Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Gunung Tianjun


__ADS_3

Ice, Yue dan Amor terbang melintasi langit, menuju wilayah barat, di mana diperkirakan puncak Tianjun berada. Selama perjalanan itu tidak ada hal penting yang terjadi. Tengah hari berlalu ketika mereka melihat sebuah tempat dengan kabut tebal mengelilinginya. Ketiganya saling pandang penuh kode. Semakin waspada ketika mendekati tempat itu.


Mereka mendarat dengan mulus di luar kawasan yang berkabut itu. Sejenak meneliti keadaan sekitar tempat itu. "Aku tidak merasakan aura apapun di sini. Tempat ini seperti sebuah wadah kosong, tidak ada isinya," Ice mulai berpendapat. Amor dan Yue pun mengangguk sebagai tanda setuju.


"Mari kita masuk. Tetap waspada," Yue berkata. Lantas Ice memimpin, mulai memasuki kabut tebal itu. Tidak ada yang terjadi ketika mereka menerobos kabut tebal itu. "Ini aneh bukan?" Amor mengedarkan pandangannya. Dia pikir area di dalam sana akan gelap karena tebalnya kabut misteri, tapi nyatanya tidak. Tempat itu terlihat terang dengan jarak pandang cukup jauh. Mereka mulai berjalan semakin jauh memasuki kawasan yang ternyata berupa hutan itu. Ketiganya menyusuri jalan setapak dengan pohon besar yang tumbuh di kiri dan kanannya. Ujung jalan itu tidak terlihat karena tertutup kabut .



Kredit Pinterest.com


Suara bergema menyertai tiap langkah mereka. Kewaspadaan mereka berada pada level tertinggi. "Aku pikir, ada yang tidak beres dengan kabut ini," Ice kembali berucap. "Aku rasa juga begitu," timpal Yue.


Mereka semakin waspada ketika pepohonan tumbuh semakin rapat dan menjulang tinggi. Kabut juga bertambah tebal di tempat itu. "Hati-hati," Yue tiba-tiba berkata. Mereka berhenti sejenak. Mengamati keadaan, terdengar seperti desisan sesuatu tapi tidak tampak wujudnya. Ice memicingkan mata, hingga pria itu berteriak. "Mereka datang," setelahnya seekor ular berwarna putih dengan mata berwarna merah menyala muncul di hadapannya. Lidah ular itu bercabang tiga, dan mulai menjulur ke arah mereka.


Amor memundurkan langkahnya. Bersiap menyerang hingga kemudian dia menyadari, "Tempat ini menetralkan energi dalam kita," ucap wanita itu. Ice dan Yue kemudian memeriksa energi dalam mereka. "Sial! Jadi inilah alasannya kenapa tidak ada orang yang berkunjung ke sini," kata Ice kesal. "Tapi kalau cuma seekor, itu bukan masalah," ujar dewa bulan itu. Pria itu membuka genggaman tangannya, di sana langsung terbentuk pedang kristal berwarna putih. Hampir sama seperti pedang es milik Ice.


Satu tebasan dan kepala ular itu langsung terpenggal. Ular itu mati tanpa banyak perlawanan. "Tidakkah ini terlalu mudah. Hanya seekor ular, apa susahnya?" tanya Yue enteng. "Tunggu dulu," Amor tiba-tiba berseru. Wanita itu berbalik dan serbuan ular putih dalam jumlah ribuan datang ke arahnya.


"Mudah kau bilang?" geram Ice. Pria itupun mengeluarkan pedang esnya. Dengan Amor mulai meluncurkan panas es miliknya. Beberapa saat, ketiganya bertarung dengan ribuan ular putih yang entah datang dari mana. Seolah tidak pernah habis. Ular itu terus berdatangaan. Mereka jelas menghindari gigitan ular itu.

__ADS_1


Tanpa energi dalam mereka, dalam sekejap ketiganya sudah ngos-ngosan. Mereka mulai kehabisan tenaga. Tubuh mereka mulai lambat bergerak. Hasil dari itu semua, Amor tergigit kakinya, saat seekor ular merayap tanpa Amor sadari. "Awwwww," dewi cinta itu meringis. Melihat ke arah betisnya yang berdarah. Dengan bekas gigitan ular terlihat di sana.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ice cemas. Pria itu mendekat ke arah sang adik yang duduk sambil memegangi kakinya. "Perih," lirih wanita itu. Yue datang lalu merobek ujung jubahnya. Mengikatkannya ke betis atas Amor. "Tahan sebentar," Yue berkata lalu berbalik. Pria itu memejamkan matanya sejenak. Perlahan kalung bulan di dada pria itu bersinar terang. Sinarnya membuat semua ular itu terbakar. Perlahan, ular-ular itu menghilang tanpa bekas.


"Kenapa kau tidak menggunakannya dari tadi," gerutu Ice. Pria itu lantas berjongkok di depan Amor. Memeriksa keadaan sang adik. "Aku lupa kalau memiliki kalung ini," cengir Yue.


"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Amor. Yue perlahan menyentuh betis Amor. "Maaf," pria itu berkata. Memeriksa luka Amor yang mulai membiru. "Bisa tidak, kau tidak bersikap manis padaku?" tanya Amor. Melihat Yue yang terus saja menunduk saat melihat lukanya.


"Memangnya kenapa?" tanya Yue enteng. "Aku bisa berselingkuh dari Fire jika kau terus seperti ini padaku," kekeh Amor. Yue tentu saja terkejut. "Jangan bercanda kamu. Kamu ingin aku dibakar dengan api Phoenixnya itu," kata Yue ketus. Lantas berdiri setelah menguatkan ikatan jubahnya.


"Aku hanya bercanda....." ujar Amor. Yue hanya bisa menggeram marah. "Aku sudah menemukan mate-ku. Jadi jangan coba-coba menggodaku!" tegas Yue. Ice langsung kepo mendengar perkataan Yue. Ketiganya kembali melanjutkan perjalanan mereka.


"Yang benar? Kau menemukan Luna?" tanya Ice. Kabut semakin tebal. Ketiga orang itu harus memicingkan mata untuk melihat lebih jelas. "Iya, aku menemukannya," jawab Yue. "Di mana dia? Kenapa tidak ada di paviliunmu?" Amor bertanya. Menggunakan lengan Yue sebagai pegangan saat berjalan.


"Apa dia manusia?" tanya Ice. Mereka mulai memasuki wilayah berbatu. Cukup curam dan licin. "Hanya raganya saja. Jiwanya adalah jiwa Luna." Keadàan di tempat itu kini sudah gelap sepenuhnya. Mereka mulai kesulitan saat berjalan. "Yue gunakan kalungmu untuk menerangi jalan. Sepertinya kita mulai memasuki perbukitan atau mungkin lereng gunung," pinta Ice. Yue pun menggunakan kalungnya seperti lampu senter. Kalung itu bersinar terang membuat jalan di depan mereka terlihat jelas.


"Kau bagaimana?" tanya Ice pada Amor. Wanita itu menggeleng pelan. Mencoba mengatakan kalau dirinya baik-baik. Padahal wajahnya mulai memucat. Peluh mulai terlihat di dahi dewi itu.


"Jangan bohong. Ular itu jenis berbisa. Waktumu enam jam sebelum racunnya meleburkan jantungmu," kata Yue dingin.

__ADS_1


"Mati lagi dong aku," gurau Amor tanpa beban.


"Tenanglah. Setidaknya kita sudah sejauh ini. Puncak Tianjun tidak akan memakan waktu sampai enam jam," tambah Yue. Pria itu terlihat tenang, padahal dia sangat mencemaskan Amor.


"Red Eye Snake sangat berbisa. Untung Amor adalah pemilik elemen es. Suhu dingin tubuhnya menghambat laju bisa ular itu sampai ke jantungnya," batin Yue cemas.


"Eh lihat....apa itu?" Amor menunjuk di kejauhan. Di sana wanita itu melihat seekor rusa yang berdiri di sebuah bukit. Rusa itu berwarna putih dengan tanduknya yang megah bertengger di ataskepalanya."



Kredit Pinterest.com


"Cantik sekali," gumam Amor. Ice dan Yue saling pandang. Dua pria itu tidak melihat apa-apa di tempat yang ditunjuk oleh Amor.


"Memangnya kau melihat apa?" tanya Ice


"Rusa putih. Lihat dia datang ke sini," seru Amor dengan mata berbinar senang. Yue dan Ice kembali saling pandang. Lantas mengedikkan bahunya.


"Kau tidak sedang berilusi karena pengaruh racun itu kan?" tanya Ice cemas. Amor menggeleng pelan, matanya tidak berkedip melihat rusa itu yang kini berdiri di hadapannya. "Siapa kau? Kau cantik sekali," bisik Amor. Sebelah tangannya terulur untuk mengusap wajah rusa itu.

__ADS_1


Hewan itu perlahan menundukkan kepalanya. Seolah tengah mencium pipi Amor. Detik berikutnya, wanita itu jatuh terkulai tidak berdaya dalam pelukan Ice.


******


__ADS_2