Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Cedric Kecelakaan


__ADS_3

Jiwa Demon bergetar hebat. Dia seperti dibakar hidup-hidup dengan Api Langit, seperti saat The Sky menjeratnya. Pria itu berteriak marah. Memaki Fire yang masih memiliki perisai meski sudah turun ke dunia manusia.


"Sial!" Demon terus saja mengumpat. Kala rasa terbakar itu tidak kunjung hilang. "Ini baru Api Phonex yang digunakan sebagai perisai, belum jika Phoenix itu mengeluarkan api utamanya," gumam Demon kesal.


Pria itu perlahan duduk bersila, posisi badannya tegak. Dengan dua telapak tangannya menghadap atas. Bertumpu di atas lututnya. Selanjutnya pria itu menutup matanya. Berkonsentrasi penuh, melakukan meditasi untuk menyembuhkan sengatan api Phoenix milik Fire.


"Aku tidak boleh menyentuh tubuh Dewa Api secara langsung atau aku akan berubah jadi abu,"


Demon sendiri jadi heran. Padahal kekuatannya sudah meningkat banyak. Hasil dari meditasinya selama seribu tahun. Tapi kenapa kekuatan Phoenix Fire juga semakin kuat. Tanpa Demon tahu, setiap satu tahap kehidupan, berhasil di lalui oleh Fire dengan baik. Kekuatan Phoenix-nya akan meningkat seratus kali lipat. Sebab, selama Fire menjadi manusia, hewan langit itu akan menghabiskan waktunya dengan bermeditasi. Hanya keluar jika bahaya mengancam tuannya. Selebihnya makhluk cantik itu akan fokus untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kekuatannya.


***


"Lepas!" Cedric langsung melepaskan cekalannya pada Mika. Saat gadis itu berteriak tepat di telinga Cedric.


"Alamaakkk, toa mana nih yang pindah ke sini," gerutu Cedric sambil meniup-niup telinganya yang berdengung.


"Enak saja manggil toa," balas Mika galak. Gadis itu dengan cepat berlalu dari kurungan lengan Cedric. Lagi-lagi Mika harus berada di situasi yang membuatnya merasa marah dan salah tingkah sekaligus.


Mungkin sudah jadi kebiasaan Cedric untuk menggoda Mika. Hingga tiap ada kesempatan, pria itu selalu melancarkan aksi jahilnya. Ini sih Mika kena batunya. Dia yang biasanya suka menjahili orang. Kini gantian dia yang dikerjai oleh sang atasan.


Seperti yang baru saja terjadi. Cedric hampir mencium bibir Mika lagi, saat gadis itu sedang membantu Cedric mengerjakan pekerjaannya.


"Sudah kuperingatkan, jangan aneh-aneh padaku!" Mika tegas memperingatkan.


"Habisnya kamu seksi sih. Aku kan jadi tergoda," jawab Cedric asal. Detik berikutnya, pria itu berteriak ketika Mika menggetok kepalanya dengan map yang ada ditangannya.


"Jaga pikiranmu! Aku bukan salah satu dari mereka. Kalau kau mau bercinta, panggil mereka. Jangan jadikan aku sasaranmu," lagi Mika memperingatkan Cedric.


"Tapi aku maunya sama kamu," rengek Cedric dengan wajah memelasnya sekaligus tengilnya.


"Gombal! Pergi sana, meeting sama Re. Aku mau urus klien yang satunya sama Ri," Mika memberitahu schedule selanjutnya.

__ADS_1


"Kenapa kita gak barengan aja. Biar yang satu Re sama Ri yang pergi," Cedric protes dengan jadualnya.


Tapi Mika tegas berkata tidak. Mika sebenarnya tahu resiko bekerja dengan bos casanova seperti Cedric. Dia bisa saja dijadikan sasaran pelampiasan oleh bosnya itu. Ingin rasanya dia berhenti, tapi jaminan dari Re dan Ri yang akan selalu menjaganya. Membuat Mika bertahan. Selain akan susah mendapat pekerjaan lain. Dia juga akan kesusahan soal tempat tinggal.


Di mana lagi Mika bisa mendapatkan pekerjaan sekaligus tempat tinggal gratis. Kalau bukan dengan Cedric, bos casanova cap buaya buntung.


Cedric baru saja selesai meeting di sebuah hotel berbintang bersama Re. Ketika tanpa sengaja bertemu sang ibu dan Selia. Wanita yang digadang-gadang akan menjadi istri masa depannya. Wanita pilihan sang Mama, Catharina.


"Ma, itu Cedric," pekik Selia senang. Wanita dengan dandanan cukup menggoda itu berlari ke arah Cedric. Cedric buru-buru menyembunyikan tubuhnya di belakang Re. Seolah enggan disentuh oleh Selia.


"Cedric, aku ini calon tunanganmu," protes Selia.


"Baru calon saja bangga. Memangnya aku pernah menyetujui ide gila ini?" Ucapan Cedric terlontar sangat tajam. Mungkin mengalahkan jargon sebuah acara gosip di sebuah televisi swasta.


Selia melotot mendengar penolakan Cedric. Lagi-lagi pria itu menegaskan penolakannya pada dirinya. Cedric sendiri begitu anti pada Selia. Jika wanita lain yang berdandan seperti Selia, Cedric mungkin langsung menyeretnya ke kamar. Tapi untuk Selia, hal itu tidak berlaku. Melihat Selia, Cedric justru bergidik ngeri.


"Cedric, bisakah kau bersikap lebih baik pada Selia. Dia itu akan jadi istrimu," bujuk Catharina. Ada binar kerinduan dalam tatapan Catharina untuk Cedric. Wanita itu jelas sangat merindukan putra tunggalnya itu.


"Cedric...." bisik Catharina. Ada rasa terkejut ketika wanita itu mendengar bentakan Cedric.


"Rina...," sebuah suara memanggil terdengar di belakang Catharina. Melihat seorang pria berdiri di sana. Wajah Cedric langsung berubah masam


"Rich, kau di sini?" Tanya Rina pada pria itu. Cedric semakin menunjukkan raut wajah tidak sukanya.


"Ayo pergi," Ajak Cedric pada Re.


"Cedric.....Cedric tunggu dulu. Kita harus bicara. Ini tidak seperti yang kau lihat," Rich menahan tangan Cedric. Namun Cedric dengan cepat menepisnya.


"Jangan memyentuhku!" Cedric menepis kasar tangan Rich. Lalu berlalu dari sana. Sepeninggal Cedric suasana langsung berubah canggung.


Hubungan Cedric dan ibunya, Catharina memburuk sejak kematian sang Papa, Christopher Van Gough. Cedric yang melihat Rina sedang berpelukan dengan Richard membuat pria itu salah paham. Dia mengira kalau Richard dan Mamanya mengkhianati sang Papa. Membuat papa Cedric terkena serangan jantung lalu meninggal.

__ADS_1


Meski memang pada kenyataannya, Rina dan Richard memang punya hubungan spesial tapi itu terjadi setelah kematian papa Cedric. Selama menikah dengan papa Cedric, Rina selalu setia pada pernikahannya.


Salah paham itu semakin parah, setelah Rina menjodohkan Selia dengan Cedric. Semakin besarlah rasa tidak suka Cedric pada Rina. Dengan kata lain, Cedric mulai membenci ibunya sendiri.


"Jangan khawatir, suatu hari nanti dia akan tahu kalau yang dia tuduhkan padamu tidak benar," ucapan Richard membuat hati Rina sedikit tenang. Entah sampai kapan, Cedric akan membenci dirinya. Dia sangat rindu pada sikap Cedric yang manja pada dirinya. Dia rindu dipanggil Mama oleh sang putra.


"Cedric...Mama merindukanmu," batin Rina.


Sementara sejak pertemuan tidak sengaja antara Cedric dan mamanya. Mood pria itu memburuk sepanjang hari. Bahkan Mika hampir menangis ketika Cedric membentaknya gegara membuat sebuah kesalahan kecil dalam laporannya. Mika hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. Benar-benar ingin menangis. Hingga kemudian sebuah pelukan membuat Mika terkejut.


"Maafkan aku. Aku ada masalah hari ini," ucap Cedric, Membuat hanya bisa Mika mematung dalam pelukan Cedric. Tanpa Mika sadari kalau Cedric menangis tertahan di bahu Mika.


Hari beranjak malam. Dan Cedric memilih menenggelamkan diri dalam hingar bingar sebuah klub malam di ibukota. Meminum bergelas-gelas alkohol. Berharap dengan begitu akan membuat Cedric lupa pada masalahnya.


Tanpa dia tahu, sebuah seringai muncul di bibir Daniel yang sejak tadi mengawasi Cedric. Tanpa Re dan Ri, Cedric berjalan sempoyongan keluar klub malam itu. Menolak semua panggilan dari para wanita yang berusaha menggodanya. Mengabaikan sentuhan-sentuhan nakal di sekujur tubuhnya. Cedric memilih pergi meninggalkan klub malam itu.


Dalam keadaan mabuk berat, pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meski mabuk tapi Cedric tetap bisa mengemudikan mobilnya dengan baik. Tubuh pria itu punya toleransi yang tinggi terhadap alkohol.


Ponsel Cedric berdering. Tertera nama Mika di sana. Cedric mengambil headset bluetoothnya.


"Kenapa?" Tanya Cedric dengan suara khas orang mabuk.


"Kau di mana?" Mika bertanya panik dari ujung sana. Sudah hampir tengah malam dan pria itu belum kembali ke unitnya.


"Aku sedang di jalan. Mau pulang...." Ciiiiiiittttt......Braaaakkkkkk,


"Cedric...Cedric....kau masih di sana? Cedric.....!" teriakan Mika masih terngiang di telinga Cedric. Ketika pria itu mulai kehilangan kesadarannya.


"Mika....tolong aku," bisik Cedric lirih hampir tidak terdengar. Pria itu tidak sadarkan diri dengan luka di kepala yang mengeluarkan banyak darah


****

__ADS_1


__ADS_2