, Cedric tidak takut sama sekali.
"Lima menitmu memang sudah habis. Tapi aku masih punya seharian denganmu," jawab Cedric santai.
"Kau ini bisa dengar tidak sih. Aku tidak mau melihatmu lagi. Apalagi setelah kau melakukannya dengan wanita itu. Kau menjijikkan Cedric,"
"Memangnya apa yang kulakukan?" pancing Cedric.
"Masih bertanya. Memangnya kau tidak mau mengakui semalam kau bercinta dengan Selia!" Mika berteriak dengan satu tarikan nafas. Jengkel, marah dan kecewa, semua bercampur menjadi satu.
"Kenapa aku harus mengakui hal yang tidak aku lakukan?" Cedric balik bertanya. Mika langsung mendelik mendengar Cedric yang menyangkal kejadian semalam.
"Hei buaya casanova kau pikir aku percaya dengan ucapanmu. Aku dan Kak Mike melihat dengan mata kami sendiri. Kau dan dia tanpa pakaian sedang......"
"Sedang apa?" Cecar Cedric. "Sedang....sedang begituanlah. Kenapa masih tanya?" sungut Mika kesal.
Melihat kekesalan Mika. Cedric bangkit dari duduknya. Berjalan mendekat ke arah gadis itu. "Aku tegaskan Mika. Meski kau dan Mike melihatku bercinta dengan Selia. Tapi aku bisa memastikan kalau aku tidak melakukannya," Cedric berkata dengan dua lengannya berada di samping kiri dan kanan tubuh Mika. Memenjarakan tubuh gadis itu. Mika langsung memundurkan tubuhnya hingga menempel di sandaran sofa. Mika harus mendongak agar bisa menatap wajah Cedric yang kini mencondongkan tubuhnya.
"Lalu bagaimana kau bisa menjelaskan itu terjadi? Kau menyangkalnya sedang kami jelas melihatnya," desis Mika. Gadis itu kembali mengumpat. Karena dengan posisinya yang sekarang, membuat dada bidang Cedric terpampang nyata di depan mata Mika.
"Aku tidak tahu bagaimana itu terjadi. Tapi bisakah kau percaya padaku?" pinta Cedric. Mika dengan cepat menepis tangan Cedric di kiri dan kanan tubuhnya. Gadis itu lantas berdiri. Menatap marah pada Cedric. "Aku akan mempercayai apa yang ku lihat. Itu benar atau tidak, aku tidak peduli. Yang jelas, aku ingin membatalkan pernikahan kita," Cedric langsung membulatkan mata mendengar ucapan Mika.
__ADS_1
"Jangan bermimpi kau bisa membatalkan pernikahan ini. Kita akan tetap menikah minggu depan!" kata Cedric penuh penekanan.
"Aku tidak mau menikah dengan pria casanova tukang bohong sepertimu," teriak Mika.
"Aku tidak pernah bohong padamu, Mika," Cedric membalas ucapan Mika. Pria itu menahan tubuh Mika di dinding. Memastikan kalau gadis itu tidak lari dari hadapannya. Mika menatap wajah Cedric, pun sebaliknya.
"Aku tahu kau mencintaiku, sama seperti aku mencintaimu. Jadi bisakah kau mempercayaiku kali ini?" pria itu berucap. Selanjutnya, Cedric sudah melabuhkan bibirnya di bibir Mika. Mencium lembut bibir gadis itu. Cedric menekan tangan Mika ketika merasakan gadis itu akan berontak.
"Percayalah padaku, aku tidak akan bercinta dengan wanita lain selain kamu," bisik Cedric dengan bibir masih menempel di bibir Mika. Untuk sesaat ciuman itu berlangsung. "Tapi aku tetap tidak percaya padamu," batin Mika.
Demon langsung membanting bola kristal yang menunjukkan visual Cedric dan Mika yang tengah berciuman. Pria itu geram karena sudah sejauh itu dia bertindak. Cedric masih bisa bersikap tenang menghadapi Mika.
"Dia memang titisan Dewa Api. Tampan, berkharisma, panas...." seloroh Ling Er. Wanita itu menatap penuh puja pada Demon. Ling Er merasa ada yang aneh dengan dirinya. Kenapa sekarang dia jadi seperti punya rasa dengan tuannya? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
"Diam kau!" raung Demon marah. Pria itupun menatap Ling Er dengan pandangan tidak terbaca. Sejak kapan dia tertarik melihat wanita selain Amor. Biasanya hanya ada hasrat saat Demon melihat Ling Er. Tapi kali ini lain.
"Apa maksudmu? Tentu saja tidak! Sihirku khusus untuk melatih kekuatan tanpa embel-embel sihir lain!" Kilah Ling Er.
"Lalu kenapa perasaanku jadi lain padamu?" tuduh Demon. Semakin dekat ke arah Ling Er. Tarikan itu semakin nyata. Keinginan untuk dekat dengan Ling Er semakin besar. "Apa ini?" Demon yang peka tentu sangat menyadari perbedaan itu. Hingga kemudian pria itu menyadari sesuatu.
"Apa kau bertemu Yue, Dewa Bulan?" tanya Demon. Ling Er langsung berpikir. Berusaha mengingat. Sejurus kemudian, wanita itu menggeleng. Ling Er tidak akan mengingat kedatangan empat dewa ke ruangan itu. Karena Yue, sudah menghapus ingatan soal kejadian hari itu.
Mendengar jawaban Ling Er, Demon mengerutkan dahinya. Hingga pria itu kemudian menggunakan mata batinnya untuk melihat hal yang sudah terjadi di ruangan itu. Bagai sebuah video, satu persatu kejadian terputar di kepala Demon. Semakin lama wajah Demon semakin terlihat marah. Puncaknya, pria itu langsung memaki Dewa Bulan, yang berhasil mengikatkan benang merah di jari Ling Er. Benang itu terhubung dengan benang merah miliknya.
"Dewa Bulan sialan!" Maki Demon. Pria itu lantas memandang Ling Er yang menatap dirinya dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
"Baik....jika itu yang diinginkan Dewa Bulan. Maka akan kumanfaatkan mate yang kau berikan padaku. Tapi jangan lupa kalau pilihanku tetap jatuh pada Amor. Dia adalah pengantinku, ratuku," ucap Demon. Detik berikutnya, pria itu langsung menyambut ciuman Ling Er yang datang padanya. Wanita itu memang selalu agresif.
Tak berapa lama, dua tubuh itu sudah bergumul panas. Dengan pakaian mereka yang telah bertebaran ke mana-mana. Suara lenguhan penuh kenikmatan langsung memenuhi ruangan itu. Dengan tubuh dibanjiri peluh, keduanya terus saja bergerak.
Demon seolah menyalurkan rasa marahnya pada Yue, si Dewa Bulan melalui sesi panasnya kali ini. Memaksa Ling Er melayani hasratnya hingga hari berganti.
****
Seminggu kemudian, Re dan Ri tengah berada di sebuah butik milik Catharina. Menemani Mika yang tengah dirias untuk sebuah acara promosi. Tanpa gadis itu tahu, hari ini akan jadi hari pernikahannya dengan Cedric.
Mika memang sudah memberitahu Papanya kalau dia ingin membatalkan pernikahannya dengan Cedric. Pria itu hanya mengiyakan. Sebab Mike sudah lebih dulu memberitahu kesalah pahaman yang terjadi di antara Mika dan Cedric. Ditambah lagi, Cedric juga secara pribadi menemui Agra Hermawan. Menjelaskan semua yang telah terjadi. Dan pria itu paham dengan situasinya.
Jadi agar pernikahan ini tetap berjalan sesuai rencana. Mereka terpaksa mengubah rencana awal mereka.
"Kenapa ini seperti gaun pengantinku yang waktu itu?" tanya Mika ketika dia diminta untuk mengganti baju.
"Mana ada? Yang ini lebih sederhana. Gaunmu terlalu heboh. Lagipula ini kan untuk promosi saja. Cuma konsepnya kayak pernikahan gitu," jelas Re sembari melirik ke arah Ri.
Mika bergumam lirih. Lantas masuk ke ruang ganti diikuti seorang staf yang akan membantunya.
"Bagaimana?" tanya Cedric dari ujung sana. "Dia sedang mengganti baju. Sebentar lagi akan kubawa ke sana," lapor Ri. Sementara Re berjaga di depan ruang ganti.
"Bagus, awas kalau sampai gagal. Aku tidak akan segan-segan menghukum kalian seperti waktu itu!" ancam Cedric. Re langsung bergidik ngeri. Kembali teringat hukuman disuruh menggosok kolam renang luas bin besar milik Cedric, manual. Gara-gara Re dan Ri lalai hingga Selia berhasil menjebaknya.
"Dia pikir dia saja yang menderita. Kami juga menderita. Diikat di dimensi waktu, gini amat jadi asisten. Di mana-mana jadi korban mulu," keluh Ri. Menatap memelas ke arah Re. Yang sama menderitanya dengannya. Re dan Ri, rekan senasib, seperjuangan. Baik di dunia langit maupun dunia manusia. Ya, sepertinya Destiny telah menentukan nasib mereka seperti itu.
__ADS_1
Dua dewa itu hanya bisa menarik nafasnya bersamaan. Berusaha tegar menghadapi dan menjalani takdir mereka.
****