
"Waaaaaahhhhh."
Guman Amor takjub. Melihat bunga wisteria fall yang ada di hadapannya. Dia pikir bunga itu hanya ada di dunia langit. Ternyata di dunia manusia juga ada. Pohon itu tumbuh begitu besar. Bahkan lebih besar dari yang ada di taman milik Amor. Saking lebatnya bunga, hingga daun pohon tidak nampak. Yang terlihat hanya keseluruhan pohon itu yang berwarna ungu. Dengan bunganya yang menjuntai hampir menyentuh tanah
Kredit Pinterest.com
"Kau suka?" pertanyaan Fire membuat Amor menoleh. Melihat ke arah pria itu. Fire mengangkat tangannya. Selanjutnya ribuan kelopak bunga itu berguguran. Bagai hujan yang menghujani Amor. "Cantiknya," gumam Amor pelan. Dewi itu menyentuh kelopak wisteria fall yang jatuh itu dengan tangannya. Seperti hujan berwarna ungu. Tanpa sadar Amor tersenyum. Senyum tercantik yang pernah Fire lihat.
"Aku ingin selalu melihatmu tersenyum seperti ini," pria itu berjalan mendekat ke arah Amor. Perlahan meraih wajah Amor. Lantas mencium lembut bibir dewi cantik itu. "Aku mencintaimu Dewi Cinta, Amor," batin Fire.
*****
Amor menengadahkan kepalanya. Menatap langit kelam di atasnya yang sejak tadi tidak henti menurunkan hujan. Di depannya sebuah air terjun sihir terlihat indah. Air terjun itu sangat istimewa karena bukan air biasa yang turun. Melainkan butiran air yang telah beku. Butiran itu terus bergerak turun lalu kembali naik melalui sisi sebelahnya. Berputar terus tidak pernah berhenti.
Butiran air beku itu terlihat berkilau karena matahari buatan yang sengaja dibuat di atas tempat itu. Sinarnya akan menyusup melalui sela-sela awan putih yang ada di sana. Tapi karena hari ini cuaca sedang hujan. Jadi sinar matahari itu tidak terlihat.
Amor kembali melihat ke depan. Di depannya sebuah meja kecil berisi bunga mawar putih yang diletakkan di sebuah vas besar. Dengan bunga mawar merah dan biru di kiri dan kanannya. Tempat itu dikelilingi danau dengan tanaman teratai yang tumbuh di dalamnya.
"Ibu, apa aku harus membalaskan dendammu padanya?" Amor berbisik lirih. Dewi itu sudah berada di sana sejak tadi. Cukup lama untuk membuat seluruh tubuhnya basah kuyup karena hujan mengguyurnya.
Setelah kencan mereka ke dunia manusia. Mimpi buruk Amor semakin menjadi. Padahal dua minggu lagi adalah pernikahan dirinya dan Fire.
Dalam mimpinya bahkan terlihat jelas wajah Fire yang melepaskan Tapak Api Limbo ke arah ibunya. Amor langsung memeluk lututnya sendiri. Menyembunyikan wajahnya di sana. "Katakan padaku... Apa yang harus aku lakukan?" Amor menangis di depan "makam" sang ibu. Tempat itu adalah makam Dewi Bunga, Nuwa. Tempat yang sengaja dibangun oleh The Sky, sang ayah untuk mengenang istrinya.
Di sisi lain, Fire langsung menggeram marah. Melihat Seth, yang bersujud paksa di hadapannya. Muce berhasil menangkap Seth melalui sebuah jebakan.
"Apa maksudmu dengan memanipulasi mimpi Amor?" tanya Fire mengeratkan rahangnya.
"Hanya sedikit memberi tahu soal kebenaran pada Dewi Cinta itu," jawab Seth sambil menyeringai. Meski bersujud di depan Fire. Tapi Seth sama sekali tidak menunjukkan raut wajah takutnya. Sebaliknya wajah mencemoohlah yang tersirat di wajah dewa yang kini menampilkan sosok aslinya. Berambut hijau pendek dengan mata seperti pupil ular yang licik. Seth memang terkenal licik. Dan pandai bersilat lidah. Mungkin karena itulah dewa ini memilih dunia iblis menjadi tempatnya bernaung. Sebab kelicikan dan perangainya tidak sesuai dengan citra dunia langit yang bersih.
"Kebenaran apa maksudmu?" tanya Fire penuh intimidasi.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak tanyakan sendiri padanya? Mungkin dia mau memberitahu soal mimpi indahnya," seringai kembali menghiasi bibir hitam si pengendali mimpi itu.
"Ini soal kematian Dewi Bunga yang sampai sekarang belum pernah dijelaskan oleh The Sky pada khalayak ramai...."
"Aku tahu itu. Dan Amor pernah menanyakan soal Tapak Api Limbo pada Leon," potong Fire cepat.
"Apa kau tidak curiga. Kalau Seth ingin mengadu domba antara dirimu dan Dewi Cinta," ucap Muce cukup pelan.
Fire seketika mengangkat wajahnya. Memandang tajam pada orang kepercayaannya itu.
****
Fire berjalan cepat menyeberangi jembatan kayu yang menghubungkan daratan dan makam Nuwa yang berada di tengah danau. Pria itu cukup yakin jika Amor ada di sana. Dan benar dugaannya. Wanita yang dia cari berada di sana. Dengan tubuh basah kuyub. Dan bahu yang terus bergetar hebat. Amor sedang menangis.
"Berhati-hatilah saat menghadapi Dewi Cinta. Jika melihat dari perkataan Seth. Dia sudah cukup dalam masuk ke dalam mimpi Dewi Cinta. Takutnya dia sudah terlalu banyak terpengaruh oleh manipulasi Seth."
Muce memperingatkan Fire. Takut jika Amor benar-benar sudah salah paham pada Fire. Hasilnya tentu sangat tidak baik.
"Aku....aku hanya teringat Ibu," jawab Amor sendu. Fire menarik nafasnya pelan. Lantas ikut bersimpuh di samping Amor. Menatap kerlip air terjun yang terlihat sangat indah.
"Aku belum pernah bertemu ibumu. Tapi karena aku sudah berada di sini. Jadi sekalian saja aku meminta restu untuk menikahimu," Fire berkata tanpa melihat Amor.
"Dia bohong! Dia sudah pernah bertemu ibumu," sebuah bisikan masuk ke kepala Amor.
"Apa benar kau belum pernah bertemu ibuku?" selidik Amor. "Tentu saja belum. Kenapa? Kau tidak percaya padaku?" Fire kini duduk menghadap Amor. Pria itu berusaha masuk ke pikiran dewi cantik yang kini juga tengah memandangnya.
"Seth mengendalikannya."
"Aku pikir tidak ada rahasia di antara kita," Amor berdiri dari duduknya. "Memang tidak ada yang kusembunyikan darimu," Fire ikut berdiri.
Saat itulah sebuah ilusi terbentuk di depan Amor. Atau lebih tepatnya di mata Amor. Dalam ilusi itu, wajah Fire persis sama dengan orang yang menyerang ibunya.
"Ibuku...kau yang melukai ibuku hingga jiwanya musnah kan?" teriak Amor. Fire langsung membulatkan matanya mendengar tuduhan Amor.
__ADS_1
"Tentu saja bukan! Sudah aku katakan kalau aku belum pernah bertemu ibumu...."
"Bohong! Di semesta ini siapa yang punya jurus Tapak Api Limbo selain kau!" Amor kembali berteriak.
"Aku memang punya jurus itu. Tapi aku sama sekali belum pernah menggunakannya pada siapapun apalagi ibumu," Fire mencoba tenang menghadapi kemarahan Amor.
"Kau mengakuinya....."
"Tidak! Aku tidak melukai ibumu. Apalagi sampai memusnahkan jiwanya. Amor kau salah paham padaku, mimpi itu menyesatkanmu. Mimpi itu bertujuan untuk mengadu domba kita,"
"Diam!" Raung Amor. Wanita itu menatap tajam, penuh amarah pada Fire. "Mimpi itu adalah petunjuk dari ibuku. Dia tidak tenang di alam sana. Karena itu dia memberitahuku, siapa yang sudah melukainya. Dia ingin aku membalas dendam," tambah Amor.
"Cukup Amor! Itu bukan ibumu. Tapi itu ulah Seth. Dia ingin aku dan kau bertengkar," Fire memegang kedua lengan Amor.
"Dialah pembunuh ibumu."
Amor seketika berteriak. Bersamaan dengan Fire yang meringis. Amor melukai lengannya. Saat itulah Ice dan Leon muncul. Dua dewa itu datang bersama Muce. "Apa yang kau lakukan Amor?" tanya Ice tajam. Melihat ke arah Fire yang berusaha menahan darah yang mengalir di lengannya.
"Dia yang sudah membunuh Ibu!" teriak Amor. Ice dan Leon saling pandang.
"Jangan ngawur kau. Apapun yang terjadi pada Ibu itu tidak ada hubungannya dengan Fire," Ice berusaha menenangkan Amor.
"Ibu sendiri yang bilang kalau dia yang sudah melukainya. Hingga Ibu meninggal," air mata Amor mulai mengalir.
"Satu tusukan pada jantung Fire. Maka dendam ibumu akan terbalas."
"Seth mengendalikan pikirannya," Fire berucap. Dia pikir ada yang tidak beres dengan belati yang Amor gunakan. Hingga kemudian dia teringat racun Oleander. "Tidak mungkin ada racun Oleander di belati itu," batin Fire.
Pandangan Fire semakin kabur. Telinganya mulai berdengung. Tidak jelas mendengar pertengkaran Ice dan Amor. Hingga tiba-tiba, tubuhnya ambruk dengan rasa sakit luar biasa di dadanya.
"Ini untuk Ibuku!" Fire samar mendengar teriakan Amor.
*****
__ADS_1