Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Petunjuk Untukku?


__ADS_3

Cedric mengerutkan dahinya, ketika dia menerima sebuah telepon dari asisten Agra Hermawan. Sebuah permintaan untuk bertemu di sampaikan oleh asisten papa Mika tersebut. Untuk pertama kalinya, seorang Cedric merasa gugup. Ia takut akan berhadapan dengan ayah gadis yang mulai mengusik hati dan pikirannya akhir-akhir ini.


"Dia tidak akan memarahiku karena menolong putrinya, kan?" batin Cedric berkali-kali. Terlihat jelas jika pria itu sedang gelisah.


"Kau kenapa?" tanya Mika heran. Sejak tadi melihat raut wajah cemas seorang Cedric. Ini termasuk langka. Sebab atasan Mika itu selalu tenang menghadapi semua situasi. Apapun itu Cedric selalu bisa mengendalikan perasaannya. Menampilkan mood terbaik yang dia punya.


"Ayahmu galak tidak?" Mika memicingkan mata mendengar pertanyaan Cedric.


"Maksudmu apa?" Gadis itu balik bertanya.


"Jawab....dia galak tidak?" Cedric mendesak Mika.


"Tergantung....kalau dia tahu kau buat salah. Ya dia akan marah,"


"Mati aku! Padahal aku belum ngapa-ngapain anakmu, Om. Baru nyium doang. Sama pegang-pegang dikit," batin Cedric cemas.


"Memangnya kenapa kau bertanya soal Papaku?" tanya Mika curiga.


"Ehhh, tidak ada. Hanya penasaran, dia marah tidak ya kalau tahu kau tinggal dan tinggal di unitku,"


"Kalau dia marah biarkan saja. Dengarkan saja ocehannya yang kayak emak-emak komplek kalau lagi nggibah," jawab Mika asal. Sembari terus mengerjakan pekerjaaannya. Di sofa, depan meja kerja Cedric.


"Memang Papamu begitu?" Cedric jadi kepo dengan jawaban Mika.


"Sebenarnya daripada menakutkan. Aku lebih suka menyebut Papaku itu menyebalkan. Sama sepertimu,"


"La kok disamakan denganku?" Setidaknya Cedric lebih suka menghadapi orang menyebalkan. Lebih mudah dihadapi katanya. Sebab.....dia sendiri juga menyebalkan. Seperti kata Mika, Re dan Ri.


"Kau kan memang menyebalkan. Gak mau ngaku?" ucap Mika pedas.


"Nggaklah, aku tidak menyebalkan. Aku ini tampan dan menyenangkan," Cedric menjawab narsis. Detik selanjutnya, atasan dan sekretarisnya itu sudah sibuk berdebat sambil mengulik laptop masing-masing. Entah sampai kapan dua orang itu bisa akur.


****

__ADS_1


Cedric melangkah masuk ke sebuah reatauran yang sudah dipesan oleh Agra Hermawan, papa Mika. Kembali rasa gugup menghampiri pria tinggi besar itu.


Cedric sudah sering berhadapan dengan Agra Hermawan dalam perebutan tender. Sering keduanya terlibat adu argumen yang sengit. Dan hasilnya fifty-fifty. Kalau tidak kubu Cedric ya kubu Agra yang menang.


Namun sekarang berbeda. Soalnya, Agra Hermawan menegaskan kalau ini bukan pertemuan bisnis. Tapi soal Mika, putrinya yang kini ada di tangannya. Seorang pria yang Cedric yakini sebagai asisten Agra, mempersilahkan Cedric masuk ke ruang VVIP. Di mana papa Mika, sudah terlihat menunggu di sana.


Agra menyunggingkan senyum terbaiknya. Melihat Cedric, dia merasa kalau pria inilah kandidat terbaik untuk menjadi suami Mika. Dua pria itu berjabat tangan. Suasana terasa sedikit canggung.


"Maaf jika aku menghubungimu untuk bertemu," Agra membuka percakapan. Melihat wajah tegang Cedric. Agra baru tahu kalau Cedric bisa juga merasa gugup. Biasanya atasan Mika ini selalu tampil percaya diri, cenderung over confident. Tidak dapat Agra pungkiri, semua hal yang ada dalam diri Cedric, mampu membuat pria itu berdiri sambil mengangkat wajah dengan sombongnya. Boleh dikatakan kalau kesempurnaan fisik Cedric tidak ada bandingannya.



Kredit Pinterest.com


"Saya tidak masalah," jawab Cedric sedikit tegang.


"Aku akan langsung saja pada inti pembicaraan kita malam ini," Agra tiba-tiba berkata serius. Wajah Cedric semakin tegang.


"Lalu sekarang?" tanya Agra dengan wajah penasaran.


"Maksud Tuan Hermawan?"


"Apa kau tidak punya perasaan apapun pada Mika. Mengingat kalian sering bersama akhir-akhir ini."


"Perasaanku?" gumam Cedric. Jika dulu Cedric menahan Mika karena ingin menjerat gadis itu ke atas ranjangnya. Tapi kini semua berubah. Dia menginginkan Mika seutuhnya. Hati, dan jiwa juga tubuhnya. Jadi, apa sekarang dia bisa disebut punya rasa cinta pada Mika atau sekedar obsesi saja.


"Perasaanmu pada Mika seperti apa? Apa kau menganggap Mika sama dengan wanita bayaranmu itu?" Skak mat, ucapan Agra menegaskan kalau pria itu tahu sisi gelapnya.


"Tentu saja tidak. Putrimu berbeda. Jujur awalnya saya tertarik dengan tubuh putrimu. Tapi sekarang....entahlah. Saya sendiri tidak tahu dengan apa yang saya rasakan pada Mika," Cedric berkata sambil menunduk.


Agra terdiam sejenak. Pria itu tidak terkejut dengan isi pikiran Cedric yang pastinya tidak jauh-jauh dari wanita dan kasur. Agra cukup terkesan dengan kejujuran Cedric.


"Apa kau pernah menyentuh putriku?" todong Agra. Cedric seketika menelan ludahnya kasar.

__ADS_1


"Maaf Tuan Hermawan. Saya pernah mencium Mika dua atau tiga kali," jawab Cedric jujur.


"Baru sejauh itu? Aku pikir kau malah sudah membawanya ke kasurmu," ucap Agra santai. Cedric seketika menatap heran pada papa Mika itu. Kenapa pria ini justru menginginkan dirinya meniduri putrinya. Pria ini waras atau tidak sih, pikir Cedric.


"Kau heran kenapa aku berpikir seperti itu? Apa kau ingin tahu kenapa aku sibuk ingin menikahkan Mika. Asal kau tahu, saat kau menolong Mika waktu itu, itu adalah kali ketiga dia melarikan diri dari pernikahan yang sengaja aku siapkan untuknya," jelas Agra. Cedric membulatkan matanya mendengar cerita Agra.


"Tiga kali? Mika sudah mau menikah tiga kali. Dan semuanya gagal?" Agra mengangguk mendengar pertanyaan Cedric.


"Kau mau tahu alasannya? Maka akan aku ceritakan padamu kisah Mika, yang mungkin akan terdengar tidak masuk akal di telinganmu," Agra menatap wajah Cedric. Pria itu sungguh berharap, kalau Cedric adalah pria yang dia cari selama ini. Jika kali ini, Cedric menolak permintaannya. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Sebab Mika akan genap berusia dua puluh satu tahun, dua bulan lagi.


***


"Mika harus menikah sebelum usianya genap 21 tahun. Dengan seorang pria yang lahir tepat saat gerhana bulan."


Cedric kembali menggumamkan kalimat yang sebelumnya diucapkan oleh Agra.


"Jika tidak, sesuatu yang buruk akan terjadi pada Mika."


Lagi, Cedric mengulang perkataan Agra. Dia tidak heran jika ada hal seperti itu di dunia ini. Tapi yang membuat Cedric agak terkejut. Pria yang harus menikahi Mika adalah dirinya. Sebab tiga pria sebelumnya sudah gagal. Dirinya adalah pilihan terakhir yang Agra punya.


"Kamu adalah pria terakhir yang aku ketahui lahir saat gerhana bulan terjadi. Di negeri ini. Jadi jika kau menolak menikah dengan Mika, aku tidak tahu harus ke mana lagi mencari. Sedang waktuku tinggal dua bulan lagi."


Cedric tidak tahu harus menjawab apa. Meski dia menginginkan Mika, tapi untuk menikah. Cedric ingin menikah dengan rasa cinta. Bukan karena paksaan.


Pria itu bingung jadinya. Terlebih soal perasaannya pada Mika. Juga soal nasib Mika. Apa yang akan terjadi jika dia tidak menikahi Mika dua bulan lagi.


Kenapa semua mendadak rumit begini? Apa ini ada hubungannya dengan mimpinya? Mimpi soal dirinya yang melihat dirinya tapi dalam wujud lain. Pria dalam mimpinya, berambut putih panjang, bermata biru. Berjubah putih. Dengan seekor burung berwarna merah keemasan, yang terbang mengelilingi dirinya.


"Kami menunggu pembebasanmu. Dia menunggu kedatanganmu."


Kalimat itu yang selalu terucap dari bibir pria yang mirip dengan Cedric itu. Apa ini sebuah petunjuk untukku?


***

__ADS_1


__ADS_2