Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Kencan Ala Dunia Manusia


__ADS_3

"Kenapa kita di sini?" tanya Amor bingung. Wanita itu bersama Fire ada di kamar Cedric dan Mika. Di dunia manusia.


"Kita akan kencan ala dunia manusia," bisik Fire. Melirik ke arah Cedric dan Mika yang masih tidur sambil berpelukan. Dari bahu mereka yang terlihat polos, bisa dipastikan jika sepasang suami istri itu tidak mengenakan pakaian. Di tambah lagi, dengan potongan baju yang bertebaran di karpet.


"Apa mereka baru saja...." Amor tidak melanjutkan ucapannya. "Menurutmu?" Fire balik bertanya. Pria itu memutuskan untuk mengajak Amor berjalan-jalan keluar dari dunia langit. Agar wanita itu bisa lebih santai menghadapi pernikahan mereka bulan depan.


"Kau siap?" tanya Fire. Keduanya sudah berada di sisi kanan dan kiri Cedric dan Mika. Amor mengangguk, "Kami pinjam tubuh kalian hari ini ya," ucap Amor yang terlihat senang dengan ide Fire itu.


Detik berikutnya, dua dewa itu sudah merasuk masuk ke tubuh Mika dan Cedric. Tak lama, kedua manusia itu membuka matanya. Saling menatap. Hingga kemudian Amor yang sudah masuk ke tubuh Mika langsung menarik selimutnya. Untuk menutupi tubuhnya yang ternyata benar, polos tidak pakai baju. "Kenapa?" tanya Fire bingung.


"Dia gak pakai baju." Bisik Amor pelan. Fire terkekeh mendengar perkataan Amor. "Kalau begini keadaannya. Apa kita juga diperbolehkan untuk melakukannya?" Fire bertanya.


"Melakukan apa?" tanya Amor sembari matanya memindai kamar itu. Ini kamar siapa? Pikir wanita itu. Sebab dia merasa belum pernah berada di kamar ini.


"Bercinta," bisik Fire di telinga Amor. Wanita itu langsung menoleh, mendengar bisikan Fire. Hingga hidung mereka saling bersentuhan. Sesaat, keduanya terkunci dalam tatapan penuh rasa cinta. Amor menggeleng tidak tahu.


"Aku pikir boleh," setelahnya Fire langsung menautkan bibir mereka. ******* bibir Amor dengan lembut. Dengan Amor yang tak lama, ikut membalas ciuman Fire. Keduanya mulai terlarut dalam aksi bertukar saliva itu. Hingga suasana semakin panas dibuatnya. Tanpa sadar, Fire yang mengendalikan tubuh Cedric, mulai menindih tubuh Amor. Hanya mengikuti naluri Cedric, Fire mulai mencumbu tubuh Mika. Menikmati setiap inci tubuh wanita itu. Sampai akhirnya penyatuan itu terjadi. Baik Fire maupun Amor langsung membulatkan mata. Saat mereka merasakan rasanya menyatu untuk pertama kalinya.


Meski tubuh itu bukan tubuh mereka. Tapi keduanya bisa merasakan nikmatnya sesi panas antara Mika dan Cedric.


"Padahal ini bukan tubuhku. Tapi rasanya benar-benar membuatku melayang," batin Fire, sembari terus menggerakkan tubuh Cedric di atas tubuh Mika.


Amor sendiri merasa cukup malu. Melihat tubuh Cedric polos tanpa pakaian sama sekali. Ditambah, melihat milik Cedric yang langsung membuat otak Amor berkelana ke mana-mana. Secara tidak langsung, wanita itu tengah membayangkan tubuh Fire. Apa juga sama seperti itu. Tapi Cedric dan Fire memang memiliki tubuh yang hampir sama. Sama berototnya. Sama atletisnya. Dan mungkin, sama sempurnanya.


Fire ambruk dengan nafas memburu. Wajahnya memerah. Peluh bercucuran membasahi sekujur tubuhnya. " Gila! Rasanya senikmat ini. Padahal aku meminjam raga Cedric. Belum tubuhku sendiri," batin Fire menatap Amor yang juga tidak berbeda jauh keadaannya dengan dirinya.


"Hah...jadi rasanya seperti ini," batin Amor. Meski tubuhnya serasa remuk redam. Tapi denyut nikmat itu masih kuat ia rasakan, tertinggal di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Amor mulai mengatur nafasnya. Lalu melirik Fire malu-malu. "Kenapa? Malu?" tanya Fire santai. Pria itu berbaring miring dengan satu tangan menahan kepalanya. Selimut yang ia pakai hanya menutupi tubuh bagian bawahnya. Menampilkan dada bidang pria itu, yang terlihat seksi dengan peluh yang membasahi bagian itu.


"Alàmak....kenapa dia jadi tambah hot begini sih," batin Amor tanpa sadar menggigit bibir bawahnya.


"Malah melamun. Kenapa? Mau lagi?" goda Fire. Amor langsung membulatkan matanya mendengar godaan Fire. "Apa sih? Sakit tahu badanku. Kau berat....uuuppsss...." Amor seketika menutup mulutnya.


"Ini tubuh Cedric, bukan punyaku," sangkal Fire. "Bukannya tubuh kalian lebih kurang sama?" balas Amor.


"Dari mana kau tahu?" Fire bertanya sambil merapatkan tubuhnya ke arah Amor. "Hanya menebak. Sana aaahhhh, jangan dekat-dekat." Amor mendorong jauh tubuh Cedric.


Wanita mulai menggulung tubuhnya dengan selimut. Lalu berlalu ke kamar mandi. Mengabaikan godaan dari Fire. Dewa Api itu terkekeh melihat tingkah Amor. Sambil menunggu Amor, pria itu merebahkan tubuhnya kembali. Menggunakan dua tangannya sebagai bantal. Matanya mulai terpejam.


Flashback on


"Seth mengendalikan mimpi Dewi Cinta soal ibunya," lapor Muce. Seorang bawahannya yang memiliki kemampuan masuk ke dunia mimpi. Boleh dikatakan Muce adalah tangan kanannya.


"Lalu aku harus mulai dari mana untuk menyelidiki ini," gumam Fire. "Tanyakan pada Dewa Matahari, Leon, mungkin dia punya naskah soal ini, soal kematian Dewi Bunga atau yang menyangkut hal itu," saran Muce.


Sampai akhirnya pria itu benar-benar mendatangi Leon. Dari Leon, Fire mendapat petunjuk kalau Amor beberapa hari lalu mencari naskah mengenai Tapak Api Limbo. Jurus mematikan yang hanya dirinya yang punya. Punya, tapi tidak berarti pria itu melatihnya. Dia tidak terlalu suka dengan jurus itu. Bagi Fire, Tapak Api Limbo terlalu mematikan jika digunakan. Baik menyerang individu atau massal dengan obyek banyak.


Tapi untuk apa Amor mencari tahu soal Tapak Api Limbo. Itu yang sekarang jadi pertanyaan Fire. Apa kematian Dewi Bunga berhubungan dengan jurus itu? Atau lebih parahnya Dewi Bunga meninggal karena Tapak Api Limbo.


Flashback off


Fire membuka matanya. Jika kematian Dewi Bunga karena Tapak Api Limbo lalu pelakunya siapa. Dirinya saja belum pernah bertemu dewi cantik itu. Fire pikir, selain dirinya. Siapa yang menguasai jurus itu. Pria itu menarik nafasnya pelan.


Bersamaan dengan Amor yang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan bathrope. "Jangan komen," Amor lebih dulu berkata sebelum Fire membuka mulutnya. "Cepat bangun. Katanya mau mengajakku kencan ala dunia manusia," ujar Amor.

__ADS_1


Tanpa kata, Fire langsung bangun dari tidurnya. Berjalan santai menuju kamar mandinya. "Fire!!!!" teriak Amor.


"Jangan komen!" balas Fire santai. Amor langsung menutup matanya. "Bisa-bisanya dia pamer body begitu," gerutu Amor.


Berjalan masuk ke walk in closetnya. Memilih baju model turtle neck. Untuk menutupi bekas kissmark yang bertebaran di lehernya. "Mereka ini. Sama-sama buas!" kesal Amor. Menatap penampilan dirinya di cermin. Memastikan baju pilihannya menutupi leher.


****


Keduanya turun ke ruang makan. Langsung disambut senyum Catharina. Rupanya mereka ada di rumah utama keluarga Van Gough. Melihat gelagat yang ada. Sepertinya Cedric dan ibunya sudah berdamai.


"Tumben sudah turun. Biasanya kalau libur. Kalian turun setelah jam makan siang," ledek Catharina. Fire dan Amor hanya saling pandang mendengar ucapan Catharina. Keduanya belum sepenuhnya paham dengan keadaan keluarga Van Gough saat ini.


"Kan over time Ma, kejar deadline," jawab Fire mengikuti otak tengil Cedric.


"Hasilnya mana?" tanya sang Mama.


"Sabar Ma, semua pakai proses. Gak bisa instan," Amor mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa Fire begitu menjiwai peran menjadi Cedric.


"Pria ini kan seperti Wind. Aku tinggal menirukan gaya tengilnya," jawab Fire ketika Amor bertanya.


"Tapi Wind tidak mesum," sanggah Amor.


"Tinggal tambahkan mode mesum. Jadi deh Cedric," sahut Fire.


Amor menepuk dahinya pelan. Mulai sarapan ala dunia manusia. Untuk memulai kencan ala dunia manusia mereka.


*****

__ADS_1


__ADS_2