
Daniel dan Cedric saling pandang. Setelah keduanya saling berkenalan.
"Daniel Harrison Ford," gumam Cedric. Dia sepertinya pernah mendengar nama itu. Hingga kemudian, dia teringat pernah mendesain sebuah showroom mobil mewah. Dan itu salah satu jaringan milik keluarga besar Ford.
"Apa dia adalah pewaris tunggal dari dinasti Ford?" kembali Cedric berkata dalam hati.
Keduanya duduk berseberangan di meja makan. Tanpa suara. Hanya tatapan sengit yang ada di antara mereka.
"Bahkan ketika kau sudah turun ke dunia manusia. Sifat angkuhmu tetap tidak berubah," Daniel menarik satu ujung bibirnya.
"Kak Daniel, mau sekalian sarapan?" Suara Mika memutus kontak mata antara dua pria itu.
"Tentu saja. Aku sengaja tidak sarapan agar bisa sarapan denganmu," jawaban Daniel membuat wajah Mika memerah.
"Cihhh dasar tukang cari perhatian," gerutu Cedric dalam hatinya. Dan hal itu bisa di dengar oleh Daniel. Semua yang ada dalam pikiran Cedric, Daniel bisa membacanya. Pria itu langsung tersenyum tipis.
"Jadi kau belum mendapat perhatian Mika." Satu fakta Daniel dapat. Hubungan Cedric dan Mika belum sedekat yang dia duga.
"Mika....kenapa kau tidak tinggal di apartemenku saja," tawar Daniel. Sambil melirik Cedric yang langsung melemparkan tatapan mautnya.
"Ada yang kosong di lantaiku. Aku bisa membelikannya untukmu," tambah Daniel. Sontak saja ucapan Daniel membuat Cedric terkejut. Dia tidak menyangka kalau Daniel akan seberani itu.
Mika melirik ke arah Cedric. Mika pikir, saat ini hanya Cedric yang bisa menyelamatkan. Dekat dengan Daniel akan membuat sang ayah tahu di mana dirinya berada.
"Jangan khawatir, aku tidak akan memberitahu Papamu. Kalaupun dia tahu, katakan saja kalau kita pacaran,"
Cedric langsung tersedak kopi yang baru saja diminumnya. Daniel benar-benar mengibarkan bendera perang dengannya. Wait, bendera perang? Memangnya dia ada perasaan apa dengan Mika. Dia menahan Mika, hanya karena menginginkan gadis itu jatuh pada pesonanya. Lalu Cedric dengan mudah bisa membawanya naik ke ranjangnya. Tapi jika Daniel ikut campur, bisa gagal rencana Cedric.
"Mika akan tetap tinggal di sini. Ini lebih dekat dengan kantor. Juga apartemenku," tegas Cedric. Kembali Daniel menarik ujung bibirnya. Pria itu merasa berhasil memprovokasi Cedric. Dia ingin tahu seberapa besar rasa yang Cedric punya untuk Mika.
Mika langsung melirik tajam pada Cedric. Jelas sekali jika dia ingin menuruti permintaan Daniel.
__ADS_1
"Dia ini kenapa sih? Bukannya bagus kalau aku tidak tinggal di sini. Hutangku tidak akan semakin menggunung," batin Mika.
"Hutang? Oohh kau menjerat Mika dengan hutang. Agar dia selalu bisa dekat denganmu. Tidak ku sangka Dewa Api ternyata licik juga,"
Sementara di sisi lain, Re dan Ri serta Elli menikmati sarapan di meja yang berbeda.
"Sudah lama kenal dengan Mika?" tanya Re menatap lama pada Elli.
"Dia si burung pipit, teman baik Dewi Cinta, tapi apa iya Mika benar-benar Amor," batin Re melirik Ri.
"Dari kecil aku sudah berteman dengan tuan putri itu, lalu kalian apa sudah lama menjadi asisten bos playboy itu?" Elli balik bertanya.
Re dan Ri tidak heran dengan perkataan Elli. Sebab sifat playboy akut Cedric sudah menyebar ke seantero negeri. Tak jarang klien mereka turut membawa wanita penghibur. Atau mengadakan pertemuan di diskotek atau klub malam.Hingga jika kata sepakat tercapai. Mereka bisa langsung berpesta. Dan biasanya di sinilah peran Re dan Ri. Mencegah Cedric sampai berhubungan intim dengan wanita bayaran itu.
"Hampir tujuh tahun ini," jawab Re sambil menggigit sandwichnya.
"Wahh lama sekali ya. Ngomong-ngomong kalian tahan ya dengan sifat playboy bos kalian itu," celoteh Elli, yang langsung diabaikan oleh duo R itu.
"Aku yang tidak tahu. Kalau Cedric bisa kenal dengan tuan putri keluarga Hermawan." Tanya Re heran.
"Jangan pernah berpikir untuk mengambil Mika dariku," Cedric berucap penuh penekanan pada Daniel. Mereka masih berada di meja makan. Masih dengan posisi sama. Namun suasana semakin dingin terasa. Mika dan Elli tengah mengobrol di kamar Mika.
"Memangnya apa yang kau inginkan dari Mika. Kau ingin dia menjadi partner ranjangmu. Jangan mimpi!" Tegas Daniel.
"Kalau dia sendiri yang menyerahkan dirinya sendiri padaku. Kau mau apa? Kau tahu kan, tidak ada yang bisa menolak pesonaku. Tidak ada yang bisa lepas dari jerat ketampananku," Cedric berkata penuh percaya diri.
"Tapi kau harus tahu satu hal. Mika bukan gadis seperti yang ada dalam kepalamu. Dia berbeda," balas Daniel.
"Karena itulah aku sangat menginginkannya," batin Cedric.
Daniel terdiam. Sungguh tidak menyangka jika Dewa Api adalah penikmat wanita bayaran di kehidupan ini. Daniel tahu benar, hal itu tidak boleh terjadi. Mika dan Cedric tidak boleh menyatu apalagi bersama.
__ADS_1
"Kami pergi dulu. Kau jagalah dirimu baik-baik," melirik Cedric dengan ekor matanya. Mika langsung paham dengan maksud Elli.
"Jangan khawatir, aku bisa menjaga diri. Lagian aku selalu bekerja dengan Re dan Ri," Mika menepis kekhawatiran Elli.
"Bawa ini," Daniel mengulurkan black card miliknya. Tindakan Daniel membuat Mika tertegun. Selama ini Daniel memang baik padanya. Tapi yang terjadi hari ini. Itu seperti bukan Daniel yang biasanya. Sikap Daniel hari ini, seperti sikap seorang pacar pada kekasihnya. Sangat perhatian. Sangat lembut. Seolah semua tindakan Daniel penuh dengan rasa cinta. Ahh, ingin rasanya Mika melompat saking senangnya. Gadis itu sudah lama menaruh rasa pada Daniel. Tapi selama ini, Daniel hanya memperlakukannya seperti adik. Tidak lebih.
"Bolehkah aku berharap lebih? Aku ingin kau juga membalas rasa cinta yang kupunya untukmu," batin Mika.
Seulas senyum Daniel langsung terukir di bibir pria itu. Mendengar ucapan hati Mika.
"Lihatlah Dewa Api, bagaimana kau akan merebut Mika dariku," Daniel membatin sambil melihat ke arah Cedric yang jelas tidak suka melihat kedekatan dirinya dan Mika.
"Berikan itu padaku!" Cedric mengulurkan tangannya pada Mika. Tinggal mereka yang ada di apartement itu. Mika menatap tajam pada Cedric.
"Apa?" Salak Mika. "Berikan black card miliknya. Kau akan hidup dengan uang yang kuberikan padamu, bulan ini," tegas Cedric.
"Hei aku bukan siapa-siapamu. Kau tidak boleh mengatur hidupku," tolak Mika. Sebab gadis itu bermaksud menggunakan black card milik Daniel untuk melunasi hutangnya pada Cedric bulan depan.
"Kau adalah sekretarisku. Stafku. Kau mengikuti aturanku selama bekerja denganku," entah kenapa Cedric sangat emosional tiap kali Mika membantah ucapannya. Ada sisi Cedric yang benar-benar ingin mendominasi Mika. Membuat gadis itu tunduk dalam aturan yang sudah Cedric tetapkan.
"Kalau aku tidak mau?" tantang Mika. Gadis itu jelas bukan gadis yang mudah diatur. Pemberontak adalah sifat dasar Mika.
"Maka aku akan mengambilnya paksa. Cedric merangsek maju. Meraih tangan Mika. Lalu menariknya mendekat ke arah Cedric. Mika langsung terkejut dengan tindakan Cedric.
Kini keduanya berada dalam posisi yang sangat intim. Dada keduanya saling menempel. Dengan dua pasang mata itu saling menatap intens. Debaran itu bisa Mika dan Cedric rasakan berdetak dalam dada masing-masing. Pelan tangan Cedric bergerak menuruni tangan Mika. Menuju genggaman tangan gadis itu. Hingga "cup" sebuah ciuman mendarat sempurna di bibir Mika.
"Terima kasih atas ciuman dan kartunya," Cedric berucap dengan bibir yang masih menempel di bibir Mika. Sejurus kemudian, pria itu berlalu dari hadapan Mika. Berjalan penuh kemenangan sambil melambai-lambaikan black card Daniel yang kini berada di tangannya.
"Cedric sialan! Kembalikan black cardku!" Mika berteriak marah. Bagaimana bisa dia tertipu dengan sikap Cedric. Detik berikutknya, gadis itu kembali berteriak. Menyadari kalau Cedric sudah mengambil ciuman pertamanya.
"Cedric brengsek! Beraninya kau mengambil ciuman pertamaku!" Mika menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Kesal bukan kepalang.
__ADS_1
"*Oh my first kiss," Mika berseru s*endu.
***