Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Kecemasan Ice


__ADS_3

Amara masuk ke dalam rumahnya dengan langkah tergesa. Wanita itu ingin segera menemui sang suami, Agra. Ingin membahas soal Cedric. Juga soal Mika yang ingin menikah dengan Daniel.


"Pa, Papa...kamu di mana?" Amara langsung masuk ke ruang kerja Arga. Tempat Arga biasa berada.


"Ada apa sih?" Arga menyahut sambil melepas kacamata. Lalu mematikan laptopnya.


"Aku baru bertemu Mika dan...Cedric," Arga langsung menatap serius pada Amara.


"Maksudmu?"


Amara lalu menceritakan kejadian di mall tadi. Dengan Agra yang memyimak cerita sang istri. Pria itu hanya manggut-manggut mendengar cerita Amara.


"Jadi sekarang bagaimana?" Amara bertanya gelisah. Dia takut jika hal buruk menimpa Mika. Putri kesayangan mereka. Berbeda dengan Amara yang terlihat cemas. Agra justru bersikap santai. Dia selama ini selalu mengawasi Mika dan Cedric. Dari hasil pengamatannya, Agra menilai kalau Cedric mulai tertarik pada Mika. Juga ada tanda-tanda pria itu cemburu pada kedekatan Mika dengan Daniel.


Hingga akhirnya, Agra sampai pada kesimpulan kalau Cedric pasti tidak akan tinggal diam. Bila tahu Mika memilih Daniel. Dengan sifat Cedric, Agra memastikan kalau pria itu akan melakukan apa saja untuk merebut Mika dari Daniel.


"Jangan khawatir. Meski Mika memilih Daniel. Cedric tidak akan tinggal diam. Kamu bisa lihat apa yang Cedric mampu lakukan untuk mendapatkan Mika," ucap Agra tenang. Mendengar ucapan sang suami, Amara hanya bisa terdiam.


***


"Masih ada lagi yang bisa kubantu?" Mika bertanya dengan wajah merahnya. Gadis itu kesal karena merasa dikerjai Cedric. Sementara yang ditanya malah senyum-senyum tidak jelas. Berdalih minta imbalan karena sudah mempertemukan Mika dengan sang Mama, Cedric meminta Mika melakukan ini dan itu, sekembalinya mereka dari mall.


" Kamu tidur di sini malam ini," jawab Cedric cepat. Sepertinya pria itu mulai terbiasa dengan tidur sambil melihat wajah Mika.


"Nggak mau! Nanti aku kamu apa-apain lagi." Tolak Mika sekaligus protes.


"Tidak, aku tidak akan apa-apain kamu,"


"Kalau aku bisa menahan diri tapi," batin Cedric tidak yakin.

__ADS_1


Entah kenapa, sejak mengenal Mika. Cedric jadi kehilangan hasratnya untuk bercinta dengan wanita lain. Jika dulu, banyak wanita yang hilir mudik ke ruangan Cedric. Tapi akhir-akhir ini hanya ada Mika yang keluar masuk ruangan pria tersebut. Itupun urusan pekerjaan. Tidak ada urusan lain.


Boleh dikatakan jika berciuman, menjadi hal paling intim yang keduanya lakukan. Dan Cedric yang selalu mengambil inisiatif lebih dulu. Alias pria itu yang selalu memaksa mencium Mika. Meski Mika tidak memungkiri, kalau dia juga menikmatinya.


"Ayolah Mika, aku tidak bisa tidur," rengek Cedric. Pria itu sudah mengganti bajunya dengan piyama tidur. Mereka masih ada di ruang tengah. Cedric baru saja meminum obatnya.


"Mau dicarikan teman tidur?" goda Mika, sambil menaikkan satu alisnya.


"Kamu mau nemenin aku tidur?"


Senyum usil di wajah Mika seketika menghilang, berganti menjadi raut wajah kesal. Kenapa selalu saja ujung-ujungnya dia yang jadi sasaran. Mika menggerutu dalam hati.


Pada akhirnya, Mika kalah juga. Gadis itu tidur di sofa di kamar Cedric. Dengan peringatan keras dari Mika, tidak boleh menyentuh dirinya sama sekali.


"Iya...iya...." Cedric berucap acuh. Lalu melepas atasan piyamanya. Mata Mika membulat seketika. Melihat body seksi milik Cedric.


"Kebiasanku kalau tidur ya begini. Jadi jangan kaget ya." Cedric menjawab santai. Pria itu langsung naik ke atas kasur besarnya. Berbaring miring sambil memandang wajah Mika yang malah mematung di tempatnya. Melihat betapa menggodanya tubuh Cedric.


"Ini namanya siksaan paling indah yang pernah ada," batin Mika tersenyum kecut.


"Selamat malam," ucapan Cedric membuyarkan angan Mika. Sedetik kemudian, lampu besar di atas kasur Cedric mati, setelah Cedric menjentikkan jari ke arah lampu itu. Berganti dengan lampu tidur di sisi kanan dan kiri pria itu. Mika pun mulai masuk ke dalam selimut besar yang Cedric berikan padanya. Perlahan mata Mika mulai terpejam. Rasa lelah membuat gadis itu terlelap dengan cepat.


Berbeda dengan Cedric yang mata tajamnya masih bisa mengamati Mika yang mulai masuk ke alam mimpi.


"Aku pikir, mulai tidak bisa jauh darimu. Mikayla Hermawan .....apa aku sudah jatuh cinta padamu?" batin Cedric.


Di sisi lain, di tengah pekatnya malam. Sesosok tubuh tampak melayang di antara gelapnya hari. Menembus lapis demi lapis, tujuh lapisan langit yang ada di atasnya.


Sosok dengan rambut panjang hitam, juga jubah hitamnya itu terlihat begitu tenang saat menerobos masuk setiap penjagaan yang ada di tiap lapisan langit. Tidak ada penjaga yang mampu mendeteksi keberadaanya. Hingga tak lama, sosok itu sudah berdiri di depan gerbang sebuah tempat yang diselimuti kabut tebal. Salah satu usaha untuk menyamarkan keberadaan tempat itu. Juga memberi perlindungan ekstra pada paviliun tersebut.

__ADS_1


Paviliun Liong, milik Dewa Matahari. Dewa yang terkenal karena luasnya pengetahuan yang dia miliki. Dan paviliun ini adalah sebuah perpustakaan. Di mana tersimpan ribuan naskah kuno di dalamnya. Segala hal mengenai empat dunia ada di dalam tempat itu.


Sosok itu perlahan menunjukkan wajahnya, seketika terlihatlah wajah Demon yang menyeringai penuh arti. Gerbang paviliun itu secara samar memiliki pelindung tegangan tinggi yang tidak terlihat. Itulah kenapa tidak ada penjaga manusia di sana. Tapi Demon dengan mudah mampu melewatinya. Tanpa terluka, tanpa membunyikan alarm peringatan akan adanya penyusup yang masuk ke sana tanpa izin.


Meski begitu, Ice langsung merasakan kehadiran Demon di dunia langit. Pria itu melesat cepat ke keluar dari aula istana langit. Mulai menjelajah dunia langit. Mencari aura Demon yang dia rasakan.


Sementara itu, Demon sudah berjalan masuk ke dalam paviliun Liong. Perlahan melewati rak-rak yang menjulang tinggi. Tujuannya adalah tempat paling dalam yang ada di paviliun Liong. Tempat dengan aura hitam yang sangat terasa. Sama hitamnya dengan aura Demon.


Begitu sampai di tempat itu, Demon memiringkan wajahnya. Menatap sebuah bejana perunggu besar yang ada di hadapannya. Benda besar itu berkelip-kelip. Memancarkan sinar hijau tanpa henti. Sesekali terlihat benda itu juga bergerak sedikit. Seperti sedang terjadi perlawanan di lawannya.


Demon tahu, bejana itu dikelilingi oleh sihir kuno yang sangat kuat, sihir penģikat, mantra penyegel dengan level paling tinggi yang pernah ada. Ditambah rune kuno yang ada di sekeliling bejana itu, semakin menambah tingkat perlindungan tempat itu.


"Sudah waktunya kau bebas, Teman." Demon memejamkan matanya. Merapatkan dua tangannya di depan dada. Bibirnya mulai merapalkan sihir pembuka segel bejana itu. Pria itu mendekat ke arah benda besar itu. Memutar kedua tangannya lalu mengarahkannya pada bejana itu.


Sebuah ledakan besar terjadi. Tapi hal itu tidak akan menarik perhatian. Karena sihir peredam sudah Demon pasang di sana. Kecuali untuk Ice yang langsung terbang ke Paviliun Liong.


Di tengah kepulan asap yang pekat. Demon tersenyum puas. Memegang sebuah benda berbentuk prisma segi delapan panjang di tangannya. Benda itu berpendar hijau.


"Apa yang kau lakukan Demon!" Teriakan Ice membuat Demon semakin tersenyum lebar. Melihat putra The Sky berada di depannya.


"Aku hanya mengambil apa yang menjadi milik dunia Iblis, Black Dragon kami," Jawab Demon.


Detik berikutnya pertempuran sengit terjadi. Dua pria beda strata namun punya kekuatan yang hampir sama. Ice membawa Demon keluar dari Paviliun Liong.


"Jika Black Dragon berhasil bebas. Ancaman untuk dua dunia akan semakin besar," Ice membatin cemas.


Memandang Demon yang tersenyum penuh kemenangan. Prisma di tangan pria itu semakin bercahaya terang.


****

__ADS_1


__ADS_2