
Sebuah pertempuran sengit tengah terjadi. Dua orang saling menyerang dengan hebatnya. Mereka saling menyerang menggunakan jurus andalan masing-masing. Yang satu menguasai unsur es, yang lain jelas menggunakan api sebagai senjatanya.
Serangan demi serangan menggambarkan kalau keduanya memiliki kekuatan yang seimbang. Ribuan jarum dari es menyerang serentak ke arah pria yang menguasai elemen api. Satu sapuan api dan seluruh jarum es itu langsung menghilang, mencair. Tidak habis ide, kali ini ribuan anak panah beku nan runcing kembali mengarah ke arah pria itu.
Pria itu bergerak cepat menghindari serbuan anak panah itu. Namun ketika dirinya lengah, satu baris anak panah melesat cepat ke arahnya. Satu dan sekian lainnya mampu ia hindari. Tapi satu yang terakhir melesat begitu cepat dan berhasil melukai lengan pria itu.
"Kenapa kita harus bertarung seperti ini? Bukankah urusan kita sudah selesai?" tanya pria itu. Sebuah tanda api berwarna biru terlihat jelas di keningnya.
"Tentu saja sudah selesai. Tapi cabut ramalanmu terhadap putriku," dari suaranya, si penyerang jelas seorang wanita. Ketika dia berdiri dan mengangkat wajahnya. Seketika itu terlihat betapa cantiknya dewi berhanfu biru ini. Sebuah tanda lily perak terukir jelas di dahinya.
"Sudah aku katakan berulangkali. Aku tidak membuatnya tapi aku melihatnya dalam penglihatanku," jawab pria itu.
"Jangan berkilah!" Selanjutnya, sebuah pedang es melesat cepat ke arah pria itu. Pria itu dengan sigap menahannya lantas membantingnya ke sisi kirinya. Dia sungguh kesal dengan dewi yang ada di depannya ini.
"Apa The Sky tahu kau menemuiku?" tanya pria itu.
"Dia tidak tahu. Aku ke sini untuk memintamu menghapus ramalanmu soal putriku sepuluh ribu tahun lalu," pinta wanita itu.
"Nuwa....berapa kali kukatakan. Aku tidak bisa. Yang bisa kau lakukan adalah mencegahnya terjadi. Nikahkan dia dengan pemilik elemen api. Dengan begitu dia tidak akan bisa ikut membuka gerbang neraka, karena elemen api suaminya akan membakar unsur iblis yang ada dalam tubuh putrimu," jelas pria itu setengah putus asa.
The Reader, si pembaca masa depan, menatap tajam pada Nuwa, Dewi Bunga, istri penguasa langit, The Sky.
"Putraku akan menjadi kandidat yang tepat untuk putrimu. Api Phoenix dalam dirinya akan melindungi putrimu," sambung The Reader.
"Jangan bilang ini hanya akal-akalanmu saja untuk menyambung kisah cinta kita yang tidak direstui langit," todong Nuwa.
The Reader tercekat. Bagaimana bisa Nuwa masih mengingatnya, padahal menurut aturan, begitu Dewi Bunga ini menikah dengan penguasa langit, semua memori masa lalunya akan terhapus. Termasuk kisah cinta mereka. Kandasnya cinta keduanya membuat The Reader menerima takdirnya untuk menikah dengan Dewi Angin dari timur. Namun sayang, sang istri memilih mengalah saat melahirkan putra mereka. Elemen keduanya yang bertabrakan membuat Dewi Angin mengorbankan jiwanya, terbakar oleh Api Phoenix sang putra. Saat itulah The Reader mendapat penglihatan soal masa depan sang putra. Sebuah takdir yang begitu berat dan sulit telah menanti sang putra.
__ADS_1
Pria itu bahkan pernah naik ke Puncak Surgawi, tempat di mana The Lord Yang Agung tinggal. Secara khusus, The Reader meminta pemilik takdir alam semesta itu untuk mengubah takdir putranya. Tapi waktu itu The Lord Yang Agung tidak bisa melakukannya. Pria itu hanya memberi petunjuk.
"Putramu memang akan menjalani takdir berat dalam hidupnya. Tapi dia mampu melewatinya. Dan selama ujiannya dia tidak akan sendiri. Akan ada yang mendampingi dan berjuang bersamanya. Meski sebagian besar cobaan putramu akan berasal dari pasangannya,"
The Reader terdiam. "Lalu bagaimana dengan Nuwa?" pria itu akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Dia juga akan menjalani takdir yang berat. Bahkan lebih berat darimu. Kepergiannya akan membuat semua lebih baik,"
The Reader kembali terdiam.
Kembali ke Nuwa dan The Reader, pria itu memandang Nuwa dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jawab aku, The Reader!" desak Nuwa marah.
"Aku tidak pernah berpikir untuk melakukan hal itu. Aku menjalankan apa yang seharusnya aku jalani. Itu hanya sekedar saran dariku. Jika kau tidak bersedia menyerahkan putrimu bersama putraku, aku juga tidak memaksa. Hanya saja pikirkan ini untuk kebaikan putrimu. Pemilik Api Phoenix dalam generasi ini hanyalah putraku seorang," The Readers berbalik meninggalkan Nuwa yang langsung mengepalkan tangannya mendengar perkataan pria itu.
Tepat ketika itu, sekelebat bayangan hitam melewati The Reader, melesat menuju Nuwa yang sepertinya tidak menyadari ada makhluk yang mendekat ke arahnya.
The Reader terkejut ketika serangannya melukai Nuwa begitu hebat. Pria itu segera menahan tubuh Nuwa yang jiwanya hampir musnah karena serangannya.
"Maafkan aku Nuwa, aku tidak bermaksud menyerangmu," The Reader langsung memberikan pertolongan pada Nuwa. Jiwa Nuwa tinggal separuh, dan itu akan membuat keadaan dewi itu dalam bahaya.
"Tidak ada jalan lain," The Reader lalu duduk bersila, membuat posisi meditasi. Matanya baru saja terpejam, ketika tangan Nuwa tiba-tiba menyentuh tangannya. "Jangan lakukan itu," pinta Nuwa lemah.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku bersalah telah melukaimu. Hanya dengan begini aku bisa menebus kesalahanku. Setelah ini aku akan menemui The Sky, aku akan menjelaskan semuanya, dan mengakui kesalahanku," ucap The Reader. Lantas mulai melakukan meditasinya. Mengabaikan permohonan Nuwa untuk tidak melakukan hal ini.
"Aku masih bisa hidup dengan separuh jiwaku. Tapi kau tidak bisa. Jiwa lily bekumu harus selalu utuh," batin The Reader, mulai menyalurkan jiwanya pada Nuwa. Tentu saja setelah pria itu menurunkan suhu jiwanya. Jika tidak, Nuwa akan terbakar karena jiwa The Reader mengandung elemen api.
Sejak hari itu, Nuwa menghilang secara misterius. Sedang The Reader mengundurkan diri dari posisinya sebagai salah satu dewa di dunia langit. Pria itu memilih mengasingkan diri ke sebuah tempat yang tidak seorang pun mengetahuinya.
__ADS_1
*****
"Aaarrgghhhh"
Suara Nuwa yang mengerang kesakitan memenuhi telinga Amor. Dewi itu tidur dengan gelisah. Peluh bercucuran di dahinya. "Lari dari sana, Bu," gumam Amor lirih. Dalam mimpinya, Amor melihat sang ibu diserang oleh seorang pria dengan surai rambut putih. Berjubah putih. Dengan tanda api berwarna biru di dahinya.
Amor berteriak ketika kilatan serangan berwarna merah keemasan mengenai tubuh sang ibu yang langsung ambruk. Tidak bergerak lagi. "Ibu....bangun. Ibu...." Amor berusaha membangunkan ibunya. Seulas senyum terlukis di bibir Nuwa. Sesaat kemudian, tubuh Nuwa memudar, perlahan menghilang. Berubah menjadi butiran kecil seukuran debu. Hanya saja itu butiran debu es. Pelan, butiran debu es itu menguar, terbang ke angkasa raya lantas menghilang tanpa bekas.
"Ibu.....Ibu.....jangan pergi! Jangan tinggalkan Amor!" Amor berteriak pilu, sembari tangannya berusaha mengumpulkan butiran debu es milik jiwa Nuwa agar tidak terbang ke angkasa.
"Jangan...jangan pergi....jangan pergi...Ibu!"
Amor terbangun dengan nafas tersengal dan air mata mengalir di pipi. Ia menangis? Secara nyata dia menangis. Mimpi tadi seperti bukan mimpi. Itu seperti nyata. Amor seolah bisa merasakan jiwa ibunya perlahan menghilang dari genggamannya.
Wanita itu perlahan memeluk lututnya sendiri. Tidak peduli pada gaun tidur tipisnya yang basah seluruhnya oleh keringat yang mengalir di sekujur tubuhnya. Tangisnya luruh semakin keras. Apa arti mimpi yang belakangan ini selalu menjadi bunga tidurnya. Sejak kembali dari dunia manusia.
"Ibu....apa yang coba ibu sampaikan padaku? Ibu ingin Amor melakukan apa? Membalas dendam pada dia yang sudah menghancurkan ibu. Begitu? Kalau memang iya....berikan Amor petunjuk siapa orangnya. Amor akan membunuhnya untuk Ibu,"
Seulas senyum terukir di bibir seorang pria, begitu mendengar perkataan Amor. Pria itu mengusap ujung bibirnya dengan jemarinya. Tubuhnya bergejolak melihat tubuh Amor yang hanya terbalut gaun tidur tipisnya.
"Sayang sekali, aku tidak menikmati tubuhmu saat aku membawamu. Tapi tidak masalah. Aku lebih suka melihatmu saling bunuh dengan Fire. Karena itu lebih indah dari sekedar bercinta denganmu," pria itu melirik seorang wanita yang masih tertidur di ranjang sebelah kanannya.
"Aku lebih suka menyaksikan permainan menarik ini sambil melihat air mata mengalir di mata indahmu, Amor," pria itu mengusap wajah Amor yang tergambar di depannya. Seperti ada sebuah layar monitor di depan pria itu.
"Selamat datang dalam permainanku. Permainan yang rasanya lebih kejam dari neraka," sebuah tawa penuh kepuasan lolos dari bibir pria itu, Demon.
****
__ADS_1