Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Lamaran Daniel


__ADS_3

Re dan Ri saling pandang keesokan harinya. Ketika Cedric bertanya soal cinta pada duo R itu. Terang saja dua dewa itu pusing dibuatnya. Hidup ribuan tahun, tak pernah sekalipun Re dan Ri berkenalan dengan yang namanya cinta. Apa itu cinta? Keduanya malah balik bertanya. Sebagai dewa kalangan menengah, mereka tidak diberikan takdir cinta oleh Dewa Bulan, seperti dewa kalangan atas.


"Masak iya, kita harus tanya si Dewa Bulan. Nggak lucu kan?" gumam Re lirih.


"Memangnya kenapa? Cinta kan memang bukan bidang kita. Apa perlu kita tanya pada Ice atau Wind?" Ri memberi pertimbangan.


"Hei....kau tidak ingat kalau takdir cinta keduanya belum diputuskan lagi. Alias mereka jones...jomblo ngenes. Itu kata kamus dunia manusia. Kalau tanya soal cinta...bisa tanya sama Dewa Matahari, Leon. Di kan punya mate tu. Jadi dia pasti tahu artinya cinta dan teman-temannya," oceh Re panjang kali lebar kali tinggi.


Pada akhirnya, mereka semua yakin kalau Mika adalah Amor. Hingga berbagai cara mereka lakukan untuk mendekatkan dua orang itu. Meski begitu, keadaan sepertinya tidak sejalan dengan yang keinginan mereka. Mika lebih menyukai Daniel, ketimbang Cedric. Gadis itu semakin sering menghabiskan waktu luangnya dengan Daniel. Hal yang membuat Cedric geram bukan kepalang.


Meski masih tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Cedric jelas tidak suka melihat Mika bertambah dekat dengan Daniel. Atau dengan kata lain, Cedric mulai merasakan apa itu cemburu.


Seperti sekarang, wajah Cedric memerah menahan amarah ketika melihat Mika yang mulai berani bergandengan tangan dengan Daniel. Pria itu lantas berlari ke arah Mika dan Daniel. Tanpa aba-aba, langsung memisahkan tautan dua tangan itu.


"Cedric! Apa yang kau lakukan?" Mika bertanya marah. Pun dengan Daniel. Pria itu benar-benar ingin menghajar Cedric sekarang juga.


"Sudah kukatakan kalau dia adalah milikku!" Ucapan Cedric ditujukan untuk Daniel.


"Kalau Mika yang menginginkannya bagaimana?" tantang Daniel. Pria itu terlihat tampan dengan setelan kerjanya.



Kredit Pinterest.com


Daniel Harrison Ford aka Demon, si Raja Iblis,


"Aku harus mendapatkan Mika segera. Atau kalau tidak aku harus membuat mereka bertengkar," batin Daniel.


"Sudahlah Cedric, aku memang menyukai Kak Daniel. Memangnya ada apa denganmu? Kenapa kau marah kalau aku jalan dengan kak Daniel? Bukankah tidak ada apa-apa di antara kita? Hubungan kita hanya sebatas atasan dan stafnya."


Jawaban Mika membuat Cedric terpaku. Sebab hal itu memang benar. Cedric selalu mengklaim kalau Mika adalah miliknya. Tanpa tahu apa dasarnya. Tapi Cedric sungguh tidak rela jika Mika menjadi milik orang lain. "Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta pada Mika?"

__ADS_1


Kenapa rasanya sesakit ini, ketika Mika mengatakan kalau hubungan mereka hanyalah sebatas atasan dan stafnya. Bos dengan anak buahnya.


Di sisi lain, melihat raut wajah kecewa Cedric. Hati Mika merasa bersalah. Tanpa Mika sadari, gadis itu membandingkan Daniel dan Cedric. Daniel cenderung mengikuti semua kemauan Mika. Tanpa ragu. Berbeda dengan Cedric. Pria itu selalu memperhatikan setiap hal yang akan Mika lakukan. Jika menurut Cedric tidak baik, pria itu berani adu argumen dengan Mika agar gadis tidak melakukan hal tersebut. Cedric ingin Mika mendapat semua yang terbaik dalam hidupnya.


Dan lagi, Mika merasa. Dibalik sikap lembut Daniel ada hal yang pria itu sembunyikan darinya. Seolah semua kebaikan Daniel hanyalah semu. Tidak tulus dari hati pria itu.


Melihat Cedric hanya diam. Daniel menarik tangan Mika. Lalu membawanya pergi dari sana. Sebelum masuk ke mobil Daniel, Mika sempat melihat wajah sedih dan kecewa Cedric. Ada rasa sakit di hati Mika melihat kesedihan atasannya itu.


"Jangan memberikan hatimu pada pria yang tidak mau memperjuangkan dirimu," kata-kata Elli terngiang di telinga Mika.


"Jika kau mau berjuang untukku, aku akan mempertimbangkan lagi soal pilihanku," batin Mika.


Daniel seketika mengepalkan tangannya. Mendengar kata hati Mika. "Jangan harap kau akan berhasil kali ini," Daniel membatin sembari melirik Mika dengan ekor matanya.


***


"Dia ada di dalam?" tanya Mika pada Ri. Sebab sejak tadi dia tidak melihat Cedric keluar dari ruangannya.


"Masak sik?" Mika membuka laptopnya. Tak berapa lama, gadis itu mengetuk dahinya. Merasa malu dengan Ri.


"Sendiri buat schedule, sendiri pula lupa," ledek Ri, yang langsung disambut cengiran dari Mika.


"Kalau dia tidak ada. Aku bisa bebas pergi dengan Kak Daniel," batin Mika senang.


Begitulah, sejak hari itu. Mika dan Daniel selalu pergi jalan-jalan berdua. Dua hari, hati Mika terasa sangat bahagia. Bisa berduaan dengan Daniel. Tapi masuk hari ketiga, hati Mika mulai terasa aneh. Seolah ada yang hilang dalam hidupnya. Tidak melihat Cedric, membuat Mika merasakan ada yang kurang dalam hidupnya.


"Kau kenapa?" tanya Ri. Pria itu melihat Mika hanya mengaduk-aduk makanannya tidak jelas.


"Makanlah, kita masih ada dua meeting lagi. Mungkin sampai petang nanti," Ri memperingatkan Mika. Bagaimanapun, Cedric berpesan untuk selalu memperhatikan Mika. Apalagi soal makanan. Mika tipe yang lebih mementingkan pekerjaan ketimbang makan.


"Tidak selera," jawab Mika lirih. Tanpa Mika tahu, Ri mengirim pesan pada Cedric. Memberi laporan soal sekretarisnya. Tak lama, ponsel Mika berdering. Nama Cedric tertera di sana. Tapi Mika tidak memperhatikan siapa yang tengah meneleponnya. Hingga dia asal saja memjawab.

__ADS_1


"Halo, selamat siang. Bisa dibantu...."


"Kau ingin kubelikan apa?" Cedric langsung memotong ucapan Mika. Mendengar siapa yang menghubunginya. Mika sontak menatap Ri yang terlihat santai sambil melahap makanannya.


"Cedric...kau?"


"Iya ini aku. Lusa aku pulang, kau ingin apa?" tanya Cedric. Padahal, saat itu Cedric sedang memimpin meeting. Pria itu menjeda meeting demi memastikan keadaan Mika.


"Emmm.....apa saja," Mika menjawab asal. Bukan masalah oleh-oleh yang dibawa oleh pria itu. Tapi suara Cedric seolah mengembalikan hidup Mika. Gadis itu seperti mendapat tenaga baru berkat suara Cedric.


"Benar? Terserah padaku?" tanya Cedric lagi. Pria itu tak jauh beda. Rasa marah yang Cedric rasakan tadi menguap seketika. Berganti dengan debar jantung tidak karuan yang memenuhi dadanya.


"Aku ingin melihatmu," tiba-tiba saja kalimat itu terucap dari bibir Cedric.


"Ya?" Mika menyahut sambil mengerutkan dahinya.


"Aku rasa aku merindukanmu, Mikayla"


Hati Mika melayang sekaligus terkejut mendengar ucapan Cedric. Rasa bahagia membuat wajahnya memerah. Cedric berkata merindukannya. Benarkah itu?


"Kamu kenapa?" pertanyaan Daniel membuat lamunan Mika buyar. Hari itu mereka kembali berjalan-jalan. Menelusuri taman sambil menikmati suasana malam.


Tapi entah kenapa, kali ini hati Mika tidak sebahagia biasanya. Gadis itu kembali terngiang ucapan rindu dari Cedric siang tadi. Hingga dia tidak fokus saat Daniel mengajaknya bicara.


"Tidak ada? Mungkin aku terlalu lelah. Kak Daniel...bisakah kamu mengantarkan aku pulang?" Mika bertanya pada Daniel. Pria itu tidak segera menjawab. Daniel hanya menatap dalam wajah Mika.


"Aku menyukaimu, Mika. Maukah kau menikah denganku?" Tanya Daniel spontan. Mungkin ini terlalu tiba-tiba. Tapi dia harus bergerak cepat.


"Kakak....melamarku?" Mika menyahut tidak percaya. Di tengah kebimbangan yang melanda. Kenapa lamaran Daniel justru membuat hatinya gundah. Padahal kemarin-kemarin Mika sangat mengharap, kalimat itu akan segera keluar dari bibir Daniel. Pria yang sejak lama Mika suka.


Tapi kenapa sekarang malah dia jadi tidak bahagia mendengar lamaran Daniel. Mika merasa ada yang aneh dari dirinya.

__ADS_1


****


__ADS_2