Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Still Final Battle 2


__ADS_3

Di sisi Demon dan Fire, dua pria itu masih bertarung dengan pedang di tangan masing-masing. Seolah tidak peduli dengan luka ditubuh mereka, keduanya tidak berhenti saling menyerang. Sama-sama berambisi ingin menghabisi lawannya.


Hingga bunyi berdebum keras, mengalihkan perhatian mereka. Tao dan Chai terjatuh di tanah secara bersamaan dengan tubuh saling membelit. Dua naga itupun tidak berbeda jauh keadaannya dengan mereka. Tubuh Tao dan Chai penuh luka dengan darah mengalir dari sana.


"Hentikan omong kosong ini! Mari selesaikan semua sekarang! Kau atau aku!" teriak Demon emosi.


"Sesuai keinginanmu!" Balas Fire.


Keduanya pun mulai mengambil posisi, mata mereka terpejam dengan dua tangan terangkat, telapak tangan mereka menghadap ke atas.


Tak berapa lama, gulungan awan mulai terbentuk di atas mereka. Berpusar, menciptakan badai paling dahsyat yang pernah ada. Petir saling menyambar begitu mangerikan.


"Ini bencana!" Rain berteriak.


"Mereka harus dihentikan!" Timpal Leon.


Yue segera mencekal tangan Amor, dia tahu yang dipikirkan dewi itu. "Jangan berpikir untuk pergi ke sana. Black Rune dan Tapak Api Limbo akan menghancurkanmu begitu kau mendekat."


Pria itu memperingatkan dewi itu. Tapi Amor berusaha melawan Yue. "Mereka harus dihentikan."


"Kita akan menemukan cara untuk menghentikan mereka." sahut Ice.


Di sisi lain, dua pasang mata itu terbuka bersamaan. Satu dengan pendar biru, satu dengan warna merah membara. Seluruh energi dalam mereka terpusat pada satu titik, lawan masing-masing.


Ketika Demon dan Ice menggerakkan tangan mereka, sinar putih tegak lurus langsung muncul , menembus pusaran awan di atas mereka.


Amor jelas semakin panik. Dia tahu, setelah ini hanya ada satu kata untuk keduanya. Hidup atau mati.


"Hidupmu diselamatkan dengan cara menentang hukum alam."


Satu kalimat terdengar di telinga Amor. Air mata seketika mengalir dari kedua belah mata Amor. Dia tidak mau ada pertumpahan darah karenanya. Bukankah dia sudah memilih, tapi kenapa mereka masih berduel memperebutkan dirinya.


Tidak! Dia harus menghentikan ini semua. Amor terus berontak dari cekalan Yue yang semakin kuat menahan tubuhnya.


Sementara di atas sana, dua pria itu sudah mulai mengarahkan serangan masing-masing. Bisa dipastikan jika sebentar lagi akan ada hantaman gelombang kekuatan yang sangat besar.


"Kita terlambat." Ice berkata sendu.


"Lindungi diri kalian!" Wind berteriak. Semua langsung menggunakan sihir pelindung masing-masing. Leon mendekap erat tubuh Rain. Sedang Yue masih berusaha menenangkan Amor.


"Maafkan aku," Amor mengeluarkan belatinya. Lantas menggores lengan Yue, agar pria itu melepaskan cekalan.

__ADS_1


"Aarrrgghhh! Amor berhenti!!" Yue berteriak kala Amor terbang menuju bola cahaya berwarna kuning dan hitam yang akan saling berbenturan.


Mereka terlambat menghalangi Amor. Bahkan jerat dari Ice dan Wind langsung dipatahkan oleh Amor.


"Amor kembali!" Ice berteriak histeris. Melihat sang adik mendekati kematiannya. Sedang Demon dan Fire langsung membulatkan matanya, melihat Amor mendekat ke arah bola api Limbo dan Black Rune yang akan saling menghantam.


"Amor menjauh!" Demon dan Fire berteriak bersamaan. Seiring dengan itu, tubuh Amor sudah tertelan oleh dua kekuatan besar itu.


"Tidak!"


Teriak semua orang bersamaan. Mereka masih bisa melihat bagaimana Amor memuntahkan darah hitam, kala dua kekuatan itu menghantam tubuhnya.


Fire jatuh terduduk dengan derai air mata, sementara Demon hanya bergeming. Tubuhnya tidak mampu bergerak.


"Amor....." lirih Demon.


"Ada yang tidak beres!" gumam Yue, sembari menahan lukanya. Mereka pun melihat ke angkasa di mana Black Rune dan Tapak Api Limbo berbenturan. Ya, seharusnya akan timbul ledakan hebat dari dua kekuatan itu. Tapi ini tidak. Dua kekuatan itu memang saling menghantam dengan tubuh Amor di tengahnya, tapi ledakan itu tidak terjadi.


Sampai semua membulatkan matanya, kala cahaya putih menyilaukan, muncul dari dua gesekan bola kuning dan hitam itu. Seolah sinar putih itu meredam kekuatan Demon dan Fire.


"The Sky." Seru Leon.


Ice langsung mendekat ke arah Fire dan Amor. Pria itu langsung menyalurkan energi dalamnya untuk mengurangi luka dalam sang adik.


Sementara di atas sana, The Sky mulai memuntahkan darahnya. Meredam dua kekuatan sebesar itu membuat jiwanya terluka parah.


"Siapapun! Hentikan dia!" Rain berteriak.


Semua kini beralih menatap The Sky yang mulai melemah kekuatannya. "Sedikit lagi," bisik The Sky. "Ayah berhenti!" Ice berteriak panik.


Adiknya terluka dan ayahnya hampir meregang nyawa. Bisa dibayangkan bagaimana takutnya Ice. Detik berikutnya, pria itu telah terbang mendekati sang ayah.


"Berhenti di sana!" The Sky berteriak.


Tapi Ice tidak peduli. "Chai!" Teriak Ice. Meski Chai terluka parah, tapi tuannya yang baru tidak. Hingga energi dalam Ice mampu memberi kekuatan baru pada Chai.


Chai menggeram, naga putih itu terbang ke arah Ice. "Lepaskan, ayah." Kata Ice.


The Sky menggeleng. "Tinggal sedikit lagi."


"Biar aku yang membereskan sisanya. Amor terluka, aku tidak mau ayah terluka juga."

__ADS_1


The Sky melihat ke arah Amor yang setia berada dalam pelukan Fire. Seulas senyum terbit di bibir The Sky. "Dia akan aman selama berada dalam lindungan Fire. Dia akan hidup dengan baik selamanya. Ayah yang akan menggantikan kutukan yang seharusnya ditanggung adikmu karenanya." The Sky melihat ke arah Demon, Yang masih melihat dengan pandangan tidak rela pada Amor yang berada dalam dekapan Fire.


Ice mengerutkan dahinya. "Kita harus cepat." suara Chai menggema di pikiran Ice.


"Aku tidak paham dengan apa yang Ayah maksud."


"Berhenti Chai, aku tahu rencanamu. Kali ini kau harus menurutiku. Untuk yang terakhir kalinya." The Sky melirik tajam pada Chai.


Mata biru Chai berkaca-kaca. "Lindungi dia," bisik The Sky. Detik berikutnya sebuah ledakan dahsyat terjadi di langit dunia iblis. Saking besarnya kekuatan ledakan, hingga seluruh air di empat dunia meluap ke daratan. Menimbulkan banjir bandang di beberapa wilayah.


Semuanya berlindung di balik sihir pelindung masing-masing. Sedang Chai melingkari tubuh Ice yang langsung jatuh terduduk. Melihat tubuh sang ayah menghilang di telan ledakan itu.


"Ayahhhh!!!!" teriak Ice. Dia tahu sang ayah telah pergi. Mengorbankan diri untuk melindungi mereka semua.


Semua hanya bisa terdiam di tempat masing-masing. Mereka cukup terkejut dengan yang baru saja terjadi. The Sky meninggal.


Ice menangis, untuk kesekian kalinya dia menangis. Dia sejatinya pria yang sangat lembut hatinya. "Jangan pergi. Jangan pergi." Tangis Ice pilu. Sementara Chai masih setia melingkari tubuh tuannya itu.


"Berhenti menangis Ice."


Ice seketika mengangkat wajahnya. Semua langsung membungkuk, memberi hormat. The Lord Yang Agung muncul di hadapan mereka.


"Lao Yang." Kata Yue.


"Ayah....."


Fire berkata lirih. Semua melihat ke atas sana.


"Ini adalah pilihan ayahmu."


The Lord Yang Agung berkata, menatap lurus pada Ice. Seolah perkataan itu sengaja ditujukan untuk putra The Sky itu.


Ice memandang tidak percaya pada penguasa empat dunia itu. Bahkan Demon pun langsung bersujud, memberi hormat padanya.


Pandangan The Lord menyapu ke seluruh dunia. Dalam hitungan detik. Semua yang hancur berantakan, pulih seperti semula.


"Kali ini kita akan memperjelas semua kesalahpahaman di masa lalu. Antara kalian."


Pria dengan jubah putih itu memandang Fire, Amor, Demon dan juga Lao Yang yang kini berdiri sembari membungkukkan badan di hadapan The Lord.


****

__ADS_1


__ADS_2