
Amor terbangun dari tidurnya. Sesaat hanya terdiam. Tidak bergerak sama sekali. Wanita itu memandang langit-langit kamarnya. Ya, Amor bangun di dunia nyata. Wanita itu masih terbayang bagaimana Fire menciumnya, sebelum dirinya menghilang dari hadapan pria itu.
"Aku ingin cepat bangun agar bisa segera menghidupkanmu," ucap Amor. Memandang wajah tampan Fire.
"Kalau begitu, katakan pada hatimu," jawab Fire sambil tersenyum. Amor mengerutkan dahinya. "Maksudnya apa?" Amor balik bertanya.
"Ingat yang Fuhua katakan?" Amor mengangguk. "Hatersku itu ya?" celetuk wanita itu. Fire terkekeh mendengar perkataan Amor. "Haters? Kau pikir ini dunia manusia?" gelak Fire. Meski diejek oleh Fire, Amor hanya diam, tidak menanggapi. Wanita itu sibuk mencerna ucapan hatersnya itu. "Semua tergantung hatiku?" gumamnya pelan. Kalau semua tergantung hatinya, berarti semua terserah padanya. Begitukah maksud Fuhua.
"Apa semua terserah padaku?" tanya Amor pada Fire. Sang mate hanya tersenyum. Dia tahu Amor akan sangat mudah menebak petunjuk dari Fuhua. "Diam berarti iya," tegas Amor. Wanita itu kemudian melihat wajah Fire. Seketika air mata mengalir dari matanya. "Jangan menangis. Ini tidak akan lama," Fire mengusap air mata yang membasahi pipi Amor. "Maafkan aku. Karena aku kau harus berada di alam ini."
Fire mengulum senyumnya. "Anggap saja, aku sedang cuti dari pekerjaanku," Fire menjawab enteng. Detik berikutnya, pria itu terkejut kala Amor memeluk tubuhnya. "Maafkan aku...maafkan aku," kata Amor lagi. Amor pikir, berapa kali dia mengucapkan kata maaf. Semua itu tidak akan cukup untuk menebus kesalahannya pada Fire. "Katakan keinginan hatimu. Dan kau akan mendapatkannya," bisik Fire sebelum menautkan bibirnya di bibir Amor. Bersamaan dengan itu, tubuh Fire mulai memudar dari hadapan Amor, ketika wanita itu berucap dalam hati. "Kembalikan aku ke duniaku. Dan teguhkanlah cintaku padanya. Bahkan ketika hal buruk terjadi pada kami. Satukanlah kami dalam ikatan cinta ini. Aku mencintaimu selamanya, Dewa Api, Fire."
*****
"Amor.....kau bangun?" teriakan melengking Leon langsung menggema di kamar Amor. Wanita itu perlahan menutup telinganya. "Busyet dah....gini amat sambutannya begitu aku keluar dari dimensi au ah gelap itu," batin Amor jengkel.
Teriakan Leon memancing yang lainnya datang. Mereka, Ice, Yue dan Wind. Keempatnya memang tengah berkumpul di luar kamar Amor. Berdiskusi soal Amor dan Fire. Ice jelas bisa menarik nafasnya lega. Melihat sang adik sudah membuka mata.
__ADS_1
"Berapa lama aku tidur?" tanya Amor setelah menerima air yang diberikan Yue. "Emmm sekitar sepuluh hari," Wind yang menjawab. Amor tentu terkejut. Bukahkah dia hanya berada di dimensi Fuhua tak lebih dari satu jam. Kenapa mereka bisa mengatakan kalau dirinya tidur sepuluh hari.
"Oh Amor, kau membuat semua orang panik. Kupikir kau ikut pergi dengannya.....aaawwww" Wind meringis ketika Yue menyikut perutnya.
"Andai aku bisa. Aku akan menyusulnya. Sayangnya dia tidak mengizinkanku ikut dengannya," Amor berusaha bangun dan berdiri. Yue langsung menahan tubuh Amor ketika wanita itu hampir jatuh. "Jangan tergesa-gesa untuk berlari. Kau mau ke mana?" tanya Yue. Membantu wanita itu duduk kembali di ranjangnya. Amor baru menyadari rasa kaku di sekujur tubuhnya. Seperti kesemutan dan sejenisnya. "Kau berbaring terus selama sepuluh hari. Jadi tubuhmu kaku. Gerakkan perlahan tubuhmu. Seperti pemanasan begitu," saran Leon.
"Tapi kalau kelamaan, aku akan kehabisan waktu," jawab Amor. Mencoba menggerakkan kakinya yang terasa kaku dan pegal.
"Waktu apa?" tanya Ice. Setelah saling pandang dengan yang lain. "Tentu saja waktu untuk menebus kesalahanku," Amor menjawab. Setelah berusaha berdiri, berpegangan pada lengan Yue.
"Maksudmu apa sih?" Wind bertanya kepo. Melihat Yue yang menuntun Amor menuju kursi di luar kamar wanita itu. "Kau tahu cara untuk menghidupkan Fire?" Yue bertanya to the poin. Yang lain langsung menunjukkan wajah antusiasnya. Mendengar pertanyaan Yue. Mereka seolah menemukan harapan untuk mengembalikan hidup Dewa Api itu.
"Fuhua? Siapa dia?" tanya keempat dewa itu bersamaan. Amor lantas menceritakan semua yang dialaminya di dimensi tidak berpintu itu. Dari awal sampai akhirnya dia bisa bertemu Fire. "Dia marah padamu?" tanya Ice. Amor menggeleng pelan. "Dia sama sekali tidak menyalahkanku. Aku sampai heran, bukannya dia seharusnya balik membunuhku," Amor berkata lirih.
"Dia itu bucin akut sama kamu. Bahkan mungkin masuk kategori naif," seloroh Leon. "Dibunuh kok rela. Kalau aku sudah jadi jiwa penasaran untuk balas dendam!" maki Wind yang langsung membekap mulutnya sendiri setelah melihat tatapan penuh peringatan dari Yue. "Sorry kebawa emosi sama baiknya Fire," tambah Wind.
"Tidak apa-apa. Dia memang seharusnya melakukan itu padaku. Aku akan menerimanya," wajah Amor langsung berubah sendu. Keempatnya menarik nafas dalam. Sangat tahu, penyesalan Amor pastilah sangat dalam.
__ADS_1
"Oke kita lupakan itu. Mari fokus pada cara untuk menghidupkan Fie kembali. Sudah ada ide?" tanya Yue mengalihkan pembicaraan sensitif itu. Semua, termasuk Amor menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Lalu apa ada petunjuk soal cara itu?" Ice bertanya. "Fuhua hanya mengatakan kalau aku akan menemukannya," jawaban Amor membuat keempatnya terduduk lemas.
"Jawaban model apa itu, itu bukan petunjuk melainkan teka teki untuk menambah pusing kepala kita," seloroh Wind. Semua mengangguk setuju.
"Pasti ada satu yang bisa kita jadikan petunjuk," kata Amor yakin. Wanita itu langsung melirik Leon. "Apa?" tanya pria itu galak.
"Sepertinya aku harus mengobrak abrik paviliun Liong-mu deh Leon," cengir Amor. Leon langsung menepuk jidatnya keras. Sembari melirik judes ke arah Yue. Paviliun Liong miliknya, baru empat hari ini kembali tertata rapi. Setelah Yue yang mengambil naskah sembarangan tanpa mau mengembalikannya ke tempat semula. "Sorry," ucap Yue tanpa bersuara. Leon hanya bisa menggeram kesal melihat ekspresi tidak bersalah si dewa bulan itu.
"Jadi kapan kita akan mulai?" Ice bertanya. "Eeiittss tunggu dulu. Dia tidak akan ke mana-mana sebelum bertemu ayahnya," protes Wind, tumben lempeng. "Oh iya..." yang lain seketika menepuk dahi masing-masing. Lupa dengan satu hal itu.
"Masalahnya kita harus cepat. Waktuku tinggal tiga puluh hari. Sebelum jiwa Fire menyeberangi jembatan Arwah," ujar Amor cepat. "Ha? Kenapa tidak bicara dari tadi!" pekik para dewa itu bersamaan. Amor reflek menutup telinganya.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana? Kita akan mulai dari mana maksudku?" tanya Wind. "Pertama ke paviliun Liong. Ngobrak-abrik tempat kesayangannya dia," sahut Yue melirik usil ke arah Leon yang langsung terduduk lemas di kursinya.
"Setelah kau menghadap Ayah dan menceritakan semuanya. Misi kita mulai!" Ice memutuskan. Amor mengangguk setuju. Wanita itu bertekad, sesulit apapun itu dia akan berusaha. Dia tidak akan menyerah sampai batas waktunya habis.
__ADS_1
"Tunggu aku, Dewa Api. Fire, aku sendiri yang akan datang menjemputmu. Aku yang akan menghidupkanmu kembali," tekad Amor.
****