
Sementara itu, begitu Demon terlihat melayang keluar dari istananya. Empat cahaya putih berganti masuk ke istana Raja Iblis itu. Ice, Wind, Leon dan Yue muncul di istana Demon. Empat dewa itu, tampak berjalan santai. Masuk ke dalam istana itu.
"Iisshhh kenapa kita harus sembunyi-sembunyi seperti pencuri begini," seloroh Leon.
"Lah kan kita memang mau mencuri," sahut Wind. Yang lain langsung mengedikkan bahunya acuh. Keempatnya berjalan masuk. Menuju ke sebuah tempat yang mereka yakini tempat Black Rune berada. Selama berjalan, keempatnya tampak mengagumi istana Demon yang terlihat mewah dan artistik.
"Iblis Neraka ini seleranya boleh juga," Ice yang berucap kali ini. Gumaman persetujuan datang dari yang lain. Semakin dalam masuk ke istana Demon, aura gelap benar-benar terasa semakin kuat. Hal itu seolah menyerap energi positif yang keempat dewa itu punya.
"Apa kalian merasakannya?" tanya Yue. Setelah pria itu menggunakan sihir pelindung pada dirinya.
"Yah, aku merasakannya. Karena itulah, dia tidak perlu prajurit untuk menjaga istananya. Karena auranya sendiri yang akan menghabisi setiap penyusup yang masuk ke sini,"
Lagi, ucapan Ice dibalas anggukan oleh yang lain. Mereka terus berjalan menyusuri koridor panjang dengan ornamen hiasan berwarna merah dan hitam. Memang sedikit aneh. Istana sebesar itu, dan mereka tidak menemukan makhluk lain selain mereka sendiri. Bahkan jebakan atau apapun itu, untuk sekedar menghalau penyusup tidak juga mereka jumpai.
"Iblis ini terlalu percaya diri atau justru terlalu acuh dengan istananya. Apa dia tidak berpikir akan ada penyusup atau musuh yang kemungkinan akan masuk ke sini,"
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu dengan isi kepalanya itu. Apapun itu, tetaplah waspada. Siapa tahu, dia sudah membuka prisma Black Dragon. Dan Demon membiarkannya berkeliaran bebas di sini sekarang," sambung Yue.
"Kalau Black Dragon sudah exist, dia pasti sudah kelihatan. Makhluk segede gitu mau sembunyi di mana?"
"Iya juga ya. Ehh tunggu dulu," Leon menghentikan perjalanan mereka. Ketika tiba di sebuah pintu besar berwarna hitam. Sebuah sihir pelindung jelas terasa mengelilingi tempat itu.
"Dia ada di sini?" tanya Ice. Leon sejenak memejamkan matanya. Tangannya terulur menyentuh daun pintu itu. "Dia ada di dalam," Leon menjawab cepat. Pria itu lantas membuat pola sihir dengan tangannya. Lalu perlahan mengarahkannya ke pintu. Terdengar bunyi retakan samar, makin lama makin keras. Dan "pyarrrrr" suara benda pecah terdengar, tapi tidak ada benda yang pecah. Leon mendorong daun pintu itu hingga terbuka. Dengan kewaspadaan tinggi, keempatnya masuk ke dalam. Ruangan itu terlihat samar, remang. Tapi ada satu tempat diujung ruangan itu yang bercahaya terang.
"Itu dia," ujar Leon santai. Melihat sebuah kotak kayu dengan ukiran penuh mantra pelindung. "Sudah waktunya kamu pulang," lagi Leon berucap.
"Tunggu dulu, apa dia seorang wanita?" Yue memotong ucapan Leon.
"Iya, dia wanita. Kenapa?" tanya Leon.
__ADS_1
"Keluarkan dia. Ada yang ingin aku lakukan padanya,"
"Apa maksudmu?" Leon masih bertanya. Sedang yang lain mulai paham dengan maksud Dewa Bulan itu.
"Sudah keluarkan saja dia, yang lain tetap waspada," Yue memberi peringatan pada Ice dan Wind. Leon akhirnya menurut. Pria itu kembali membuat pola sihir pembuka segel dengan kedua tangannya. Tak berapa lama, sebuah cahaya terang langsung terpancar begitu kotak itu terbuka.
"Kenapa kau memanggilku?" Ling Er awalnya bertanya malas. Tapi wajahnya berubah antusias melihat empat dewa tampan yang berada di depannya.
"Wah, lihat siapa ini. Apa aku sedang bermimpi. Melihat empat dewa tampan dunia langit ada di hadapanku. Sepertinya malam ini akan jadi malam yang panjang bagi kita," oceh Ling Er panjang. Dengan tatapan menggoda, menatap lapar pada Yue dan yang lainnya.
"Dia kandidat yang tepat," bisik Ice.
"Aku pikir juga begitu," sahut Wind. Mengabaikan gerakan menggoda dari Ling Er, empat dewa itu malah bergidik ngeri melihat tingkah Ling Er.
"Jadi siapa yang akan jadi yang pertama?" tanya Ling Er percaya diri.
"Yang mau tidur dan bercinta denganmu itu siapa?" Leon memotong cepat fantasi indah Ling Er yang terlanjur menari indah di benak pemilik Black Rune itu.
"Kami memang tidak punya pasangan, tapi kami juga tidak boleh sembarangan bercinta dengan wanita manapun. Kau paham? Apalagi denganmu, sudah berapa banyak pria yang kau layani dalam hidupmu. Jari kami semua mungkin tidak cukup untuk menghitungnya," skak mat! Sindiran Ice telak mengenai sasaran. Ling Er langsung marah mendengarnya.
"Kalau begitu kalian pergi dari hadapanku! Jangan memanggilku kalau kalian hanya ingin menghinaku!" marah Ling Er.
Empat dewa itu saling pandang. Tidak menyangka jika pemilik sihir paling gelap dan kuat di alam semesta ini, seorang wanita yang cengeng dan mudah marah.
"Mana bisa kami pergi jika urusan kami belum selesai. Kami punya urusan yang sangat penting denganmu" jawab Yue cepat.
"Urusan apa? Cepat katakan! Ingat, aku bukan anak buahmu. Dan kalian bukan tuanku. Jadi aku bisa menolak apapun yang ingin kalian lakukan padaku," Ling Er berkata tegas.
"Mau atau tidak. Kau harus tetap menuruti perintah kami," Kali ini Ice yang berucap. Sebuah kode Yue berikan. Dan keempatnya mulai bergerak menyebar. Mengepung Ling Er dari empat penjuru. Dengan Yue berada di depan wanita itu.
__ADS_1
"Kalian ingin menangkapku? Jangan harap!" Ling Er meremehkan empat dewa itu. Meski wanita itu, tahu kalau kemampuan keempatnya tidak main-main jika digabungkan menjadi satu.
"Sekarang," Yue berkata cukup jelas. Bersamaan dengan itu, tiga dewa itu mulai membuat formasi sihir untuk mengekang pergerakan Ling Er. Agar wanita itu tidak lari, juga tidak melawan. Ketika sihir tiga dewa itu mulai mengurung Ling Er dalam kurungan cahaya berwarna biru. Ling Er mencoba melawan. Sekuat yang dia bisa. Dia sendiri tidak bisa memanggil Demon, tuannya. Karena empat dewa itu ternyata juga menutup akses telepatinya. Ling Er menggeram marah, saat sihir mereka benar-benar mengunci pergerakannya.
"Lepaskan aku!" Teriak Ling Er pada akhirnya. Setelah wanita itu tidak lagi bisa bergerak. Berusaha berontak, tapi semua sia-sia saja.
"Menurut saja. Ini tidak akan menyakitimu. Ini justru akan membuat hidupmu lebih baik," ujar Yue. Perlahan berjalan mendekat ke arah Ling Er.
Ice, Wind dan Leon langsung mengulum senyumnya. Begitu mendengar Yue mengatakan akan membuat hidupmu lebih baik. "Apa menjadi mate seorang Demon, akan membuat hidupmu lebih baik?" tanya Leon pada yang lain. Yang lain kompak menggeleng tidak tahu.
Yue perlahan mengangkat satu tangannya. Bersamaan dengan tangan kiri Ling Er yang juga terangkat. Wanita itu jelas bingung. Tapi ketika Yue tiba-tiba mengikatkan seutas benang merah di jari manisnya. Wanita itu langsung protes. Berteriak marah.
"Tunggu dulu! Apa yang kalu lakukan padaku? Dengan siapa kau menjodohkanku? Dewa Bulan!" Teriak Ling Er. Bukannya menjawab, Yue malah tersenyum. Sesaat pria itu memejamkan matanya. Dan ikatan benang merah itu langsung berbunyi "klik" seolah kunci yang dipasangkan pada gemboknya. Sejurus kemudian, perlahan benang merah itu memudar. Lantas menghilang tanpa bekas. Dan sihir pengekang itu mulai melemah. Tapi sebelum itu, Leon bertindak cepat. Pria itu menyegel separuh kekuatan Ling Er. Hingga kalau pun Demon bisa melatih sihir Black Rune dengan sempurna, kekuatannya tidak akan membuat khawatir dunia langit dan dunia lainnya.
"Kalian benar-benar keterlaluan!" Maki Ling Er.
"Tidak juga. Sudah kami bilang, kalau ini akan membuat hidupmu lebih baik," jawab Leon.
"Jadi siapa mate yang kau berikan untukku?" bentak Ling Er pada Yue.
"Coba tebak," Yue menaikkan satu alisnya. Menggoda Ling Er. Sesaat wanita itu terdiam. Hingga kemudian, Ling Er merangsek maju menyerang Yue. Dewa Bulan itu sigap menghindar.
"Beraninya kau menjadikannya mate-ku!" Raung Ling Er marah.
"Bukankah kalian akan jadi pasangan yang serasi!" balas Yue. Berusaha meladeni serangan Ling Er.
"Serasi kepalamu!" Maki Ling Er lagi.
"Dan ini untuk sentuhan terakhirnya," Yue menyentuh pelan dahi Ling Er begitu wanita itu lengah. Dalam hitungan detik, Ling Er langsung pingsan, tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Misi selesai," seloroh Yue. Dan keempatnya menghilang begitu saja dari tempat itu.
****