
Suara gaduh dan ribut terdengar di sebuah ruang UGD. Tubuh Cedric yang berlumuran darah segera dipindahkan ke atas brankar pasien.
"Pendarahan hebat di kepala," seru seorang perawat.
"Hubungi bagian bedah. Siapkan X- ray. Hentikan pendarahannya lebih dulu," seru yang lain.
Meski suasana seperti itu sudah biasa terjadi di rumah sakit. Lebih-lebih UGD, tapi tetap saja bagi orang awam itu terlihat menakutkan. Mereka memotong kemeja Cedric. Untuk memeriksa luka lain yang mungkin ada di tubuh pria itu. Sementara masker oksigen sudah terpasang sempurna di wajah pria itu.
"Lebam di dada kiri...akibat benturan,"
"Dokter tensinya hanya 60," seorang perawat berteriak panik.
"Hubungi bank darah. Sudah mengecek golongan darahnya? Dokter bedah sudah sampai,"
Keributan itu memang tidak sampai ke telinga Mika. Tapi wajah gadis itu sudah terlihat pucat. Melihat tubuh Cedric yang berlumuran darah saat dipindahkan. Di sampingnya, Re dan Ri hanya bisa saling pandang.
"Memang dia ada takdir kecelakaan?" tanya Re. Ri langsung mengedikkan bahunya.
"Apa kita perlu tanya pada Destiny?" giliran Ri yang bertanya.
"Itu melanggar aturan langit," seru Re keras.
Dua dewa itu akhirnya hanya bisa menarik nafasnya dalam. Tidak tahu harus berkata. Sementara itu di dalam sana. Suasana semakin tegang, ketika tiba-tiba tubuh Cedric mengalami kejang. Semua staf berlarian ke arah pria itu. Memeriksa semua peralatan yang menempel di tubuh Cedric.
Sementara di sudut ruangan, jiwa Demon tersenyum puas. Melihat jiwa Cedric yang perlahan keluar dari raganya. Kecelakaan Cedric adalah ulah Demon. Sadar tidak bisa menghabisi Cedric dengan menyentuhnya. Raja Iblis itu menggunakan cara licik lainnya.
Saat konsentrasi Cedric pecah. Demon menghadirkan ilusi sebuah mobil datang dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Cedric terkejut. Reflek menginjak pedal rem. Membuat mobilnya oleng dan terguling ke samping. Lantas menabrak besi pembatas jalan. Kepala Cedric terluka karena membentur pintu mobil juga kemudinya menghantam dadanya. Menimbulkan lebam kebiruan. Dan terakhir disinyalir menjadi tanda kalau ada luka di organ paru-paru.
__ADS_1
Jiwa Cedric sesaat menatap pada tubuhnya sendiri. Hingga kemudian mata biru itu menyorot ke sudut ruangan. Di mana jiwa Demon berada. Raja Iblis itu tentu terkejut. Melihat jiwa Cedric yang kini berwujud Fire menatap dingin padaku.
"Kau pikir akan mudah untuk menghabisiku?" pertanyaan Fire membuat Demon membulatkan matanya.
"Kau bisa melihatku?"
"Tentu saja. Jiwaku tetap sama. Tapi ragaku berbeda saat menjadi manusia. Demon, kau tidak akan bisa mendapatkan apa yang inginkan. Sebab itu melanggar ketentuan langit," Fire masih punya kesabaran lebih untuk menghadapi sikap keras kepala Demon.
"Kau pikir aku peduli dengan ketentuan langit," potong Demon cepat.
"Semua yang kau lakukan akan sia-sia," balas Fire.
"Tentu saja tidak. Apalagi jika aku bisa menghabisimu sekarang," sebuah sinar berwarna hitam meluncur ke arah Fire. Tapi pria itu hanya terdiam. Sinar hitam itu langsung menjerat jiwa Fire. Tapi anehnya, tidak ada yang terjadi. Seulas senyum terukir di bibir Fire.
"Aaarrggghhhh!" Demon berteriak ketika sinar itu berbalik menyerang dirinya sendiri. Sesaat setelah Fire membuka mata birunya. Di mana tanda api di kening Fire turut bercahaya. Sinarnya yang menyilaukan, kembali membuat Demon terbakar.
"Sial! Phoenix itu berniat membakarku lagi," gerutu Demon. Hingga kemudian serangan Fire terhenti. Demon langsung mencari keberadaan Fire. Namun tidak ada.
"Aku senang bisa melihatmu lagi, Amor." Ucap Fire pada Mika yang menunduk sambil beberapa kali mengusap air matanya.
"Jangan menangis. Air matamu akan sia-sia nanti," Fire mengusap air mata yang turun di pipi Mika. Gadis itu seketika mengangkat wajahnya. Merasakan sesuatu yang lembut menyentuh pipinya. Melihat ke kiri dan kanannya. Di mana Re dan Ri terlihat acuh.
Senyum Fire terukir di wajah tampannya. Fire lalu berdiri. Melihat sekali lagi ke arah Amor.
"Jaga dia untukku," pesan Fire. Jiwa dua dewa itu mengangguk patuh. Menunduk, memberi hormat. Lalu jiwa Fire perlahan menguar. Berubah menjadi serpihan cahaya putih lantas menghilang tanpa bekas. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan penuh kelegaan dari dalam sana.
"Bagaimana?" Mika langsung berdiri. Bertanya pada dokter yang keluar dari sana.
__ADS_1
"Kami berhasil menyelamatkannya. Hanya saja sekarang pasien masih dalam keadaan kritis. Kami akan terus memantaunya," Dokter itu berlalu dari hadapan Mika. Meninggalkan gadis itu mematung, terdiam tidak mampu berkata apa-apa. Kritis?
"Jangan khawatir, dia pasti bangun. Cedric memang menyebalkan. Tapi percayalah kalau dia sangat kuat," Re menepuk pelan bahu Mika. Mengajak gadis itu duduk kembali.
Selama beberapa waktu keheningan menyelimuti ruang tunggu itu. Hari berganti. Tidur Mika yang hanya bersandar pada kursi tunggu, membuat tubuh gadis itu terasa sakit semua. Belum lagi sebuah bentakan yang tiba-tiba mengganggu indra pendengaran Mika. Dia pikir siapa yang berani membuat keributan di rumah sakit itu.
"Maafkan kami, Nyonya. Kami lalai dalam menjaga Tuan Muda,"
Suara Re terdengar samar di telinga Mika. Gadis itu perlahan membuka matanya. Dilihatnya, Re yang tengah menunduk pada seorang wanita. Wanita itu nampak begitu anggun. Meski dari gesture tubuhnya, menunjukkan kalau wanita itu sedang marah.
Di samping wanita itu tampak seorang wanita lain yang terlihat tidak suka berada di tempat ini. "Siapa mereka?" batin Mika kepo.
"Aku dengar, Cedric tengah menelepon ketika kecelakaan itu terjadi. Siapa yang menghubungi Cedric?" bentak wanita itu lagi. Re baru akan menjawab. Ketika Mika dengan cepat menjawab kalau dirinyalah yang sudah menghubungi Cedric.
"Maaf Nyonya, saya yang menghubungi tuan Van Gough," ucap Mika cepat. Sejurus kemudian, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mika. Gadis itu meringis menahan sakit di pipinya.
"Nyonya...." Re ingin menolong. Tapi tangan Mika memberi isyarat untuk diam.
"Kau tahu gara-gara kau Cedric kecelakaan. Gara-gara kau, dia hampir saja dia kehilangan nyawa!" Maki wanita itu. Mika hanya terdiam sambil menunduk.
"Maafkan Mika, Nyonya. Saya yang bersalah dalam hal ini, mohon maafkan saya," Ujar Mika. Mau bagaimana lagi, memang begitu kejadiannya.
Wanita itu yang tidak lain adalah Catharina dan Selia, menatap marah pada Mika. Mereka menyalahkan Mika atas kecelakaan Cedric. Mendengar perkataan Catharina, Mika semakin merasa beraalah. Air mata perlahan kembali di mata Mika. Entah kenapa dia merasa begitu sedih dengan kecelakaan Cedric. Jiwanya serasa ikut sakit yang pria itu rasakan.
Catharina dan Selia terus saja memaki Mika. Tidak peduli mereka ada di rumah sakit. Hingga tiba-tiba sebuah suara menghentikan makian dua wanita itu.
"Kalian berani membuatnya menangis?" suara Cedric langsung membuat Catharina menghentikan makiannya pada Mika. Menatap tidak percaya pada Cedric yang duduk di kursi roda. Dengan seorang perawat yang mendorong kursinya.
__ADS_1
"Cedric, kamu sudah sadar?" wanita itu berjalan ke arah Cedric. Berharap ingin memeluk pria itu. Tapi suara Cedric membuat sang Mama urung melakukannya.
"Jangan pernah memyentuhku," kilat kebencian dan kemarahan terlihat jelas di wajah Cedric. Dia tidak menyangka jika sang Mama tega melakukan hal ini. Apalagi ketika melihat Selia ikut melakukan yang mamanya lakukan. Hal itu membuat kemarahan Cedric semakin besar.