
Hari berikutnya, Cedric diizinkan pulang oleh dokter yang merawatnya. Keadaan Cedric hampir pulih sepenuhnya. Pria itu bahkan menyetir mobilnya sendiri ketika akan pulang. Re dan Ri sangat sibuk hari itu. Jadi tidak bisa menjemput atasan mereka.
"Mau ke mana?" Cedric bertanya pada Mika yang asyik memainkan ponselnya.
"Pulanglah. Mau ngapain lagi?" jawab Mika asal.
"Berarti kamu nggak sibuk kan?" tanya Cedric lagi. Yang ditanya hanya menggeleng pelan.
"Kalau begitu temani aku ngemall," pinta Cedric.
"Orang sakit kok ngemall," gerutu Mika.
"Ehhh, aku ini sudah sembuh. Kau dengar sendiri kan dokter ngomong apa sama aku," protes Cedric.
"Iya, sudah sembuh. Tapi masak iya langsung ke mall?" heran Mika. Cedric tidak menjawab, pria itu hanya diam. Sambil melajukan mobilnya menuju sebuah mall terbesar di kota itu.
"Mau cari apa sih?" Gerutu Mika yang hanya bisa berjalan mengikuti langkah Cedric.
"Cuci mata," Cedric menjawab acuh.
"Kalau hanya mau cuci mata, kamu bisa melototin mereka di ponselmu. Ngapain juga harus jauh-jauh ke sini,"
"Memangnya apa yang suka kulihat?" pancing Cedric. Pria itu berhenti berjalan lalu berbalik menghadap Mika. Cedric sedikit menundukkan kepalanya kala Mika meminta melakukannya.
"Kau kan suka wanita gak pakai baju, di sini tidak ada," bisik Mika.
Cedric terkekeh seketika. "Aku pikir mulai punya hobi baru," balas Cedric cepat.
"Apa?" Dahi Mika berkerut mendengar jawaban Cedric.
"Melihat wajahmu," bisik Cedric sambil mengulum senyumnya. Blushhhh, wajah Mika langsung merona. Apalagi ketika Mika mendongkkan wajahnya. Wajah Cedric tepat berada di samping wajahnya. Tak pelak, pipi mereka saling bersentuhan.
Sentuhan itu kembali membuat jantung Mika berdebar. "Ampunn deh ni casanova semakin tidak aman aja buat jantungku," gerutu Mika dalam hati.
Sedetik kemudian, Mika menjauhkan pipinya dari wajah Cedric yang terlihat biasa saja. Setelah kejadian "almost kiss" tadi.
__ADS_1
"Pulang saja ya, kalau tidak ada yang mau kamu beli," Mika berkata untuk mengurangi debaran jantungnya. Ditambah lagi, Cedric yang sejak tadi terus menatap dirinya. Intens, seolah sedang memindai tubuhnya.
"Tunggu sebentar lagi, ada yang perlu aku temui," Cedric lalu meraih ponselnya. Sejenak bicara dengan seseorang. Selanjutnya pria itu, menarik tangan Mika lembut. Masuk ke sebuah restauran elit yang ada di mall itu.
"Aku kan tidak harus ikut bertemu klienmu," protes Mika. Meski dia pasrah ketika Cedric menariknya masuk ke ruangan VVIP yang ada di restoran itu.
"Dia bukan klienku. Tapi orang yang kau rindu," Cedric menunjuk seseorang yang sudah lebih dulu duduk di ruangan itu dengan dagunya. Mika langsung mengikuti arah pandang Cedric. Gadis itu seketika tersenyum, melihat seorang wanita yang juga tersenyum padanya.
"Mama...." Mika berseru lantas memeluk sang Mama.
"Mama sangat bahagia karena kamu baik-baik saja," ucap mama Mika sambil memeluk balik sang putri.
Seulas senyum tipis terukir di bibir Cedric. Dia sedikit iri dengan kedekatan hubungan Mika dan mamanya. Pria itu perlahan keluar dari sana. Memberikan ruang bagi Mika untuk bicara dengan sang mama.
"Maaf Mika tidak menghubungi Mama. Mika takut kalau Papa akan menyeret Mika pulang. Lalu dipaksa nikah lagj," keluh Mika. Setelah gadis itu memastikan kalau sang Mama baik-baik saja. Juga sedikit bertanya soal kabar Mike, sang kakak.
"Itu untuk keselamatanmu Mika. Papa berusaha melindungimu," Mama Mika mengusap kening Mika. Tempat di mana tanda lily tersemat di sana.
"Memangnya apa yang akan terjadi jika Mika menikah lewat umur 21 tahun," tanya Mika sambil bersandar manja di lengan sang Mama.
Mama Mika yang bernama Amara itu sesaat terdiam. Ingatannya kembali pada 21 tahun yang lalu. Ketika Mika baru saja dilahirkan, dan tanda lily itu baru berhenti bersinar dan memudar setelah sebuah gelang giok berwarna hijau di pakaikan pada Mika.
"Bisa tidak kali ini saja Mika menurut dengan keinginan Papa?" bujuk Amara.
"Mika mau menikah tapi dengan pilihan Mika. Tidak mau dijodohkan!" tegas gadis itu.
"Memang Mika sudah punya pilihan?" heran Amara. Setahu Amara, Mika tidak punya pacar. Atau teman pria yang dekat.
"Mika suka dengan Kak Daniel," jawab Mika malu-malu. Amara tentu terkejut. Sebab nama Daniel tidak ada dalam list mereka.
"Tapi Mika, pria yang menikahimu harus memenuhi syarat dari papamu," jelas Amara.
"Apa syaratnya? Kaya, tampan, baik, punya penghasilan. Semua Kak Daniel punya. Apa kurangnya dia?" Mika bersikeras pada pilihannya.
"Tapi....Daniel tidak memenuhi syarat dari Papa,"
__ADS_1
"Mama...kenapa sih Mama sama dengan Papa, tidak mau mengerti Mika," wajah Mika berubah cemberut.
"Bukan begitu Mika. Tapi ini semua untuk kebaikan Mika, tolong dipikirkan lagi," Amara mengakhiri perdebatan mereka soal jodoh Mika.
"Sudah selesai?" Cedric langsung berdiri begitu melihat Mika dan Amara keluar dari restauran itu. Pria itu mengangguk sopan pada Amara, membuat wanita itu tersenyum.
"Dia tidak seburuk yang dibicarakan orang di luar sana," batin Amara.
Wanita itu ingat bagaimana Cedric menghubunginya kemarin. Memperkenalkan diri sebagai atasan Mika. Pria itu memberitahu kalau Mika rindu padanya. Pria itu bertanya apa Amara punya waktu untuk bertemu Mika. Dan akhirnya disinilah mereka. Bertemu setelah sebulan lebih Mika kabur dari rumah.
"Kau menungguku?" Mika bertanya heran.
"Hanya mau bertanya...mau pulang ke mana? Pulang ke rumahmu atau..."
"Aku pulang ke apartemen. Aku masih punya pekerjaan yang harus aku selesaikan?" jawab Mika cepat. Cedric langsung mengulas senyum tipisnya. Senang karena Mika masih mau pulang ke unitnya. Tadinya pria itu berpikir kalau Mika pastilah ikut Mamanya pulang.
"Tidak ingin bertemu Papa dan Kak Mike?" tanya Amara.
"Nanti saja. Kalau Mika pulang sekarang pasti direcokin lagi soal nikah," wajah Mika manyun saat mengatakan hal itu.
"Tapi cepat atau lambat kau harus melaluinya," bisik Amara.
"Itu pikir nanti. Sekarang Mika mau pulang dulu. Capek Ma, nungguin dia di rumah sakit empat hari," Mika menunjuk Cedric dengan dagunya.
"Memangnya Cedric kenapa?" tanya Amara kepo.
"Kecelakaan Tante. Tapi sudah sembuh. Terima kasih pada Mika yang sudah mau menjaga saya," jawab Cedric gugup.
"Apakah parah?"
"Kata dokter sih parah banget Ma. Seharusnya dia masih touring di alam baka. Tapi tidak tahu, kok ini dia sudah sembuh. Dokternya sampai heran,"
Cedric hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mendengar penuturan Mika. Sementara Amara tidak heran. Wanita itu tahu, kalau Cedric adalah salah satu kandidat yang bisa saja menjadi suami Mika. Cedric lahir saat gerhana bulan terjadi. Pria itu pasti istimewa.
Tapi melihat interaksi Cedric dan Mika, yang seperti tom and jerry, kucing dan tikus. Apa mungkin jika keduanya bisa bersatu. Di tambah lagi Cedric adalah seorang playboy akut alias casanova yang hobi main perempuan.
__ADS_1
Tapi Amara bisa melihat Cedric yang tampak perhatian pada Mika. Apa mungkin Cedric mulai jatuh cinta pada Mika. Kalau iya, tentu itu adalah hal baik. Atau mungkin Mika bisa membuat Cedric berubah. Tapi bagaimana jika Mika tetap bersikeras ingin menikah dengan Daniel. Amara pikir harus segera bertemu dengan sang suami. Mereka harus segera membahas hal ini.
***