
Tubuh Amor menyelam semakin dalam. Jiwa penasaran itu menariknya dengan cepat. Herannya, lama menyelam, dasar dari tempat itu belum juga terlihat. Kesadaran Amor semakin lama semakin hilang. Bersamaan dengan tubuhnya yang kian melemah. Saat Amor hampir menutup mata, seberkas sinar terang terlihat mengarah pada dirinya. Cahaya itu sungguh menyilaukan mata. Sangat terang, hingga sungai De Linghun ikut bersinar.
Jiwa penasaran itu seketika menggeram marah sekaligus ketakutan, cahaya terang adalah kelemahan mereka. Mereka mulai menjerit kesakitan seolah cahaya itu ribuan pisau yang menusuk mereka. Dari sinar terang itu, tiba-tiba melesat satu sosok berjubah hitam. Mendekati tubuh Amor dengan cepat.
Satu sihir sosok itu lakukan, hingga semua jiwa penasaran itu langsung menjauh dan menghilang dari sekitar tubuh Amor. Pria itu menarik pinggang Amor, memeluknya lantas membawanya naik dengan cepat.
"Aku tidak berpikir kalau kau akan senekad ini. Bahkan setelah kau tahu itu hanyalah sebuah ilusi," maki Demon. Pria itu menggendong tubuh Amor. Penampilan dewi itu sangat berantakan. Pakaian Amor compang camping. Robek di beberapa bagian. Bahu, lengan, bahkan eerrr sebagian dada wanitu terlihat. Demon sesaat tergoda. Tapi teriakan dari depan sana, membuat raja iblis itu mengalihkan pandangannya dari Amor.
"Apa yang kau lakukan padanya Raja Neraka?!" Ice bertanya marah. Melihat tampilan Amor yang. berada dalam gendongan Demon.
"Aku baru saja menyelamatkannya dari tenggelam di sungai De Linghun," jawab Demon enteng.
"Jangan bohong!" Wind berteriak. Mana ada makhluk hidup yang masih waras mau nyemplung ke sungai yang penuh dengan arwah penasaran.
"Tidak percaya ya sudah," Demon berkata enteng. "Ambillah," pria itu membuat tubuh Amor melayang ke arah Ice. Dewa Es itu langsung menyambut tubuh Amor. "Ada banyak luka ditubuhnya," ucap Demon lagi. Lantas raja iblis itu menghilang dari pandangan Ice dan Wind.
Ice dan Wind saling pandang melihat Demon yang langsung pergi begitu saja. "Dia tidak melakukan apapun pada Amor kan?" tanya Wind curiga. "Semoga saja tidak," keduanya lantas membawa Amor masuk ke dalam paviliunnya.
"Jangan pergi...jangan pergi!" Fire menoleh, melihat Amor yang menangis di depannya. Pria itu mengulas senyum tipisnya. Lantas berjalan menjauh dari Amor, menuju tempat yang dipenuhi sinar berwana kebiruan.
"Tidak! Jangan pergi!" Amor berteriak. Langsung mendudukkan tubuhnya. Dewi itu terkejut melihat dirinya sudah berada di kamarnya. "Kau sudah bangun?" tanya Ice yang masuk membawa salep yang dia minta dari The Cure, si dewa penyembuh.
"Siapa yang membawaku pulang?" tanya Amor.
__ADS_1
"Itu yang ingin aku tanyakan padamu? Bagaimana kau bisa bersama Demon?" Ice balik bertanya.
"Demon yang membawaku pulang?" Ice menggangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Amor. Wanita itu lantas teringaat, Demonlah yang menarik tubuhnya keluar dari sungai De Linghun. Sihir dan tubuh pria itulah yang menghangatkan tubuhnya. "Dia tidak melakukan apa-apa padamu kan?" tanya Ice curiga.
Amor terdiam, lantas menggeleng pelan. "Aku tidak tahu," jawab Amor ambigu. "Aku pingsan setelah jiwa penasaran itu mulai memakan jiwaku," lagi Amor menyahut tidak yakin. Ice khawatir kalau Demon akan mengulangi hal lalu, menanamkan jiwa iblis di tubuh Amor.
"Sudahlah... jangan dipikirkan kalau begitu. Yang penting kau selamat." Ice akhirnya berucap sambil menenangkan sang adik.
*****
Hujan turun membasahi dunia langit. Padahal di dunia manusia, saat ini masih musim semi yang hangat. Amor kembali bersujud di depan makam sang ibu. Mengingat bagaimana dia melakukan kesalahan terbesarnya di hadapan sang ibu.
"Maafkan aku Ibu. Aku membuat kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku melenyapkan mate-ku karena kebodohanku." Amor berkata sembari menatap sendu air terjun es yang ada dihadapannya. Perlahan wanita itu mengangkat wajahnya. Merasakan titik-titik air hujan yang membasahi wajah dan tubuhnya.
Dilihatnya, sang ayah yang berdiri di sampingnya. Menatap makam sang istri. "Itu sudah lama sekali. Aku bahkan tidak ingat tepatnya," kata pria itu sendu.
"Ayah, apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu. Kenapa Ayah tidak pernah memberitahu kami soal kematian Ibu. Bagaimana dia meninggal?" tanya Amor.
Untuk sesaat The Sky terdiam. Pria itu jelas tidak bisa menceritakan segalanya sekarang. Setidaknya saat ini bukan waktu yang tepat. Dia harus menunggu hingga Fire bisa hidup kembali. Walaupun dia juga tidak tahu caranya.
"Kematian Ibumu adalah satu hal yang tidak bisa Ayah ceritakan pada kalian. Kau dan Ice tidak perlu bertanya lagi soal kematian Ibu kalian. Tapi satu yang jelas, kematian Ibumu tidak ada hubungannya dengan Fire. Fire bahkan belum lahir ketika ibumu meninggal," jelas The Sky singkat.
Amor seketika menangis. "Berarti yang Seth tunjukkan padaku adalah bohong?" tanya Amor. The Sky mengangguk. Amor menundukkan wajahnya, yang masih berurai air mata. "Lihatlah, betapa bodohnya aku. Aku dengan mudah mempercayai mimpi yang sudah jelas adalah kebohongan. Kebodohanku membawaku pada kehilangan paling besar dalam hidupku. Aku kehilangan cintanya," sesal Amor dalam hati.
__ADS_1
Penyesalan pun bahkan tidak ada gunanya. Lama keduanya terdiam. Hingga pertanyaan The Sky membuat Amor mengangkat wajahnya.
"Ayah dengar kemarin kau hampir tenggelam di sungai Denglun?" Pertanyaan The Sky membuat Amor menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Apa benar Demon yang menyelamatkanmu?" The Sky kembali bertanya dan Amor lagi-lagi menganggukkan kepala.
"Oh iya Ayah, aku ingin bertanya. Aku melihat Fire terjun ke sungai itu. Apa itu artinya dia sudah benar-benar pergi?" tanya Amor.
"Menurut naskah yang pernah Ayah baca. Mereka memberi waktu empat puluh hari bagi setiap arwah untuk menyeberangi Jembatan Arwah," jawab The Sky.
"Kalau begitu yang aku lihat kemarin itu, ilusi atau nyata?" gumam Amor ragu. Wanita itu terus merenung di tempat tersebut. Menyesali diri, meski tidak ada gunanya. "Ibu berikan aku petunjukmu kali ini. Beritahu aku bagaimana menghidupkannya kembali. Aku ingin menebus kesalahanku padanya," Amor memohon di depan pusara Dewi Bunga, Nuwa.
Keesokan harinya, Amor kembali ke paviliun Liong, meski pencarian mereka kemarin mengalami kegagalan. Tapi Amor tidak ingin berputus asa. Dia akan kembali mencari naskah kuno yang didalamnya mungkin memuat cara untuk menghidupkan Fire. Dewi itu semakin teliti dalam mencari. Dia yakin pasti ada satu naskah yang akan memberinya petunjuk.
"Dia benar-benar pantang menyerah," bisik Rain.
"Rasa cinta dan bersalahnya sama besarnya," balas Leon iba. Pria itu bisa melihat wajah Amor semakin kusut, dengan tubuh semakin kurus sejak wanita itu bangun dari tidurnya. Leon hanya bisa menarik nafasnya panjang, lantas bergabung dengan Amor, ikut mencari.
Kegiatan mereka terhenti, saat Yue masuk ke tempat itu sembari berteriak kencang. "Aku menemukannya, aku menemukannya!" seru Yue senang. Di tangan kanannya, terlihat sebuah naskah kuno berada dalam genggaman Dewa Bulan itu.
Mendengar teriakan Yue, Leon dan Amor saling bertukar pandang. Lantas tersenyum.
"Kalian akan menemukan petunjuk itu jika waktunya sudah tiba."
******
__ADS_1