Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Still Final Battle


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Di belakang Demon, seekor naga besar seukuran Chai muncul. Naga itu langsung mengitari Raja Iblis, seolah tahu Demonlah tuannya. Sementara di belakang Fire, Chai siap dengan sikap waspadanya. Sesekali naga putih itu menyemburkan api untuk menghabisi penghuni neraka yang masih bermunculan.


"Kau yakin bisa mengatasinya?" Fire bertanya pada Chai.


"Yakin atau tidak aku akan mencobanya. Inilah pertarungan terakhirku dengannya. Semua akan ditentukan hari ini!" desis Chai dengan suara berat.


Dua makhluk dengan wujud sangat menawan itu, lantas mengudara semakin tinggi. Seolah mencari tempat yang luas untuk dijadikan ajang duel mereka.


Saat keduanya berhadapan, seringai Black Dragon jelas terlihat. Keduanya saling pandang untuk sejenak. Hingga geraman dua naga itu menggetarkan seluruh alam.


"Lama tidak bertemu, Chai."


Chai hanya terdiam mendengar sapaan naga hitam itu. "Ternyata kau masih sama dengan seratus ribu tahun yang lalu, Tao."


Naga hitam itu terkekeh, mendengar Chai memanggil namanya. Tao tidak menyangka kalau Chai masih mengingat namanya. "Tidak perlu basa-basi, mari selesaikan dendam dari seratus ribu tahun lalu. Kau atau aku akan mati hari ini!"


Seru Tao, setelahnya dua ekor naga itu melesat mendekat. Keduanya mulai menyerang satu sama lain. Mereka menggunakan ekornya untuk melukai lawan, sesekali bahkan mereka saling gigit. Mengoyah kulit lawan yang terasa sulit ditembus. Sisik dua naga itu sangatlah tebal.


Meninggalkan dua naga yang tengah berduel itu, kini hanya Phoenix seorang yang berusaha mengatasi penghuni neraka yang masih berkeliaran. Di sekitarnya, Amor, Leon dan Wind turut berjibaku mengerahkan tenaga dan energi dalam mereka untuk coba menahan makhluk tidak berdaging itu.


Leon yang elemen dasarnya api, sama dengan Fire berkali-kali melepaskan anak panah dengan ribuan busur apinya yang terlempar sekali tarik. Wind mundur setelah mendengar Ice memerlukannya di dunia manusia.


"Aku turun!"


Wind pamit pada yang lain. Tak lama setelahnya Rain, istri Leon ikut naik dan bertarung dengan menciptakan hujan badai dengan petir saling menyambar mengerikan.


"Kenapa kau ikut ke sini?" desis Leon cemas. Pasalnya Rain tengah mengandung putra mereka. Sang istri hanya mengedikkan bahu, sebagai jawaban atas protes Leon. Wanita itu berpikir, masak iya dia harus duduk diam di paviliun Liong. Padahal di luar sana perang besar sedang terjadi.


"Kalau lelah cepatlah berhenti." Tambah Leon lagi. Dan Amor terkekeh di tengah acara menebas kepala makhluk tidak berdaging itu. Lelah? Kau pikir ini permainan apa? Lelah lalu bisa berhenti. Mana ada yang seperti itu, yang ada mereka semua akan melawan sampai titik darah penghabisan.


Sebuah geraman dan bunyi berdebum keras terdengar, membuat semua mendongak. Melihat naga hitam, Tao meraung kesakitan, saat Chai berhasil melukai matanya.

__ADS_1


"Menyerahlah, dan kita akhiri sampai di sini." Tawar Chai.


"Mengaku kalah padamu? Jangan mimpi! Selama ini aku selalu mengalah padamu! Tidak akan! Aku tidak akan mengaku kalah padamu, meski kau kakakku!"


Tao kembali menyerang Chai dengan brutal. Amor dan yang lainnya saling pandang. Dua naga itu kakak adik. Lalu bagaimana mereka bisa berakhir seperti itu. Saling menyerang, saling melukai, tak jarang jelas terlihat kalau Tao ingin sekali menghabisi Chai.


Sementara di sudut lain, di dunia manusia. Ice, Yue dan Wind berusaha sebisa mungkin menahan serangan penghuni neraka yang mulai menyebar ke berbagai wilayah. "Apa tidak ada cara untuk menghalau mereka agar menjauh dari manusia tidak tahu apa-apa itu."


Wind bertanya, sementara mata hazel Yue tengah memindai seluruh kota. Mencari sosok Luna yang merupakan mate-nya. Malam masih menyisakan dua jam lagi sebelum mentari menunjukkan keberadaannya. "Mereka takut dengan cahaya." Yue berkata pelan.


Setelahnya kalung kristal bulannya, ia lemparkan ke udara. Hingga sebuah cahaya terang menerangi hampir seluruh kota. Makhluk mengerikan itu memundurkan langkahnya. Lantas melayang menjauh dari sinar itu.


"Setidaknya itu akan menahan mereka untuk sementara waktu."


Yue melayang turun menuju sebuah rumah dua lantai yang keadaannya cukup berantakan. Para penghuninya sudah berhamburan melarikan diri. Tapi dia tahu ada seorang gadis yang setia bertahan di sana.


"Ayolah, sudah waktunya kau pergi denganku."


Yue menampilkan wujud yang berbeda di hadapan Luna, mate-nya. Pria itu telah berwujud layaknya manusia biasa, memakai kemeja putih dengan celana panjang hitam. Pria tersebut terlihat mengulurkan tangannya. "Kakak." Lirih Luna, lantas menyambut uluran tangan Yue.



Kredit Pinterest.com


Pria itu hanya menidurkan Luna di ranjang besarnya. Lalu meninggalkan paviliun itu, dalam sekejap pria itu sudah muncul kembali di samping Ice dan Wind.


"Kau curang!" cebik Ice marah.


"Biarkan aku jadi egois sebentar kali ini." Jawab Yue enteng. Selanjutnya, ketiganya mulai mengamati para penghuni neraka yang kembali merayap diam-diam untuk mendekati manusia yang banyak berkerumun di bawah cahaya terang yang Yue buat.


"Sekarang!" Ice memberi komando, dan ketiganya langsung melancarkan serangan untuk menghabisi para makhluk mengerikan itu. Dengan tiga tebasan, gelombang kekuatan mereka mampu memporakporandakan tubuh ringkih tak berdaging tapi sangat ngeyel itu.


Jumlah penghuni neraka yang turun ke dunia manusia sudah bisa dihentikan, setelah The Sky sendiri yang turun untuk membuat segel pelindung bagi dunia langit. Mencegah mereka keluyuran ke dunia manusia.


Ketiganya menarik nafas lega, saat tinggal sedikit lagi makhluk itu bisa mereka binasakan. Berbagai laporan pun sudah masuk ke pikiran Ice, mengabarkan kalau di wilayah lain, makhluk ini sudah bisa dikendalikan.

__ADS_1


"Kau harus berterima kasih pada Yuan." Kata Wind.


"Yuan?" Ice dan Yue bergumam bersamaan. Wind lantas menceritakan siapa Yuan. Dia panglima perang hebat yang dididik langsung oleh Fire dan Muce. Saat ini wanita itu tengah membantai habis-habisan penghuni neraka di wilayah timur. Wilayah dengan jumlah makhluk mengerikan paling banyak.


"Dia wanita?" Yue bertanya kepo.


"Kenapa wajahmu seperti itu?"


Heran Ice, melihat Yue tengah memandang dirinya dengan tatapan tidak terbaca. Hingga Ice akhirnya bisa menebak ke mana pikiran Yue. "Ayolah. Kau masih sempat memikirkan jodoh di saat seperti ini?"


"Jodoh?" Wind ikut kepo.


"Kau ingat yang dikatakan Lao Yang? Chai sudah diturunkan. Sudah waktunya kau naik. Karena ayahmu menginginkannya."


"Tapi, masak dia. Tidak mau!" tolak Ice.


"Lihat saja dulu." Bujuk Wind.


"Bagus, bantu aku membujuknya, setelahnya aku akan mencarikan mate-mu."


Bola mata Wind melebar mendengar perkataan Yue. "Benarkah?"


"Terima saja. Orang dikasih enak kok nolak. Yuan cantik kok. Apa perlu kita menjebakmu seperti yang kita lakukan pada Rain?" Wind berkata enteng sembari menaikkan satu alisnya.


Tapi obrolan unfaedah antara ketiganya terhenti ketika suara berdebum dengan geraman mengerikan terdengsr di seluruh penjuru dunia.


"Apa itu?" tanya Wind.


"Mereka benar-benar memasuki tahap akhir dari pertarungan ini." Yue dan Ice saling pandang dengan raut wajah cemas. Sementara di atas mereka, langit mulai berubah mendung dengan awan yang mulai bergulung-gulung. Membentuk dua pusaran laksana pusaran air.


"Black Rune dan Tapak Api Limbo."


Setelah ratusan ribu tahun berlalu, akhirnya dua jurus legendaris dan mematikan itu akan berhadapan secara langsung.


****

__ADS_1


__ADS_2