
Dua hari berlalu, dan belum ada tanda-tanda kalau Amor akan terbangun. Dewi cantik itu seolah tidur untuk jangka waktu yang lama. The Sky dan yang lain jelas cemas bukan kepalang. Leon sudah mengobrak-abrik paviliun Liong untuk mencari naskah yang mungkin memuat cara untuk membangunkan Amor. Tapi sampai hari ini, pria itu belum juga menemukannya.
Ice berulang kali menggunakan energi dalamnya untuk membangunkan jiwa Amor yang tertidur. Tapi cara itu juga tidak berhasil. Amor seolah menolak untuk bangun. Yue sendiri bahkan beberapa kali berkunjung ke The Lord Yang Agung untuk bertanya soal Amor dan Fire. Dan jawaban tetua itu tetap sama, "Kalian akan menemukan jalannya, jika waktunya sudah tiba," pria tua dengan rambut dan janggut yang sudah memutih seluruhnya itu, menatap tenang pada Yue, si dewa bulan. Raut wajah damai pria itu benar-benar membuat Yue ikut terlarut dalam ketenangan yang tetua itu coba salurkan pada Yue.
"Bahkan Destiny tidak merasa menulis takdir Amor dan Fire seperti ini," gumam Wind sambil mengusap dagunya. Giliran Wind yang menemui si pembuat takdir kehidupan. Destiny langsung menggaruk kepalanya. Saat Wind bertanya kenapa takdir Amor dan Fire begini.
Hingga akhirnya, dewa berkepala botak itu menjawab setengah berbisik. "Ada sebuah kitab takdir yang tersegel rapi, ketika aku mulai menjabat jadi pembuat takdir kalian. Sepuluh ribu tahun yang lalu. Sampai sekarang aku tidak bisa membukanya. Dengan cara apapun. Aku selalu gagal. Belakangan aku baru menyadari kalau kitab takdir itu milik Amor, Fire dan The Sky," ucap Destiny lirih.
Wing menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Destiny. "Mungkin takdir mereka sudah dibuat oleh pendahuluku," tambah Destiny.
"Pendahulumu siapa?" kepo Wind. "Nah itu dia. Aku juga tidak tahu," Destiny menjawab sambil nyengir. Wind hanya bisa menggerutu mendengar jawaban dewa botak itu.
"Tapi aku pikir. Yang terjadi sekarang sesuai dengan ramalan yang pernah ada sejak dulu lagi," Destiny tiba-tiba teringat sesuatu.
"Jangan bilang kau tidak tahu isi ramalan itu," kesal Wind.
"Kau tahu kan ramalan itu sifatnya rahasia. Apalagi ketika berhubungan dengan takdir dan nasib seseorang," balas Destiny santai. Wind langsung mencebik kesal mendengar jawaban Destiny.
"Aku pikir kau tuan segala tahu soal takdir semua makhluk," kata Wind.
"Aku tidak diperbolehkan membocorkan apapun pada siapapun. Bahkan jika kau menemui The Lord Yang Agung pun, aku yakin dia tidak akan memberimu jawaban pasti,"
Wind hanya terdiam mendengar jawaban Destiny. Teringat Yue yang sama sekali tidak bisa mengorek apapun dari pemimpin tertinggi seluruh alam semesta ini.
__ADS_1
****
Amor terbangun dengan tubuh yang terasa sakit. Terutama dadanya. Melihat keadaan sekelilingnya, dewi itu bergumam lirih. "Di mana aku?"
Dia berusaha bangun dengan susah payah. Dadanya serasa panas. Seolah terbakar. Berjalan tertatih, Amor sejenak mengagumi pemandangan yang tersaji indah di hadapannya. "Apakah aku sudah mati? Inikah yang disebut dengan alam surgawi?" bisik Amor. Menatap langit bernuansa hijau yang terbentang di atasnya.
Kredit Pinterest.com
Sedang daratan yang menjadi tempatnya berpijak adalah daratan salju yang terasa lembut saat menyentuh kakinya. Meski begitu, dirinya tidak merasakan hawa dingin di tempat itu. Walau sejauh mata memandang, hanya hamparan salju yang terbentang. Tanpa terlihat di mana ujung dari tempat itu.
Beberapa bintang tampak berkerlip di tengah hijaunya langit yang sesekali menampilkan awan putih dengan background warna biru di belakangnya.
"Cantiknya tempat ini," lagi Amor berucap lirih. Hingga rasa takjub itu mulai berkurang. Wanita itu mulai mengalihkan pandangan. Mencoba berpikir, apa yang akan dia lakukan sekarang? Wanita itu mulai berjalan. Tanpa tahu arah tujuan. Hingga nyanyian dari suara yang begitu dia kenal, membuatnya berlari ke arah sumber suara itu.
Burung besar berwarna keemasan itu menatap tajam pada Amor. Binar benci terpancar dari sorot mata Fuhua, nama jiwa Fire. "Beraninya kau melenyapkan tubuh manusia tuanku!" ucap Fuhua tajam.
"Maafkan aku, Fuhua, aku begitu naif. Mempercayai mimpi yang telah Seth manipulasi untukku," jawab Amor seraya menundukkan kepalanya. Sadar dengan kesalahan yang telah dia buat.
"Maafmu tidak akan membuatnya kembali. Jika dalam empat puluh hari kau tidak bisa menyatukanku dengan jiwa manusianya. Dia akan pergi menyeberangai Jembatan Arwah di Sungai De lìnghùn. Jika dia sudah menyeberangi sungai itu. Jangan harap kau akan bisa membawanya kembali," desis Fuhua penuh penekanan. Inginkan hati, burung besar dengan sayap mengepak gagah itu, ingin menelan Amor bulat-bulat.
Fuhua sudah memperingatkan soal Amor pada Fire sejak lama. Tapi sang tuan selalu menjawab, "Jika itu memang terjadi padaku. Maka itu adalah takdirku. Jadi jangan memarahinya saat yang kau takutkan terjadi. Kau tahu pasti ada jalan keluar untuk itu semua bukan?"
__ADS_1
Fuhua, makhluk yang telah hidup ribuan tahun. Jiwanya mengabdi pada satu keturunan manusia yang sudah ditetapkan untuknya sejak lama. Fire adalah keturunan kedua yang menjadi tuannya. Sejak tuan pertamanya memutuskan mengirimkan dirinya untuk Fire. "Bantu dia saat dia dalam fase tersulit dalam hidupnya," pesan tuan pertamanya.
"Inikah fase tersulit dalam kehidupan Fire?" batin Fuhua. Burung Phoenix itu tahu, ada cara untuk menyelamatkan Fire. Tapi dia dilarang keras memberitahu siapapun. Mereka harus berusaha dengan cara mereka sendiri.
"Katakan padaku caranya. Aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya. Menghidupkannya kembali. Menyatukan jiwa kalian," Amor memohon bahkan bersujud pada Fuhua. Wanita itu sudah menangis sejak mendengar perkataan Fuhua yang terang-terangan menyalahkan dirinya.
"Aku tidak bisa memberitahu caranya. Kami dilarang keras untuk memberitahu hal yang bukan hak kalian untuk tahu. Tapi aku memastikan kalau ada cara untuk menghidupkan Fire kembali. Tugasmu adalah mencarinya. Lalu melakukannya. Hanya itu cara untuk menebus kesalahanmu pada Fire. Terlepas dari kau adalah mate untuknya. Pasangan yang aku sendiri bahkan tidak bisa memisahkan kalian. Meski aku sangat ingin melakukannya," ucapan panjang lebar Fuhua cukup menyiratkan ketidaksukaan makhluk itu pada Amor.
Amor menyeka air matanya. Mendengar perkataan Fuhua, wanita itu bertekad untuk sekuat tenaga melakukan apapun untuk menyelamatkan Fire.
"Terima kasih sudah memberiku petunjuk. Aku tahu, aku salah. Karena itu aku akan mencari cara untuk mencegahnya menyeberangi Jembatan Arwah," jawab Amor sambil tersenyum.
Melihat Amor tersenyum, Fuhua tertegun. Dia menduga wanita di hadapannya akan menyerah dan berputus asa setelah mendengar perkataannya. Cara untuk menyelamatkan Fire jelas tidak akan mudah. Ada kesulitan dan pengorbanan di dalamnya. Fuhua tidak yakin kalau dewi selembut Amor akan mampu melaluinya.
"Terima kasih juga, meski kau tidak suka padaku tapi kau tidak membenciku," kali ini Fuhua benar-benar terpana pada ucapan Amor.
"Inikah salah satu hal yang aku tidak tahu dari dirinya," batin Fuhua.
"Karena kau tidak mengenalnya. Jadi kau selalu berkata kalau kau tidak menyukainya. Bicaralah dengannya dua menit saja. Dan kau akan tahu kalau dia berbeda."
"Apakah ini maksud ucapanmu, Dewa Api. Kalau dia berbeda," batin Fuhua.
Fuhua memandang tak berkedip pada wajah ayu Amor. Cantik bercampur rasa bersalah. Putus asa. Fuhua sungguh tahu isi hati Amor seluruhnya.
__ADS_1
"Apa aku telah salah sangka pada mate Fire ini?"
*****