
Kredit Pinterest.com
Yue berjalan dengan tergesa-gesa. Melalui sebuah jalan dengan ukiran burung Phoenix sebagai dasarnya. Di depannya sebuah istana tampak berdiri megah. Terlihat begitu indah dengan bulan purnama menjadi latar belakangnya. Tempat berjuluk "Tempat Tertinggi" itu begitu damai dengan keheningan yang menyelimutinya. Seolah tidak ada penghuninya.
Meski begitu, saat Yue sampai di depan pintu, pintu itu terbuka dengan sendirinya. Seperti mempersilahkan Yue untuk masuk ke dalam bangunan tersebut. Pria itu membawa dirinya masuk. Lantas besujud memberi hormat, seolah tuan rumahnya ada di depan matanya. "Yue, memberi salam pada The Lord Yang Agung," ucap pria itu.
Cukup lama menunggu, hingga akhirnya sebuah cahaya terang muncul. Menampilkan seorang pria dengan wajah penuh kedamaian hadir di depan Yue. "Sepertinya kau begitu penasaran dengan takdir mereka," pria itu berkata setelah memberi kode kalau hormat Yue diterima.
"Aku hanya ingin meluruskan kejadiannya. Apa ramalan Lao Yang benar adanya?" tanya Yue. The Lord menarik nafasnya pelan. "Semua akan berjalan sesuai dengan yang sudah tertulis," jawab The Lord penuh makna.
Yue menarik nafasnya. Jawaban The Lord cukup jelas untuk Yue. "Lalu apakah aku menyalahi takdir telah menyatukan Amor dan Fire, padahal Amor adalah milik Demon," tanya Yue.
"Jika itu terjadi berarti takdir mereka memang begitu," kembali The Lord menjawab ambigu. Yue kembali menarik nafasnya dalam. "Kau tidak menyalahi takdir. Sebab takdirmu adalah menentukan jodoh makhluk di alam semesta ini. Meski kau membuat kesalahan dengan menyatukan Amor dan Fire. Tapi kau memberikan mate untuk Demon, kau memang membuat masalah tapi kau juga menyelesaikannya."
"Terima kasih atas pujianmu," Yue mengangguk memberi hormat kembali. "Meski begitu, setelah ini, semua akan kembali ke tatanan semula," The Lord berkata singkat lantas menghilang.
"Tapi sebelumnya akan ada beberapa peristiwa besar yang akan terjadi. Kau datang ke mari maka aku memberimu petunjuk," suara itu masih bergema ketika Yue melangkah keluar dari sana.
"Semua akan kembali ke tatanan semula," gumam Yue mengulangi perkataan The Lord. Itu berarti Amor dan Fire akan tetap bersatu tapi selanjutnya.....Yue mengulum senyumnya, membayangkan Fire yang kebakaran jenggot kalau tahu mate putrinya adalah putra musuh bebuyutannya.
"Kira-kira peristiwa besar apa yang akan terjadi," gumam Yue. Memandang bulan besar di atas istana The Lord.
__ADS_1
******
Amor berjalan gontai menuruni sebuah tangga dengan tumbuhan merambat di kiri kanannya. Dia cukup terkejut menemukan tempat hijau di dunia iblis. Apalagi ada banyak kunang-kunang yang beterbangan di sana. Sungguh cantik menurut Amor.
Kredit Pinterest.com
Wanita itu tidak sadar seorang pria sedari tadi memperhatikan dirinya. Fire, pria itu tidak tahu kenapa dia bisa nyasar ke dunia pria yang paling dibencinya. Dia hanya mengikuti ke mana hatinya menuntun kakinya. Hingga ternyata tanpa dia duga inilah yang dia jumpai. Rupa cantik seorang wanita, yang semua orang memberitahu kalau dia adalah mate-nya.
Adik Ice yang telah mengorbankan jiwa untuk menghidupkannya kembali. Dia masih ingat bagaimana keadaan Amor waktu Demon membawanya. Hampir mati....tapi lihatlah sekarang, wanita itu baik-baik saja dengan wajah berseri. Sungguh pantas jika dia menyandang gelar dewi cinta, sekaligus keturunan dewi bunga yang terkenal mempesona.
"Eii jangan pergi. Kau mau ke mana?" ucap Amor ceria. Wanita itu berlari mengikuti kunang-kunang yang terbang menjauh. "Dia kehilangan rasa cintanya karena ayahmu menginginkan rasa itu sebagai ganti separuh jiwa yang dia berikan untukmu. Dan kau tidak ingat padanya karena bukan Amor yang kau lihat pertama kami saat kau membuka mata," Ice memberitahunya.
"Aduuuuhhhh,"
Teriakan Amor membuat Fire bergegas menyusul wanita itu. "Kau tidak apa-apa?" tanya Fire melihat Amor terduduk di rerumputan. "Kau....kenapa kau di sini?" Amor malah balik bertanya. Bukannya menjawab pertanyaan Fire. Amor cukup terkejut mendapati dewa api ada di hadapannya.
"Aku penasaran dengan cerita kita. Apa benar yang mereka katakan, kalau kau adalah mate-ku?"
"Kata mereka sih iya. Tapi aku tidak ada rasa tu sama kamu," jawab Amor tegas. "Aku juga tidak ingat padamu," balas Fire. Sebuah getaran Fire rasakan, kala menelisik wajah cantik dewi cinta itu. Wanita itu masih sibuk dengan kakinya.
"Kalau begitu tidak usah diingat-ingat. Bukankah kau juga membenciku. Ingat, aku membunuhmu," jutek Amor. "Tapi kau menghidupkanku kembali. Kau bahkan hampir kehilangan nyawamu," sahut Fire.
__ADS_1
"Lalu? Anggap saja kita impas," balas Amor bodo amat. Wanita itu berlalu dari hadapan Fire.
"Apa kau tidak ingin mengingatnya? Kisah kita, aku dengar, kita seharusnya sudah menikah saat ini," Fire mencekal tangan Amor. Menarik tubuh wanita itu mendekat ke arahnya. "Itu kata mereka. Tapi aku sama sekali tidak punya rasa padamu," ulang Amor.
"Bagaimana jika aku bisa menumbuhkannya kembali?" tanya Fire. Detik berikutnya, pria itu melabuhkan bibirnya di bibir Amor. Amor terhenyak oleh tindakan Fire. Amor merasa tidak asing kala bibir Fire menyentuh lembut bibirnya.
"Rasa cinta Amor, ada kemungkinan bisa ditumbuhkan kembali. Mengingat kalian masih terhubung oleh benang merah perjodohanku."
Ucapan Yue membuat Fire ingin mencoba melakukannya. Bagaimanapun juga takdir keduanya adalah bersama, tidak peduli keadaan mereka sekarang ini.
Untuk sesaat Amor terhanyut dalam ciuman Fire. Terlebih mata biru dewa api itu membuat hati Amor bergetar. "Rasa ini, ciuman ini, mata itu, pelukan ini, semua terasa tidak asing untukku. Seolah aku dengan dirinya sering melakukannya dulu," batin Amor. Masih dengan bibir bertaut satu sama lain.
"Dia benar-benar mate-ku. Aku bisa merasakannya," batin Fire.
Sementara itu, di kamarnya, Demon meledakkan kemarahannya. Kala melihat Amor berciuman dengan Fire. "Tidak! Aku tidak mau kehilangannya untuk kesekian kalinya," teriak Demon. Hal itu memancing kedatangan Ling Er. Melihat apa penyebab kemarahan Demon, Ling Er hanya bisa menarik nafasnya pelan.
"Kenapa kau tidak mengerti juga. Dia tidak pernah melihatmu. Bahkan setelah semua yang kau berikan padanya. Nyawamu, hidupmu semua tidak cukup untuk membuatnya berpaling padamu," Ling Er bermaksud menyadarkan Demon. Tapi reaksi Demon justru di luar dugaan. Pria itu semakin marah. Perkataan Ling Er terasa seperti minyak yang menyiram api kemarahannya, membuat kobaran emosi Demon bertambah besar.
"Kau mengguruiku?" desis Demon marah. Ling Er mundur ketakutan. Baru kali ini dia melihat kemarahan Demon yang mengerikan. Pria itu benar-benar menunjukkan sisi iblisnya di hadapan Ling Er.
"Aku tidak bermaksud begitu?" kilah Ling Er kelabakan. Demon membalikkan badannya. "Semua cara sudah aku lakukan untuk menariknya ke sisiku. Tapi semua gagal. Hanya tinggal satu cara," seringai Demon muncul. Sebuah cara yang dulu tidak pernah terpikir akan dia gunakan. Tapi kali ini, dia tidak punya pilihan lain. Hanya dengan cara ini, Amor bisa dipastikan akan menjadi miliknya.
*****
__ADS_1