
"Kita akan meluruskan masalahnya mulai dari kau, Lao Yang."
Meski The Lord merasa ini terlambat, tapi dia pikir ini perlu di lakukan. Kesalahpahaman atau lebih tepatnya sebuah kesalahan di masa lalu menimbulkan bencana yang baru saja terjadi.
Kekacauan karena Demon membuka gerbang neraka sebab emosi. Meski sekarang, gerbang itu sudah ditutup kembali oleh The Lord dan kuncinya untuk sementara akan di kuasai olehnya.
"Maafkan ketidakpatuhanku pada takdir, Yang Mulia."
Lao Yang berkata penuh penyesalan. Dia sadar sepenuhnya kalau bencana ini berawal dari keegoisannya. Keinginan untuk memiliki Nuwa, Dewi Bunga.
"Kau tahu semua terlambat Lao Yang. Pada akhirnya Chao yang harus menanggung semuanya." The Lord seperti tengah memarahi Lao Yang.
Semua yang ada di sana hanya diam mendengarkan percakapan dua pria beda strata itu.
"Aku tahu, karena itu aku bersedia mengakhiri semuanya."
"Ibu......"
Fire berucap lirih. Melihat seorang dewi berhanfu biru muncul di samping The Lord. Wanita itu menatap haru pada Fire, putra yang sudah dia tinggalkan bahkan sejak Fire lahir. Dia bertahan hanya untuk membuat Fire melihat dunia.
"Putraku...." Dewi Angin itu membatin lirih. Senyum tipis terukir di bibir wanita cantik itu. Bagaimanapun, dewi itu sangat bahagia bisa melihat sang putra meski hanya sesaat. Fire tumbuh menjadi pria tampan dengan kharisma yang luar biasa.
"Kau tahu akibat dari ucapanmu?"
Pertanyaan The Lord mengalihkan perhatian Fire pada sang ibu. Meski matanya tetap terpaku memandang sang ibu.
"Aku tahu. Tapi bukankah itu baik untuk mereka. Mereka bisa bersama mulai sekarang."
"Kalau tahu begitu kenapa kau tidak melakukannya dari dulu?" The Lord sedikit membentak Lao Yang.
"Semua akan tetap terjadi selama dia masih belum melepaskan Amor." Lao Yang melirik judes pada Demon. Sementara Demon malah memasang tampang menantang pada Lao Yang.
The Lord menarik nafasnya pelan. Memang benar, akar permasalahannya adalah Demon, si pemberontak. Pria itu belum menerima kalau Amor menjadi milik Fire.
"Kau tahu Demon, tindakanmu membuat kekacauan di empat dunia. Kau tahu dengan jelas kalau tindakanmu salah. Menginginkan Amor yang jelas adalah mate Dewa Api."
Demon hanya terdiam, tidak menjawab sepatahpun perkataan dari The Lord. Dalam hati, pria itu masih enggan menerima kenyataan itu.
"Sekarang aku tegaskan, lepaskan Amor!"
Demon seketika mengangkat wajahnya. "Tapi aku...."
Demon berhenti bicara ketika The Lord mengangkat tangannya. "Akan kuberitahu kebenarannya. Sejak dulu kala, keturunan perempuan dari dewi bunga akan menjadi pengantin raja Iblis....."
__ADS_1
Demon menyeringai menang mendengar ucapan The Lord. Sementara di pihak Fire, semua langsung terkejut dengan kenyataan itu. Tapi Yue tidak.
"Tapi.....Nuwa, ibumu....The Lord memandang Ice..... memutuskan untuk menolak takdir itu. Dia tidak mencintai ayahmu....The Lord melihat ke arah Demon.....hingga Nuwa mengikatkan benang merah miliknya pada Lao Yang."
The Lord menatap lurus pada Fire.
"Wah cinta banyak segi ini sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu." Seloroh Wind yang kini duduk bersimpuh. Pria itu seperti sedang mendengarkan dongeng pengantar tidur.
"Tapi langit dalam hal ini aku, tidak setuju, ada tujuan kenapa pengantin raja iblis haruslah keturunan dewi bunga. Sebab hanya sifat dewi bunga yang mampu meredam jiwa iblis dalam tubuh kalian, para raja iblis. Nuwa tidak mau keturunannya seakan dijadikan tumbàl untuk penguasa alam neraka itu...."
Demon berdecih kesal mendengar penuturan The Lord.
"Tapi memang begitulah, semua makhluk diciptakan dengan tujuannya masing-masing. Meski kadang tujuan itu buruk. Benang merah Nuwa dan Lao Yang tidak bisa kuputuskan. Jadi aku memilih satu di antara pria yang bisa mengatasi Lao Yang, siapa lagi kalau bukan Chao, Kaisar Langit. Dia setuju dengan keputusanku. Hingga aku mengatur pernikahan mereka. Dan untukmu, kuberikan Dewi Angin, dewi paling sabar untuk meneruskan keturunanmu."
The Lord menarik nafasnya, melihat bergantian ke arah Lao Yang, yang terus menunduk dan Dewi Angin yang hanya tersenyum hambar.
"Sedang kau, aku tidak bisa menemukan mate yang tepat untukmu." The Lord bahkan bisa merasa emosi pada Demon.
Penguasa empat dunia itu seharusnya sudah terbebas dari segala emosi yang bisa dirasakan oleh semua makhluk di semesta raya.
"Karena kami hanya menginginkan keturunan dewi bunga." Teriak Demon protes.
"Diam kau! Kuberitahu kau, untukmu, kali ini kau harus mundur. Amor akan menjadi mate Fire....."
Lagi, Demon berani protes The Lord.
"Aku tidak bisa melakukannya! Jangan memaksaku!"
Dua pria itu malah berdebat seperti anak kecil. Semua hanya terbengong melihat pemandangan langka itu. The Lord yang dikenal tenang bisa emosi juga menghadapi raja neraka bandel itu.
"Kau bilang dia milikku. Kenapa sekarang kau mengatakan kau tidak bisa menyatukan kami. Putuskan saja benang merah di antara keduanya." Demon semakin berani pada The Lord. Fire seketika mendelik mendengar perkataan Demon.
"Enak saja!" Balas Fire tanpa sadar.
The Lord menarik nafasnya dalam. Memang dalam hal ini yang paling dirugikan adalah Demon.
"Aku tidak bisa memutuskan benang merah mereka. Sebab Chao sendiri yang mengikatnya. Dan dia menambahkan darahnya untuk mengikat benang itu."
The Lord hampir frustrasi menghadapi sikap Demon yang kali ini terlihat sangat kekanak-kanakkan. Yue pun bergumam," Pantas saja, ikatan benang mereka sangat kuat. Ada darah Chao yang membekukan simpulnya."
"Lalu nasibku bagaimana?" Keluh Demon.
"Bukankah kau punya Ling Er?" sahut Yue.
__ADS_1
"Eh, dewa bulan sialan, itukan ulahmu. Ayo potong benang merahnya."
"Demon hentikan. Yang dilakukan Yue sudah benar. Aku bahkan tidak berpikir kalau Ling Er akan cocok untuk si pembuat masalah ini."
"Cocok apanya. Dia itu kan..."
"Panas di ranjang!" Timpal Wind keras. Semua mendelik mendengar ucapan frontal Wind.
"Sialan kau!" maki Demon.
"Alah akui saja. Tapi terima kasih atas pujiannya, Yang Mulia." Cengir Yue pada Demon.
"Yang Mulia, aku tidak terima!" Demon kembali protes.
Semua yang di sana hanya bisa geleng-geleng kepala, menyaksikan ulah Demon yang jauh dari kata sangar. Pria itu terlihat lucu seperti anak TK.
"Aku akan mengembalikan semua seperti semula. Tapi setelah ini." The Lord akhirnya bicara lagi.
Semua langsung terdiam mendengar ucapan The Lord. Mencoba mencerna ucapan pria itu.
"Selamat Fire, besanmu adalah Demon jika kau memiliki putri." Ucap Yue yang tidak tahan ingin melihat reaksi Fire.
Fire sejenak terdiam. Otaknya blank. Sementara di ujung sana, Demon langsung mengembangkan senyumnya.
"Tidak!" Fire reflek bersuara.
"Aku akan menunggu putrimu lahir." Teriak Demon girang.
"Bukan kau tapi putramu!"
Senyum Demon hilang seketika. "Putraku?"
"Yang berjodoh dengan putri Fire adalah putramu, bukan kau!"
Tegas The Lord. Demon seketika terduduk lemas.
"Tidak bisa ditawar lagi? Aku mau dia," tunjuk Demon pada Amor.
"Kau pikir ini pasar? Tidak! Keputusanku final. Putramu yang akan melanjutkan tradisi ini."
Dua pria itu langsung terduduk lemas. Fire dan Demon sama-sama tidak rela kalau anak-anak mereka bersatu. Yang satu tidak mau punya menantu raja iblis. Yang satu menginginkan si calon besan untuk jadi istrinya.
"Dan sekarang untukmu, Lao Yang. Waktumu tiba."
__ADS_1
*****