Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Syarat Dari Lao Yang


__ADS_3

Ice, Amor dan Yue kembali mendaki. Kali ini medan yang mereka hadapi lebih berat. Jalanan menanjak dengan batu tajam ada di sana sini. Amor beberapa kali terjatuh. Karena terpeleset atau tergelincir batuan licin. Tapi wanita itu hanya meringis lirih. Lantas bangun lagi dan melanjutkan perjalanan, seolah tidak terjadi apa-apa.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya Yue menghentikan langkahnya. "Itu dia," kata pria itu. Ice dan Amor mendekat ke arah dewa bulan. Mereka semua terkesima dengan apa yang mereka lihat. Sebuah lembah yang dikelilingi bukit yang menjulang tinggi. Dengan kabut tebal yang menyelimutinya. Di atas sana, di sisi sebelah kiri terdapat sebuah bangunan kuno. Satu-satunya yang ada di sana. Hingga dipastikan jika tempat itulah yang mereka tuju.



Kredit Pinterest.com


"Itu tempatnya," kata Yue lagi. Pria itu mulai melangkah menapaki tangga yang menjadi jalan menuju bangunan itu. Mereka perlu berhati-hati karena tangga batu itu diselimuti kabut. Tak perlu waktu lama, mereka sudah tiba di depan bangunan itu. Sepatah salam mereka ucapkan pada si pemilik paviliun. Tapi tidak ada jawaban. Tempat itu terlihat seperti rumah kosong. Meski kondisinya sangat terawat. "Apa tempat ini kosong?" tanya Ice kemudian. "Kalau tempat ini kosong. Lalu apa ini ilusi juga?"tanya Amor.


"Ini nyata, hanya saja penghuninya entah ke mana," Yue menjawab. Cukup lama mereka menunggu, hingga pintu bangunan itu terbuka. Tidak terlihat satu orangpun di sana. Ketiganya saling pandang. Perlahan Ice melangkahkan kakinya masuk. "Kau membuka pintu, apakah kami boleh masuk?" tanya Ice. Angin berhembus lembut menerpa mereka. Seolah itu adalah tanda kalau mereka boleh masuk.


"Maaf jika kami lancang," Amor berkata pelan. Seseorang dari lantai dua menarik dua sudut bibirnya, mendengar perkataan Amor. Mereka masuk ke bangunan itu. Sepi, kembali tidak nampak seorangpun di sana. Rumah itu terlihat seperti bangunan kuno dengan perabot yang juga kuno. Sepertinya tempat itu sudah berumur ratusan bahkan ribuan tahun.


"Permisi......" Amor kembali bersuara. Tidak ada sahutan. Mereka hanya bisa mengedikkan bahunya. Hingga suara langkah kaki terdengar turun dari lantai dua. Seorang pria setengah tua, dengan rambut yang sebagian sudah memutih berjalan ke arah mereka. Wajah pria itu menyiratkan kedamaian yang membuat mereka semua merasa tenang di sana. Mungkin pria itu sudah menghabiskan waktu lama untuk bermeditasi, hingga mampu meninggalkan urusan duniawi serta auranya yang begitu menenangkan jiwa.


"Selamat datang di Paviliun Harapan, aku menyebutnya begitu," pria itu menyambut kedatangan Ice, Amor dan Yue. Ketiga orang itu memberi hormat lantas membalas salam pria itu. Sesaat pria itu menatap Amor, ada binar haru dalam mata pria itu. "Inikah pilihan yang telah ditentukan untukmu, putraku,"

__ADS_1


"Perkenalkan aku Ice, ini Amor dan dia Yue," Ice memperkenalkan diri. "Panggil aku Lao Yang," pria itu menjawab singkat. Masih menatap lekat pada Amor. Pria itu tersenyum tipis. "Kau bahkan mengirim sebuah hadiah untuk memberitahuku kalau dia adalah putrimu," batin Lao Yang lagi.


"Minta maaf sebelumnya....."


"Tidakkah kalian lelah dan haus, aku punya teh terbaik yang bisa menghilangkan lelah dan haus kalian sekaligus," tawar Lao Yang. Sebuah meja lengkap dengan teh yang tengah disedu muncul di depan mereka. Ice dan yang lainnya saling pandang. Lalu ikut duduk ketika Lao Yang mempersilahkan mereka duduk.


Teko itu menuangkan isinya ke cangkir mereka tanpa Lao Yang sentuh. Pria itu lantas meminum tehnya diikuti Ice dan yang lainnya. "Maaf, jika kami lancang. Tapi kami ke sini untuk......"


Ice menghentikan ucapannya ketika Lao Yang mengangkat tangannya. Memberi tanda pada Ice untuk berhenti. "Masih banyak waktu untuk membicarakannya," Lao Yang berkata. Pria itu langsung bangkit dari duduknya. Berjalan kembali ke lantai dua. "Nikmati saja waktu kalian selama di sini," tambah Lao Yang.


*******


"Sabarlah dulu," Ice menyahut sambil membuka matanya. Dua pria itu malah sibuk bermeditasi sejak mereka tiba. Kata keduanya, di sini hawanya netral dan tenang, sangat baik jika digunakan untuk meditasi. "Sabar bagaimana lagi, Kak. Kita perlu dua hari untuk pulang, aku cemas kalau kita akan kehabisan," kata Amor hampir menangis. "Kita tunggu sampai besok, jika Lao Yang masih mendiamkan kita. Kita akan bicara lebih dulu," Yue menyahut tanpa membuka matanya. Fokusnya tidak terganggu dengan teriakan Amor.


Sementara di lantai dua, Lao Yang hanya tersenyum mendengar kegundahan Amor. "Kau benar-benar mencintainya bukan? Maka nikmati rasa itu selagi kau masih memilikinya," gumam pria itu pelan.


Hari berikutnya, Amor benar-benar tidak tahan dengan diamnya Lao Yang pada mereka. Dewi itu baru saja akan menyusul Lao Yang ke lantai dua, ketika dia menyadari, tidak ada tangga untuk naik ke lantai dua. Yue seketika menarik sudut bibirnya. "Ini bagaimana naiknya?" tanya Amor bingung.

__ADS_1


"Kalian naiklah," suara Lao Yang terdengar menggema dalam bangunan itu. Amor melihat Ice dan Yue, bingung. "Gunakan pikiranmu," kata Yue pelan. Amor lantas menuruti perkataan Yue. Wanita itu menutup matanya, memusatkan pikirannya untuk naik ke lantai dua. Tubuh dewi itu menghilang dan muncul di lantai dua...ah salah. Lantai dua ternyata bukan sebuah ruangan, tapi sebuah dimensi dengan awan sebagai dinding, lantai dan atapnya. Tak lama Ice dan Yue muncul disamping Amor. Keduanya juga tidak menduga jika lantai dua berwujud seperti itu.


Di depan mereka Lao Yang duduk dengan sikap meditasi di atas pusaran awan sebagai alas duduknya. Perlahan, pria itu membuka matanya. "Kalian tahu kenapa aku menyebut tempat ini sebagai Paviliun Harapan?" Lao Yang bertanya. Tidak ada yang menjawab. "Sebab setiap orang yang berani datang ke sini, memiliki sebuah harapan besar hingga dia sanggup menahan beratnya jalan menuju ke sini, hanya untuk mewujudkan harapan mereka. Menghidupkan kembali orang yang mereka kasihi," Lao Yang menatap lurus pada Amor.


"Dalam hal ini adalah dirimu, Dewi Cinta, Amor. Putri penguasa dunia langit, The Sky dan juga dewi bunga, Nuwa." Kalung Amor terlepas, melayang ke arah Lao Yang. Pria itu tersenyum. Simbol lily Amor dan Nuwa sama, bisa dipastikan jika jiwa asli Amor adalah bunga lily beku.


"Katakan alasannya hingga aku harus memberikan berkatku padamu," tanya Lao Yang.


Amor seketika bersujud di hadapan Lao Yang. "Aku ingin menebus kesalahanku. Aku melenyapkannya karena kebodohanku. Aku tidak menyadari rasa cintaku padanya sangat dalam. Aku ingin dia kembali. Aku ingin melihatnya lagi, aku menyesal," tangis Amor hampir pecah. Tapi dewi itu berusaha menahannya. Lao Yang sejenak terdiam. Pria itu sekilas melihat tanda lily di dahi Amor sudah terbelit dengan lambang phoenix milik Fire, meski samar. Dalam artian mereka pernah menyatu dalam wujud lain, wujud manusia.


"Aku mohon berikan berkatmu, aku akan melakukan apapun, aku akan memberikan apapun yang kau minta,"


"Amor....," Ice dan Yue berucap bersamaan. Memperingatkan Amor akan ucapannya. Tapi Amor tidak peduli. Dia akan menghidupkan Fire bagaimanapun caranya. "Baik...akan kuberikan berkatku, tapi aku meminta satu hal darimu," jawab Lao yang setelah pria itu terdiam cukup lama.


"Dalam hidupku, sepanjang kehidupanku yang aku sendiri tidak ingat sudah berapa lama. Aku tidak memiliki satu hal....satu rasa yang paling berharga dalam hidupmu, aku menginginkannya."


Pria itu berkata sembari melihat Amor dengan kalung lily melayang di antara keduanya. Ketiganya terdiam mencerna perkataan Lao Yang. "Itu syarat dariku," tambah pria itu.

__ADS_1


*****


__ADS_2