
Daniel melangkah masuk ke ruangan itu. Pria itu menatap tajam pada Mika yang bersembunyi di belakang tubuh Cedric. Amara, Catharina, Agra dan Elli memundurkan langkahnya. Melihat keadaan yang sepertinya tidak akan berjalan sesuai rencana mereka.
Sepertinya Daniel kali ini tidak lagi segan menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Terbukti dengan tanda api yang terlihat jelas di dahinya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Mike, dia pikir pria ini sedang berusaha menggagalkan pernikahan Mika dan Cedric.
"Aku memang ingin melakukan apa yang tengah kau pikirkan," jawab Daniel enteng. Mike seketika terkejut, bagaimana bisa Daniel membaca pikirannya.
"Kau terkejut? Aku tidak akan segan lagi kali ini," Daniel seketika mengubah dirinya menjadi Demon. Pria berambut hitam panjang dengan jubah hitam yang membalut tubuhnya.
Cedric, Re dan Ri saling pandang. Sedang yang lain langsung terkejut melihat sosok lain dari seorang Daniel.
"Siapa kau?!" tanya Agra Hermawan. Pria itu sudah beberapa kali melihat hal di luar nalar manusia. Jadi pria itu tidak terlalu terkejut dengan hal ini. Yang lain, jelas shock dengan kejadian itu.
"Kau membahayakan orang banyak dengan muncul di sini, Demon," Cedric berkata sambil mengangkat tangan kanannya. Sebuah cahaya terang memancar dari tangan pria itu. Dalam hitungan detik Amara, Agra, Catharina. Elli dan Mike jatuh pingsan. Tidak sadarkan diri. Bersamaan dengan itu, Fire menunjukkan wujud sebenarnya.
"Siapa kau?" Mika bertanya lirih. Double shock setelah melihat yang lain pingsan. Sekaligus melihat Cedric yang berubah wujud menjadi seorang pria dengan kharisma luar biasa. Berambut putih, berjubah putih dengan mata biru, sebiru samudera.
"Aku kekasihmu," jawab Fire singkat. Mika tentu saja menggeleng tidak percaya. Gadis itu memundurkan langkahnya menjauh dari Fire, Re dan Ri.
"Apa yang kau inginkan Demon?" tanya Fire tenang.
"Aku ingin menjemput pengantinku," jawab Demon.
"Jangan mimpi!" desis Re kesal.
"Kau meremehkanku?" tawa Demon terdengar mengerikan. "Dia tidak akan mau ikut denganmu," Ri yang menjawab kali ini.
Tanpa ketiganya tahu, Demon sejak tadi tengah merapalkan mantra yang ia gunakan untuk membangkitkan jiwa iblis yang berada dalam tubuh Mika. Dengan Mika mulai merasa ada yang aneh dalam dirinya. Sesuatu dalam dirinya seolah bangun. Semakin lama Mika seperti kehilangan kesadaran diri. Ada yang lain dalam dirinya yang tengah bangkit, berusaha menguasai tubuhnya.
"Lihatlah dia," ucap Demon puas. Fire, Re dan Ri langsung terkejut. Melihat Mika yang menggeram sejak tadi. Mata wanita itu mendadak berubah merah. Seiring tanda lily merah yang mulai muncul di dahinya.
"Sambutlah, Amor....Pengantin Raja Iblis,"
"Tidak!" Fire berteriak marah. Bagaimana bisa dia kecolongan di depan matanya sendiri. Mika perlahan mengangkat wajahnya. Senyum Demon terukir sempurna di bibir pria itu.
__ADS_1
"Kakak....tolong aku, ggrrrhhhh..." Mika kembali menggeram. Tubuhnya sudah berubah menjadi Amor dengan jubah senada dengan Demon. Hitam.
Fire berusaha mendekat ke arah Amor. Tapi gadis itu sigap memundurkan langkahnya. Menghindar dari Fire.
"Dewa Api, bagaimana ini?" tanya Re panik. Setelah memundurkan langkahnya, Amor langsung melayang, mendekat ke arah Demon. Begitu berada di depan Demon, wanita itu langsung tersenyum. Menyambut uluran tangan Demon.
"Kau lihat? Dia sekarang adalah milikku," Demon menggerakkan satu tangannya, membentuk sebuah bola api yang langsung di arahkannya pada Fire. Tidak kalah, Fire pun melakukan hal yang sama. Hingga hantaman dua bola api itu tidak bisa dihindarkan.
Suara ledakan terdengar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu suasana menjadi kacau. Re dan Ri terbatuk-batuk akibat debu yang berhamburan di ruangan itu.
"Mereka pergi, Dewa Api," Ri berucap cemas. Pria itu melihat Fire yang mengeraskan rahangnya dengan dua tangannya yang terkepal kuat. Dia kehilangan Amor tepat di depan matanya.
*****
"Apa yang terjadi?" Ice bertanya setelah muncul begitu saja. Seperti tiba-tiba hadir dari angin yang tengah bertiup.
"Demon membawanya pergi," Re menjawab pertanyaan Ice. Sementara Fire terlihat tengah berpikir sambil memijat pelipisnya.
"Tapi bagaimana itu bisa? Bukankah usianya belum genap dua puluh satu tahun. Seharusnya jiwa iblisnya tidak bisa bangun sebelum hari itu," terang Ice.
"Black Rune, pasti wanita itu yang sudah memberikan mantranya pada Demon," tebak Ice.
"Black Rune, bagaimana bisa dia memiliki sihir itu?" tanya Fire.
"Apalagi....dia mencurinya dari Leon," kesal Ice. Fire seketika bangkit dari duduknya.
"Aku akan membawanya kembali. Satu-satunya cara adalah aku harus segera bercinta dengan adikmu untuk melenyapkan serpihan terakhir jiwa iblis itu."
"Padahal solusinya seenak dan semudah itu. Kenapa Dewa Api tidak melakukannya dari dulu," seloroh Re tanpa filter. Terlalu lama ikut Cedric, membuat dewa itu ketularan gaya bicara pria itu yang to the poin, blak-blakan plus tanpa filter.
"Tapi semua harus ikut aturan. Aku harus mengikuti pernikahan dunia manusia. Harus ada ini dan itu, cincin, orang yang menikahkan kami," jelas Fire.
Sesaat semua terdiam. "Tidak jadi enak deh....ribet juga jadinya," timpal Re.
"Tapi peraturannya tidak menyebutkan kalau mereka harus manusia kan?" Ice bertanya sambil menaikkan satu alisnya. Fire menarik satu sudut bibirnya. Merasa dia dan Ice punya pemikiran yang sama.
__ADS_1
"Jadi kapan kita akan menjemput Amor?" tanya Ice.
"Lusa, akan jadi hari baik untuk penyatuan kami. Sekaligus kembalinya kami ke dunia langit," jawab Fire. Peraturan lainnya adalah begitu selesai melakukan malam pertama mereka. Amor dan Fire akan langsung kembali ke dunia langit. Meninggalkan wujud manusia mereka dan membiarkan mereka melanjutkan hidup mereka dengan jiwa mereka sendiri. Dengan kata lain, hidup Fire dan Amor di dunia manusia paling mentok sampai umur dua puluh satu tahun.
****
Sementara itu, Ling Er tampak menatap tidak suka pada Amor yang kini tertidur di ranjang Demon. Dia saja tidak pernah diizinkan masuk ke kamar Demon. Tapi wanita ini, dengan mudahnya masuk ke kamar tuannya.
Ling Er akui, kecantikan Dewi Cinta, Amor memang tidak ada lawan. Memiliki pesona dari sang Ibu, Dewi Bunga, sulit mencari dewi lain yang mampu menandingi pesona Amor.
Meski begitu, Ling Er jelas tidak suka saat Demon menggendong Amor masuk ke istana ini di depan matanya. Cemburu, Ling Er akhirnya merasakan apa namanya cemburu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" suara dingin Demon membuat Ling Er langsung menolah ke arah Demon.
"Melihatnya," jawab Ling Er sinis.
"Jaga sikap dan ucapanmu. Dia adalah ratu di sini," desis Demon penuh peringatan. Ling Er langsung memalingkan wajahnya. Tidak suka mendengar ucapan Demon.
"Pergilah. Sudah aku katakan berulangkali. Kau tidak boleh masuk ke kamarku," usir Demon. Ling Er langsung menghilang dari hadapan Demon. Wanita itu terlalu malas untuk berdebat dengan Demon.
Setelah Ling Er pergi. Demon langsung naik ke atas ranjang.
"Kau masih tidak ingin bangun, Ratuku?" Demon berkata sambil mencium pundak Amor. Nafas Demon membuat Amor terganggu. Wanita itu perlahan mengubah posisinya menjadi telentang. Dua manik mata itu bertemu pandang. "Aku merindukanmu, Dewiku," ucap Demon lirih.
Pria itu benar-benar sudah terjerat pada pesona Amor. Meski mate Demon adalah Ling Er. Tapi ketika seorang pria dihadapkan pada Dewi Amor, secara alami mereka akan tertarik pada dewi itu. Itulah kodrat yang dibawa oleh Amor sebagai dewi cinta.
Mendengar ucapan Demon, Amor tersenyum. Dalam kondisinya sekarang, bukan jiwa asli Amor yang menguasai tubuhnya. Melainkan jiwa iblis yang berasal dari Demon.
"Aku juga merindukanmu, Rajaku," balas Amor cepat. Detik berikutnya dua bibir itu sudah menyatu. Saling memagut satu sama lain.
"Kali ini, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi," batin Demon. Pria itu terus menikmati bibir Amor. Untuk beberapa waktu keduanya sangat menikmati ciuman itu.
"Lihatlah Dewa Api. Wanitamu berada dalam genggamanku sekarang. Amor adalah milikku," batin Demon sambil membelai pipi Amor penuh cinta.
*****
__ADS_1