Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Virus Gila Dan Cinta


__ADS_3

Di tempat lain, Demon saat ini tengah gigih berlatih. Pria itu hampir menguasai seluruh isi dari kitab Black Rune, tahap terakhir dari kitab kuno itu adalah meditasi untuk menyatukan semua jurus yang sudah dilatih oleh Demon sejak awal. Meditasi Demon sudah berlangsung lama. Setelah pria itu menyelamatkan Amor dari sungai De Linghun hari itu, ada dorongan yang menyuruh dirinya untuk segera menyelesaikan latihan kitab itu.


Sesuatu dalam diri Demon seolah bangun, pria itu merasakan hawa panas merayap naik dalam dirinya, perlahan mengalir mengikuti aliran darahnya. Pria itu mendengus geram, tubuhnya mula terasa terbakar, rasanya makin lama makin tidak tertahankan. "Aaaarrgghhhhhhh" pria itu berteriak sembari mengangkat kedua tangannya dengan telapaknya menghadap ke atas. Sesuatu dalam dirinya benar-benar meledak. Seiring dengan kekuatan dahsyat yang mengalir di seluruh tubuhnya.


Pria itu membuka matanya, di kejauhan sebuah ledakan terjadi dengan hujan dan petir terdengar begitu hebat. "Aku sudah menguasainya, Black Rune adalah milikku," Demon tertawa puas. Sementara itu, The Sky langsung berdiri dari duduknya. Melihat kilatan petir dan hujan di kejauhan.K



Kredit Pinterest.com


"Tidak mungkin jika dia berhasil menguasainya," gumam The Sky.


Tak berapa lama, Leon datang dengan wajah panik. "Dia....dia....berhasil menguasainya." Pria itu berkata di sela-sela tarikan nafasnya. The Sky menarik nafasnya. Wajahnya terlihat muram. Black Rune adalah sihir terkutuk. Menguasai dan menggunakannya sama saja dengan membuka gerbang bencana.


"Sekarang dia bisa membuka gerbang neraka sendiri, tanpa bantuan siapapun," Leon menambahkan. Penguasa langit itu benar-benar khawatir sekarang. Demon jelas menginginkan satu hal dari sisinya, dan dengan kekuatannya sekarang. Bisa dipastikan jika dia akan segera mengambilnya.


"Perketat penjagaan. Amor dan yang lainnya mulai mendaki puncak Tianjun. Jika semua berjalan lancar, mereka akan kembali dengan cepat. Dia pasti segera ke sini jika tahu Amor sudah kembali," perintah The Sky.


"Baik," Leon langsung mengangguk. Dia sangat paham dengan keinginan pria itu.


Setelah kepergian Leon, The Sky terduduk lemas di kursinya. "Nuwa, aku pikir sebentar lagi kita akan bertemu," gumam The Sky.


******

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa melihatnya sedang kami tidak?" protes Ice pada Amor. Pria itu sedang mempermasalahkan Amor yang bisa melihat rusa putih yang berdiri di hadapannya.Ice melihat bingung pada sang adik yang melihat sesuatu yang tidak nampak dengan mata berbinar cerah.


"Diamlah sebentar," Yue berdesis pelan. Pria itu memejamkan matanya. Berusaha menggunakan mata batinnya tanpa memakai energi dalam. Dan hasilnya, Yue membulatkan matanya, melihat seekor rusa putih berdiri di depannya. Binatang itu mengendus-ngendus kaki Amor yang terluka.


"Jangan, itu beracun," Amor berusaha menjauhkan rusa itu dari kakinya. "Biarkan saja," Yue berkata. Detik berikutnya, rusa itu menundukkan kepalanya. Setetes air mata jatuh di luka gigitan ular putih itu. Rasa dingin langsung terasa. Diiringi bengkak dan biru di kaki Amor yang berangsur berkurang. Hingga akhirnya hilang sama sekali.


"Dia menyembuhkanmu," seru Yue gembira. "Benarkah?" Amor bertanya tidak percaya. Wanita itu coba berdiri, lalu menggerakkan kakinya. Tidak sakit sama sekali. Tidak seperti tadi. "Wahhh, terima kasih rusa cantik, kau menyembuhkanku. Sekarang katakan apa yang kau inginkan? Aku akan mengabulkannya," kata Amor antusias. Tapi rusa itu malah pergi menjauh. Pergi ke arah di mana tadi dia datang. Berlari, lalu hilang di balik rimbunnya hutan.


"Sepertinya keberuntungan selalu menemanimu. Bahkan Demon pun tak segan menyelamatkanmu dari sungai itu," heran Yue.


"Itu memang maunya si raja neraka itu. Cari perhatian padamu," sungut Ice. Amor dan Yue hanya diam, tidak menanggapi ucapan Ice.


"Aku benar-benar penasaran pada hewan itu. Dia menyembuhkanmu dengan air matanya. Berarti konsepnya sama dengan Phoenix," gumam Ice kepo. Sebab dia sendiri yang tidak bisa melihat rusa tadi.


"Dewa Bulan ayo jalan. Keburu malam ini," ajak Ice. "Memang sudah malam pun," gerutu Yue sebal. Mereka melanjutkan perjalanan dengan "lampu senter" dari kalung Yue. Lebih dari sekedar senter sih, wong jarak pandang mereka mencapai lima meter lebih dengan cahaya benda itu. "Ngomong-ngomong kalung apa itu?" tanya Ice. "Oh itu pecahan kristal bulan," jawab Yue. "Kenapa cuma pecahan? Yang lain ke mana?" tanya Amor.


"Separuh diberikan pada kaum dari dunia mimpi. Untuk menerangi dunia mereka. Sekaligus menjaga kaum itu," terang Yue singkat. "Ada lagi dunia mimpi? Lalu Seth bagaimana? Dia kan dewa mimpi?" kepo Ice.


Pria itu lalu menceritakan soal Seth yang dia tahu. Bahwa dia sebenarnya musuh dari dunia mimpi. Pria itu memanipulasi mimpi manusia menjadi mimpi buruk. Lantas mengubahnya menjadi sumber kekuatannya. "Yang aku tahu dunia itu sedang dalam masa tidur. Eliyos, raja dunia mimpi menghilang sejak Seth menyerang istana dunia itu" jawab Yue sendu.


"Dan kau tidak membantu mereka?" tanya Amor. "Aku sudah mencoba mencari keberadaan Eliyos, tapi tidak ketemu. Juga dengan kristal mimpi. Jika dia merubah dirinya menjadi pegasus, sulit untuk melacak keberadaannya," lanjut Yue.


"Pegasus?" gumam Amor. "Jiwa Eliyos adalah pegasus," Amor ber-ooo ria mendengar jawaban Yue.

__ADS_1


Setelah berjalan cukup lama, mendaki medan terjal dan curam. Berbatu, licin dengan lumut yang tumbuh di sana sini. Mereka tiba di sebuah tempat yang cukup lapang. "Kita bermalam di sini saja," Yue memberi pertimbangan. Mengingat mereka hanyalah manusia biasa sekarang. Amor ingin protes tapi Ice mencegah. Wanita itu takut mereka akan kehabisan waktu. Tapi Ice dan Yue meyakinkan kalau mereka akan pulang tepat waktu.


Karena mereka berhenti hampir tengah malam. Maka tak menunggu lama, pagi menjelang. Meski tempat itu tidaklah seterang dunia di luar sana. Tapi lumayanlah, mereka bisa melihat jalan di depan mereka. Kaki Amor benar-benar sudah sembuh. Hingga dewi cantik bisa menarik nafasnya lega.


Ternyata perjalanan mendaki gunung mereka masih lumayan. Hingga ketika hari sedang terang-terangnya, yang artinya tengah hari di luar sana. Amor menarik lengan Yue dan Ice. Wanita itu melongo melihat sebuah pemandangan yang terhampar di hadapannya. Sebuah bangunan dengan latar belakang gunung tinggi yang diselimuti kabut. Berdiri menjulang di depan mereka. Awalnya mereka sangat gembira, mengira mereka sudah sampai, hingga tiba-tiba Ice menahan tangan Amor yang ingin mendekat ke arah bangunan itu.


"Jangan, itu hanya ilusi. Di baliknya adalah jurang yang sangat dalam," Ice memicingkan matanya. Pria itu yakin sekali dengan instingnya.


"Bagaimana kau tahu?" tanya Yue. "Cobalah ini," Ice melempar sebuah batu dan benda itu langsung melayang melewati bangunan itu. Tidak terdengar bunyi batu itu jatuh. Menandakan kedalamannya yang tidak terkira atau jauhnya yang tidak terukur.


"Jadi jebakannya seperti ini. Sangat simple tapi benar-benar efektif. Orang akan langsung berlari ke sana begitu melihatnya," kata Amor.


"Itu namanya jebakan pintar," sahut Ice.


Yue dan Amor lagi-lagi terdiam mendengar perkataan Ice. Ucapan Ice terkadang asal jeplak saja. Tidak pernah dipikirkan terlebih dahulu.


"Apa begini calon penerus tahta dunia langit?" bisik Yue.


"Aku tidak tahu," jawab Amor balas berbisik. Tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini sikap Ice agak berbeda dari sebelumnya. Pria itu lebih banyak bicara dan bicaranya receh sekali.


"Kau tidak menebarkan virus gila dan cinta padanya kan?" tanya Amor konyol. Yue langsung mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Amor.


***

__ADS_1


__ADS_2