
Amor semakin bingung dengan dirinya sendiri. Dia bimbang dengan keputusannya. Ada kepedihan saat Fire rela melepas dirinya. Memilih mundur asalkan dirinya bahagia. Di tengah kebimbangan itu, Demon semakin mendesak dirinya. Sebuah keputusan Demon, membuat dewi cantik itu terkejut.
"Aku tidak peduli dengan perkataan orang lain. Tapi minggu depan, kita akan menikah."
Perkataan Demon membuat Amor berada di ujung kebingungan hatinya. Sang ayah jelas menentang keputusan Demon. Pria itu berkata tidak masalah jika keduanya menikah. Tapi jangan terburu-buru. The Sky melihat ketidakyakinan dalam keputusan Amor untuk bersama Demon.
Tapi Demon ya Demon. Pria itu acuh pada ucapan The Sky. Dia tetap pada keputusannya. Akan menikahi Amor minggu depan, dengan atau tanpa kehadiran penguasa langit itu.
Berita pernikahan Amor sampai ke telinga Fire melalui Muce. Tangan kanan Fire itu bahkan berlari terengah-engah, menerobos masuk ke ruangan Fire, hanya untuk menyampaikan kabar yang sedang menggemparkan dunia langit. Pernikahan putri pemimpin dunia langit dengan raja Iblis, Demon.
Fire sama sekali tidak bereaksi mendengar kabar itu. Yang dia lakukan hanya menarik nafasnya pelan, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Kau tidak ingin melakukan apapun untuk mencegahnya?" Muce tidak percaya melihat sikap Fire.
"Aku akan bergerak, jika Amor memintaku. Tapi selama dia diam. Aku juga diam," kata Fire singkat.
"Apapun keputusanmu, itu pasti takdir yang telah digariskan atas kita." Fire memejamkan mata, menahan pedih di hatinya. Satu-satunya wanita dalam hidupnya tidak ditakdirkan untuk menjadi miliknya.
"Sama seperti ayah yang tidak bisa bersatu dengan dewi bunga. Apa itu juga terjadi pada kami," batin Fire.
Dua hari berlalu, Ice berlari masuk dengan wajah panik ke White Castle. "Ada apa?" Muce bertanya di depan pintu ruangan Fire.
"Kali ini kita harus bertindak. Demon menculik Amor." Ice menerobos masuk. Lalu berhenti di depan Fire yang tengah memandangi salju yang selalu turun di istananya.
"Kau panglima tertinggi, perintahkan pasukan untuk menggempur Black Castle. Demon membawa adikku," lapor Ice.
Fire berbalik lalu melihat Ice. "Kau pasti dia pergi dengan paksaan," pria bermata biru itu bertanya. Ice jelas terkejut mendengar jawaban Fire.
__ADS_1
"Kau tidak khawatir padanya?"
"Khawatir.... sangat khawatir, tapi aku juga tidak bisa bertindak sembarangan. Aku akan datang padanya asalkan dia memanggilku. Selain itu, tidak. Menikah dengan Demon adalah keputusan Amor. Aku bahkan tidak bisa mengubah keputusannya. Sekarang pun demikian. Jika pernikahan di adakan di Black Castel memang seharusnya Amor sudah berada di sana."
Fire memandang lurus pada Ice. Kakak Ice itu menggeleng pelan mendengar jawaban Fire. "Kau benar-benar berubah." Ice berkata kesal sembari melangkah keluar dari sana.
Ice keluar, tak berapa masuklah Leon dan Yue. "Sudah dengar beritanya?" Leon bertanya. Melihat reaksi Fire yang biasa saja, Leon dan Yue pun saling pandang.
"Apa aku harus maju untuk merebutnya jika dia tidak menginginkanku?" tanya Fire pilu.
Mendengar perkataan Fire, Leon dan Yue hanya bisa menarik nafasnya. Mereka cukup paham dengan apa yang sedang dihadapi Fire. Ketidakpastian. "Andai....andai dia sedikit memberiku tanda, aku akan datang padanya." Tambah Fire lagi.
Sementara itu, Amor jelas protes ketika Demon membawanya paksa ke Black Castle. Raja Iblis itu memang membawa paksa Amor ke istananya.
"Kau menculikku!" Amor berteriak ketika Demon muncul di hadapannya. "Menculikmu bagaimana? Kau kan calon istriku, jadi tidak ada salahnya jika kamu berada di sini sampai hari pernikahan kita."
Amor merangsek maju ke arah Demon. Wanita itu mengangkat wajahnya di hadapan Demon. "Aku bahkan belum menyetujui pernikahan ini. Dan kau sudah menyeretku paksa ke sini," desis Amor penuh amarah.
"Dia akan datang begitu aku memanggilnya. Aku tidak akan bahagia denganmu," teriak Amor.
Demon menggeram marah. Kunci Fire adalah Amor. Kalau Amor menyuruhnya bergerak, Fire akan melakukannya. Dia harus membuat Amor diam sampai hari pernikahan mereka. Jika tidak, dia harus bersusah payah melawan Fire.
"Kau tidak akan memanggilnya. Sampai kita menikah, kau akan jadi gadis baik yang penurut," kata-kata Demon seperti mantra yang langsung membuat Amor tunduk.
"Bersikaplah baik sampai hari pernikahan kita. Karena setelah kau sadar, kau tidak akan bisa lepas dariku kecuali mati," sebuah ciuman mendarat dengan sempurna di bibir Amor yang berdiri bak patung hidup. Tidak melawan, juga tidak membalas.
Dua hari jelang pernikahan. Amor berjalan mondar mandir di kamarnya. Wanita itu kembali bingung. Kenapa dirinya selalu menuruti permintaan Demon? Kenapa dia tidak bisa melawan pria itu? Andai saja cinta itu masih ada dalam hatinya. Dia tentunya tidak akan bingung dengan hidupnya. Dia bisa memberikan keputusan tegas soal nasib percintaannya.
__ADS_1
Bahkan perkataan Ling Er turut membuatnya ragu soal menikah dengan Demon. "Di sini bukan tempatmu, dewi cinta." Singkat tapi penuh arti. Dia tahu maksud Ling Er. Wanita itu tengah memberinya petunjuk. Kalau keberadaan di sini adalah salah.
"Aku harus lari," Amor baru saja membuka pintu ketika Demon sudah berdiri di hadapannya. "Mau ke mana kau?" Tanya Demon curiga.
"Aku ingin pulang, aku membatalkan pernikahan kita," kata Amor tegas.
Amor memundurkan tubuhnya, ketika Demon maju. Wanita itu kembali masuk ke kamarnya. Pintu langsung tertutup begitu Demon masuk. "Aku pastikan kau tidak akan ke mana-mana," kata Demon.
Amor mengerutkan dahinya, heran. "Apa maksudmu?"
"Kita akan menikah dengan atau tanpa persetujuanmu," tegas Demon. Kali ini, Amor membulatkan matanya. Wanita itu seketika sadar kalau Demon tidak mencintainya, tapi terobsesi padanya, seperti kata Ice.
"Kau tidak mencintaiku?"
"Justru karena aku sangat mencintaimu. Aku ingin kau berada di sisiku selamanya."
"Itu bukan cinta namanya. Cinta seperti yang Fire lakukan. Dia melepasku supaya aku bahagia."
Demon menggeram marah, mendengar nama Fire terucap dari bibir Amor. Pria itu mencengkeram dagu Amor, hingga wanita itu meringis.
"Jangan pernah menyebut namanya di depanku," kata Demon penuh penekanan. Air mata Amor mengalir di pipi wanita itu. Merasakan perih di wajahnya.
"Kau akan dikurung di sini sampai kita menikah." Demon berlalu dari hadapan Amor. Meninggalkan Amor yang terisak lirih. Dia teringat bagaimana sang kakak memperingatkan dirinya. "Kau akan menyesal sudah mengambil keputusan untuk menikah dengan raja iblis itu."
"Kakak, bagaimana ini?" Amor memukul-mukul pintu. Ingin membukanya tapi tidak bisa. "Buka pintunya! Buka! Demon kau tidak bisa mengurungku seperti ini!" teriak Amor.
Sementara itu, di luar paviliun Amor, Demon baru saja selesai membuat sihir pelindung. Pria itu membuat tempat itu tidak kasat mata.
__ADS_1
"Aku melakukan ini karena aku tidak sanggup lagi melihatmu jauh dariku, dan menjadi milik orang lain. Aku tidak bisa! Aku tidak rela kau dan Fire bersatu." Batin Demon. Melihat bagaimana paviliun yang ditempati Amor perlahan menghilang dari pandangannya.
******